Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 83


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi Ziko sudah sampai di depan gerbang. Para penjaga membuka gerbang sambil memberikan hormat kepada majikannya.


Mobil menyusuri jalan kecil di kanan kiri terlihat pohon yang sangat tinggi dan daun-daun kering yang berguguran. Dan mobil berhenti tepat di depan pintu.


Seseorang sudah berdiri di depan pintu, dia langsung membukakan pintu mobil ketika mobil yang di tumpangi Ziko berhenti.


Si pria langsung memberikan hormat kepada Ziko ketika majikannya turun dari mobil.


" Sore tuan." Ucap si pria.


Ziko hanya mengangguk dan berjalan memasuki rumah tua. Di dalam sudah banyak orang-orang kepercayaannya. Seorang pria datang mendekatinya.


" Di mana kamu meletakkannya." Tanya Ziko.


" Saya meletakkannya di kamar kosong tuan." Jawab si pria.


Ziko langsung menuju tempat yang di sebutkan pria tadi di ikuti Kevin dan beberapa orang lainnya.


Di depan pintu kamar sudah ada yang menunggu. Si pria membukakan pintu kamar.


Begitu ruangan di buka tercium bau yang tidak sedap. Penutup mata dan mulut Bram di buka oleh si pria. Lampu sorot menyoroti wajahnya.


Bram merasa silau dengan lampu sorot yang disorotkan ke wajahnya. Suara tepuk tangan terdengar tapi bram belum bisa melihat wajah orang tersebut hanya terlihat sepatu dan kakinya saja.


" Siapa kalian kenapa aku di kurung di sini." Teriak Bram.


" Sepertinya kamu ingin melihat wajahku."


Suara tapak sepatu menggema di dalam kamar itu. Ziko berdiri di depan Bram. Bram terperangah kaget melihat orang yang ada di depannya adalah orang nomor satu di kota itu.


" Tuan apa salahku hingga kamu mengurungku." Tanya Bram.


" Aku yang seharusnya bertanya kepadamu. Untuk apa kamu mengganggu calon istriku." Teriak Ziko.


Bram diam tidak mengerti maksud dari ucapan Ziko.


" Tuan apa maksud dari perkataan mu." Tanya Bram.

__ADS_1


Ziko langsung memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menunjukkan foto-foto dirinya dengan Zira.


" Apa sekarang kamu mengerti siapa calon istriku." Teriak Ziko.


" Maaf tuan aku tidak tau kalau dia adalah calon istrimu, aku hanya mengikuti perintah saja." Ucap Bram menjelaskan.


" Bohong kamu." Bentak Ziko.


Ziko memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk menghajar Bram. Wajah Bram sudah babak belur.


" Apakah kamu mau berkata jujur." Tanya Ziko dengan wajah yang sangat mengintimidasi.


Bram berusaha menjawab pertanyaan Ziko.


" Tuan aku hanya di perintahkan untuk merayu calon istrimu dan kalau aku bisa mencium tangan calon istrimu aku di beri hadiah." Ucap Bram dengan berlumuran darah.


Ziko memukul wajah Bram berkali-kali ada cairan berwarna merah dari mulut mata dan hidung.


" Apa kamu tidak tau siapa dia." Teriak Ziko masih dengan memukul wajah Bram.


" Kenapa kamu masih mau melakukannya." Bentak Ziko lagi sambil memukul perut Bram.


" Pada saat itu aku lagi butuh uang tuan, dan aku berpikir untuk melakukannya tapi aku di jebak tuan." Ucap Bram merintih kesakitan.


" Apa maksudmu." Tanya Ziko teriak.


Bram berusaha menjelaskan dengan suaranya yang sudah terasa berat karena bibirnya sudah bengkak.


" Dia memberiku tantangan untuk merayu dan mencium tangan calon istri tuan. Awalnya aku menolak dan dia meyakinkanku kalau itu hanya sebagai tantangan dan tidak akan di ketahui oleh kamu." Ucap Bram menjelaskan.


Ziko bernafas dengan sangat berat.


" Aku menerima tantangan itu karena yang aku ketahui tidak ada yang akan mengetahui tantangan ini, tapi ternyata aku di jebak dia mendokumentasikan semuanya.


" Apakah yang kamu ucapkan semua benar." Teriak Ziko.


" Benar tuan aku berkata benar." Ucap Bram meyakinkan.

__ADS_1


" Baiklah aku percaya denganmu dan aku akan melepaskanmu, dengan satu syarat." Ucap Ziko menggantung ucapannya.


" Apa itu tuan." Tanya Bram.


" Aku ingin kamu menyakitinya. Kalau sampai kamu tidak melakukannya. Aku pastikan kaki tanganmu sudah tidak pada tempatnya." Ucap Ziko tegas sambil meninggalkan ruangan.


Bram di antar ke rumahnya dengan wajah yang babak belur.


Ziko sudah kembali ke mobil menuju mansion.


Di mansion.


Suara klakson berbunyi penjaga membukakan gerbang. Mobil memasuki pekarangan mansion. Zira turun dari mobil ketika pintu telah di buka supirnya. Dia berjalan menuju pintu mansion. Dia ingin mengetuk pintu, belum sempat mengetuk telah keluar seorang pria paruh baya.


" Selamat sore nona." Ucap kepala pelayan.


" Sore pak." Ucap Zira cepat.


" Panggil saja saya pak Budi." Ucap pria paruh baya tadi.


Zira mengangguk mengiyakan.


" Apakah Nyonya Amel ada." Tanya Zira.


" Nyonya Amel ada lagi duduk di ruang keluarga. Mari silahkan." Ucap pak Budi ramah.


Zira mengikuti pak Budi dari belakang, setelah melewati beberapa ruangan yang Zira sendiri tidak mengerti ruangan apa itu. Mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup besar dengan sofa yang besar dan sebuah televisi yang besar. Dia pernah duduk di ruangan itu dan itu terjadi sehari setelah pertunangannya diumumkan.


" Permisi Nyonya ada nona Zira." Ucap pak budi sambil pergi meninggalkan Zira dan Nyonya Amel.


Nyonya Amel langsung berdiri begitu melihat kedatangan calon menantunya. Zira masih diam beberapa saat kemudian dengan cepat dia memeluk Nyonya Amel.


Nyonya Amel yang mendapat pelukan mendadak ada sedikit kaget melihat ekspresi Zira. Karena sebelumnya calon menantunya bersikap dingin kepadanya tapi hari ini Zira menjadi wanita yang lain.


Nyonya Amel menyambut pelukan Zira dengan mendekapnya erat.


" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."

__ADS_1


__ADS_2