
🌹Vote
Cara vote.
Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.
Selamat Membaca.
***
"Mana Manek." Ucap nyonya Paula lagi.
"Tadi Menik ke sini, tapi." Kevin berhenti.
"Tapi dia udah pulang." Timpal Zira.
"Telepon Menik, bilang calon mertua mau bertemu dengannya." Ucap nyonya Paula.
Kevin mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Menik. Dan lagi-lagi Menik menolak panggilannya.
Kevin mendengus kesal dan Zira memperhatikannya.
"Biar aku yang menghubungi Menik." Ucap Zira.
Zira mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Dia menghubungi nomor Menik, panggilan terhubung.
"Halo Nik? Kamu di mana." Ucap Zira.
"Saya di apartemen." Ucap Menik.
"Bisa kamu datang ke rumah sakit." Ucap Zira.
Menik diam beberapa saat.
"Maaf nona, saya tidak mungkin datang ke sana lagi." Ucap Menik.
Zira menyerahkan ponselnya kepada nyonya Paula.
"Tante ngomong sama Menik." Ucap Zira.
Wanita paruh baya itu menerima ponsel itu dan mulai bicara.
"Halo Nek, kamu di mana?" Ucap nyonya Paula.
Semua yang berada di ruangan itu melihat ke arah wanita paruh baya itu.
"Mama bukan Nenek tapi Menik." Ucap Kevin.
"Oh lupa, Ros kamu di mana." Ucap nyonya Paula.
Menik bingung, tadi dia baru di marahi dan di caci maki sama calon mertuanya. Tapi belum ada satu hari calon mertuanya sudah berubah lagi.
"Saya di apartemen." Ucap Menik.
"Sini ke rumah sakit. Tante mau membicarakan tentang pernikahan kalian." Ucap nyonya Paula.
Menik tidak menjawab, dia masih bingung dengan situasi saat ini. Nyonya Paula mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. Zira membawa ponselnya keluar ruangan.
"Nik kamu datang ya. Tante Paula udah sadar, beliau sudah tidak stres lagi. Tadi aku sudah dengar dari Kevin tentang semuanya.Tante Paula tidak menyadari tentang perlakuannya kepadamu karena dia pada saat itu dalam keadaan stres. Aku harap kamu datang ke sini. Karena beliau menunggumu." Ucap Zira. Kemudian panggilan terputus.
__ADS_1
Di apartemen Menik masih tetap bingung, dia takut kalau-kalau dirinya akan di hina dan dicaci maki lagi. Tapi di satu sisi ada Zira di sana. Dan ucapan calon mertuanya juga tidak menunjukkan pernah terjadi sesuatu antara dirinya dan nyonya Paula.
Menik mengambil tasnya dan menuju rumah sakit. Hampir tiga puluh menit Menik baru tiba di rumah sakit. Ketika turun dari taksi ada perasaan takut dan cemas. Dia berjalan perlahan menuju lift. Ketika pintu lift terbuka dia langsung masuk sambil menekan tombol lantai ruang rawat inap nyonya Paula berada.
Ketika sudah sampai di depan pintu ruangan. Menik enggan untuk mengetuk, dia masih mematung di depan pintu. Pintu di buka dari dalam oleh seorang perawat, dan sosok Menik terlihat dari dalam ruangan.
"Nenek kamu datang juga, eh salah Ros." Ucap nyonya Paula.
Jesy menarik tangan Menik dan membawa masuk ke dalam ruangan. Nyonya Paula menyambut calon menantunya dengan mengulurkan salah satu tangannya ke hadapan Menik.
"Duduk sini." Ucap wanita paruh baya itu, menyuruh Menik duduk di pinggir kasur. Dengan wajah bingung dia menuruti permintaan calon mertuanya.
Karena Menik sudah datang Zira dan Ziko pamit pulang.
"Tante kami pulang ya." Ucap Zira pamit.
"Terima kasih atas segalanya." Ucap nyonya Paula.
"Ah tante, kita itu sudah seperti keluarga. Jadi tidak perlu sungkan ya." Ucap Zira.
Sepasang suami istri itu sudah keluar dari ruangan itu. Tinggal keluarga Kevin dan Menik di dalam ruangan itu.
"Bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian." Ucap nyonya Paula langsung.
"Sepertinya kami tunda." Ucap Kevin.
"Kenapa di tunda?" tanya mamanya.
"Kita baru berduka tidak mungkin mengadakan pesta." Ucap Kevin.
"Iya memang kita baru berduka, tapi apa kamu tidak dengar apa yang di ucapkan nona Zira tadi. Kalau kita tidak boleh larut dalam kesedihan." Ucap nyonya Paula.
