
Sisil tidak menghiraukan Zira, dia masih bergelayut manja dengan tangan Ziko. Ziko merasa risih tapi dia tidak melarang ataupun menghindarinya.
Alunan musik sangat indah apalagi di nyanyiin oleh penyanyi terkenal membuat nuansa pesta ala orang kaya terlihat sangat mewah.
"Hai kak Zira." Sapa Zelin.
"Hai nona Zelin." Sapa Zira balik.
"Panggil aja aku Zelin." Ucap Zelin ramah.
Aih kenapa dengan mereka semua, baru beberapa hari yang lalu mereka menunjukkan kesombongannya, tapi kenapa sekarang mereka mengembek, enggak semua sih nih masih ada si ubi kayu.
"Baik Zelin." Ucap Zira lagi.
"Kak kamu cantik banget sih." Puji Zelin.
"Terimakasih atas pujiannya." Ucap Zira sambil tersenyum.
Melihat dan mendengar Zelin memuji Zira, Sisil merasa iri dan berusaha untuk tetap meredam emosinya.
Wah wah hebat kamu Zira, sudah merayu calon suamiku dan sekarang juga merebut hati Zelin. Awas kamu Zira permainan masih akan berlanjut akan aku pastikan kamu menyesal.
"Kak apa gaun ini kamu juga yang merancang." Tanya Zelin.
Zira hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mau dong, aku dibuatkan gaun seperti ini." Rayu Zelin.
"Untuk apa kamu minta di buatkan gaun?Jangan bilang kamu mau bersenang-senang dengan temanmu." Tanya Ziko penuh selidik.
Ziko memang over protective kepada adiknya. Untuk menjaga kekhawatirannya dia sampai mengirimkan satu orang bodyguard untuk menjaga adiknya.
Mereka adalah keluarga terpandang. Keluarga mereka disegani khalayak ramai, tapi tidak sampai disitu walaupun keluarga mereka disegani, tapi masih saja ada orang yang iri akan keberhasilan dan kesuksesan mereka. Untuk mengantisipasinya Ziko dan tuan besar Raharsya mempekerjakan bodyguard.
"Kakak ah, aku kan hanya mengagumi karya kak Zira. Lagian kalau aku bersenang-senang pasti itu tetap ikutkan." Ucap Zelin sambil menunjuk bodyguardnya dengan mulut monyongnya.
Alunan musik semakin merdu banyak pasangan, baik tua maupun muda turun ke lantai dansa.
Melihat banyak yang turun ke lantai dansa, Sisil berniat mengajak Ziko untuk ikut berdansa. Dia ingin menghindari semua pujian yang di berikan Zelin kepada Zira.
"Enggak, aku tidak mau berdansa." Bentak Ziko.
Mendengar bentakan yang di berikan Ziko kepadanya, Sisil diam tidak berani untuk mengajak Ziko untuk turun kelantai dansa, dari raut wajahnya terlihat kekecewaan yang mendalam.
Zira yang melihat raut wajah Sisil merasa kasihan.
"Tuan kenapa kamu tidak mau berdansa dengan nona Sisil, jangan kamu bilang kalau kamu tidak bisa dansa atau..." Zira menggantung ucapannya.
"Atau apa." Tanya Ziko.
Zira berjalan mendekati Ziko, dan dia membisikkan sesuatu ke telinga pria itu.
__ADS_1
Sisil yang melihat adegan itu merasa cemburu, tapi dia cukup senang setelah cukup lama menunggu akhirnya Ziko mau berdansa dengannya. Walaupun dia tidak tau apa yang di bisikkan Zira ke telinga pria idamannya, sehingga Ziko mau mengajaknya berdansa.
"Apa kamu bilang." Ziko menahan emosinya sambil menarik tangan Sisil menuju lantai dansa.
Sisil memegang pundak Ziko, dan Ziko memegang pinggang Sisil. Tangan mereka yang lain saling memegang.
Semua mata yang ada di acara itu tertuju pada mereka berdua, begitupun Zira. Dia mengagumi mereka berdua, menurutnya Sisil dan Ziko merupakan pasangan yang serasi.
Zelin sudah kembali ke posisi awalnya yaitu dekat dengan sang mama.
Tinggal Kevin dan Zira yang masih di tempat itu. Zira menepuk pundak Kevin.
"Hei asisten Kevin, kenapa kamu melihat kearah sana terus? Pertunjukannya kan ada di depan." Tanya Zira.
"Iya nona, saya suka melihat ke sana." Jawab Kevin cepat.
"Ah kamu ada-ada aja, bos sama anak buah sama-sama mempunyai kebiasaan yang aneh." Zira menggeleng-geleng kan kepalanya.
"Lihat asisten Kevin." Zira menunjuk ke arah lantai dansa.
Kevin hanya melirik sebentar dan kembali ke posisi awalnya.
"Mereka sangat serasi ya." Puji Zira sambil tetap menatap kearah lantai dansa.
"Like setiap episode ya, komennya jangan kendor ya dan vote yang banyak biar author semangat update nya, terimakasih. "
__ADS_1