Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 417 (S2)


__ADS_3

🌹Vote


Cara vote.


Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.


Selamat Membaca.


***


Mobil sudah melaju ke jalan raya. Perasaan Menik masih tetap tidak enak. Dia duduk di mobil dengan gusar.


"Kakak kenapa? Bisulan." Ucap Bima.


"Bim, kakak lagi enggak mau bercanda." Ucap Menik ketus.


"Oke." Ucap Bima.


Menik melirik ke arah Koko yang sedang menyetir.


"Ko, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kamu tidak mau mengatakan kepadaku." Ucap Menik.


"Maaf Nik, aku tidak bisa. Sebentar lagi kita sampai." Ucap Koko.


Menik malas untuk bertanya lagi, dia lebih memilih diam, dan akan menanyakan langsung kepada Kevin.


Mobil sudah masuk ke dalam gapura perumahan. Setelah beberapa belokkan mobil sampai di depan rumah Kevin. Suasana di rumah Kevin terlihat ramai.


"Apa yang terjadi." Ucap Menik.


Koko tetap tidak mau bicara. Ketika mobil berhenti Menik langsung turun dan bergegas masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah sudah ada keluarga, kerabat beserta keluarga Raharsya.


Tidak jauh dari situ ada tubuh seseorang yang di letakkan di atas kasur, di tutupi kain jarik dan wajahnya di tutup kain putih. Menik melihat sekeliling ruangan itu, dia tidak menemukan Kevin. Pikirannya tambah kacau. Zira melihat kedatangan Menik. Dan dia menghampiri wanita itu.


"Mari duduk." Zira memapah Menik untuk duduk dekat jenazah.


"Ini siapa." Ucap Menik dengan air mata yang tidak terbendung lagi.


"Papanya Kevin." Ucap Zira.


Air mata Menik mengalir deras, dia bisa membayangkan kesedihan yang di rasakan keluarga Kevin, karena dia juga pernah mengalami hal yang sama.


"Sabar Nik, ini cobaan." Ucap Zira sambil mengelus punggung Menik.


"Bagaimana kejadiannya. Kemaren malam om masih terlihat sehat saja?" tanya Menik.

__ADS_1


"Kami juga belum tau kejadiannya, Kevin hanya mengabari suamiku kalau papanya meninggal."


"Apa sempat di bawa ke rumah sakit?"


"Sepertinya sempat, tapi kami juga belum jelas tentang cerita kematian almarhum."


Di depannya hanya terlihat sosok Jesy, sedangkan keberadaan nyonya Paula dan Kevin tidak diketahuinya.


"Di mana Kevin dan tante Paula?" Ucap Menik.


"Tante Paula ada di kamarnya. Tadi tante Paula pingsan, sepertinya beliau masih shock dengan peristiwa ini."


"Kevin di mana?" Ucap Menik lagi.


"Kevin sama, dia terlihat stress, sekarang dia ada di kamarnya. Coba kamu susul ke sana, tenangkan dia."


Menik menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan para kerabat yang melayat. Dia mengetuk pintu kamar nyonya Paula. Tidak terdengar ada sahutan, dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar.


Di dalam kamar terlihat nyonya Paula sedang duduk di kursi roda suaminya sambil memeluk kain yang sering di gunakan almarhum suaminya.


Menik menghampiri wanita paruh baya itu dan duduk di bawah tepat di dekat kaki nyonya Paula.


"Tante aku turut berduka cita. Maafkan aku karena baru bisa datang sekarang." Ucap Menik sambil menangis.


Nyonya Paula tidak menjawab, dia hanya menangis sambil memeluk kain yang biasa di gunakan suaminya.


"Tante harus mengikhlaskan semuanya. Agar om bisa tenang nantinya." Ucap Menik.


Nyonya Paula tetap tidak merespon pikirannya terlihat entah kemana. Menik keluar dari kamar dan memberitahukan hal itu kepada Jasmin.


"Dokter, tante Paula terlihat stres, bagaimana cara menenangkannya?" tanya Menik.


"Mungkin kejadian ini terlalu mengagetkan keluarga makanya tante beserta keluarga yang lainnya shock berat. Aku dan mama akan menemui tante. Kamu coba tenangkan Kevin. Aku tadi sudah menemuinya. Tapi dia terlihat tidak merespon sama sekali." Ucap Jasmin.