Menik betul-betul bingung dengan sikap nyonya Paula yang berubah drastis. Dia mulai percaya dengan ucapan Zira, kalau calon mertuanya beberapa hari yang lalu mengalami stres.
"Ya sudah setelah mama keluar dari rumah sakit, kami akan urus. Iya kan Nik." Ucap Kevin.
Menik menganggukkan kepalanya.
"Bagus, mama sudah enggak sabar ingin menimang cucu." Ucap nyonya Paula.
Menik tersipu malu, dia tidak bisa membayangkan malam pertamanya nanti. Hubungannya kembali baik, dia berharap akan baik selamanya.
Di dalam mobil Ziko tak henti-hentinya menyanjung istrinya.
"Sayang kamu memang hebat." Ucap Ziko.
"Hebat apanya?" tanya Zira.
"Hebat menyadarkan orang stres." Ucap Ziko.
"Ah itu biasa." Jawab Zira santai.
"Apa itu juga di ajarkan Thanos?" tanya Ziko.
"Oh bukan, kalau itu aku belajar sama Hulk, secara dia itu seorang ilmuwan dan pernah stres, karena warna hijaunya enggak mau luntur." Ucap Zira.
Ziko membelalakkan matanya, ucapan istrinya seperti dongeng tapi kadang menurutnya ada benarnya.
"Sayang apa kamu tau, kenapa Hulk berwarna hijau tidak biru atau merah." Ucap Zira.
__ADS_1
"Entah." Ucap Ziko cepat.
"Karena warna biru sudah di pakai sama kapten Amerika dan warna merah sudah di pakai Iron Man." Ucap Zira asal.
"Iya tapi dia seperti buto ijo kalau pakai warna hijau." Ucap Ziko asal.
Keduanya tertawa, mereka selalu mengisi hari-hari dengan canda dan tawa.
***
Dua hari setelah itu akhirnya nyonya Paula di izinkan pulang, tapi tetap harus mengkonsumsi obat. Obat itu sengaja di berikan kepada wanita paruh baya itu untuk mengantisipasi kalau-kalau stresnya nyonya Paula kambuh. Jadi obat itu harus di konsumsi sampai waktu yang di tentukan.
Setibanya di rumah nyonya Paula langsung menyuruh Kevin dan Menik mengurus persiapan pernikahan mereka.
"Apa mama yakin aku tinggal." Ucap Kevin.
"Pergilah, ada Jesy di sini." Ucap mamanya.
Kevin dan Menik pamit, mereka tidak boleh menyiakan kesempatan itu. Kevin sudah melajukan mobilnya, kemudian dia menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" Ucap Menik.
"Tujuan kita ke mana?" tanya Kevin.
"Entah." Menik pun bingung arah tujuan mereka.
"Oh iya, kata nona Zira, kita menggunakan jasa wedding organizer." Ucap Kevin.
"Kan mahal." Ucap Menik.
"Sudahlah, waktu kita sudah mepet, tidak mungkin kita menyiapkan sendiri. Nanti yang ada malah kacau semuanya." Ucap Kevin.
Walaupun hatinya berat, mau tidak mau dia mengikuti saran calon suaminya. Mobil melaju ke kantor wedding organizer yang paling terkenal di kota itu.
Sesampainya di kantor WO, mereka di sambut ramah oleh seorang wanita.
"Silahkan duduk." Ucap wanita itu.
Kevin dan Menik duduk di depan wanita itu sebagai pembatas ada meja besar dari kayu jati di hadapan mereka.
"Ada yang bisa saya bantu." Ucap wanita itu ramah.
"Kami mau mengadakan acara pernikahan." Kevin menyebutkan tanggalnya.
Wanita itu melihat jadwalnya yang sudah tersusun rapi di dalam sebuah buku.
"Untuk tanggal itu saya ada empat tempat yang harus saya handle." Ucap wanita itu.
"Bapak mau di adakan di mana?" tanya wanita itu lagi.
"Di hotel bintang lima." Jawab Kevin.
"Kenapa hotel bintang lima, kemaren acara lamaran aja budgetnya udah mahal apalagi resepsi. Kita adakan di losmen aja." Bisik Menik.
Kevin langsung menoleh ke arah calon istrinya. Menurutnya Menik tau perbedaan antara losmen dengan hotel. Makanya dia memilih itu.
Bersambung.
Ig. anita_rachman83.
__ADS_1
AUTHOR ADA KARYA BARU YANG BERJUDUL
" LOVE OF a NURSE", CERITANYA PENUH KEJUTAN DAN MENDEBARKAN HATI. PENASARAN???