Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 447 (S2)


__ADS_3

Ziko dan Kevin sudah berada di kantor melakukan rutinitas seperti biasanya. Zira semenjak hamil lebih banyak berbaring di kamar. Pintu kamarnya di ketuk.


"Masuk." Ucap Zira. Seorang pelayan membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.


"Nona, saya menemukan ini." Ucap seorang pelayan berjalan dan memberikan sesuatu kepada Zira.


"Foto? di mana kamu menemukannya?' tanya Zira.


"Di saku celana tuan muda, tadi waktu mau mencuci saya menemukannya." Jelas pelayan.


"Makasih." Ucap Zira. Pelayan sudah keluar dari kamarnya.


"Kenapa foto ini ada di saku celana suamiku, apa yang terjadi. Kenapa dia sudah menyimpan foto almarhum eyang Amrin dan eyang Amran." Gumam Zira.


"Apa dia sudah tau kalau eyang punya kembaran." Gumam Zira.


Dia merasa geram dengan tingkah suaminya karena menyembunyikan sesuatu kepadanya.


Sebelum pulang Ziko menghubungi istrinya.


"Halo sayang, kamu mau di bawakan apa." Ucap Ziko dari ujung ponselnya.


"Bawakan aku bakso." Jawab Zira.


"Ok sayang." Panggilan terputus.


"Vin nanti kita mampir beli bakso dulu."


"Siap tuan." Ucap Kevin.


Kevin dan Ziko mampir ke warung bakso yang terkenal. Mereka membeli beberapa porsi untuk di bawa pulang.


"Vin, bagaimana kalau keluarga istriku tamak." Ucap Ziko.


"Kalau tamak itu sifat yang susah sembuh, karena tidak akan pernah puas." Jelas Kevin.


"Aku juga memikirkan hal yang sama. Kalau mereka mengambil semua harta yang di rintis istriku?" Ucap Ziko.


Kevin mengangkat kedua bahunya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan bosnya. Mobil sudah sampai di rumah Ziko. Kevin membantu bosnya untuk membawa bungkusan yang berisi bakso.


Zira sedang duduk di kursi makan. Ziko menghampiri istrinya.


"Sore sayang." Ucap Ziko ingin memeluk dan mengecup istrinya.


"Stop jangan cium, minum dulu." Ucap Zira menyodorkan teh hangat kepada suaminya.


"Sekarang boleh." Ucap Ziko kembali mau mengecup istrinya.


"Aku mau bicara." Ucap Zira dengan tatapan tajam. Kevin masuk ke dalam rumah majikannya dan menyerahkan bungkus bakso kepada bik Inah. Wanita paruh baya itu yang akan menyiapkan kepada majikannya.


"Mau bicara apa?" Rengek Ziko.


"Jelaskan! kenapa foto ini ada di saku celana kamu? apa kamu telah mengambilnya dari rumah eyang?" tanya Zira ketus.


Kevin yang mau pamit tidak jadi. Dia memilih untuk bertahan sebentar di situ.


Aduh kenapa juga aku sembrono.


"Maaf sayang, memang aku telah mengambil foto itu dari rumah eyang." Ucap Ziko jujur.


"Foto ini kamu ambil sebelum pengacara datang ke sini, apa yang kamu sembunyikan dariku." Ucap Zira marah.


"Sayang aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun kepadamu." Ucap Ziko.

__ADS_1


"Tapi ini apa? kamu sudah tau kalau aku punya keluarga. Apa kamu sengaja mau menjauhkanku dari keluargaku." Gerutu Zira dengan wajah yang merah karena sedang marah.


"Tidak sayang, mana mungkin aku mau menjauhkan kamu dengan keluargamu." Jelas Ziko.


"Lalu ini apa." Ucap Zira nangis.


"Sayang kamu salah paham, aku juga sedang menyelidiki foto siapa itu." Ucap Ziko.


"Menyelidiki? berarti kamu telah menyembunyikan sesuatu kepadaku." Zira marah, dia tidak bisa menahan emosinya.


"Maaf nona, saya mungkin orang luar tapi apa yang nona pikirkan tentang tuan muda salah." Kevin membela bosnya.


"Jangan kamu bela suamiku." Ucap Zira marah.


"Maaf tuan, saya harus memberitahukan hal ini kepada nona Zira." Ucap Kevin.


Kevin menceritakan semuanya ketika ke Paris dia dan Menik bertemu dengan seorang pria yang menanyakan tentang Amrin. Dia juga menceritakan tentang pria asing itu kembali mengikuti dia dan istrinya. Kevin juga menceritakan kalau mereka di hadang oleh segerombolan orang ketika di bandara. Tidak ada yang di sembunyikannya.


Zira mendengarkan itu tapi pikirannya tetap menolak kalau apa yang di ucapkan Kevin tentang keluarganya salah.


"Mana mungkin keluargaku melakukan itu." Ucap Zira.


"Maaf nona, tapi kenyataannya seperti itu. Kalau nona tidak percaya bisa tanyakan hal ini kepada Menik, mengingat kejadian itu dia sampai takut." Jelas Kevin.


