Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 112


__ADS_3

Zira sampai di lantai tempat ruangan Ziko berada. Dia melangkahkan kakinya, seperti biasa dia selalu masuk ke dalam ruangan itu. Karena sekertaris yang dulu selalu mengizinkannya. Dia sedang memegang handle pintu tapi langsung di tegur.


" Maaf anda siapa? Mengapa anda langsung masuk ke dalam ruangan presiden direktur." Ucap Kia dengan wajah yang jutek.


Sebenarnya Kia mengetahui kalau yang berada di depannya sekarang adalah istri bosnya tapi mengingat hal yang di dengarnya sebelumnya, dia langsung pasang badan karena dia sudah mendengar dari Sisil kalau Zira adalah orang ketiga dalam hubungan antara Ziko dan temannya.


Zira melepaskan genggaman tangannya dari handle pintu.


" Kamu sekertaris baru ya, kenalkan saya Zira." Ucap Zira ramah sambil mengulurkan tangannya.


Kia tidak menjawab apalagi membalas uluran tangan itu. Kia menepis uluran tangan itu. Dia melihat Zira dari atas sampai bawah. Kalau body memang Zira jauh beda dengan Kia. Wanita itu mempunyai bodi bak seorang model hampir sama dengan sisil. Kalau Zira lebih kecil di bandingkan dengan mereka berdua. Dan kalau urusan pakaian Zira memang tidak mau memakai pakaian yang membentuk body, dia lebih suka dengan pakaian yang sedikit longgar walaupun sebenarnya bodynya bagus. Apalagi semenjak dia menikah segala semua pakaian harus dapat izin dari suaminya.


Zira memperhatikan Kia balik. Dia melihat sekretaris itu dari atas sampai bawah.


Bodynya memang seperti gitar spanyol wajar kalau aku di bilang si ubi kayu mirip ukulele.


Zira menarik kembali uluran tangannya. Dia tidak memperdulikan Kia yang masih berdiri di dekatnya. Karena prinsipnya jika ada orang baik dia akan sangat baik dan jika ada orang sombong dia akan lebih sombong.


Zira memegang handel pintu dan ingin membukanya. Tapi lagi-lagi dia ditahan sama wanita itu.


" Kamu mau apa!" Ucap Zira sambil membentak Kia.


" Siapa yang mengijinkan kamu untuk masuk ke dalam ruangan presiden direktur." Ucap Kia cepat.


" Halo nona yang tidak aku tau namanya, aku mau masuk aku mau tidur aku mau makan di dalam ruangan ini semua bukan urusanmu, urusanmu hanya di sana." Ucap Zira ketus sambil menunjuk kearah meja kerja Kia.


Kia merasa kesal dengan Zira.


Ternyata dia sangat sulit di taklukan benar kata Sisil.


" Aku adalah sekretarisnya semua yang berhubungan dengan diri bos ku adalah tanggung jawabku, dan kamu tidak ada hak disini." Ucap Kia ketus.


Zira mulai emosi karena sikap sombongnya Kia. Dia mendorong tubuh sekertaris itu dengan otomatis wanita itu langsung mundur teratur. Tanpa pikir panjang dia langsung masuk ke dalam ruangan Ziko dan duduk santai di sofa.


Kia juga ikut masuk ke dalam ruang itu, dia menarik tangan Zira untuk keluar dari ruangan itu. Dia memegang tangan Zira dan berusaha menariknya, tapi dengan cepat Zira memelintir tangan wanita itu


" Jangan pernah sentuh aku atau tangan indah mu akan hilang dari tempatnya." Ucap Zira sambil mendorong Kia kembali.


Kia terjerembap ke bawah sofa. Zira yang melihat tersenyum sumringah.


" Aku adalah istri dari Ziko Putra Raharsya, ini adalah hari pertamamu bekerja di sini dan bisa saja ini sebagai hari terakhirmu." Ucap Zira sambil tersenyum sumringah.


Kia tidak menyadari dengan perbuatannya, dia baru menyadari setelah Zira memberitahukan hal yang akan di terimanya.

__ADS_1


" Tapi tenang saja aku bukan perempuan cengeng yang sedikit-sedikit mengadu. Kalau untuk masalah perempuan seperti kamu itu kecil bagiku." Ucap Zira sambil menunjukkan ujung jari kelingkingnya.


Kia yang sedang terjerembab di bawah sofa langsung berdiri dan keluar ruangan dengan perasaan yang marah.


" Baiklah sekarang kamu menang tapi lihat saja, aku akan merusak hubungan kalian." Gumam Kia pelan.


Kia masih memikirkan perlakuan yang baru saja di terimanya. Dia tidak menyadari kalau Kevin sudah berada di depan mejanya sedangkan Ziko sudah masuk ke dalam ruangannya.


