
🌹Vote
Cara vote.
Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.
Selamat Membaca.
***
" Ayo kita main game lagi." Ajak Bima.
" Kamu main sendiri ya." Jawab Kevin.
" Memangnya kakak mau kemana?" tanya Bima.
" Kakak? Kamu memanggilku dengan sebutan kakak" Ucap Kevin.
" Iya, kamu akan mempersunting kakakku jadi tidak elok kalau aku memanggilmu dengan sebutan nama."
Kevin mengacak rambut Bima sama seperti yang di lakukan Menik kepada adiknya.
" Calon kakak iparmu ini mau mengabari keluarga kakak."
Bima setuju dengan cara menganggukkan kepalanya. Menik mengikuti Kevin dari belakang. Dia sedang memegang ponselnya dan hendak menghubungi keluarganya tapi dia menoleh kebelakang nya.
" Ada apa Nik, kenapa kamu memegang bajuku?" tanya Kevin.
" Hemmm, bisa tidak kalau pernikahan kita di undur." Ucap Menik pelan sambil menundukkan kepalanya.
" Apa!" Kevin kaget.
" Kenapa? Bima sudah merestui kita, terus kenapa sekarang kamu yang ingin menundanya. Ada apa? Coba ceritakan kepadaku." Ucap Kevin sambil mengangkat dagu Menik, agar wanita itu mau melihatnya.
" Aku takut." Ucap Menik pelan.
" Takut kenapa?"
" Hemmm, malam pertama." Suara Menik nyaris tidak terdengar. Kevin sampai meletakkan telinganya ke dekat mulut Menik.
" Kamu ngomong apa? Suaramu kurang jelas." Ucap Kevin masih tetap meletakkan telinganya ke dekat mulut Menik.
Wanita itu mengulangi lagi ucapannya.
" Aku takut malam pertama." Ucap Menik pelan dengan pipi yang sudah merona malu.
" Hahaha, bisa-bisanya kamu memikirkan itu. Aku saja tidak memikirkan hal itu. Kamu genit ya." Ucap Kevin menarik hidung Menik gemas.
" Bukan genit tapi takut. Itu hal yang berbeda tau." Ucap Menik manyun.
" Jangan takut Menik sayang, aku nanti di situ menemanimu. Aku pun takut malam pertama." Ucap Kevin.
Menik menatap Kevin heran.
" Kok kamu takut juga, bukannya malam pertama itu hanya di takuti wanita." Ucap Menik heran.
" Jelas aku takut. Malam pertama bukan hanya untukmu tapi aku juga. Dimana keperjakaanku akan kamu ambil." Ucap Kevin asal. Dia mengatakan seperti itu agar Menik tidak takut.
Wanita itu begitu polos, dia mempercayai semua ucapan Kevin.
__ADS_1
" Oh seperti itu ya, kamu sakit aku juga sakit." Ucap Menik polos.
Kevin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menyeringai.
" Bagaimana kalau kita tidak melakukan itu, jadi kita berdua tidak merasakan sakit." Ucap Menik polos.
Kevin membelalakkan matanya, dia tidak menyangka kalau Menik bisa memikirkan ide bodoh itu. Jelas dia menolak ide itu.
" Mana boleh." Ucap Kevin sewot.
" Kok kamu marah. Aku kan hanya memberikan ide agar kita berdua tidak mengalami namanya sakit." Ucap Menik polos.
Kevin menghela nafasnya.
" Begini, orang menikah untuk apa?" tanya Kevin.
" Untuk menyatukan dua insan yang saling mencintai dalam ikatan yang halal." Ucap Menik.
" Nah kamu tau. Jadi dengan menikah kita mendapatkan ridho dari Allah. Dan menikah itu termasuk ibadah. Jadi ketika kamu melayani suamimu. Maka di katakan ibadah dan kamu mendapatkan pahala." Ucap Kevin.
" Tapi."
" Sstt." Kevin meletakkan jari telunjuknya di depan mulut Menik.
" Tidak ada kata tapi. Kalau kamu takut nanti akan aku temani. Kita akan sama-sama belajar." Ucap Kevin masih menutup mulut calon istrinya dengan jari telunjuknya.
" Belajar? Apa kita akan memanggil guru?" tanya Menik lagi.
Kevin gemas dengan tingkah Menik yang begitu polos.
" Iya kita akan belajar sama ahlinya." Ucap Kevin asal sambil menekan ponselnya mencari daftar kontak orang tuanya.
" Siapa?" tanya Menik lagi.
" Enggak tau, kamu tenang saja. Tidak perlu mengundang guru. Aku bisa mengajarimu." Ucap Kevin.
" Tapi tadi kamu bilang kalau kita sama-sama belajar, kenapa sekarang kamu yang akan jadi gurunya."
