Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 146


__ADS_3

Zira keluar dari lift dan berlari kecil menuju ruang melati. Dia masuk kedalam ruangan itu. Dan mendapati Susi sudah sadar dan sedang mengobrol dengan Lina.


" Tolong antar ini ke ruangan perawat." Ucap Zira kepada Lina sambil memberikan bungkus obat di tangannya.


Lina langsung keluar dari ruang melati untuk mengantar obat ke perawat jaga.


" Bagaimana keadaan kamu?" Zira duduk di kursi sambil memegang tangan Susi.


" Saya sudah agak mendingan mbak." Ucap Susi pelan. Lina sudah kembali ke ruangan melati dia ikut nimbrung bicara.


" Mbak, aku sudah menghubungi suaminya, mungkin sebentar lagi sampai." Ucap Lina menjelaskan.


Zira menganggukkan kepalanya. Tidak berapa lama pintu di buka ada seorang dokter wanita dan dua orang perawat di belakangnya.


" Selamat siang." Sapa Dokter itu ramah.


" Siang." Mereka menjawab semua.


Dokter tadi meletakkan stateskop ke dada Susi dan perut Susi. Dokter itu mengajukan beberapa pertanyaan mengenai keluhan yang di rasakan Susi. Semua di tanya Dokter itu, perawat mencatat semua di dalam buku catatan pasien.


" Bagaimana keadaan teman saya Dokter?" Zira memberanikan diri bertanya ketika dokter sudah selesai memeriksa Susi.


" Kandungannya lemah, jadi saya sarankan demi kebaikan si ibu dan janinnya, anda harus istirahat total." Dokter menjelaskan semuanya dari sebab dan akibat kemungkinan yang akan terjadi. Dokter keluar dari ruang melati setelah selesai memeriksa Susi.


Susi tertunduk sedih dia bingung dengan pekerjaannya. Zira paham dengan kesedihan yang di rasakan karyawannya.


" Kamu istirahat saja, enggak usah pikirkan tentang pekerjaan nanti kalau kata dokter kandungan kamu sudah kuat, kamu bisa kembali bekerja di Zira Boutique." Ucap Zira memberikan semangat.


Susi yang tadinya berwajah sendu kembali ceria. Dia merasa sangat senang mendapatkan seorang bos yang pengertian seperti Zira. Lina dan Zira pamit pulang karena suami Susi sudah datang. Mereka masuk ke dalam lift, dia menekan lantai 4. Lina memperhatikan Zira dengan heran, tapi dia tidak bertanya. Lift telah berhenti di lantai 4 mereka keluar dari lift. Zira melebarkan pandangnya ke lantai 4, dia mencari ruangan tempat Naura di rawat.

__ADS_1


" Mbak, kamu cari apa?" Ucap Lina penasaran.


Mereka berjalan menyusuri lantai 4.


" Aku cari ruangan Naura di rawat, katanya di sebelah sini." Ucap Zira masih dengan membaca tulisan yang ada di atas pintu.


" Siapa Naura mbak?" Ucap Lina lagi penasaran.


" Naura itu loh yang pernah minta desain baju ulang tahun ala princess." Ucap Zira menjelaskan. Tapi Lina belum bisa mengingat wajah Naura.


Zira dan Lina berhenti di depan ruang cempaka. Dia mengetuk pintu perlahan tidak berapa lama pintu di buka dari dalam ada Fiko di depan pintu. Fiko mempersilahkan mereka untuk masuk. Naura terbaring di tempat tidur dengan jarum infus di tangannya, wajahnya pucat dan badannya sedikit kurus dari pertama kali Zira melihatnya. Naura masih memejamkan matanya, dia memberanikan diri untuk duduk di samping tempat tidur. Dia mengelus tangan Naura dengan lembut. Naura membuka matanya ketika di elus oleh Zira.


" Tante." Ucap Naura lirih.


" Iya sayang." Ucap Zira mengecup dahi Naura.


" Tante apakah aku bisa sembuh?" Ucap Naura sambil mengeluarkan air mata dari ujung matanya.


" Tante kenapa setelah ulang tahunku tante tidak pernah datang lagi." Ucap Naura lagi.