" Apa ada telepon yang penting untuk tuan Ziko." Ucap Kevin mengagetkan Kia.


" Eh iya pak ada." Ucap Kia gugup.


Kia memberitahu semua panggilan dan beberapa jadwal pertemuan klien dengan Ziko. Kevin terus memperhatikan sekertaris itu, dia merasa ada yang aneh dengan sikap wanita di depannya. Tapi dia tidak menanyakan hal itu. Karena dengan sendirinya cepat atau lambat dia akan mengetahui juga.


Di dalam ruangan Ziko melihat istrinya sedang berbaring di sofa. Dia mendekati Zira dan mengecup dahi istrinya dengan lembut.


" Sudah lama kamu di sini?" Ucap Ziko sambil mengecup dahi istrinya.


" Sudah dari jaman batu." Ucap Zira cepat.


" Jadi kamu sudah bertemu dengan sekertaris baruku."


" Wah wah sekertaris baruku." Zira menekan intonasi bicaranya.


" Apa kamu sudah berkenalan dengannya?" Ucap Ziko sambil menatap istrinya.


" Sudahlah tadi aku juga memberikan kenangan-kenangan untuknya." Ucap Zira ketus.


" Siapa namanya?" Ziko kembali bertanya kepada Zira.


Mendengar pertanyaan itu, Zira langsung menurunkan kakinya yang berada di sofa dia langsung menatap suaminya tajam.


" Kenapa kamu bertanya namanya kepadaku?" Masih dengan tatapan mengintimidasi.


" Ya karena aku tidak tau namanya, makanya aku bertanya kepadamu?" Ucap Ziko sambil mengelus rambut Zira.


" Tunggu bagaimana kamu tidak tau namanya. Bukannya dia sekretaris mu." Ucap Zira lagi heran.


Ziko menyandarkan badannya ke sandaran sofa.


" Iya dia sekretarisku tapi aku tidak perlu menanyakan perihal tentangnya, bagiku itu tidak penting hal yang paling terpenting ada di depanku." Ucap Ziko lembut sambil memegang jari jemari istrinya.


" Apa hal yang paling penting dalam hidupmu meja ini." Tanya Zira sambil memegang meja di depan Ziko.

__ADS_1


Ziko memegang pelipisnya. Dia merasa Zira kurang peka.


" Maksudku itu kamu." Bentak Ziko.


Zira merasa berbunga-bunga mendengar ucapan suaminya.


" Ah kamu bisa aja." Ucap Zira sambil mencubit lengan suaminya.


" Apa kamu tidak percaya?" Ziko masih memegang jari jemari istrinya.


Zira langsung menarik tangannya.


" Jangan kamu masukkan lagi jariku ke dalam lubang hidungmu." Ucap Zira sambil menarik tangannya.


Ziko tertawa mendengar ucapan istrinya memang dia berniat ingin memasukkan jari Zira ke dalam lubang hidungnya.


" Lusa aku akan keluar negeri. Aku harap kamu baik-baik disini." Ucap Ziko cemas.


" Enggak usah khawatirkan aku, semua manusia takut dengan ku apalagi hantu." Ucap Zira cepat.


" Aku sebenarnya ingin mengajakmu ikut dengan ku, tapi karena bahasa Inggris mu yang buruk ya aku batalkan niatku itu." Ucap Ziko pelan.


Zira ingin sekali pergi keluar negeri.


" Aku ikut ya." Ucap Zira sambil merayu Ziko.


" Enggak! di sana nanti kamu akan sering aku tinggal."


" Ya enggak apa-apa, kamu pergi saja mengurusi pekerjaanmu, aku akan jalan-jalan sendiri." Ucap Zira penuh harap.


" Kalau kamu hilang gimana? Sudah enggak bisa bahasa Inggris sok pergi sendiri." Ucap Ziko ketus.


" Kalau enggak mau mengajakku bilang, tidak usah pakai alasan gak tau bahasa Inggris, aku tau kamu mau pergi berdua dengan kuntilanak di depan kan?" Ucap Zira teriak sambil menunjukkan jarinya kearah pintu.


Ziko melihat arah tangan istrinya.


" Siapa yang kamu bilang kuntilanak? Apa di dalam ruangan ini ada kuntilanak?" Ziko bertanya dengan perasaan khawatir. Dia khawatir kalau Zira kesurupan.


Zira tidak menjawab pertanyaan suaminya, dia malah balik melotot menatap Ziko.


" Ah sudah enggak bener ini." Gumam Ziko dengan bulu kuduk merinding.


Ziko langsung menghubungi Kevin. Tidak berapa lama Kevin datang.

__ADS_1


" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."


__ADS_2