
🌹Vote
Cara vote.
Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.
Selamat Membaca.
***
Sepasang suami istri itu sudah kembali ke rumahnya. Di depan rumahnya sudah ada mobil mertuanya dan mobil lainnya.
"Kamu sudah mengabari mama dan papa?" tanya Zira.
"Iya, aku bilang kamu sedang sakit dan aku suruh tunggu di rumah." Ucap Ziko sambil mematikan mesin mobil.
"Kok sakit, aku mana sakit." Ucap Zira bingung.
"Aku mau memberi kejutan untuk mama dan papa."
"Oh." Zira turun dari mobil di bantu suaminya.
Ketika sampai di dalam rumah nyonya Amel, tuan besar beserta Zelin menghampiri mereka berdua.
"Zira sakit apa?" tanya nyonya Amel panik.
"Duduk sayang." Nyonya Amel menyambut menantunya dengan menuntun Zira menuju sofa.
"Iko, istrimu sakit apa." Nyonya Amel melihat bungkus belanjaan di tangan Ziko.
"Udah sakit kok belanja sih." Omel mamanya.
Ziko hanya senyum, dia tidak menjawab pertanyaan mamanya.
"Kenapa papa, kamu suruh bawa lima asisten rumah tangga?" tanya tuan besar bingung.
"Iya, kakak nih, apa kakak mau buat hajatan di sini." Timpal Zelin.
"Sakit apa sih, ayo katakan jangan di sembunyikan." Omel mamanya lagi.
Ziko tidak menjawab, dia malah menyodorkan plastik belanjaannya kepada mamanya.
"Untuk apa ini." Mamanya tidak mau membuka isi plastik itu, tapi Zelin yang membuka, dia pikir ada makanan di dalam bungkus plastik itu.
"Kak, makanannya mana." Ucap Zelin sambil mengambil satu kotak susu ibu hamil. Nyonya Amel melihat gambar yang ada di kotak itu, lalu merebut dari tangan anak bungsunya.
"Kamu hamil?" tanya nyonya Amel.
"Iya ma." Jawab Zira.
"Ya Allah makasih." Ucap nyonya Amel senang sambil memeluk menantunya.
Tuan besar ikut senang dan mengucapkan selamat kepada anak dan menantunya.
"Hore aku dapat ponakan." Teriak Zelin senang.
"Ada kabar baik lagi buat mama dan papa." Ucap Ziko.
"Apa?" Ucap mamanya singkat.
"Mama dan papa akan mendapatkan cucu tiga." Ucap Ziko.
"Apa! Tiga sekaligus." Ucap nyonya Amel dan tuan besar serentak.
"Iya ma, aku hamil kembar tiga." Ucap Zira.
Nyonya Amel terharu sambil menangis bahagia.
"Papa tau kenapa kamu minta bawa asisten rumah tangga karena Zira hamil dan kehamilannya ini kembar tiga."
"Iya pa, aku enggak mau Zira capek." Ucap Ziko.
"Bagaimana kalau kalian pindah ke mansion, agar mama bisa memantau perkembangan kehamilan Zira." Ucap mamanya.
"Aku takut Zira jatuh, masih teringat jelas kejadian itu." Ucap Ziko.
"Duh papa, mama sudah suruh buat lift. Tapi papa lupa terus, sekarang Zira hamil jadi enggak bisa kan Zira tinggal di mansion." Gerutu mamanya.
__ADS_1
"Mama bisa datang setiap hari ke sini. Kalau perlu mama tinggal di sini." Ucap Ziko.
"Iya sayang, mama akan sering ke sini. Ingat ya pa, sebelum cucu lahir lift itu harus cepat di kerjakan." Ucap nyonya Amel tegas.
"Iya iya." Ucap suaminya.
Semuanya tertawa, mereka senang menyambut kehadiran anggota baru.
Tuan besar dan nyonya Amel telah kembali ke kediamannya. Di rumah Zira sudah ada enam pembantu, dia bingung dengan ide suami dan mertuanya.
