Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 454 (S2)


__ADS_3

"Lihat dulu siapa yang memencet bel." Ucap Menik.


"Sayang apa kamu tidak lihat aku seperti bayi yang baru lahir tanpa baju." Rengek Kevin. Menik mengambil bajunya, dia memakai kembali pakaiannya.


Dia pergi keluar kamar meninggalkan suaminya.


"Aku tunggu di sini ya sayang." Teriak Kevin. Menik sudah di belakang pintu, dia melihat dari lubang kecil yang ada di atas pintu.


"Tuan muda." Gumam Menik sambil memutar kunci rumahnya.


"Iya tuan." Ucap Menik gugup.


"Kevin mana?" tanya Ziko sambil berkacak pinggang.


"Ada di kamar, mau saya panggilkan." Ucap Menik.


"Tidak usah, sampaikan saja kepadanya kalau istriku sudah mau melahirkan." Ziko langsung berlari kembali ke rumahnya. Menik langsung teriak dan masuk ke dalam rumahnya.


"Cepat pakai baju kamu." Ucap Menik mengganti pakaiannya.


"Kenapa? kita saja belum melakukannya." Ucap Kevin bingung.


"Yang menghubungi kamu tadi pasti tuan muda, dia tadi datang ke sini. Mau mengatakan kalau istrinya mau melahirkan." Ucap Menik sibuk dengan pakaian dan sedikit riasannya.


"Heran kenapa tuan muda tidak langsung membawa ke rumah sakit. Memangnya aku dukun beranak." Gerutu Kevin sambil memakai pakaian yang di pilihkan istrinya.


"Udah jangan ngomel, mungkin tuan muda panik makanya dia menghubungi kamu." Ucap Menik.


"Iya tapi aku belum menyelesaikan pr ku." Gerutu Kevin.


"Udah pr nya di kerjakan online aja." Ucap Menik sambil menarik tangan suaminya untuk segera bergegas ke rumah bosnya.


Di rumah bosnya, Zira sudah terlihat pucat dan kesakitan.


"Tuan nona kenapa?" tanya Kevin khawatir.


"Istriku lagi nyanyi, apa kamu tidak bisa lihat kalau istriku sedang kesakitan." Gerutu Ziko panik.


"Bawa ke rumah sakit tuan." Ucap Kevin lagi.


"Iya ini mau di bawa, tapi kamu di hubungi enggak mau jawab." Sindir Ziko.


"Apa tuan lupa cara menyetir sampai mengganggu saya."


"Kamu." Ziko memukul lengan asistennya.


"Cukup berdebatnya, aku sudah tidak tahan." Ucap Zira yang sudah keringat dingin. Ziko memapah istrinya ke mobil. Kevin yang menyetir mobil dan di sampingnya Menik. Mobil langsung melaju menuju rumah sakit. Ziko tidak tega melihat istrinya menahan sakit yang sangat luar biasa.


"Elus punggungku." Ucap Zira. Ziko mengikuti permintaan istrinya mengelus punggung bagian belakang Zira. Ketika berhenti Zira langsung memukul tangan suaminya.


"Iya sayang, aku elus. Kamu yang kuat ya." Ucap Ziko khawatir.


"Tuan apa tuan besar dan nyonya Amel sudah di kabari?" tanya Kevin.

__ADS_1


"Sudah, mama dan papa langsung ke rumah sakit. Tapi aku lupa menghubungi Diki." Ucap Ziko.


"Nik, cari nomor dokter Diki." Ucap Kevin.


Menik menghubungi nomor dokter Diki dengan mode speaker.


"Enggak aktif." Ucap Menik.


"Jasmin, kamu hubungi dia." Ucap Kevin lagi.


"Enggak mau." Ucap Menik menolak. Ziko yang di belakang bingung dengan tingkah istri asistennya.


"Kamu kenapa." Ucap Kevin bingung sambil fokus menyetir.


"Hei kalau kalian lagi bertengkar jangan sekarang, istriku bukan mau shoping, bawa sini nomor si Jasmin." Timpal Ziko marah.


Menik tidak enak hati dengan Ziko dan Zira, karena tidak bisa menempatkan momen yang tepat untuk rasa cemburunya.


Dia yang menghubungi Jasmin. Panggilan terhubung.


"Halo Vin." Ucap Jasmin dari ujung ponselnya.


"Bukan Kevin tapi ini istrinya." Ucap Menik ketus.


"Oh Menik, ada apa Nik?" tanya Jasmin.


"Kami tidak bisa menghubungi dokter Diki. Tolong kamu sampaikan sama dokter Diki. Kalau nona Zira mau melahirkan." Ucap Menik.


"Baik Nik, aku akan mengabarinya." Panggilan terputus. Suasana di dalam mobil terdengar cukup menegangkan, di mana Zira tak henti-hentinya meringis kesakitan.


"Satu belokkan lagi kita sampai." Jawab Kevin.


Setelah sepuluh menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Kevin memberhentikan mobil di depan pintu IGD. Perawat langsung mengeluarkan tempat tidur khusus pasien.


"Tuan, nona Zira langsung kami bawa ke ruang bersalin saja." Ucap salah satu perawat.


"Dokter kandungan di mana?" tanya Ziko.


"Dokter sudah menunggu di ruang bersalin." Jawab perawat.


Tubuh Zira di bawa ke ruang bersalin. Kevin mendaftarkan nama Zira kebagian registrasi.


"Kevin di mana Zira?" tanya nyonya Amel.


"Tuan dan nona tadi masuk melalui pintu IGD." Jawab Kevin. Nyonya Amel, Zelin dan tuan besar berlari menuju ke IGD. Sesampai di sana Zira tidak ada. Wanita paruh baya itu menanyakan kepada perawat IGD dan dokter IGD.


