Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 435 (S2)


__ADS_3

Kepala Kevin sudah plontos, kaki seperti kaki palsu yang tidak ada bulu sama sekali. Mobil sudah tiba di kantor, tapi asisten Ziko tidak mau turun dari mobil.


"Ayo turun." Ucap Ziko.


"Tuan hari ini saya izin enggak masuk." Ucap Kevin.


"Iya udah, tapi apa kamu berani pulang dengan kepala seperti bola bekel." Ucap Ziko menakuti.


Kevin menggelengkan kepalanya. Dengan berat hati mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam loby. Karena sudah jam masuk kerja, jadi tidak terlalu banyak karyawan di loby. Hanya ada segelintir karyawan yang wara wiri di loby. Ketika dua pria yang penuh wibawa masuk. Semua mata langsung menoleh ke arah mereka. Biasanya siapa saja yang melihat mereka enggan untuk mengalihkan padangannya. Tapi hari ini mereka semua buru-buru kabur sambil menahan tawa. Terlihat kalau yang ada di loby ingin tertawa lepas di tempat lain.


Ziko tidak malu, kemaren dia jalan dengan ragu sambil menundukkan kepalanya. Tapi hari ini dia bisa mengangkat kepalanya dengan tegak, karena ada kembarannya yang penampilannya sama dengan dirinya.


"Vin, kita kalau seperti ini mirip shaolin." Ucap Ziko pelan sambil masuk ke dalam lift.


"Tuan kalau mau jadi shaolin jangan ajak-ajak saya." Ucap Kevin memelas.


Ting pintu lift terbuka. Kedua pria dengan kepala plontos keluar.


Koko yang baru saja keluar dari pantry kaget melihat kedua pria itu.


"Kenapa? apa kamu tidak pernah lihat upin-ipin main di kantor." Ucap Ziko sambil berlalu masuk ke dalam ruangannya.


Kevin berhenti di depan sekertaris bosnya.


"Kamu tau, ini model rambut terbaru era covid." Ucap Kevin sambil masuk ke dalam ruangan bosnya.


"Buahahaha." Koko tertawa lepas.


Ketika sudah sampai di dalam ruangan presiden direktur. Dia langsung masuk ke kamar yang ada di belakang. Kevin sedang mencari rambut palsu yang baru di belinya kemaren.


Kevin mencoba beberapa wig, kemudian meletakkannya lagi. Dia mencoba satu persatu.


"Tuan, yang ini bagaimana?" tanya Kevin.


"Enggak cocok, rambut kamu itu ikal, tiba-tiba jadi lurus. Cukup linggis yang lurus, rambutmu jangan, enggak cocok, ganti." Ucap Ziko.


Kevin mencoba rambut wig lainnya. Dan menanyakan pendapat bosnya.


"Kalau yang ini bagaimana?" tanya Kevin lagi.


Ziko memperhatikan bentuk rambut yang ada di kepala Kevin.

__ADS_1


"Kamu seperti bawa konde, lebih besar rambut dari kepala." Ejek Ziko.


"Ah, bilang saja tuan iri, karena saya tidak jadi kembaran anda." Ucap Kevin.


"Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas rambut palsu itu enggak cocok. Aku yakin pasti si Menik langsung tau kalau itu rambut palsu." Ucap Ziko.


Kevin teringat sesuatu, kemaren sebelum pulang kerja bosnya kekeh mau pakai rambut wig, dan menutupi kepalanya sama istrinya sampai batas yang tidak di tentukan. Tapi tadi pagi tiba-tiba bosnya keluar kamar tanpa rambut palsu. Walaupun sudah di jelaskan Zira alasannya tapi dia masih belum percaya.


"Tuan, kenapa anda tidak pakai rambut palsu lagi, bukannya tuan kemaren ingin menyembunyikan sama nona Zira?" tanya Kevin.


"Itulah, sebenarnya aku sudah berperilaku wajar tapi pada saat nonton televisi kepalaku gatal. Aku garuk terus. Eh istriku curiga, dia bilang rambutku kok miring, aku betulkan lagi rambut palsuku, bukan makin lurus tapi tambah miring." Ucap Ziko.


"Pasti nona Zira marah." Ucap Kevin.


"Bukan marah saja, badanku habis di cubit." Ziko menunjukkan tangannya yang biru karena kena cubit.


"Murid Thanos kalau cubit ngeri juga. Heran kenapa setiap wanita kalau marah cenderung main cubit." Ucap Kevin bingung.