"Sayang, kenapa aku menyembunyikan ini dari kamu, karena aku masih menyelidiki semuanya. Pada saat Kevin mengirimkan foto itu kepadaku, aku mulai mengorek informasi kepadamu, apa kamu ingat?" Ucap Ziko.


Zira menganggukkan kepalanya. Dia ingat pada malam hari suaminya bertanya tentang asal usul keluarganya.


"Kenapa kamu tidak langsung mengatakan kepadaku." Ucap Zira.


"Sayang, aku ingat pesan dokter kalau kamu tidak boleh stres, jadi aku hanya menyimpan ini dalam diam. Jangan memikirkan hal ini, aku tidak mau kamu stres." Ucap Ziko merayu istrinya sambil memegang kedua tangan istrinya.


"Semoga apa yang kita pikirkan tentang keluargaku salah." Ucap Zira.


Zira memegang sendok baksonya, dan memperhatikan bakso itu.


"Aku tidak mau makan." Zira menyingkirkan mangkuk tersebut.


"Kenapa? bukannya kamu bilang tadi pingin makan bakso.


"Iya tadi aku pingin banget. Tapi setelah aku perhatikan bakso itu mirip kepala kamu." Jelas Zira.


"Buahahaha, kepala basko." Ejek Kevin. Ziko langsung melempar sendok ke arah asistennya. Pria itu langsung menangkap dengan sigap.


"Sayang jangan bayangkan kepalaku, bayangkan saja bakso itu ada rambutnya." Ucap Ziko.


"Dari mana asalnya bakso ada rambutnya, malah jijik aku membayangkan bakso punya rambut, apalagi rambutnya pirang terus di luruskan." Ucap Zira menolak untuk makan bakso.


"Sayang kalau kamu enggak makan nanti anak kita buat pabrik iler, apa kamu enggak kasihan."


"Tuan ada yang bilang kalau istrinya enggak mau makan, bisa di gantikan dengan suaminya." Ucap Kevin.


"Ogah aku Vin, ini sama saja bakso makan bakso." Ucap Ziko juga jijik.


"Buahahaha." Kevin kembali tertawa.


Ziko memperhatikan istrinya yang sedang mengelus perutnya.


"Aku lapar." Ucap Zira.


"Bik Inah, istriku mau makan." Teriak Ziko.


"Aku enggak mau makan itu tapi yang lain." Ucap Zira.

__ADS_1


Bik Inah sudah datang ke ruang makan.


"Iya tuan." Ucap bik Inah singkat.


"Istriku mau makan yang lain?" Ucap Ziko.


"Yang lain itu apa?" Ucap bik Inah bingung.


"Sayang yang lain itu makanan seperti apa?" tanya Ziko.


"Aku mau urap." Ucap Zira pelan.


"Apa nona?" bik Inah kurang mendengar ucapan Zira.


"Kata istriku sulap bik."


"Sulap?" bik Inah menggaruk kepalanya, dia baru dengar makanan itu.


"Sayang sulap itu bukannya yang bisa menghilangkan sesuatu." Ucap Ziko heran.


"Hemmm." Zira memilih untuk berbaring di ruang keluarga.


"Bik masak sekarang, jangan bengong aja." Ucap Ziko.


"Mau masak apa? bibik belum pernah masak sulap." Ucap bik Inah jujur.


"Vin, kamu pernah dengar makanan yang bernama sulap?" tanya Ziko.


"Belum tuan, tapi kita lihat di guuling mungkin ada jawabannya." Ucap Kevin langsung mencari sesuai permintaan bosnya.


"Tuan makanan seperti itu tidak ada di sini." Ucap Kevin.


Ziko mendatangi istrinya yang sedang berbaring sambil memijat pelipisnya.


"Kamu pusing?"


"Iya, kalau belum masuk makanan bawaannya pusing." Ucap Zira.


"Sayang, makanan yang kamu sebutkan tadi ciri-cirinya bagaimana?" tanya Ziko.


"Ada kelapa parut yang telah di beri bumbu, dan." Belum sempat Zira menyelesaikan kalimatnya, Ziko sudah mengatakan kepada bik Inah.


"Bik, ada kelapanya." Ucap Ziko.


"Oh itu namanya onde-onde hijau dalamnya pakai gula merah, tapi jauh banget dari onde-onde jadi sulap." Ucap bik Inah sambil berlalu menuju dapur. Kevin pamit pulang, karena dia juga sudah kangen dengan istrinya.


Setelah tiga puluh menit bik Inah datang ke ruang keluarga sambil membawa permintaan majikannya.


"Ini onde-ondenya." Bik Inah meletakkan di atas meja.


"Yang minta onde-onde siapa." Ucap Zira bingung.


"Kan kamu yang minta." Ucap Ziko.


"Aku minta urap bukan onde-onde." Ucap Zira.


"Salah bik, istriku minta sarap bukan ondel-ondel." Ucap Ziko.


"Salah tuan, bukan sulap bukan sarap tapi urap, dan bukan ondel-ondel tapi onde-onde hijau." Gerutu bik Inah.


Bersambung.


Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih.

__ADS_1


__ADS_2