Lagi-lagi Zira tidak bisa menjawab pertanyaan gadis cilik itu. Kondisinya yang tidak bisa menemui Naura. Semenjak perkelahian antara Fiko dan Ziko terjadi, ruang geraknya jadi terbatas. Semua kegiatannya terus di pantau Ziko.


" Maaf sayang tante sibuk." Ucap Zira berbohong demi menyemangati Naura.


" Tante apakah aku masih cantik." Ucap Naura lirih.


" Kamu tetap cantik sayang dan kamu adalah bidadari yang di turunkan malaikat untuk mengisi hari-hari papa kamu." Ucap Zira sambil melirik kearah Fiko.


Zira memberikan semangat untuk sembuh kepada gadis cilik itu. Dia menyemangati Naura dengan cara yang unik.

__ADS_1


" Kamu harus sembuh, nanti kalau kamu sembuh tante akan membuat baju princess yang paling bagus untuk kamu." Ucap Zira menyemangati.


Naura menganggukkan kepalanya, dia merasa semangatnya telah kembali. Zira menyayangi Naura seperti dia menyayangi dirinya sendiri. Karena efek obat yang di rasakan, gadis cilik itu tidak kuasa menahan matanya, dalam sekejap Naura langsung tertidur lagi. Gadis cilik itu harus banyak istirahat seperti itulah pesan dari Dokter.


" Aku mau bicara." Ucap Zira kepada Fiko.


Mereka keluar dari ruang cempaka. Mereka ngobrol di lorong lantai 4.


" Sejak kapan Naura sakit." Tanya Zira cepat.


Fiko menundukkan kepalanya beberapa detik kemudian mengangkat kembali kepalanya.


" Setelah pertemuan kita yang terakhir kali." Ucap Fiko pelan.


Zira masih ingat pertemuannya terakhir dengan Fiko ketika mereka berada di restoran. Dan masih ingat di dalam benaknya ketika perkelahian terjadi antara Fiko dan Ziko. Semua terjadinya karena suaminya yang cemburu buta kepada Fiko.


" Maafkan aku atas kejadian beberapa bulan yang lalu." Ucap Zira meminta maaf mewakili permintaan maaf suaminya.


" Sudahlah kamu tidak bersalah. Suami kamu memang sangat posesif. Tapi aku memakluminya." Ucap Fiko menenangkan Zira.


" Ya kalau saja perkelahian itu tidak terjadi, pasti aku mengetahui tentang Naura." Ucap Zira sedih.


Fiko menjelaskan tentang awal mula Naura sakit. Naura anak yang ceria beberapa bulan terakhir, dia mendapati anaknya sering mengeluh sakit seperti di tulang rusuk kiri bawah, dan nafsu makan yang semakin lama berkurang, belum lagi anaknya seiring mengalami pendarahan di gusi hidung maupun urin. Semenjak kejadian itu Fiko langsung melarikan Naura ke rumah sakit untuk mengetahui tentang sakit yang di derita anaknya. Dokter memvonis Naura terkena kanker darah atau yang sering di sebut leukemia, dan dokter memvonis Naura sudah masuk stadium 3 yaitu sel kanker sudah tumbuh lebih dalam ke jaringan tubuh. Meskipun demikian sel kanker belum sampai menyebar ke bagian tubuh lain. Untuk mencegah sel kanker tumbuh dan menyebar ke bagian tubuh lain maka dokter menyarankan Naura untuk di kemoterapi.


Zira merasa terpukul dan tak kuasa menahan air matanya. Dia yang kuat dan jarang menangis tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia merasa beban yang di rasakan Fiko teramat sangat berat. Semenjak meninggal istrinya dia mengurus Naura seorang diri, dan cobaan itu datang kembali kepada dirinya. Penyemangat hidupnya telah sakit dan dia tidak ada daya upaya selain memberikan semangat dan melakukan yang terbaik untuk malaikat kecilnya. Zira hanya bisa memberikan semangat berupa bantuan moril.


" Titip salam ku pada Naura, besok aku akan datang kembali ke sini." Ucap Zira sambil menyalami tangan Fiko.


Fiko memegang tangan Zira lama. Tangan yang pernah masuk ke dalam bagian dirinya, yang sekarang telah menjadi milik orang lain.

__ADS_1


" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."


__ADS_2