Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 406 (S2)


__ADS_3

" Mohon dukungannya dengan cara vote, like dan komen, terima kasih."


Selamat Membaca.


***


Vita beserta suaminya sudah pulang dari rumah sakit. Kevin pun ikut pamit pulang, tapi dia tidak pulang ke rumahnya melainkan pergi ke apartemen Menik. Tidak lupa dia mampir ke salah satu bakery terkenal di kota itu, dia membeli beberapa roti yang akan di jadikannya buah tangan.


Kevin memencet bel pintu apartemen. Di dalam Menik dan Bima sedang asik dengan dunianya sendiri. Ketika terdengar bel berbunyi keduanya bergerak untuk membuka pintu.


" Biar kakak." Ucap Menik sambil berjalan mendekati pintu. Dan ketika di buka ada Kevin di depan pintu apartemennya.


" Kamu baru pulang kerja?" tanya Menik.


Kevin tiba di apartemen Menik pada saat sore hari, jadi dia menduga kalau Kevin langsung mampir ke apartemennya.


" Boleh aku masuk." Ucap Kevin. Menik menganggukkan kepalanya sambil menggeser tubuhnya, memberikan ruang untuk pria itu masuk ke dalam apartemennya.


Bima mendengus kesal ketika ada Kevin di dalam apartemennya. Tapi dia tidak meluapkan emosi seperti kemaren-kemaren. Dia lebih memilih bersikap cuek kepada pria idaman kakaknya.


Kevin melirik Bima yang cukup serius menonton pertandingan sepak bola. Dia meletakkan roti bawaannya di atas meja makan, setelah itu langsung duduk di sebelah Bima.


Bima melirik sekilas. Dia ingin melarang Kevin duduk di sebelahnya. Tapi diurungkannya.


" Pertandingan siapa saja?" tanya Kevin.


Bima tidak menjawab, dia lebih memilih mengacuhkan pertanyaan pria di sampingnya. Dan ketika salah satu pemain mencetak gol. Mereka serentak mengatakan gol sambil berdiri. Menik kaget karena dua musuh bebuyutan itu terlihat akrab.


" Ya oper, oper ke kanan, ah." Ucap keduanya kesal.


" Seharusnya di oper ke kawannya." Ucap Bima kesal.


" Iya, jadi tendangan sudut kan." Gerutu Kevin.


Menik membawakan makanan dan meletakkannya di atas meja tepat di depan kedua pria itu.


" Kak geser." Ucap Bima sambil menggerakkan tangannya menyuruh Menik bergeser karena menghalanginya untuk melihat layar televisi.


Menik menggeser tubuhnya ke depan Kevin, dan pria itu melakukan hal yang sama dengan Bima.


" Nik minggir." Ucap Kevin.


Menik kesal ketika dirinya dicuekin tapi ada rasa senang ketika dua pria itu duduk satu sofa tanpa adu jotos.


" Eya eya gooooool." Mereka mengucapkan secara serentak sambil bersorak riang. Keduanya tidak menyadari keakraban itu.


Tiba-tiba Menik berteriak.


" Aaaaaaa." Teriak Menik sambil naik ke atas meja.


Kedua pria itu hanya melirik Menik tapi tidak beranjak dari sofa sama sekali.


" Ada apa." Ucap keduanya.


" Ada kecoa." Ucap Menik jijik.

__ADS_1


" Semprot." Ucap Bima.


" Tapi kakak jijik." Ucap Menik masih di atas kursi.


" Biarin aja Nik jangan di usir mungkin dia mau bertamu." Ucap Kevin sambil melihat layar televisi.


Kedua pria itu terlalu fokus dengan pertandingan sepak bola.


Menik kesal, dia di cuekin kedua pria itu. Dia mulai mencari perhatian dengan cara duduk di sofa di tengah-tengah kedua pria itu. Di pangkuannya ada banyak makanan dan semua itu dari Kevin.


" Hemmm yummy." Ucap Menik memperagakan salah satu chef terkenal. Kedua pria itu melirik dan mengambil roti yang ada pangkuan Menik. Mereka tidak ada berkata-kata hanya tangannya saja yang bergerak mengambil roti itu.


Menik kesal gara-gara bola dia dicuekin. Ketika roti di tangan kedua pria itu habis dan ingin mengambil roti dari pangkuan Menik. Wanita itu langsung memukul tangan dua pria itu secara berulang.


Prok prok.


" Ambil sendiri." Ucap Menik sambil pergi meninggalkan dua pria itu. Dia lebih memilih masuk ke dalam kamarnya.


