Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 434 (S2)


__ADS_3

"Kamu upinnya." Ucap Zira marah.


"Oh." Ucap Ziko sambil memegang kepalanya.


"Kenapa kepala kamu bisa seperti itu." Ucap Zira marah.


"Maaf sayang ini semua salah Kevin." Rengek Ziko.


"Jangan salahkan orang lain. Yang jadi suamiku kamu apa dia." Ucap Zira marah.


"Jelas akulah."


"Jawab, kenapa kepala kamu seperti jarum pentul. Kamu kan tau kalau aku enggak suka lihat pria enggak ada rambutnya. Kesannya kalau gundul kayak apa gitu." Ucap Zira.


"Bola lampu."Jawab Ziko pelan.


"Iya bola lampu." Ucap Zira.


"Beri penjelasan kepadaku." Ucap Zira marah.


"Aku bertaruh sama Diki, kalau aku kalah maka harus gundul, terus kalau Diki kalah dia mencukur bulu kakinya." Ucap Ziko.


"Memangnya kalian bertaruh apa?" tanya Zira.


"Bertaruh tentang si Kevin. Kalau aku bertaruh si Kevin tidak akan bisa mencetak gol dan Diki kebalikannya." Ucap Ziko menjelaskan.


"Terus kamu percaya saja." Ucap Zira lagi.


"Awalnya enggak percaya, tapi ketika melihat rambut si Menik basah. Aku percaya kalau mereka telah melakukannya." Ucap Ziko.


"Itu tidak menjamin kalau mereka sudah berhubungan, bisa jadi Menik keramas untuk merapikan rambutnya yang baru di sasak, karena tidak mungkin dia keluar dengan rambut dragon ballnya." Ucap Zira.


"Oh gitu ya." Ucap Ziko pelan.


"Coba kamu hubungi dokter Diki."


"Untuk apa?" tanya Ziko.


"Tanya aja, Kevin sudah menghubungi dia apa belum." Ucap Zira.


Ziko mengikuti saran istrinya. Dia mengambil ponselnya yang ada di nakas.


"Halo." Ucap Diki.


"Kevin sudah menghubungi kamu?" tanya Ziko.


"Iya, dia sudah menghubungiku. Aku juga sudah mengirimkan video kepadanya." Ucap dokter Diki.


"Video? video apa?" Ucap Ziko bingung.


"Aku kan sudah kalah taruhan darimu, jadi mau enggak mau aku cukur bulu kakiku. Sebagai bukti aku kirim videonya." Ucap dokter Diki.


"Kurang ajar." Ucap Ziko marah.


"Kamu kok marah, aku kan sudah melakukan sesuai kesepakatan kita." Ucap dokter Diki bingung.


"Aku bukan marah samamu. Tapi sama Kevin, dia baru mengerjai kita berdua. Asal kamu tau, aku baru mencukur habis rambutku." Ucap Ziko kesal.


"Serius kamu Ko. Wah aku tidak bisa membayangkan seperti apa penampilan barumu." Ucap dokter Diki mengejek.


"Kamu bayangkan saja bola lampu, nah seperti itu penampilanku." Ucap Ziko kesal.


"Buahahaha." Dokter Diki tertawa terpingkal-pingkal.


"Enggak usah ketawa, kamu sama saja. Bulu kaki di cukur bulu ketek dipelihara." Ejek Ziko.


"Besok habis kamu Kevin." Ucap Ziko geram.

__ADS_1


"Mau kamu apakan si Kevin?" tanya dokter Diki lagi.


"Lihat saja besok." Ucap Ziko. Kemudian panggilan terputus.


"Pasti kamu dan dokter Diki baru dikerjai Kevin, benarkan?" Tebak Zira.


"Iya." Ucap Ziko kesal.


"Ah sudahlah. Nasi sudah jadi bubur, kalaulah dulu aku mengenalmu seperti ini, pasti aku sudah lari darimu."


"Sampai segitunya." Ucap Ziko.


"Iya."


Zira sudah malas berdebat, dia membaringkan tubuhnya dan Ziko ikut tidur sambil memeluk istrinya.


"Stop, jangan peluk aku." Ucap Zira cepat.


"Kenapa." Ucap Ziko bingung.


"Kenapa-kenapa, apa kamu tidak sadar dengan kesalahanmu. Aku tidak mau kamu peluk-peluk lagi. Tumbuhkan rambut itu dulu baru boleh peluk." Ucap Zira ketus.


"Sayang, aku tidak bisa tidur kalau enggak memelukmu." Ucap Ziko.


"Sayang aku juga tidak bisa tidur dengan demit." Ucap Zira ketus.


"Kok demit, tadi kamu bilang upin." Rengek Ziko.


"Terserah aku, mau panggil kamu tuyul, upin, jarum pentul terserah." Zira sudah membelakangi suaminya.


"Jadi aku peluk siapa?" tanya Ziko lagi.


"Peluk sana kembaranmu si ipin." Ucap Zira.


Akhirnya pasangan suami istri itu tidur dengan saling membelakangi, tanpa memeluk sama sekali.


Pagi hari sang surya sudah bersinar dengan cahaya indahnya. Walaupun kesal dengan penampilan suaminya, dia tetap melakukan tugasnya.