"Ah jawaban yang gampang, karena kalau main kaki udah di ambil pemain bola." Jawab Ziko.


Tiba-tiba Kevin menggaruk kepalanya.


"Kan udah aku bilang pakai itu gatal." Ucap Ziko.


"Ini bahannya terbuat dari apa ya." Ucap Kevin sambil memegang helai demi helai rambut palsu itu.


"Mungkin dari bulu kaki ataupun bulu ketek." Ucap Ziko asal.


"Atau dari sabut kelapa." Ucap Kevin.


Kevin tidak jadi memakai rambut palsu lagi, rasa gatal di kepala membuatnya memilih untuk tidak menutupi kepalanya dengan apapun.


Dia sedang memikirkan cara untuk menutupi kepalanya.


"Tuan kalau saya pakai topi bagaimana." Kevin meminta pendapat bosnya.


"Bisa juga tapi apa tidur mau pakai topi juga?"


"Iya juga, terus bagaimana cara mengatakan kepada Menik." Ucap Kevin.


"Katakan saja sejujurnya. Awalnya pasti dia marah tapi lama-lama dia akan diam sendiri. Sama halnya seperti istriku juga gitu. Tapi ada untungnya kita gundul setelah menikah, kalau belum menikah bisa di pastikan Zira dan si Menik ilfeel." Ucap Ziko.

__ADS_1


Akhirnya mereka kembali ke rutinitasnya, sibuk dengan segala pekerjaan. Kevin harus mempersiapkan pekerjaannya selama dua pekan ke depan. Karena besok dia akan berangkat ke luar negeri bersama istrinya.


Waktu sudah menunjukkan jam lima tepat, Kevin dan Ziko keluar dari kantor dengan kepala plontosnya. Ziko dan Kevin tidak memperdulikan semua mata yang mengarah kepada mereka.


"Vin, gimana kalau semua pekerja pria gundul seperti kita, pasti seru." Ucap Ziko asal.


"Tuan kalau cari ide jangan ngawur. Kalau semua gundul shampo tidak akan laku." Ucap Kevin cepat sambil menyalakan mesin mobil.


"Tapi lucu Vin." Ucap Ziko lagi.


"Ok semua karyawan pria rambutnya gundul, tapi nama perusahaannya harus di ganti menjadi shaolin corporate." Ucap Kevin.


"Hahahah." Keduanya tertawa senang.


"Tapi bagus Vin, karyawan tidak harus berpakaian rapi. Mereka bisa pakai kain seadanya seperti sarung ataupun gorden." Ucap Ziko dengan gelak tawanya.


"Tuan, saya tau anda melakukan ini karena anda iri dengan karyawan pria yang punya rambut. Dan tuan ingin semua karyawan pria merasakan di bully sama istri atau kekasihnya, benar kan." Tebak Kevin.


"Hahaha, tebakkanmu benar." Ucap Ziko.


Mobil yang di kendarai Kevin sudah sampai di depan rumah bosnya. Setelah bosnya turun, Kevin langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya. Tapi sebelum sampai rumah dia mampir ke salah satu toko untuk membeli beberapa topi. Dia ingin selama di luar negeri menutup kepalanya dengan model topi yang modern. Karena di luar negeri sedang musim panas, maka dengan memakai topi dapat melindungi gundulnya dari panasnya sinar matahari.


Kevin sudah sampai di rumahnya. Dia di sambut tiga wanita, mamanya, adiknya dan istirnya.


Semua wanita yang ada di rumah itu bingung dengan penampilan Kevin yang berbeda ketika berangkat kerja dengan pulang kerja.


"Tumben kamu pakai topi." Ucap mamanya.


"Iya, topi itu enggak cocok di padu padankan dengan jas. Lebih cocok dengan pakaian kasual." Timpal Jesy.


Menik tidak banyak bicara cuma dia rada curiga dengan jambang suaminya yang sudah tidak ada. Kevin langsung membuka topinya di hadapan ketiga wanita itu.


"Aaaaa tuyul." Ucap nyonya Paula spontan.


Jesy yang melihat penampilan kakaknya hanya bisa melongo. Sama halnya dengan Menik, dia merasa bukan berhadapan dengan suaminya.


"Apa kamu baru di akikah." Ucap Menik polos.


Bersambung.


Jangan lupa vote untuk ke dua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse"

__ADS_1


__ADS_2