"Sayang terlalu banyak asisten rumah tangga di rumah kita. Rumah kita kan enggak terlalu besar." Ucap Zira.
"Aku sengaja minta lima sama mama. Bik Inah bertugas untuk masak, satu bersih-bersih, satu mencuci dan setrika." Ucap Ziko.
"Sama Bik Inah ada enam asisten rumah tangga di sini. Tiga sudah ada tugasnya, tiga lagi ngapain?" tanya Zira.
"Hemmm, yang satu bertugas memijat kamu, dan yang satunya memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu tidak boleh turun dari kasur, kalau butuh minum atau apapun tinggal minta sama si mbak." Ucap Ziko menjelaskan.
"Satu lagi ngapain?" tanya Zira.
"Satu lagi sebagai cadangan."
"Cadangan? Kayak pemain bola aja pakai pemain cadangan." Celetuk Zira.
"Harus itu, selama aku kerja mereka harus terus memantau kamu. Tidak boleh turun dari kasur." Ucap Ziko yang super over protektif.
"Kalau enggak boleh turun dari kasur, terus mau pipis bagaimana? Apa aku simpan di botol aja."
"Pipis ya pipis, apa perlu aku ajarkan cara pipis di kamar mandi." Ejek Ziko.
"Idih, aku bukan si guguk ya." Ucap Zira sambil memonyongkan bibirnya ke arah suaminya. Ziko gemes dengan tingkah istrinya, dia langsung mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Sayang cukup, aku tidak suka kamu menciumku." Ucap Zira jujur.
"Kenapa? Biasanya kamu yang minta."
"Idih mana ada aku yang minta kamu yang selalu nyosor." Ucap Zira.
"Enggak tau, aku merasa mual kalau kamu menciumku." Ucap Zira.
Ziko mengerutkan dahinya, dia curiga kalau ini hanya akal-akalan istrinya.
"Enggak bau sayang, tapi aku merasa mual aja. Mungkin anak kita enggak mau kamu cium." Ucap Zira.
"Kan belum lahir, bagaimana kamu tau kalau dia enggak suka." Ucap Ziko.
"Sayang apa kamu tau tentang kebiasaan aneh orang hamil."
"Iya aku masih ingat kamu minta jitak kepala preman. Eh itu bukan masuk dalam kategori ngidam kan? Itu hanya tes belaka darimu, benar kan?"
Zira menganggukkan kepalanya.
"Jadi menurutku ini bukan ngidam, ini hanya akal-akalanmu saja." Ucap Ziko.
"Serius aku muntah ya."
"Muntah kok bilang?" Ziko heran.
Zira menuju kamar mandi, dia betul-betul muntah. Ziko membantu mengelus punggung istrinya. Setelah selesai dia memapah istrinya ke kasur.
"Yang mana yang sakit." Ucap Ziko khawatir.
"Enggak sakit, cuma enggak enak di mulut." Ucap Zira.
"Minum obat dan vitaminnya." Ziko panik, dia mengambil plastik obat. Dan membaca satu persatu.
"Sayang untuk mual yang mana?" tanya Ziko sambil menunjukkan bungkus obat.
"Kan emang enggak ada untuk mual. Hanya vitamin untuk asam folat dan zat besi."
"Terus bagaimana ngobatin mual itu." Ucap Ziko khawatir.
"Sayang, kalau masih hamil muda memang seperti ini, kamu kan pernah juga mengalami mual. Enggak ingat ya." Ucap Zira.
"Ingat, aku pikir setiap anak beda-beda, tapi kalau kamu mual begini bagaimana nutrisi anak kita. Anak kita harus sehat, berat badan dan perkembangannya juga."
"Iya sayang aku tau, tapi aku mual. Heran deh sebelum aku periksa ke dokter enggak ada yang namanya mual. Tapi kenapa sekarang mual."
__ADS_1
"Enggak tau, kalau kontrol lagi jangan lupa kita tanya sama dokter." Ziko keluar dari kamar. Dia memerintahkan asisten rumah tangga membuatkan susu untuk Zira.
