
Ziko masih memikirkan siapa yang akan menjadi sekretarisnya.
" Bagaimana kalau nona Zira?" Kevin memberikan ide yang cukup cemerlang.
Ziko mengambil ponselnya dan ingin menghubungi istrinya. Tapi dia membatalkan niatnya untuk menghubungi istrinya. Dia baru ingat kalau ponsel Zira sudah rusak.
" Vin carikan ponsel baru untuk Zira." Ziko menghubungi nomor Lina.
Beberapa menit kemudian panggilan terhubung ada sahutan dari sana.
" Ya halo tuan." Lina langsung mengenal siapa yang menghubunginya, dia sudah menyimpan nomor Ziko ke dalam daftar kontaknya.
" Berikan ponsel kamu sama istriku." Ucap Ziko cepat.
" Maaf tuan, kalau saya memberikan ponsel ini kepada mbak Zira, nanti saya pakai apa? Saya hanya punya satu ponsel dan itu juga butut." Ucap Lina cemas.
Bos sama anak buah sama-sama bego.
Ziko mendesah kesal dia seperti sedang berbicara dengan anak kecil.
" Siapa yang mau ambil ponselmu? Aku mau bicara dengan istriku." Ucap Ziko tegas.
" Baik tuan." Lina langsung berlari ke lantai atas menuju ruangan Zira. Lina mengatur nafasnya sambil memberikan ponselnya ke bosnya. Zira bingung dengan Lina karena memberikan ponselnya tanpa berkata-kata.
" Untuk apa ini?" tanya Zira bingung sambil memegang ponsel Lina. Lina hanya memberikan isyarat dengan tangannya agar Zira menjawab panggilan dari ponselnya. Dia langsung mengerti dengan isyarat Lina. Dia menjawab panggilan tersebut.
" Ya halo." Ucap Zira pelan.
" Kenapa lama sekali jawab panggilanku." Ucap Ziko kesal.
Zira langsung kenal dengan pemilik suara itu.
" Ada apa?" Ucap Zira pelan sambil tetap fokus dengan pekerjaan yang tertunda.
" Aku mau kamu jadi sekretaris ku." Ucap Ziko cepat dan tepat.
Zira membelalakkan matanya sambil meletakkan pensilnya di atas mejanya.
__ADS_1
" Apa yang terjadi dengan si kuntilanak?" Zira penasaran.
" Enggak usah bertanya aku hanya ingin mendengar jawaban darimu." Ziko kembali bertanya menunggu jawaban dari istrinya.
Zira belum menjawab dia masih memikirkan dengan tawaran Ziko untuknya.
Apa yang terjadi dengan si kuntilanak apa dia sudah kembali ke alamnya.
" Hey kamu dengar enggak!" teriak Ziko lagi.
" Kenapa dengan si kuntilanak?" Zira masih penasaran dia terus bertanya agar Ziko menjawabnya.
" Kamu mau enggak?" Ucap Ziko lagi dengan intonasi yang di tekan.
" Jawab aku apa si kuntilanak kamu kirim kembali ke alamnya?" Ucap Zira cepat.
" Aih kamu itu! Ya dia aku kirim ke alamnya." Ucap Ziko kesal.
" Kenapa? Apa sisirnya ketinggalan." Ucap Zira cepat.
Ziko pengen menyentil telinga istrinya, karena selalu saja bercanda.
" Enggak, aku tidak mau, aku tidak pintar dalam hal-hal seperti itu." Ucap Zira cepat.
" Ok kalau kamu tidak mau jadi aku akan membuat lowongan kerja lagi." Ucap Ziko cepat.
Zira memang menolak tawaran suaminya, karena dia merasa belum memahami di bidang tersebut, tapi dia merasa khawatir dengan lowongan yang akan memperkerjakan orang baru lagi.
" Apa aku boleh request untuk kriterianya." Ucap Zira pelan.
" Hemmmmm." Zira memberikan semua kriterianya yang diinginkannya beserta alasannya.
" Bagaimana." Ucap Zira lagi.
" Baiklah aku penuhi keinginanmu." Ucap Ziko cepat.
Ziko menutup panggilannya dan kembali melanjutkan percakapannya dengan Kevin. Dia memberikan semua kriteria yang akan menjadi sekretarisnya. Kevin langsung paham dan pergi keluar ruangan bosnya. Dia kembali ke ruangannya dan menghubungi penanggung jawab di HRD. Pintu di ketuk dari luar setelah dapat instruksi dari yang punya ruangan. Wanita paruh baya itu masuk ke dalam ruangan Kevin.
__ADS_1
" Ya pak, ada yang bisa saya bantu." Ucap Ibu Mery sopan.
" Buat lowongan kerja dengan posisi sebagai sekretaris."
" Maaf pak sekertaris siapa?" Ibu Mery merasa penasaran.
" Presiden direktur."
" Maaf Pak bukannya sudah ada?"
" Kenapa kamu banyak tanya, cepat lakukan saja perintahku." Ucap Kevin tegas.
Ibu Mery tidak berani bertanya lagi. Dia sudah
cukup takut mendengar bentakan yang di berikan Kevin kepadanya. Di pikiran Ibu Mery biarlah jawaban untuk pertanyaannya menjadi Pr untuknya.
" Baik pak, apa saja kriterianya." Ucap Ibu Mery lagi.
" Berjenis kelamin laki-laki, minimal umur 20 tahun keatas dan maksimal 25 tahun, jujur pekerja keras, dan mempunyai pengalaman di bidangnya kurang lebih 5 tahun."
Ibu Mery mencatat semua kriteria yang di berikan Kevin ke dalam note book.
" Ada lagi pak?" Ucap Ibu Mery sopan.
" Aku mau kamu membuat lowongan itu sekarang dan tutup lowongan itu setelah tiga hari."
Setelah mencatatkan semuanya Ibu Mery kembali ke ruangannya. Dia melakukan tugas yang di berikan asisten Kevin. Setelah memberikan tugas kepada Ibu Mery, Kevin pergi meninggalkan gedung Raharsya group. Di menyalakan mesin mobil dan menuju ke pusat kota. Dia memberhentikan mobilnya di depan Mall terbesar di kota itu. Kevin ingin membeli ponsel untuk Zira seperti perintah dari bosnya. Dia memasuki sebuah toko ponsel terkenal di kota itu. Seorang wanita penjaga toko menyapanya ramah.
" Ada yang bisa saya bantu." Ucap perempuan itu ramah.
Kevin hanya tersenyum dia masih melihat beraneka ragam jenis ponsel yang di pajang di etalase toko. Berbagai macam merek ada di dalam toko itu, dari yang mahal sampai yang paling murah dipajangkan di etalase toko itu. Kevin menjatuhkan pilihannya kepada ponsel dengan casing berwarna merah muda dan ada garis hitam di pinggirnya. Menurutnya ponsel itu cocok dengan kepribadian Zira. Warna merah muda menampilkan sosok kewanitaannya dan warna hitam menampilkan sosok jiwa pemberani yaitu sosok seorang avengers.
Setelah melakukan pembayaran Kevin kembali ke gedung Raharsya group. Dia menyerahkan ponsel yang di belinya ke bosnya. Ziko melihat hasil pilihan Kevin.
" Apa ini keluaran terbaru?" Ucap Ziko sambil melihat ponsel yang di beli Kevin.
" Iya tuan. Ini keluaran terbaru." Ucap Kevin cepat menjelaskan semua fasilitas yang ada di dalam ponsel tersebut.
__ADS_1
Ziko menyimpan kembali ponsel tersebut kedalam boxnya. Dia ingin memberikan kejutan untuk Zira.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."