Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 412 (S2)


__ADS_3

🌹Vote


Cara vote.


Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.


Selamat Membaca.


***


Mereka telah tiba di depan sebuah mall. Mobil diparkirkan di basement mall. Menik belum mau turun dari mobil, dia merasa malu jika membeli keperluannya bersama Kevin.


"Ayo turun." Ajak Kevin.


"Aku akan turun asal kamu berjanji kepadaku." Ucap Menik.


"Apa."


"Jangan ikut denganku ke mall. Aku akan membeli keperluanku sendiri." Ucap Menik tegas.


"Sepertinya kamu minta di gendong." Ucap Kevin sambil membungkukkan badannya dan salah satu tangannya merangkul bahu Menik, seperti ingin membopong.


"Ok aku akan turun." Ucap Menik cepat. Kevin melepaskan tangannya dari bahu Menik. Dan wanita itu langsung turun dari mobil.


"Kamu boleh ikut tapi tidak boleh dekat-dekat denganku." Ucap Menik.


"Kenapa?"


" Aku malu." Rengek Menik jujur.


"Hahaha, kenapa harus malu toh nanti aku juga akan tau." Ucap Kevin.


"Nanti ya nanti. Kita membicarakan hal sekarang bukan nanti." Ucap Menik tegas.


"Ok sayang, kamu jangan sewot nanti kamu lekas tua."


Mendengar kata sayang wajah Menik langsung merona malu. Kevin menggenggam salah satu tangan Menik dan membawanya masuk ke dalam mall.


Mereka berhenti di salah satu toko yang menjual pakaian dalam wanita.


"Kamu di sini saja. Aku akan masuk ke sana." Ucap Menik sambil melangkahkan kakinya menuju toko.


"Tunggu." Ucap Kevin sambil mengambil dompetnya dari saku celananya. Dia menyerahkan satu kartu untuk Menik.


"Ini apa?" tanya Menik.


"Kartu." Jawab Kevin.


"Iya kartu apa?"


"Ini kartu debit, kamu bisa memakainya untuk membayar semua keperluan mu." Ucap Kevin.


"Tapi aku juga punya kartu."

__ADS_1


"Simpan kartumu dan pakai kartu itu." Ucap Kevin sambil menunjuk kartunya dengan sorot matanya.


"Tapi."


"Enggak usah pakai kata tapi. Ingat kamu itu calon istriku. Dan hantaran ini yang bawa juga pihak keluarga calon pengantin pria. Walaupun semua untukmu tapi yang harus membayar ini semua adalah aku." Ucap Kevin menjelaskan.


Menik paham, dia membawa kartu pemberian Kevin ke dalam toko tersebut. Dan Kevin menunggu di depan toko.


Calon pengantin wanita sibuk dengan pilihannya dan calon pengantin pria sibuk dengan ponselnya. Untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan karena menunggu, Kevin menyibukkan diri dengan melihat ponselnya.


Dari jauh ada sosok yang tidak sengaja memperhatikannya. Dua sosok itu datang dan menghampirinya..


"Kevin." Ucap dokter Diki sambil menepuk pundak Kevin.


Kevin membalikkan badannya dan melihat ada dokter Diki bersama dengan Jasmin.


"Hey." Ucap Kevin sambil memperhatikan dua orang yang ada di depannya.


"Ngapain kalian di sini?" Tanya Kevin.


"Shoping." Jawab Jasmin sambil menunjukkan tentengannya kepada Kevin.


"Oh." Ucap Kevin singkat.


"Dan kamu ngapain berdiri di depan toko ini?" tanya dokter Diki sambil senyum menyeringai. Dokter tersenyum seperti sedang mengejek Kevin.


"Jangan berpikiran macam-macam, aku sedang menunggu Menik. Dia lagi ada di dalam." Ucap Kevin sambil menunjuk ke dalam toko.


Wanita indo bule itu masuk ke dalam toko pakaian dalam. Dan para pria menunggu di depan toko.


Kevin menatap wajah dokter Diki dengan penuh tanda tanya.


"Jangan lihat aku seperti itu. Aku akan jelaskan." Ucap dokter Diki.


"Ya sudah jelaskan." Ucap Kevin.


"Aku sedang dekat dengan Jasmin." Ucap dokter Diki.


"Waw selamat." Ucap Kevin sambil mengulurkan tangannya ke hadapan pria di depannya.


"Dengar dulu." Dokter Diki tidak mau menyambut uluran tangan Kevin. Dia ingin menjelaskan semuanya.


