
Zira berjalan menuju kearah Fiko, dia mengambil tempat duduk dipojokan. Fiko menarik tempat duduk sambil mempersilahkan Zira untuk duduk.
Mereka duduk saling berhadapan, Zira duduk dengan anggun. Mereka masih diam satu sama lain tanpa ada yang berani memulai untuk berbicara.
Agar suasana tidak terlalu canggung Fiko memulai pembicaraan.
" Mau makan apa." Ucap Fiko menawari sesuatu.
" Saya masih kenyang." Ucap Zira menolak.
" Kalau minum bagaimana." Tanya Fiko lagi.
" Baiklah saya pesan jeruk dingin saja." Ucap Zira cepat.
Fiko melambaikan tangan, tidak beberapa lama seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. Pelayan tersebut mencatat semua menu yang di pesan Fiko.
" Kamu apa kabar." Tanya Fiko.
" Baik." Ucap Zira.
Kemudian mereka diam kembali. Tidak berapa lama pelayan datang sambil membawa menu makanan yang di pesan Fiko.
Pelayan meletakkan di atas meja, Fiko mempersilahkan Zira untuk minum, dan dia memakan makanannya. Setelah selesai menikmati makanannya, Fiko membuka pembicaraannya kembali.
" Zira aku tau kamu telah bertunangan dengan tuan muda Ziko." Ucap Fiko pelan.
Zira yang tadinya tertunduk langsung melihat ke arah Fiko.
" Bagaimana kamu tau." Tanya Zira.
" Semua media sudah menayangkan tentang kalian berdua." Ucap Fiko dengan suara getir.
Zira sama sekali tidak berkata-kata.
" Aku tau kenapa kamu tidak langsung menjawab, pasti karena kamu akan bertunangan." Ucap Fiko lagi masih dengan suara getir.
" Walaupun aku merasa sakit hati melihat berita tentang kalian berdua ada di mana-mana, tapi aku berusaha untuk menerimanya." Ucap Fiko sambil memegang kedua tangan Zira yang berada di atas meja.
Fiko berhenti sebentar dan melanjutkan ucapannya.
" Aku mungkin telah terlambat mengenalmu, seandainya aku lebih cepat, mungkin aku sudah memilikimu." Ucap Fiko dengan suara getir.
" Fiko maafkan kesalahanku, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, aku hanya." Ucap Zira sambil menggantung ucapannya.
Fiko aku tidak bisa memberi tau yang sebenarnya, tapi aku sangat bangga melihatmu, kamu lelaki yang berjiwa besar.
" Mencintaimu merupakan sebuah anugerah, tidak ada penyesalan sama sekali karena telah mencintaimu." Ucap Fiko.
Zira memperhatikan sekeliling restoran, dia melihat para pengunjung keluar semua, begitupun dengan para pelayan mereka juga keluar dari restoran. Merupakan hal yang aneh karena pelayan mempersilahkan para pengunjung restoran untuk keluar dari restoran dengan cepat padahal makanan yang mereka makan belum sempat dicicipi.
Fiko melihat kearah depan, tidak jauh dari tempat dia dan Zira duduk. Telah berdiri seorang laki-laki yang gagah dan penuh wibawa. Wajah pria yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk mereka menunjukkan kemarahan yang sangat luar biasa.
Zira memperhatikan Fiko, pandangan Fiko sudah tidak melihat kearahnya tapi melihat kearah lain. Zira mencoba melihat arah tatapan pria didepannya.
Zira membalikkan badannya, betapa kagetnya dia melihat Ziko sudah berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
Sebelumnya.
Di gedung Rahasrya group.
Asisten Kevin menghubungi supir Zira.
" Kalau kamu sudah selesai mengantar nona Zira kebutik, kamu bisa kembali kekantor, ada hal yang mau saya bicarakan." Ucap Kevin.
" Iya pak tapi saya masih di restoran xxxx, setelah ini saya akan mengantarkan nona kembali kebutik." Ucap supir.
Karena ada hal yang janggal, asisten Kevin memberitahukan hal ini kepada tuannya.
" Bagaimana mungkin dia bisa makan di restoran, padahal tadi dia sudah makan denganku. Cepat selidiki dengan siapa dia direstoran dan amankan restoran dengan segera." Perintah Ziko dengan penuh amarah.
Asisten Kevin langsung pamit meninggalkan bosnya, dia menghubungi beberapa orang kaki tangannya.
Di restoran.
Kaki tangan asisten Kevin memerintahkan kepada manager restoran untuk menutup restorannya beberapa saat. Untuk pesanan yang belum di makan ataupun sudah di order tapi belum di sajikan akan di tanggung biayanya oleh tuan muda Ziko. Mereka memerintahkan semua karyawan restoran baik koki maupun penanggung jawab restoran untuk pergi beberapa saat, karena untuk sementara restoran itu di sewa tuan muda Ziko
" Tu tuan." Ucap Zira gugup sambil berdiri mendekati Ziko.
Ziko tidak menghiraukan Zira, dia melihat ke arah Fiko dengan penuh amarah.
