
Keesokan harinya
Hari ini adalah awal baru bagi Kia, dia akan mulai bekerja di tempat yang selama ini dia impikan. Tidak pernah terbersit sedikitpun akan bisa bekerja di perusahaan idamannya. Tapi kenyataannya hari ini dia telah memenuhi mimpinya. Dengan perasaan yang senang campur bahagia dia memasuki gedung megah tersebut. Tidak lepas bibirnya memberikan senyum cantik kepada setiap orang.
Kia telah bertemu dengan pihak HRD. Dia di antar salah satu karyawan menuju mejanya. Karyawan tadi menunjukkan meja kerjanya dan meninggalkannya sendiri. Dia melihat mejanya dengan perasaan senang. Dan tidak jauh dari sana dia melihat ada papan nama di depan pintu yang bertuliskan presiden direktur.
Kia mengetahui kalau dirinya di pekerjakan sebagai sekretaris tapi pihak HRD tidak memberi tahukan sebagai sekretaris siapa. Betapa terkejutnya dia melihat papan nama tersebut. Sudah bisa bekerja di perusahaan sebesar itu dia sudah merasa bangga apalagi jika dia bekerja sebagai sekretaris seorang presiden direktur rasanya sangat luar biasa.
Tidak berapa lama pintu lift di buka ada dua sosok yang gagah keluar dari lift tersebut yaitu Ziko dan Kevin. Ziko melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Ketika Ziko lewat di depannya, Kia berusaha menunjukkan senyum terbaiknya tapi sama sekali pria itu tidak menoleh apalagi meliriknya, yang meliriknya sekilas hanya Kevin.
Ziko duduk di kursi kebesarannya. Dan Kevin masih berdiri di depannya.
" Tuan sepertinya dia sekertaris baru anda." Ucap Kevin pelan.
" Hemmmmm."
" Apa saya harus memanggilnya untuk berkenalan dengan anda." Ucap Kevin lagi pelan.
" Tidak perlu kamu mengenalkan dia kepadaku, pasti dia juga sudah mengenalku." Ucap Ziko sombong.
Kevin menganggukkan kepalanya.
" Kamu ajarkan saja kepadanya untuk menjadi sekertaris yang baik, dan satu lagi jangan pernah masukkan urusan pribadi kedalam gedung ini." Ucap Ziko cepat.
Kevin paham dengan kalimat bosnya. Yaitu tidak boleh ada jalinan kasih di dalam gedung itu atau akan langsung di pecat. Itulah peraturan yang telah di tetapkan perusahaan Ziko.
Kevin beranjak ingin pergi meninggalkan ruangan bosnya.
" Satu lagi jangan pernah ikut campur dalam urusan pribadiku." Ucap Ziko tegas.
Ziko tegas dalam mengambil sikap dia tidak mau ada siapapun ikut campur dalam urusan pribadinya. Seperti halnya tentang seringnya Zira datang ke kantornya, dia tidak mau ada yang mengurusi apapun yang dilakukannya bersama istrinya di dalam ruangan itu.
Kevin pergi meninggalkan ruangan itu. Dia berjalan menuju meja kerja Kia. Kevin melihat sekertaris baru itu dengan wajah yang mendung. Dia merasa sangat sedih karena atasannya sama sekali tidak menganggap dirinya ada.
__ADS_1
" Saya Kevin." Ucap Kevin tanpa mengulurkan tangannya.
Kia yang tadi tertunduk langsung mengangkat wajahnya.
" Saya Kia." Ucap Kia ramah.
" Saya akan memberitahu beberapa hal yang harus kamu patuhi dan yang harus kamu kerjakan." Ucap Kevin cepat.
Kevin menjelaskan beberapa pekerjaan dan peraturan menjadi sekertaris seorang presiden direktur. Kevin menjelaskan dengan cermat dan sekertaris itu mencatat semuanya di dalam note book. Setelah selesai menjelaskan semuanya Kevin kembali ke ruangannya meninggalkan Kia sendiri di meja kerjanya.
Tidak berapa lama telepon yang ada di atas meja berbunyi dan dia langsung mengangkat telepon tersebut.