Akhirnya pertandingan bola selesai. Mereka berdua senang karena tim jagoan mereka menang.


" Apa kamu suka nonton bola?" tanya Kevin.


" Suka sekali." Jawab Bima.


" Apa kamu suka permainan game?"


" Iya kenapa?' Ucap Bima.


" Baiklah besok aku akan membelikan mu sebuah alat yang langsung terhubung ke televisi. Jadi kita bisa main game sepuasnya." Ucap Kevin.


" Hampir mirip tapi ini lebih canggih." Ucap Kevin.


" Wah bakal seru nih. Aku bisa sepuasnya main game." Ucap Bima senang. Dia tidak menyadari kalau Kevin sedang mendekatkan diri kepadanya.


" Iya nanti kita bisa bertanding di sana." Ucap Kevin sambil mencari keberadaan Menik.


Bima melihat arah pandangan Kevin yang seperti kehilangan sesuatu.


" Cari kak Menik." Ucap Bima.


Kevin menganggukkan kepalanya.


" Mungkin di kamarnya." Ucap Bima. Kevin beranjak dari sofa dan mencari keberadaan Menik.


Kevin berhenti di depan pintu kamar Menik.


Tok tok tok


" Siapa?" Ucap Menik dari dalam kamar.


" Pangeranmu." Ucap Kevin.


" Pangeran apa? Pangeran kodok." Ucap Menik ketus.


" Terserah mau pangeran kodok mau pangeran buruk rupa, apapun julukan yang kamu berikan kepadaku aku terima." Ucap Kevin.

__ADS_1


Menik tidak menjawab.


" Buka pintunya Nik." Ucap Kevin.


" Untuk apa? Bukannya tadi kamu tidak membutuhkanku." Ucap Menik ngambek.


" Maaf, aku suka lupa kalau sudah nonton pertandingan bola." Ucap Kevin.


" Ayo buka." Rayu Kevin lagi.


Dengan wajah cemberut Menik membuka pintu kamarnya.


" Ada apa." Ucap Menik ketus.


" Aku kangen."


" Kangen? Tadi kamu cuekin aku sekarang tiba-tiba bilang kangen." Ucap Menik marah.


" Dasar pria kalau sudah nonton pertandingan bola suka melupakan segalanya." Gerutu Menik.


" Tidak Nik, mana mungkin aku melupakan gadis cantik sepertimu. Kamu itu wanita yang langka seperti he." Kevin berhenti dengan kalimatnya.


" Maksud kamu hewan? Apa aku seperti hewan langka." Ucap Menik marah.


" Enggak Nik, mana mungkin kamu aku sandingkan dengan hewan langka." Rayu Kevin.


" Nik jangan marah nanti kamu berkeriput." Belum selesai Kevin dengan kalimatnya Menik sudah memotong ucapannya.


" Kamu kan senang kalau aku berkeriput maka kamu bisa mencari yang lebih muda dariku." Ucap Menik ketus.


" Bukan itu Nik. Kalau kamu berkeriput nanti kontrak kerjamu dengan produk kosmetik wardinah akan di putus. Belum lagi kamu harus mengganti uang ganti rugi." Ucap Kevin mengada-ngada.


Menik langsung panik, dia berjalan ke meja rias dan melihat pantulan dirinya dari dalam cermin. Dia mengecek semua wajahnya dari mata, ujung bibir sampai dahinya semua diceknya.


" Gawat ada keriput di dekat mataku. Berapa yang harus ku bayar." Ucap Menik panik.


" Sstt." Kevin langsung memegang kedua lengan Menik.


" Jangan panik sayang, aku ada di sini. Itu bukan keriput tapi garis halus yang kesasar." Ucap Kevin.


" Ah, kamu itu bukan menenangkan ku malah membuat aku tambah panik." Rengek Menik.


" Enggak sayang, itu bukan keriput. Mana mungkin kamu berkeriput. Aku hanya bercanda." Ucap Kevin lagi.


" Apa kamu yakin?" tanya Menik lagi.


" Yakin." Ucap Kevin.


" Aku lapar, apa kamu tidak berniat membuatkan makanan untukku." Ucap Kevin.


" Tau juga lapar? Aku kirain sudah kenyang nonton." Sindir Menik.


" Enggak lah, mana mungkin melihat bola kenyang, tapi melihat kamu aku bisa kenyang." Goda Kevin.


bersambung.

__ADS_1


Ig. anita_rachman83


__ADS_2