Kevin tidak menjawab dia memberikan isyarat kepada Menik dengan cara meletakkan jari telunjuknya di mulutnya sendiri. Karena panggilannya sudah terhubung. Wanita itu langsung paham, dia diam dan mencoba mendengarkan percakapan Kevin dengan orang tuanya.
" Halo ma." Ucap Kevin.
" Ya nak." Jawab nyonya Paula.
" Kami sudah sepakat akan melangsungkan pernikahan secepatnya." Ucap Kevin.
" Oh iya, syukurlah. Kapan pernikahannya akan di laksanakan?"
Kevin masih mendengarkan ucapan mamanya.
" Tapi Vin, setelah mama tanya-tanya tetangga. Apa sebaiknya kalau kalian mengadakan lamaran secara resmi dulu. Jadi biar kedua keluarga saling mengenal." Ucap nyonya Paula.
Kevin melihat ke arah Menik. Sambil memikirkan sesuatu.
" Jadi Vin, di sana nanti kedua keluarga akan menentukan tanggal yang baik untuk pernikahan kalian." Ucap nyonya Paula.
" Mama sepertinya banyak tau tentang adat sini." Ucap Kevin.
" Jelaslah secara suami asli orang sini. Dan calon menantu juga orang sini. Jadi setidaknya mama harus tau sedikit tentang adat istiadat di sini." Ucap nyonya Paula.
__ADS_1
" Hemmm aku bicarakan dulu sama Menik." Ucap Kevin.
" Iya kamu bicarakan sama Ros." Ucap nyonya Paula.
" Ros?" Kevin bingung.
" Manek, mama susah memanggil namanya jadi mama beri nama baru untuknya yaitu Ros." Ucap nyonya Paula.
Kevin baru teringat kalau mamanya pernah memberikan nama baru untuk Menik. Setelah percakapan itu panggilan terputus.
" Bagaimana?" tanya Menik.
Kevin melihat kearah Menik kemudian melihat Bima yang sedang sibuk dengan mainan barunya.
Dia melangkahkan kakinya mendekati Bima di ikuti Menik dari belakang.
" Bim, stop dulu permainannya." Ucap Kevin.
" Kenapa kak? Ini lagi seru-serunya." Ucap Bima yang serius dengan permainannya.
Menik langsung mematikan layar televisi.
" Ah kakak, aku sudah level dua puluh. Gara-gara kakak, aku harus mengulang dari awal lagi." Gerutu Bima.
" Ada apa sih?" Bima melihat wajah Kevin yang cukup serius.
" Bagaimana kalau kita mengadakan acara lamaran yang lebih formal." Ucap Kevin.
" Bukannya kakak sudah melamar kak Menik pada saat liburan." Ucap Bima bingung.
" Iya, kakak memang sudah melamar kakakmu. Tapi ada baiknya kalau kakak melamar secara formal di mana acara lamaran itu di saksikan keluarga kita."
Bima diam, mereka tidak mempunyai keluarga. Hal itu membuatnya sedih. Dan Kevin dapat membaca raut wajah Bima yang sendu.
" Kamu adalah keluarganya Menik. Makanya kakak minta persetujuan darimu. Semua itu atas persetujuan darimu." Ucap Kevin.
" Kami tidak punya keluarga. Jadi untuk apa pakai acara formal seperti itu langsung saja ke jenjang pernikahan." Ucap Bima.
" Keluarga itu bukan yang sedarah dengan kita. Orang lain bisa di jadikan saudara." Ucap Kevin.
" Kakak tau kamu pasti memikirkan siapa yang akan di jadikan keluarga dalam acara itu." Timpal Menik.
Bima menganggukkan kepalanya.
" Bagaimana kalau dari pihak keluarga mempelai wanita keluarga Raharsya." Ucap Kevin.
" Maksud kamu apa?" Menik bingung.
" Kita bisa minta bantuan kepada keluarga tuan muda untuk menjadi keluarga kamu. Jadi nanti dari pihak pria melamar kamu ke tuan besar dan nyonya Amel." Ucap Kevin menjelaskan.
" Ah jangan, aku sungkan untuk meminta kepada mereka, secara nona Zira sangat baik belum lagi suaminya mengalami musibah, sebaiknya tidak usah." Ucap Menik.
" Ok kalau begitu." Ucap Kevin.
" Apa yang di katakan kak Kevin betul, memang seharusnya ada acara lamaran dengan pihak keluarga. Dan aku setuju kalau yang jadi pihak keluarga mempelai wanita keluarga tuan muda. Tapi tuan muda baru terluka, terus bagaimana?" Ucap Bima.
" Besok tuan muda sudah bisa pulang. Aku akan menceritakan hal ini kepadanya. Dan jika dia sudah setuju tinggal kita menemui tuan besar dan nyonya Amel." Ucap Kevin.
Keduanya setuju dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
bersambung.
Ig. anita_rachman83