
Ketika Kevin memejamkan matanya, dia teringat akan pesan Ziko untuk waspada terhadap Menik. Karena bisa-bisa istrinya mempunyai rencana untuk menggagalkan aksinya.
"Nik koper kamu di mana." Ucap Kevin sambil beranjak dari kasur.
"Ada di lemari." Jawab Menik.
Kevin bergegas menuju lemari dan menemukan sebuah koper berwarna pink.
"Nik kodenya apa." Ucap Kevin berusaha untuk membuka koper istrinya.
"Untuk apa." Jawab Menik tanpa melihat ke arah suaminya. Karena dia lagi sedang di rias.
"Apa saja dalam koper ini?" tanya Kevin.
"Oh kebutuhanku." Jawab Menik singkat.
Kebutuhan bisa di artikan dengan segala sesuatu yang di butuhkan manusia untuk mempertahankan hidupnya. Bisa jadi arti dari mempertahankan hidup mempertahankan keperawanannya.
"Wah gawat." Gumam Kevin. "Nik, apa di dalam sini ada celana setan?" tanya Kevin.
"Ada." Jawab Menik singkat. Perias yang ada di situ bingung dengan arah pembicaraan pengantin baru itu. Mereka hanya mendengarkan dan menyimak saja.
"Ada jaket enggak?" tanya Kevin lagi.
"Adalah, semua pakaianku yang ada di apartemen udah ku bawa." Jawab Menik.
"Kaca mata bawa enggak?" tanya Kevin lagi.
"Kaca mata apa? kalau kaca mata rabun aku enggak bawa karena enggak rabun." Jawab Menik.
"Kalau kaca mata hitam bawa?"
"Enggak juga, memangnya untuk apa kaca mata? apa kaca mata hitam di butuhkan pada saat resepsi?" tanya Menik.
Kevin mengelus dadanya ada rasa senang kalau Menik tidak membawa kaca mata hitam.
"Enggak aku hanya tanya saja." Jawab Kevin.
Tapi Kevin masih ragu, sebelum melihat isi koper istrinya baru dia bisa tenang.
"Nik bawa helm enggak?" tanya Kevin lagi.
"Ada di parkiran tadi Bima ke sini naik motor." Jawab Menik.
"Ok berarti nanti malam dia enggak ngojek." Gumam Kevin.
__ADS_1
Akhirnya Menik selesai di rias. Dia mengenakan dress berwarna putih yang panjangnya sampai di bawah lutut dan Kevin mengenakan jas dengan warna brown dan ada kemeja di dalam nya dengan warna lebih terang dari jasnya. Mereka mengenakan sepatu kets berwarna putih. Penampilan mereka terlihat santai tapi tetap menunjukkan kalau mereka yang punya acara.
Di taman sudah banyak para tamu undangan. Mereka duduk di tikar yang sudah di bentuk sedemikian rupa. Tikar itu berbentuk persegi dengan panjang dan lebar seratus dua puluh meter.
Tikar itu sengaja di bentuk agar terlihat lebih menarik dan bagus.
Sedangkan pengantin duduk di kursi berwarna putih dengan latar belakang pelaminan yang sederhana dengan tetap menampilkan unsur bunga di seluruh pelaminannya.
Pengantin tidak hanya duduk di pelaminan, mereka bisa membaur dengan tamu undangan. Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan, itu terlihat dari senyum bahagia dari sepasang pengantin Kevin dan Menik.
Akhirnya acara yang di tunggu-tunggu tiba yaitu melempar buket bunga pernikahan yang akan di lakukan pengantin. Karangan bunga yang di bawa mempelai wanita melambangkan sebuah keindahan dan kesuburan.
Kevin dan Menik akan melempar bunga tersebut kepada para tamu undangan dengan membelakangi para tamu undangan. Host mulai menghitung.
"Satu, dua tiga." Ucap Host.
Kevin dan Menik melemparkan buket bunga, para tamu undangan riuh ingin mendapatkan buket bunga tersebut dan yang mendapatkan buket adalah Zelin. Dia lompat-lompat kegirangan, tapi kakaknya Ziko langsung cemberut dan hendak mendatangi adiknya.
"Mau ke mana?" tanya Zira.
"Diam di sini." Ucap Ziko cepat.
Ziko meninggalkan istrinya yang sedang duduk di atas tikar bersama dengan nyonya Amel dan tuan besar.
"Bawa sini buket bunganya." Ucap Ziko sambil menyodorkan tangannya ke arah adiknya.