" Selamat pagi dengan Kia di sini ada yang bisa di bantu." Ucapnya ramah.
" Antar kan kopi." Ucap Ziko cepat.
Ziko langsung menutup teleponnya sebelum Kia menjawabnya. Dia mengelus dadanya karena mendapat perlakuan yang tidak baik dari bosnya.
Dia mengetuk pintu perlahan setelah dapat instruksi masuk dia langsung masuk keruangan presiden direktur.
" Pagi tuan ini kopinya." Ucap Kia ramah.
" Hemmmmm." Ziko masih serius dengan file di depannya.
Kia meletakkan kopi di atas meja bosnya. Ziko tidak meliriknya sama sekali dia melambaikan tangannya mengusir sekretarisnya keluar dari ruangannya.
Kia langsung keluar dengan hati yang kecewa.
" Kenapa sosok Ziko selalu di idolakan semua orang padahal karakternya saja mereka tidak tau, apalagi dengan sifat dinginnya, semoga saja aku bisa betah bekerja disini."
Kevin kembali keruangan bosnya, sebelumnya dia menghampiri meja Kia.
" Hari ini ada meeting tolong kamu persiapkan berkas yang di perlukan, meeting hari ini bersama dengan para investor asing." Ucap Kevin sambil menuju ruangan Ziko.
__ADS_1
Di dalam Ziko masih dengan pekerjaannya, dia merasa sangat sibuk hari ini. Dia harus mengerjakan beberapa pekerjaan karena lusa dia akan keluar negeri melakukan perjalanan bisnis.
" Pagi tuan sebentar lagi kita akan ada meeting dengan para Investor." Ucap Kevin pelan.
" Baik. Apa mereka semua sudah datang?"
" Sebagian para investor sudah datang mereka sedang menunggu di guest room." Ucap Kevin lagi.
Ziko meletakkan kedua tangannya di kepala bagian belakang. Pintu ruangan di ketuk, Kia membuka pintu dengan perlahan sambil memegang beberapa berkas dokumen.
" Ini berkas dokumennya pak." Ucapnya sambil menyerahkan kepada Kevin.
Kevin menerima berkas tersebut, tanpa sengaja Kia dan Ziko sama-sama saling menatap beberapa detik. Kia langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.
Ziko beranjak dari kursinya dan pergi keluar ruangan bersama Kevin. Dia tidak ada bicara sepatah katapun kepada sekretarisnya. Tapi berbeda dengan Kia, dia merasa sangat senang ketika mereka beradu mata dalam beberapa detik.
" Harus aku akui tatapan matanya benar-benar menghanyutkan." Gumam Kia sambil memegang jantungnya.
Jantung Kia berdebar kencang ketika mereka saling beradu mata. Seperti sekertaris pada umumnya dia menerima semua panggilan yang masuk dan mencatat beberapa panggilan yang ingin membuat janji dengan Ziko.
Zira melangkahkan kakinya menuju loby. Walaupun dia sudah di kenal sebagai istri pemilik perusahaan tapi dia tetap menjalankan aturan yang berlaku. Dia menghampiri meja resepsionis dan meminta izin untuk ketemu Ziko.
" Selamat siang saya mau bertemu dengan presiden direktur." Ucap Zira ramah.
" Nona silahkan langsung menuju ruangan presiden direktur tidak perlu meminta izin kepada kami." Ucap salah satu resepsionis sopan.
Hampir semua sudah mengenalnya, mereka mengetahui tentang Zira setelah adanya tayangan mengenai pertunangan dan pernikahan mereka yang di publikasikan ke media cetak maupun media elektronik.
Semua karyawan dan karyawati menaruh hormat kepadanya seperti mereka menaruh hormat kepada presiden direktur.
Zira melangkahkan kakinya menuju lift. Dia selalu menggunakan lift khusus karyawan tapi ketika dia bersama Ziko mau tidak mau dia harus menggunakan lift khusus presiden direktur. Walaupun dia seorang istri dari pemilik perusahaan tapi dia tidak pernah menunjukkan sikap yang sombong apalagi memamerkan kekayaan suaminya, Zira tetap menjadi Zira yang sama hanya statusnya saja yang membedakan.
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."
__ADS_1