"Dok tunggu, kalau boleh tau kapan meninggalnya dan bagaimana kejadiannya."


"Kira-kira jam dua pagi dini hari." Ucap Jasmin.


"Meninggal di rumah atau rumah sakit?" tanya Menik lagi.


"Sepertinya sudah meninggal di rumah. Cuma keluarga membawa ke rumah sakit untuk memastikan saja."


"Tapi semalam almarhum dalam keadaan sehat." Ucap Menik.


"Menurut cerita Jesy, pulang dari acara lamaran semalam almarhum langsung tidur. Biasanya sebelum tidur tante memberikan segelas susu hangat untuk om. Di situ tante teriak, karena badan om telah dingin."

__ADS_1


Mendengar cerita itu Menik kembali menangis. Ternyata semalam adalah hari terakhir untuk semuanya bertatap muka dengan almarhum. Menik menuju lantai atas. Dia sudah tau letak kamar Kevin, karena sebelumnya dia sudah pernah membersihkan kamar itu.


Tok tok tok pintu di ketuk. Berulang kali pintu di ketuk tapi tidak ada sahutan yang memerintahkan untuk masuk. Dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar itu.


Menik masuk ke dalam kamar dan menemukan Kevin duduk di lantai sambil sandaran di pinggir tempat tidur. Dia mendekati Kevin dengan caranya duduk di sebelah calon suaminya.


"Aku turut berduka cita." Ucap Menik.


Kevin mendengar ada suara Menik, dia langsung memeluk dan menangis sejadi-jadinya. Tidak pernah Menik melihat pria gagah itu menangis. Tapi hari ini dia seperti melihat sosok Kevin yang beda. Di mana calon suaminya menjadi pria yang rapuh. Dan dia memaklumi hal itu. Sekuat apapun pria pasti akan ada masa di mana dia menumpahkan air matanya.


"Menangislah, karena tidak semua air mata itu lemah." Menik.


"Maaf aku tidak mengetahui hal ini lebih awal." Ucap Menik lagi sambil memeluk dan mengelus punggung Kevin.


Kevin tidak menjawab, dia masih menangis. Dia mengusap air mata pria itu dan menatap lekat mata calon suaminya.


"Kamu harus kuat, masih ada tante dan Jesy yang membutuhkanmu." Ucap Menik menyemangati.


"Aku lemah dan tidak berdaya, kejadian ini begitu cepat. Aku masih membutuhkannya di sini." Ucap Kevin dengan derai air mata.


"Aku pernah mengalami hal yang sama denganmu. Di mana orang tuaku juga meninggal. Tentu aku bersedih, nangis dan terpuruk. Tapi aku harus bangkit karena masih ada Bima. Dan kamu juga harus bangkit karena masih ada tante dan Jesy. Semua sudah kehendak di atas, aku yakin kalian bisa melewati ini semua." Menik mengelus pipi Kevin. Pria itu langsung memeluk tubuh calon istrinya.


"Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku, kamu seperti lentera yang menyinari hari-hariku."


"Aku juga mengucapkan terima kasih, karena kamu telah membuat hariku lebih berwarna. Karena kamu aku merasa cantik." Ucap Menik.


Kevin melepaskan pelukannya dan menatap wajah Menik.


"Kamu tetap cantik di mataku. Bukan hanya fisikmu, tapi kecantikanmu tercermin dari kepribadianmu."


Menik senang, Kevin yang terpuruk telah kembali. Terdengar dari kata-kata romantis yang di utarakan calon suaminya.


"Hemmm, sepertinya pernikahan kita akan di undur. Kamu mengerti kan?" Ucap Kevin.


Ada rasa getir ketika mendengar pernikahannya akan di undur. Tapi dia paham kondisi yang tidak memungkinkan untuk keduanya mengadakan acara sakral itu.


"Iya, aku paham. Aku serahkan semuanya kepadamu. Semoga kita bisa di satukan dalam sebuah ikatan pernikahan."


"Aamiin." Ucap Kevin.


Bersambung.


Ig. anita_rachman83.


AUTHOR ADA KARYA BARU YANG BERJUDUL

__ADS_1


" LOVE OF a NURSE", CERITANYA PENUH KEJUTAN DAN MENDEBARKAN HATI. PENASARAN???


__ADS_2