
Pesawat yang di tumpangi Zira dan Kevin sudah mendarat. Kevin memanggil taksi yang berada di lokasi bandara. Seperti biasa Kevin memilih duduk di sebelah supir. Dia menyebutkan alamat tujuan mereka yaitu apartemen Zira.
" Bukan pak, bukan ke situ tapi ke jalan xy." Ucap Zira cepat. Kevin yang berada di depan membalikkan badannya melihat ke Zira. Dia mengernyitkan dahinya dari ekspresinya menunjukkan kalau dia bingung dengan alamat tersebut. Secara apartemen Zira bukan di jalan Xy. Menurutnya lebih baik dia mengikuti kemauan Zira.
Supir sudah melajukan mobilnya menuju tempat tujuan. Mereka memasuki sebuah kawasan perumahan. Pak supir mengikuti instruksi dari Zira. Pak supir memberhentikan mobilnya ketika ada instruksi dari penumpangnya. Mereka berhenti di sebuah rumah besar. Rumah itu lebih besar dari rumah Ziko. Pagarnya dan temboknya menjulang tinggi. Dan pohon-pohon besar berada di luar pagar dan di dalam pagar, membuat rumah itu terlihat sangat asri.
Kevin melihat dari balik kaca jendela mobil. Dia masih bengong siapa pemilik rumah tersebut. Zira sudah turun terlebih dahulu dari kevin. Dia masih diam di tempat. Zira mengetuk jendela kaca mobil sambil melambaikan tangannya agar pria itu turun mengikutinya. Kevin keluar dari taksi masih dengan semua hipotesanya. Di dalam pikirannya pasti pemilik rumah tersebut adalah orang hebat.
Zira memencet bel dan melambaikan tangannya kearah kamera. Di dekat kamera itu ada sebuah speaker dan tombol untuk bicara.
Tidak berapa lama pintu pagar terbuka sendiri. Dia langsung masuk sambil menarik kopernya. Dari dalam, ada dua orang lari tergopoh-gopoh menyambutnya dan yang satu membantu mengangkat kopernya. Kevin masih diam belum mengerti dengan keadaan di depannya.
Di dalam rumah besar itu Zira di sambut dengan beberapa pelayan. Mereka langsung menghidangkan minuman dan makanan kecil kepadanya. MK
" Duduklah." Ucap Zira mempersilahkan Kevin untuk duduk. Kevin duduk di sebelah Zira.
" Siapa pemilik rumah ini?" Ucap Kevin heran.
Zira menunjuk kepada seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu.
" Apa dia pemilik rumah besar ini?" tanya Kevin bingung.
" Selamat pagi nona." Ucapan wanita paruh baya.
Zira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sambil memperkenalkan Kevin kepada wanita tersebut.
" Selamat pagi nyonya, rumah anda sangat bagus sekali." Ucap Kevin sambil mengulurkan tangannya. Wanita paruh baya tadi tersenyum tipis.
" Bukan Nyonya dan saya bukan pemilik rumah besar ini." Ucap wanita tersebut ramah.
" Oh anda bukan pemiliknya jadi siapa pemiliknya? saya ingin memberikan pujian kepada pemiliknya." Kevin ingin memberikan pujian kepada pemiliknya karena pemiliknya mempunyai selera yang sangat bagus dari desain rumahnya dan semua furniture terlihat sangat elegan dan berkelas.
" Anda bisa memberikan pujian kepadanya langsung." Ucap wanita tadi sambil menunjuk kearah Zira. Kevin terbelalak tidak percaya.
" Maaf nona bisa anda jelaskan dari mana semua kekayaan anda ini? Anda tidak memelihara tuyul kan?" Ucap Kevin penasaran. Karena setau dia kekayaan Eyang Mahesa berupa rumah sudah di jual.
" Sudahlah tidak perlu kamu bertanya dari mana aku mendapatkan ini, yang jelas aku tidak memelihara tuyul apalagi korupsi cuma aku memelihara jin." Ucap Zira tersenyum, begitupun dengan pelayan yang berada di situ juga tersenyum.
__ADS_1
Rumah ini adalah rumah lain dari Eyang Mahesa. Rumah ini sudah ada ketika bapaknya Zira lahir. Rumah ini merupakan harta warisan yang di berikan Eyang Mahesa kepada anaknya yaitu Azlan. Rumah tersebut hanya di jadikan sebagai rumah tinggal saja. Dan rumah itu memang sengaja tidak di jual karena memang tidak di izinkan eyangnya. Menurut eyangnya rumah itu pertinggal untuk cucunya. Walaupun rumah itu untuknya tapi Zira lebih suka tinggal di apartemen, karena memang dia suka kesederhanaan.
" Nona kenapa anda lebih memilih tinggal di apartemen."
" Sebelumnya kan sudah aku jelaskan. Apa kamu lupa?" tanya Zira cepat.
Kevin mencoba mengingat sesuatu tentang ucapan Zira pada saat waktu di perumahan X.
" Iya saya ingat. Tapi?" Ucap Kevin menggantung.
" Tidak perlu di pertanyakan lagi." Ucap Zira cepat. Zira sengaja kembali ke rumah tersebut agar dia bisa menghilang dari keluarga Raharsya. Dia tidak mau keberadaannya di ketahui Ziko dan keluarganya.