"Ibu Zira ada di ruang bersalin. Tempatnya ada di ujung lorong." Jawab perawat. Keluarga Raharsya langsung berlari menuju ruang bersalin, dari jauh mereka bisa melihat kalau Ziko sedang berbicara dengan seorang dokter.


"Iko ada apa? Bagaimana kondisi Zira?" tanya nyonya Amel.


"Zira minta melahirkan normal." Ucap Ziko khawatir.


"Tapi dia hamil anak kembar tiga." Ucap nyonya Amel ikut khawatir.

__ADS_1


"Untuk dua bayi bisa melahirkan normal tapi untuk bayi yang ketiga tidak bisa, karena posisinya sungsang. Jalan satu-satunya harus operasi." Ucap dokter.


"Aduh dua melahirkan normal yang satu operasi. Kasihan atuh Zira nya. Sakitnya dua kali." Ucap nyonya Amel.


"Apa kami bisa masuk untuk membujuk Zira." Ucap nyonya Amel. Dokter mengizinkan Ziko dan nyonya Amel untuk masuk ke dalam ruang bersalin. Di dalam ruangan itu kondisi Zira sangat lemas. Keringat membasahi tubuhnya.


"Zira, kamu mau melahirkan kembar tiga, saran mama melahirkan operasi saja. Karena kalau dua normal satu operasi sakitnya pasti sangat luar biasa." Nyonya Amel mengingatkan menantunya.


"Aku mau normal ma, kalaupun harus operasi aku siap. Aku harus siap walaupun nyawa taruhannya." Ucap Zira. Nyonya Amel meneteskan air matanya tak kuasa mendengar penuturan menantunya.


"Maaf yang boleh menunggui hanya satu orang." Ucap perawat. Zira meminta Ziko untuk menemaninya melahirkan. Dokter dan perawat sudah memakai pakaian operasi karena setelah normal Zira akan melakukan proses cesar.


"Sayang aku berdoa semoga ada keajaiban untuk kamu dan anak kita." Bisik Ziko.


"Aamiin." Ucap Zira.


Dokter Anestesi sudah stand by di ruang bersalin. Ketika proses normal selesai, dokter Anestesi akan menyuntik punggung Zira.


Zira di perintahkan dokter untuk menekuk kedua kakinya. Dokter memberi aba-aba untuk mengedan.


"Aaaaaagh." Ziko tidak berani melihat proses melahirkan itu. Dia berusaha untuk tidak melihat.


"Sedikit lagi, ayo mengedan lagi." Ucap dokter.


"Aaaaaagh." Teriak Zira mengedan, bayi pertamanya keluar dengan tangisan khas bayi yang baru lahir. Ziko langsung menoleh melihat tangisan anak pertamanya. Zira kembali mengedan dalam waktu kurang dari lima menit, bayi kedua keluar. Doker Anestesi sudah bersiap-siap ingin menyuntik punggung Zira, tapi dokter kandungan menahan.


"Posisi kepala sudah berbalik, ibu mengedan lagi kepala bayi ketiga sudah ada di jalan lahir." Ucap dokter. Zira kembali mengedan setelah tiga menit bayi ketiga lahir. Ketiga bayi kembar itu menangis saling bersahut-sahutan. Zira dan Ziko tak kuasa menahan tangis bahagia mereka.


"Kamu memang pasukan avengers, keajaiban datang detik-detik kamu mau di operasi, terima kasih sayang, kamu telah memberikan tiga kado yang sangat luar biasa." Ziko mengecup dahi istrinya. Setelah tali pusar di potong dan di bersihkan tiga perawat membawa bayi kembar itu kepada ibu bapaknya.


"Selamat untuk bapak dan ibu, bayinya lahir dengan selamat." Ucap salah satu perawat.


"Yang pertama keluar yang mana?" tanya Ziko.


"Ini pak, jenis kelamin cowok." Jawab satu perawat.


"Sayang cowok." Ucap Ziko senang.


"Yang kedua juga cowok." Perawat menunjukkan bayi kedua.


"Yang ketiga?" tanya Zira penasaran. Pikirannya sudah bercabang kalau-kalau yang ketiga juga cowok.


"Yang ketiga cewek." Ucap perawat.


"Alhamdulillah." Ucap Zira senang. Ketiga bayi kembar di letakkan di dada ibunya. Zira memberikan asi untuk ketiga bayinya dengan cara bergilir. Setelah bayi diam dan tidak menangis, bayi Zira dan Ziko di bawa keluar dan di masukkan ke dalam ruang khusus bayi tidak lupa, ketiga bayinya di beri tanda agar tidak tertukar. Zira masih di bersihkan, Ziko keluar dari ruang bersalin dengan perasaan bahagia.


"Selamat Ziko." Ucap nyonya Amel dan tuan besar.


"Terima kasih ma pa." Ucap Ziko senang.


Zelin juga memberikan selamat kepada kakaknya. Begitupun Kevin dan Menik, mereka semua ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan Ziko dan Zira.


Zira di bawa ke ruang rawat inap. Ziko meminta kepada dokter untuk mengizinkan ketiga bayinya di bawa ke ruang rawat inap. Dia khawatir dengan kasus bayi yang tertukar dan bayi hilang.

__ADS_1


Suasana di ruang rawat inap terlihat sangat berbeda, kehadiran tiga bayi mungil mengubah segalanya. Hari-hari Zira dan Ziko akan terasa penuh warna karena tangis dari tiga bayi akan selalu memenuhi suasana rumah mereka. Bayi pertama mereka memberi nama Zayn Anara Raharsya, bayi kedua Zaheer Anara Raharsya dan bayi ketiga Rizaira Anari Raharsya.


Tamat


__ADS_2