Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 295 (S2)


__ADS_3

Kevin kembali lagi ke dalam ruangan Presiden direktur.


" Tuan mengenai nomor yang tadi, pihak perusahaan telekomunikasi tidak mau memberikan datanya." Ucap Kevin cepat.


" Kenapa?" Ziko penasaran.


" Mereka memberikan alasan kalau itu merupakan nomor privasi yang sengaja di pesan." Ucap Kevin lagi.


" Apa mereka tidak memberikan ciri-cirinya kepada kamu?" tanya Ziko lagi.


" Tidak tuan, mungkin karena ini tidak berhubungan dengan tindak kriminal makanya perusahaan itu tidak mau membantu." Ucap Kevin lagi.


Ziko diam sambil memikirkan sesuatu.


" Tidak usah di selidiki lagi masalah nomor itu. Nomor itu tidak meminta suatu imbalan kepada kamu. Kamu juga tidak di rugikan. Sekarang kita fokus dengan masalah ini." Ucap Tuan besar.


" Papa benar. Aku akan melupakan nomor itu. Walaupun aku masih penasaran. Tapi masih ada hal yang lebih penting dari ini." Ucap Ziko cepat.


" Sekarang kita harus menemui Hariadi." Ucap papanya.


Ziko setuju begitupun Kevin, dia selalu berada di posisi paling depan.


" Vin, siapkan mobil. Dan perintahkan semua anak buah untuk berjaga-jaga di luar." Perintah Ziko.


Kevin langsung menghubungi nomor orang kepercayaan, dan memerintahkan semua timnya untuk turun.


Mereka bertiga keluar dari gedung itu. Mobil sudah siap sedia. Ziko bersama Kevin. Dan papanya bersama supir.


Mobil sudah melaju ke jalanan. Mereka akan menemui Hariadi di perusahaannya.


Hariadi juga mempunyai perusahaan. Walaupun perusahaannya tidak sebesar punya Raharsya group. Tapi perusahaannya tetap bisa bertahan sampai sekarang.


Mereka sampai di sebuah perusahaan alat transportasi. Tim Ziko sudah menunggu di depan perusahaan itu. Hanya Ziko, Kevin dan papanya yang turun.


" Kami ingin bertemu dengan Hariadi." Ucap Ziko cepat.


" Apa Bapak sudah membuat janji dengan Bapak Hariadi." Tanya Resepsionis.


" Bilang saja sama Hariadi kalau teman lamanya datang." Ucap Tuan besar.


Resepsionis itu menghubungi sekertaris pemilik perusahaan itu. Dia mengatakan seperti yang di utarakan tamu di depannya.


" Silahkan, anda di tunggu di ruangan beliau. Ruangannya ada di lantai 8." Ucap Resepsionis ramah.


Mereka masuk ke dalam lift. Kemudian menekan tombol 8 sesuai dengan ucapan resepsionis tadi.


" Pa, bagaimana om Hariadi tau, kalau kita yang akan datang?" tanya Ziko.


" Mungkin dia sudah bisa menebak, akan kedatangan kita ke perusahaannya." Ucap papanya menjelaskan.


Setelah sampai mereka langsung berjalan dan melewati beberapa lorong. Ruangan itu berada di pojok.


" Papa seperti paham dengan ruangannya?" tanya Ziko lagi.


" Pasti papa paham. Kami pernah dekat dulu. Dan setelah pertunangan itu batal hubungan itu langsung renggang sampai sekarang." Ucap papanya pelan.


Di depan pintu ada sebuah meja. Dan bisa di tebak kalau itu adalah sekertaris Hariadi.


" Silahkan, anda semua sudah di tunggu di dalam." Ucap sekertaris itu ramah.

__ADS_1


Pintu di bukakan sekertaris. Mereka masuk ke dalam ruangan itu.


" Selamat datang kembali sahabatku." Ucap Hariadi sambil merentangkan tangannya.


Sekertaris itu meninggalkan mereka semua.


" Tidak usah basa-basi. Apa kamu ada hubungannya dengan anjloknya nilai saham perusahaan kami." Ucap papanya tegas.


" Hahaha, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu. Aku ini hanya perusahaan kecil. Tidak mungkin aku bisa menghancurkan perusahaanmu." Ucap Hariadi sambil tertawa.


" Jangan banyak bicara ini buktinya." Ucap tuan Raharsya sambil menunjukkan foto yang ada di ponsel Ziko.


Hariadi melihat foto itu. Dia sedikit cemas ketika melihat jejaknya terbaca. Tapi dia berusaha untuk mengelak.


" Bagaimana kamu bisa mengatakan kalau aku yang ada di foto ini. Di sini hanya punggungnya saja yang kelihatan bisa jadi ini orang lain." Ucap Hariadi mengelak.


" Jam yang di tangan kamu buktinya." Ucap papanya tegas.


Hariadi langsung gelagapan. Rencananya sudah ketahuan oleh teman lamanya. Sambil melirik jam di tangannya.


" Aku akui kalau di dalam foto ini adalah diriku. Dan aku memang bekerjasama dengan tuan Sultan untuk menghancurkan kalian." Ucap Hariadi jujur.


" Kenapa om melakukan itu?" tanya Ziko cepat.


" Ini semua karena kamu Ziko. Kamu mencampakkan anakku dan mengirimnya ke penjara." Ucap Hariadi teriak.


" Semua ini terjadi karena ulah Sisil sendiri om." Ucap Ziko membela diri.


Hariadi melihat ketiga pria itu dengan tatapan marah.


" Aku ingin menghancurkan perusahaanmu dari dulu Raharsya. Tapi aku tidak punya kuasa. Akhirnya aku melupakan rencana ku itu."


" Apa imbalannya." Ucap tuan besar penasaran.