"Mau yang rasa apa tuan?" tanya bik Inah.
Ziko melihat kotak susu yang sudah tersusun rapi di dalam kitchen set.
"Rasa ayam penyet aja. Antar ke kamar ya bik." Ucap Ziko.
Ziko melihat istrinya sedang berbaring sambil memijat pelipisnya.
"Pusing ya?" tanya Ziko.
"Iya, kepala berat." Jawab Zira.
Tok tok tok, pintu kamar di ketuk. Ziko membuka pintu kamar dan menerima satu gelas susu untuk istrinya.
"Makasih bik." Ucap Ziko.
Bik Inah menganggukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan kamar tersebut.
"Minum ini." Perintah Ziko.
Zira menerima gelas pemberian suaminya. Dia meminum seteguk susu tersebut.
"Kok rasanya aneh?" tanya Zira.
"Itu varian rasa ayam penyet." Jawab Ziko.
"Kok bukan seperti rasa ayam malah seperti sapi." Ucap Zira.
"Jangan-jangan kita di tipu. Mereka membuat susu dengan rasa ayam penyet padahal rasanya sapi penyet." Ucap Ziko.
"Mana ada sapi penyet."
"Justru itu, sapi penyet enggak ada mereka membuat susu dengan nama rasa ayam penyet. Karena ayam penyet memang ada."
"Susunya enggak enak, aku enggak mau minum. Rasanya ada pedas-pedasnya mirip bandrek." Ucap Zira.
"Tadi kamu bilang rasanya seperti sapi, sekarang seperti bandrek, kamu ibu hamil yang tidak konsisten." Ucap Ziko.
"Rasanya memang seperti sapi, tapi pedasnya seperti bandrek. Aku enggak mau minum rasa ini lagi." Ucap Zira
"Ya udah, aku minta bik Inah ganti susunya dengan rasa yang baru." Ziko keluar kamar memerintahkan bik Inah membuat susu baru dengan rasa baru. Dia kembali ke kamar dengan membawa gelas di salah satu tangannya.
"Aku jamin pasti kamu akan suka." Ucap Ziko yakin.
"Rasa apa ini?" tanya Zira.
"Rasa sayange." Jawab Ziko.
Zira meminum susu itu seteguk, dia mencoba mengecap rasanya. Kemudian meminum susu itu sampai habis. Setelah habis dia menyerahkan gelas kosong kepada suaminya. Zira berdiri di atas kasur.
"Kamu mau ngapain?" tanya Ziko heran.
"Rasa sayange, rasa sayang sayange, lihat nona dari jauh rasa sayang sayange." Zira nyanyi.
"Kok kamu nyanyi?" tanya Ziko heran.
"Enggak tau, aku seperti bergairah menyanyikan lagu itu." Ucap Zira masih tetap bernyanyi. Ziko panik, dia keluar dari kamar dan membaca kotak susu tersebut.
"Wah gawat." Ucap Ziko panik sambil kembali ke kamar.
Di dalam kamar Zira masih tetap bernyanyi.
"Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi kalau ada umur yang panjang boleh kita berjumpa lagi." Zira selesai dengan lagunya kemudian kembali duduk sambil ngos-ngosan.
"Capek." Ucap Zira.
"Sayang sepertinya kamu enggak usah minum susu ini lagi." Ucap Ziko sambil menunjukkan kotak susu kepada istrinya.
"Kenapa?" Ucap Zira.
"Di sini ada efek sampingnya. Ketika ibu hamil minum susu ini dia langsung senang dan akan terus menyanyikan lagu itu sampai habis."
"Bagus dong, berarti anak kita sedang berlatih vokal." Ucap Zira.
"Iya bagus, cuma aku yang capek dengarnya, kalau lima kali kamu minum ini lima kali juga aku mendengarnya." Rengek Ziko.
__ADS_1
Bersambung.
Mampir ke karya author yang lain ya, "Love of a Nurse"