"Kakak kan sudah menikah." Ucap Zelin bingung.
"Berikan sama kakak." Ucap Ziko tegas.
"Untuk apa? apa kakak mau nikah lagi." Tebak Zelin.
"Hust diam, bunga ini mau kakak berikan sama yang membutuhkan." Ucap Ziko.
"Membutuhkan? memangnya bunga ini bisa di uangkan." Ucap Zelin bingung.
"Uang saja di pikiranmu." Ziko menoyor kepala adiknya.
"Terus untuk apa bunga ini?" tanya Zelin lagi.
"Untuk yang lebih membutuhkan, kalau kamu belum membutuhkan bunga ini." Ucap Ziko mengambil buket bunga dari tangan adiknya.
"Kakak, aku juga pengen menikah." Rengek Zelin.
Ziko membelalakkan matanya, dia belum siap jika melihat adiknya menikah. Karena rasa sayangnya teramat sangat, jadi dia tidak ingin adiknya di ambil orang lain.
__ADS_1
"Kuliah yang benar, habis itu cari pengalaman dengan bekerja. Baru boleh menikah." Ucap Ziko tegas.
"Tapi kak, yang mendapatkan buket bunga ini aku." Rengek Zelin lagi.
"Iya kakak tau, tapi apa salahnya kamu berikan kepada dokter Diki. Dia sudah terlalu tua untuk menikah. Sudah sana, berikan bunga ini kepadanya." Ucap Ziko sambil menyerahkan buket bunga kepada adiknya.
Zelin menatap bunga tersebut, ada rasa tidak rela memberikan bunga itu kepada orang lain. Tapi apa yang di katakan kakaknya benar. Jalan hidupnya masih panjang dan dia harus menyelesaikan kuliahnya dengan baik, lalu mengambil pengalaman dengan bekerja. Dengan seperti itu dia bisa lebih dewasa dalam menyikapi hidup.
Zelin mendatangi dokter Diki yang sedang menikmati makanannya. Dia datang dengan membawa buket bunga di tangannya.
"Dok." Ucap Zelin.
"Iya."Jawab dokter Diki sambil membalikkan badannya menghadap Zelin.
"Ini untuk dokter." Ucap Zelin sambil menyerahkan buket bunga kepada pria itu.
"Untuk apa? bukannya ini milik kamu." Ucap dokter Diki bingung.
"Iya, tapi aku memberikan kepada dokter. Agar dokter bisa menyusul seperti kakakku." Ucap Zelin.
Dokter Diki menerima buket bunga tersebut, dia merasa senang. Dia langsung berjalan mendekati Jasmin yang sedang duduk di atas tikar bersama keluarganya dan keluarga Kevin.
Dokter Diki berdiri dengan kedua lututnya tepat di hadapan Jasmin.
"Aku bukanlah pria yang pintar dalam merangkai kata-kata indah. Mungkin terlalu cepat bagiku untuk mengatakan ini. Dan aku tau bagimu mungkin akan sulit untuk menerimaku. Tapi aku harus mengatakan kepadamu yang sesungguhnya. Will you merry me." Ucap dokter Diki sambil menyerahkan buket bunga kepada Jasmin.
Semua tamu undangan melihat itu bertepuk riuh. Mereka ikut terharu mendengar ucapan dokter Diki.
Ucapan dokter Diki singkat padat dan jelas. Tapi langsung tepat sasaran.
Jasmin bingung dengan lamaran mendadak dari Diki. Karena pria itu tidak mempersiapkan apapun. Hanya mengandalkan buket bunga pernikahan Kevin dan Menik.
Jasmin melihat sekelilingnya. Para tamu undangan sudah mengelilingi mereka. Tamu undangan ingin mendengarkan jawaban darinya.
Jasmin melihat ke arah orang tuanya. Kedua orang tuanya hanya melihat anaknya sambil tersenyum. Dengan arti semua jawaban ada pada dirinya sendiri.
Jasmin menghela nafasnya. Sebelum menjawab lamaran itu dia menundukkan kepalanya.
"Yes, I will." Ucap Jasmin.
Semua yang ada di situ bertepuk tangan riuh. Begitupun dokter Diki senang. Dia langsung mengecup punggung tangan Jasmin.
Bersambung.
Apa Kevin bisa melakukan aksinya tanpa hambatan dan rintangan? Penasaran? Tunggu next episode. Dan jangan lupa vote yang banyak untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse"
__ADS_1