" Kamu siapa!" Tanya Ziko.
Fiko berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangannya kearah Ziko.
" Saya Fiko."
Ziko tidak menyambut tangannya Fiko, dia menatap penuh pria itu penuh amarah.
" Aku ingin mengucapkan selamat kepadanya atas pertunangan kalian." Ucap Fiko cepat.
Prok Ziko langsung memukul wajah Fiko.
" Dasar pembohong, kamu mencintainya kan!" Teriak Ziko.
Zira yang melihat calon suaminya memukul Fiko langsung teriak. Fiko yang mendapatkan pukulan secara tiba-tiba badannya terdorong sedikit kebelakang, ada keluar cairan merah dari sudut bibirnya.
" Berhenti!" Teriak Zira.
Fiko merasa emosinya sudah memuncak, dia merasa harus menghadapi pria di depannya dengan secara jantan.
" Ya aku mencintainya, dan asal kamu tau. Sebelum kamu mengumumkan pertunangan kalian, aku sudah mengungkapkan perasaanku padanya." Teriak Fiko.
Ziko yang mendengar ucapan Fiko langsung memukul, mereka memukul satu sama lain.
Zira hanya bisa berteriak tidak bisa melerainya, sedangkan Kevin dia hanya menonton pertandingan smackdown di depannya.
" Asisten Kevin kenapa kamu diam saja, cepat bantu aku." Teriak Zira.
Asisten Kevin tidak memperdulikan ucapan Zira. Zira yang melihat perkelahian itu tidak bisa melerainya. Dan dia mengambil inisiatif sendiri agar perkelahian itu berhenti.
Zira melirik ada pisau di meja dia mengambil pisau tersebut.
__ADS_1
" Berhentiiiiii aku bilang berhenti..... kalau kalian tidak mau berhenti aku akan bunuh
diri." Teriak Zira sambil meletakkan pisau di pergelangan tangannya.
Dua pria yang saling berkelahi melihat kearah Zira, mereka berdua langsung berhenti satu sama lain.
" Zira lepaskan itu." Ucap Ziko cepat.
" Zira jangan lakukan itu, aku mohon." Bujuk Fiko.
" Kalian berdua sama saja, lebih baik aku mati, jadi kalian tidak akan bertengkar lagi." Teriak Zira masih dengan memegang pisau.
Dua pria yang saling berkelahi mulai mundur satu sama lain.
Mereka terlihat sangat kacau di wajah Fiko penuh dengan pukulan begitupun Ziko, tapi Ziko tidak terlalu banyak jadi bisa di pastikan pemenang dari lomba saling pukul memukul dimenangkan oleh Ziko.
Setelah mereka berdua mundur Zira meletakkan pisau itu kembali.
" Untukmu Fiko silahkan kamu pergi sekarang!" Teriak Zira.
Fiko langsung pergi mendengar teriakan itu. Zira yang biasanya terlihat anggun tapi hari ini dia terlihat liar.
" Dan untukmu tuan muda Ziko, siapa yang menyuruhmu memukulnya!" Teriak Zira.
" Siapa yang menyuruhnya memegang tanganmu, jika dia tidak memegang tanganmu, aku pasti tidak memukulnya." Ucap Ziko cepat.
Zira menggaruk kepalanya.
" Kamu sudah berani membohongiku hah!" Teriak Ziko tepat di depan wajah Zira.
Zira yang mendapat teriakan itu langsung takut, dia tidak pernah melihat Ziko semarah itu.
" Karena kamu berbohong sebagai hukumannya, aku akan menghancurkannya seperti debu." Ucap Ziko tegas.
Zira menggelengkan kepalanya.
" Tidak, kamu jangan menghancurkannya, aku mohon." Ucap Zira memohon sambil memegang kaki Ziko.
" Jadi kamu memohon kepadaku seperti ini hanya untuknya!" Teriak Ziko.
" Iya." Ucap Zira cepat sambil berdiri dari posisi jongkoknya.
" Apa istimewanya dia, sampai kamu membelanya." Teriak Ziko lagi.
" Dia tidak ada keistimewaan sama sekali." Ucap Zira cepat.
" Rencanaku telah bulat." Ucap Ziko.
" Asisten Kevin cari dan hancurkan dia sampai jadi debu." Teriak Ziko.
" Tidak tidak tidak." Ucap Zira sambil memeluk Ziko.
" Aku memohon kepadamu tuan, jangan hancurkan dia." Ucap Zira dengan suara getir.
" Dia punya seorang anak, kalau kamu menghancurkannya kamu akan membuat anaknya sama sepertiku." Ucap Zira sambil terisak-isak.
__ADS_1
Ziko mendengar ucapan itu langsung merasa sedih, belum pernah dia melihat seorang Zira nangis, tetapi hari ini dia meneteskan air matanya. Semua karena dirinya seandainya dia bisa mengontrol emosinya mungkin Zira tidak akan mengeluarkan air matanya.
" Like komen dan vote yang banyak ya, biar author semangat updatenya, terimakasih."