Menyiapkan segala keperluan dari pakaian kerja, sepatu, dasi, dan kaos kaki sudah disiapkannya.


Zira memakaikan dasi ke leher suaminya, tapi tidak menatap wajah suaminya.


"Kamu masih marah." Ucap Ziko memegang dagu istrinya. Dia ingin memberikan morning kiss sama istrinya, tapi Zira menolak.


"Kenapa." Ziko bingung.


"Maaf sayang, aku merasa asing dengan penampilan kamu seperti ini. Kesannya aku berciuman sama orang lain. Jadi jangan cium aku dulu ya." Ucap Zira pelan.


Ziko mendengus kesal, tapi dia memakluminya dan tidak memaksa.


Di ruang makan sudah ada Kevin yang sedang menunggu bosnya. Ketika Ziko dan Zira keluar, Kevin terkejut dengan penampilan bosnya yang sudah plontos tanpa memakai wig.


"Tuan." Ucap Kevin heran.


"Kenapa? apa kamu kaget dengan penampilan baru suamiku." Ucap Zira.


"Nona tidak marah." Ucap Kevin heran.


"Kenapa harus marah, justru aku suka dengan penampilan suamiku seperti ini. Walaupun kepalanya seperti permen tangkai tapi aku suka." Ucap Zira sambil mengedipkan matanya ke arah Ziko. Dia memberi kode kepada suaminya untuk berakting. Sambil mengambilkan sarapan suaminya.


"Iya Vin, kamu tau gundulku ini membawa berkah, istriku tadi malam mengelus kepalaku. Malah dia menjilati kepalaku seperti permen." Ucap Ziko ngarang sambil menikmati sarapannya.


Kevin mengernyitkan dahinya. Dia kurang yakin dengan ucapan sepasang suami istri itu.


"Kamu tidak percaya." Ucap Ziko lagi.


Kevin menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sayang tunjukkan kepada Kevin, kalau kamu sayang sama gundulku." Ucap Ziko. Zira langsung mengelus rambut suaminya.


"Kalau mengelus belum menjelaskan apapun." Ucap Kevin.


"Ok, sayang kamu tadi malam menjilat gundulku. Ayo lakukan." Perintah Ziko.


Demi mengerjai Kevin, Zira melakukan perintah suaminya. Dia menjilat gundul suaminya. Tapi Zira langsung memukul lengan suaminya.


"Prok." Zira memukul suaminya.


"Kenapa di pukul." Ucap Ziko heran.


"Kamu pakai apa?" tanya Zira sambil membersihkan lidahnya.


"Minyak rambut." Jawab Ziko cepat.


"Rambutmu kan tidak ada, kenapa harus pakai minyak." Gerutu Zira.


"Biar tumbuh subur sayang."


"Tumbuh subur dari hongkong, mau cepat subur pakai pupuk kandang, bukan rambut aja yang subur lalat pun tumbuh di situ." Gerutu Zira.


"Hahaha, kalian sedang berakting ya, saya tau tuan dan nona melakukan ini karena mau mengerjai saya kan." Tebak Kevin.


Sepasang suami istri itu diam.


"Tapi sayangnya saya sudah bisa membaca gerak gerik kalian, hahaha." Ucap Kevin.


Zira membisikkan sesuatu ke telinga suaminya. Ziko paham dengan ide istrinya.


Kevin hanya tersenyum, dia sudah bisa menduga akan ada kejutan untuknya.


Setelah selesai sarapan, Ziko dan asistennya berangkat ke kantor. Di dalam perjalanan Kevin penasaran dengan penampilan bosnya yang tidak memakai wig.


"Tuan tidak malu dengan penampilan seperti itu?" tanya Kevin heran.


"Malulah."


"Terus kenapa wignya di lepas."


"Gatal, aku mau kamu mampir ke barbershop kemaren." Ucap Ziko.


"Untuk apa tuan?" tanya Kevin lagi.


"Untuk membuat rambut palsu dari rambutku." Ucap Ziko asal.


Kevin mengerti, dia melajukan mobil dan berhenti di depan barbershop kemaren. Keduanya turun dari mobil.


"Ada yang bisa di bantu." Ucap si tukang pangkas.


"Cukur habis rambutnya." Perintah Ziko.


"Tuan, kenapa rambut saya harus di cukur, bukannya tuan mau buat rambut palsu." Ucap Kevin bingung.


"Enggak jadi, setelah aku pikir-pikir lebih baik aku bawa kembaran ke kantor." Ucap Ziko.


"Tuan, yang taruhan kan anda sama dokter Diki. Kenapa saya jadi kena hukum."


"Cukur habis rambutnya sama bulu kakinya, kalau perlu bulu keteknya juga." Ucap Ziko tegas. Dia menjelaskan kepada Kevin dengan perintah cukur kaki, dengan seperti itu Kevin sadar akan kesalahan yang telah diperbuatnya.


"Tuan, please." Ucap Kevin memohon.


"Enggak ada maaf bagimu. Aku mau lihat gimana reaksi istrimu ketika melihat kepalamu botak. Apalagi kalian akan berangkat ke luar negeri besok. Pasti bakal batal honeymoon kalian, hahaha."


Bersambung.


Next episode Kevin bakal di gundul habis, penasaran dengan reaksi Menik?

__ADS_1


Jangan lupa vote untuk ke dua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse"


__ADS_2