" Imbalannya informasi mengenai perusahaan kamu." Ucap Hariadi jujur.


" Dari mana kamu tau informasi tentang perusahaanku." Teriak tuan besar.


" Hahaha, dasar pikun. Kamu lupa kalau kita pernah bersahabat dan semuanya kamu ceritakan kepadaku. Termasuk rahasia perusahaanmu. Jadi aku jual informasi itu kepada tuan Sultan. Dan dia langsung menjalin kerjasama denganku." Ucapnya senang.


" Bagaimana dia tau kalau kamu ada informasi tentang perusahaanku?" tanya Tuan besar.


" Kamu itu sudah tua, sebelum menjalin kerjasama dengan seseorang pasti aku melampirkan kerjasama perusahaanku dengan perusahaan lain." Ucap Hariadi sambil tertawa.


Tuan besar telah melupakan hal itu. Dia sudah terlalu lama berdiam diri di rumah. Untuk hal itu dia sampai melupakannya.


" Apa maumu." Ucap tuan besar marah.


" Hahaha, sepertinya kamu akan tau apa mauku. Aku hanya ingin cabut gugatan untuk anakku." Ucap Hariadi.


" Jangan mimpi. Ayo kita pergi dari sini." Ucap Papanya mengajak anaknya untuk keluar dari ruangan itu.


Mereka bertiga keluar dari ruangan itu dengan perasaan marah. Di dalam ruangannya Hariadi masih tertawa.


" Bagaimana hasil rekamannya?" tanya Ziko kepada Kevin.


" Ada tuan." Ucap Kevin cepat sambil menunjukkan ponsel di saku jasnya.


" Pa, apa tidak sebaiknya gugatannya aku cabut?" tanya Ziko kepada papanya.

__ADS_1


" Jangan, dia sama liciknya dengan anaknya. Setelah di cabut gugatan itu, apa kamu pikir tuan Sultan akan memperbaiki keadaan saham kita?" tanya papanya.


Ziko menggelengkan kepalanya, apa yang di ucapkan papanya benar. Tidak segampang itu urusannya dengan tuan Sultan.


" Kita bicarakan ini nanti di rumah sakit. Sekarang simpan hasil rekaman itu. Itu akan kita jadikan bukti untuk menggiringnya ke penjara.


Mereka sudah sampai di depan pintu loby perusahaan Hariadi.


Kevin membubarkan semua timnya yang berada di luar gedung. Mereka masuk ke dalam mobil. Tuan Raharsya langsung masuk ke dalam mobil. Supir sudah membawanya pergi meninggalkan gedung itu.


Ziko di dalam mobil bersama Kevin.


" Tuan, apa anda mau kembali ke kantor?" tanya Kevin.


" Kita pergi ke apartemenku saja." Ucap Ziko cepat.


" Untuk apa tuan?" tanya Kevin.


" Aku tidak ingin membawa Zira kembali ke rumah yang ada tangganya." Ucap Ziko cepat.


" Baik tuan." Kevin langsung menekan pedal gas dan meninggalkan gedung itu.


Mereka menuju apartemen milik Ziko. Dalam beberapa menit mereka telah sampai di depan apartemen yang menjulang tinggi ke atas.


Ziko langsung turun di ikuti Kevin. Mereka sampai di lantai 30 dengan menggunakan lift.


Ziko menekan password apartemennya. Tidak berapa lama pintu terbuka dan lampu menyala secara otomatis. Apartemen itu walaupun tidak di tempati Ziko tapi masih tetap bersih. Karena Ziko menugaskan asisten rumah tangga yang ada di mansion untuk membersihkan ruangan itu seminggu tiga kali. Sehingga apartemen itu masih tetap terawat.


Ziko memperhatikan setiap sudut apartemennya.


" Apa aku harus mengganti furniturnya?" tanya Ziko.


" Menurut saya tidak perlu tuan. Maaf tuan apartemen ini pernah di gunakan nona Sisil. Apa sebaiknya nona Zira di belikan yang lain saja." Ucap Kevin cepat.


Ziko teringat sesuatu tentang masa lalunya.


" Kenapa aku sampai melupakan hal itu. Kita cari rumah baru untuk istriku." Ucap Ziko mengajak Kevin keluar meninggalkan apartemen itu.


" Tuan, keadaan perusahaan sedang tidak stabil. Apa sebaiknya tidak menghamburkan uang." Ucap Kevin mengingatkan bosnya.


Ziko diam sejenak.


" Kamu yang memberikan ide untuk membeli rumah baru. Dan kamu juga yang mengingatkanku tentang kondisi keuangan perusahaan." Gerutu Ziko.


Kevin hanya diam sambil tersenyum tipis.


" Tapi aku ingin membangun bahtera rumah tangga dengan Zira dari awal. Aku ingin menikmati jadi peran seorang suami." Ucap Ziko cepat sambil membayangkan sesuatu.


" Maksudnya tuan?" tanya Kevin.


" Selama ini keperluanku seperti makan di siapkan oleh pembantu. Aku ingin Zira memasak untukku. Rasanya nikmat sekali jika makan dari buatan istri tercinta." Ucap Ziko pelan.


Kevin diam, dia merasa iri. Dan ingin mengalami hal yang sama dengan bosnya.


" Bagaimana kalau apartemen ini kita jual. Dengan seperti itu. Tuan bisa membeli rumah baru dari hasil penjualan ini." Ucap Kevin cepat.


" Baiklah kamu benar. Kamu urus itu semuanya." Ucap Ziko sambil berjalan meninggalkan apartemen itu.


Kevin mengikuti dari belakang. Dia sedang menghubungi seseorang untuk menjual apartemen milik bosnya.

__ADS_1


" Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih."


__ADS_2