Kevin tidak bertanya lagi mengenai hal-hal lainnya. Misteri nona Zira lama-lama terungkap.
***
Nyonya Amel dan Tuan besar kembali ke tanah air. Seorang supir dan seorang bodyguard sudah menunggu mereka di sana. Mobil langsung melaju menuju ke mansion.
Ziko masih terbaring dengan jarum infus di punggung tangannya. Zelin menemani kakaknya bersama dua orang perawat.
Kedatangan nyonya Amel dan tuan besar di sambut pak Budi dan pelayan lainnya.
" Tuan muda ada di kamarnya Nyonya." Ucap Pak Budi sambil membawakan koper ke dalam berserta pelayan lainnya.
Nyonya Amel berlari menuju kamar anaknya. Betapa terkejutnya dia melihat anaknya terbaring dengan jarum infus.
" Mama, kak Ziko." Ucap Zelin menyambut mamanya sambil menangis sesenggukan.
" Apa yang terjadi dengan kakakmu?" Ucap Nyonya Amel cemas sambil memerintahkan dua orang perawat itu pergi ke luar kamar.
Zelin menceritakan kembali tentang peristiwa ketika dia menguping hasil pembicaraan antara kakaknya dan dokter Diki. Dia juga menceritakan mengenai kakaknya yang tidak makan selama dua hari.
Pada saat di Belanda nyonya Amel sangat emosi dan ingin memarahi anaknya. Tapi melihat keadaan anaknya yang tidak berdaya, emosinya luluh. Tuan besar masuk melihat keadaan anaknya.
" Pa coba hubungi Kevin, kenapa dia tidak berada di samping anak kita ketika Ziko terpuruk." Ucap nyonya Amel.
Tuan besar menghubungi nomor asisten Kevin. Panggilan terhubung. Kevin yang sedang duduk kaget melihat nomor dari layar ponselnya ada nomor tuan besar. Dia tidak menjawab panggilan tersebut dia malah meletakkan ponselnya di meja. Zira memperhatikannya.
__ADS_1
" Siapa yang menghubungimu?" tanya Zira penasaran.
Kevin menunjukkan layar ponselnya. Zira pun langsung membuat praduga sendiri kalau bapak mertuanya sudah kembali ke tanah air dan sudah mengetahui semua masalahnya.
" Angkat dan ceritakan semuanya. Jangan sampai kamu di salahkan dalam peristiwa ini. Dan jangan bilang tentang keberadaan ku." Ucap Zira pelan. Kevin menganggukkan kepalanya.
" Halo tuan besar." Ucap Kevin pelan.
" Kamu di mana?"
" Saya ada di rumah?" tanya Kevin lagi.
" Kenapa kamu tidak bersama anakku?" Ucap tuan besar lagi.
" Maaf tuan." Kevin menceritakan kalau dirinya sudah keluar dari Raharsya group. Dan menceritakan semuanya tentang alasan dia keluar.
" Kevin, aku mau kamu kembali ke sini sekarang. " Ucap tuan besar memberi perintah.
" Maaf tuan, saya tidak bisa kembali ke sana, karena saya sudah bekerja dengan orang lain." Ucap Kevin berbohong. Dia mengerti lambat laun kebohongannya akan terbongkar karena Keluarga Raharsya dengan sangat gampang menyelidiki semuanya.
Tuan besar terdiam, dan tidak bertanya lagi. Walaupun dia masih ingin Kevin berada di dalam Raharsya group. Tapi dia menerima keputusan Kevin. Dan dia paham keputusan yang di ambil asisten anaknya pasti dengan pertimbangan yang sangat berat. Karena dia paham tentang kesetiaan pria itu kepada keluarga itu.
" Baiklah, kalau begitu." Ucap Tuan besar menutup panggilannya.
Zira ikut penasaran dengan pembicaraan Kevin dan mertuanya.
" Ada apa?" tanya Zira penasaran.
Kevin menceritakan semuanya, tentang dia di suruh kembali ke Keluarga Raharsya.
" Asisten Kevin kembalilah ke sana bagaimanapun kamu adalah bagian dari keluarga itu." Ucap Zira pelan.
" Maaf nona, saya tidak bisa kembali ke sana."
" Aku tau pasti kamu berat karena telah berjanji untuk menjagaku. Tidak usah kamu hiraukan tentangku. Aku bisa sendiri, ada mereka semua di dekatku." Ucap Zira sambil menunjuk kearah pelayan yang sedang bersih-bersih di rumahnya.
" Maaf nona saya tidak akan kembali, keputusan saya sudah bulat." Ucap Kevin tegas. Zira tidak bisa memaksa Kevin untuk kembali kepada keluarga Raharsya karena memang dia tidak punya hak sama sekali.
__ADS_1
Tuan besar merasa ada yang mencurigakan tentang ucapan Kevin, yang mengatakan kalau asisten anaknya sudah bekerja dengan orang lain. Karena menurutnya Kevin tidak terlalu gampang untuk menerima pekerjaan dari orang lain. Dia pasti akan melihat kredibilitas bosnya sebelum menerima tawaran itu. Dan menurut tuan besar ini terlalu cepat bagi seorang Kevin. Dan tuan besar akan menyelidiki hal ini.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."