"Aku dan Jasmin belum ada hubungan spesial seperti yang kamu pikirkan. Memang aku akui kalau aku sedang menjalani pedekate kepadanya."


"Apa dia tau, kalau kamu sedang berusaha mendekatkan diri kepadanya?" Tanya Kevin.


"Sepertinya dia tau." Ucap dokter Diki.


"Terus? Bagaimana reaksinya ketika mengetahui kalau kamu lagi pedekate kepadanya?" Tanya Kevin.


"Awalnya dia berusaha untuk menghindar, tapi seperti kamu lihat sekarang dia seperti membuka diri untukku." Ucap dokter Diki.


Kevin paham kalau wanita indo bule itu sudah mulai melupakannya.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu mulai pedekate kepadanya?" Tanya Kevin.


"Semenjak pulang dari berlibur." Jawab dokter Diki.


"Pasti kamu iri ya, karena aku melamar Menik." Goda Kevin.


"Hahaha, kamu benar. Jelas aku iri, Ziko sudah menikah dan sebentar lagi kamu. Kalau aku terlalu sibuk dengan duniaku, bisa-bisa sampai tua aku akan menjomblo. Dan menurutku Jasmin wanita yang baik. Aku sempat berpikir kalau wanita bule pasti suka dengan namanya alkohol dan kehidupan yang bebas, secara di negaranya tidak melarang itu jika sudah usia di atas tujuh belas tahun. Tapi aku perhatikan dia tidak." Ucap dokter Diki menjelaskan.


"Bagaimana kamu bisa mendefinisikan kalau dia bukan wanita bule yang tidak suka alkohol dan bukan wanita bebas?" tanya Kevin.


"Aku iseng sering mengajaknya untuk pergi ke club malam, tapi dia tetap menolak ku dengan alasan dia tidak suka dengan dunia seperti itu. Dan aku juga sering mengikutinya apa dia pernah pergi ke club malam. Dan ternyata tidak, dia lebih banyak menghabiskan waktu di apartemennya." Ucap dokter Diki menjelaskan.


"Memang dia wanita yang berbeda, dan baik hatinya. Kalau kamu benar-benar yakin dengan perasaanmu kepadanya. Lebih baik kamu utarakan perasaanmu kepadanya. Agar kamu tidak di tikung orang lain." Ucap Kevin.


"Mungkin aku akan langsung melamarnya. Aku tidak mau mengalami namanya pacaran karena menurutku akan menghabiskan waktu secara usiaku tidak muda lagi. Jadi aku akan langsung memperistrinya." Ucap dokter Diki menjelaskan.


"Bagus, jangan terlalu lama menjomblo karena enggak enak." Ucap Kevin. Kedua pria itu tertawa bersamaan.


Di dalam toko.


Menik di bantu Jasmin memilih pakaian dalam yang akan di gunakan sebagai hantaran.


"Bagus tidak dok?" Tanya Menik menunjukkan pakaian dalam yang ada di tangannya kepada Jasmin.


"Bagus." Ucap dokter Jasmin.


Di sela kesibukan dua wanita itu. Mereka menyempatkan diri untuk ngobrol.


"Dokter minggu depan aku akan di lamar Kevin." Ucap Menik sambil sibuk dengan pilihannya.


"Bukannya kamu sudah dilamarnya." Ucap Jasmin.


"Iya, tapi menurut mamanya kami harus melakukan lamaran secara formal agar kedua keluarga saling mengenal satu sama lain."


"Oh seperti itu ya, tapi bagus juga ide tante Paula."


Menik melirik wanita indo bule disebelahnya.


"Apa dokter tidak bersedih?" Tanya Menik.


"Bersedih?" Ucap Jasmin singkat.


"Iya karena seharusnya dokter yang ada di posisiku." Ucap Menik.


"Menik untuk apa aku harus bersedih. Kalau sekarang aku berada di posisimu. Pasti aku akan bersedih karena Kevin tidak pernah mencintaiku. Dia hanya menganggapku sebagai teman masa kecilnya. Jangan kamu pikirkan lagi yang telah lewat. Itu semua masa laluku. Dan Aku sudah menguburnya dalam-dalam." Ucap Jasmin.


Bersambung.


Ig. anita_rachman83.


AUTHOR ADA KARYA BARU YANG BERJUDUL


" LOVE OF a NURSE", CERITANYA PENUH KEJUTAN DAN MENDEBARKAN HATI. PENASARAN???

__ADS_1


__ADS_2