Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 292 (S2)


__ADS_3

Menik teriak dan langsung bangun dari posisi tidurnya. Ada suara ketukan dari luar pintu kamarnya.


Menik berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamarnya.


" Kenapa ganggu tidur kakak?" Ucap Menik


sambil menguap.


" Ini sudah jam setengah enam? Kakak sudah terlambat." Ucap Bima sedikit teriak.


" Enggak usah ngarang deh. Kakak baru saja masuk kamar dan tidur." Ucap Menik dengan suara khas bangun tidur.


Bima langsung mengambil jam beker yang ada di sebelah kasur kakaknya, dan menunjukkan benda bergambar hello Kitty itu kepada kakaknya.


" Lihat ini!" Bima menunjukkan jam weker di depan wajah Menik.


Menik memperhatikan jam itu dengan seksama. Jarum pendeknya dan jarum panjangnya


" Aaaaaa." Menik teriak dia langsung masuk ke kamar kemudian keluar lagi, kemudian masuk ke kamarnya untuk mengambil handuk.


Bima menunggunya di depan, dia sudah membelikan sarapan untuk kakaknya. Karena dia tau kalau kakaknya tidak mungkin membuatkan sarapan untuk mereka berdua.


Bima sudah bersiap-siap dengan seragamnya putih biru dan sepatu hitamnya. Dia masih menunggu kakaknya.


Tidak berapa lama Menik keluar kamar mandi dan langsung menuju kamarnya. Dia memakai seragamnya. Tanpa berhias dia keluar dari kamarnya.


" Ayo kakak sudah siap." Ucap Menik sambil menjemur handuknya di jemuran kecil di dalam rumahnya.


" Kenapa kakak tidak berhias?" tanya adiknya.


" Kakak itu mau bekerja bukan mau jual diri untuk apa berhias." Jawab Menik.


" Ya setidaknya pakai lipstik kek. Biar tidak terlalu pucat. Gimana mau menarik perhatian Pak Kevin dandan aja tidak." Gerutu adiknya.


Menik tidak suka berdandan, dia hanya punya dua benda yang menurutnya bisa membuatnya pede ketika datang ke pesta yaitu, lipstik dan bedak bayi. Selebihnya dia tidak punya, karena dia memang kurang suka dengan hal seperti itu.


Walaupun tidak berdandan Menik tetap terlihat cantik. Hanya saja adiknya ingin kakaknya lebih terlihat feminim, agar ada pria yang mau menikahinya.


Menik masuk kembali ke dalam kamarnya, dia memakai lipstick-nya. Lipstik itu entah sudah berapa tahun di belinya.


Begitu Menik keluar dari kamarnya dengan memakai lipstik di bibirnya, adiknya Bima langsung membelalakkan matanya.


" Itu lipstik apa cabe?" tanya adiknya.


" Iya ini cabe merah yang di olesi ke bibirku." Ucap Menik asal.


Menik memang tidak pintar dengan namanya make up, sama halnya dengan warna lipstik dia tidak bisa memilih warna yang cocok untuk di pakainya.


" Kak, lebih baik kakak tidak usah pakai lipstik." Ucap Bima melarang.


" Tadi kamu yang bilang kalau kakak pakai lipstik biar tidak pucat. Giliran pakai lipstik di suruh hapus." Gerutu Menik.


" Iya tapi bukan warna cabe seperti itu. Kakak mau jadi pusat perhatian semua orang ya?" Ucap adiknya.


" Enggaklah, kakak cuma mau jadi pusat perhatian Pak Kevin."


" Tapi kalau kakak pakai warna itu tidak cocok dengan pakaian kakak." Ucap Bima lagi.


" Maksudnya?"


" Coba kakak lihat karyawan di kantor itu, kebanyakan yang pakai warna itu punya jabatan penting dan kakak boro-boro penting di anggap aja tidak. Dan satu lagi mereka kebanyakan usianya lebih tua dari kakak. Aku enggak mau kakak pakai warna itu. Kakak terlihat seperti tante yang lagi mencari mangsa di gedung Rahasrya Group." Jawab adiknya asal.


Menik masuk lagi ke kamarnya, dan melihat pantulan wajahnya dari dalam cermin.

__ADS_1


" Bibirku seperti cenil." Gumam Menik sambil menghapus lipstik dari bibirnya.


" Ah masa bodoh kalau dia tidak tertarik kepadaku. Inilah aku apa adanya. Tidak suka berhias dan sedikit tomboi." Gumam Menik lagi.


Kemudian dua kakak beradik itu pergi ke kantor naik motor gede milik adiknya. Motor sudah melaju menuju jalan raya.


" Kakak tidak punya warna lipstik lain?" tanya Bima sambil teriak karena sedang berada di atas motor.


" Enggak, itu lipstik belinya juga asal." Ucap Menik kencang.


" Nanti pulang kerja kita ke mall ya." Ucap Bima cepat.


" Ngapain?"


" Nongkrong." Ucap adeknya.


Bima ingin membawa kakaknya ke temannya yang bekerja di sebuah salon kecantikan. Dia ingin kakaknya belajar dandan di sana.


***


Di rumah sakit.


Ziko sudah bangun terlebih dahulu, dia kaget karena ada suara seseorang yang mengetuk pintu ruangan itu.


Ketika di buka ada Pak Budi yang berdiri di depan pintu itu.


" Pak Budi." Ucap Ziko cepat dengan suara serak.


" Maaf mengganggu anda, saya di perintahkan Nyonya untuk membawa pakaian ganti untuk tuan dan nona Zira." Ucap Pak Budi.


" Masuklah." Ucap Ziko memerintahkan Bapak separuh baya itu untuk masuk.


Pak Budi masuk perlahan kedalam ruangan itu sambil melirik ke arah kasur. Zira masih terlelap.


" Tuan saya turut berdukacita. Di dalam sini ada pakaian tuan dan nona. Dan ini ada sarapan buat anda berdua." Ucap Pak Budi sambil menunjuk barang bawaannya.


" Terimakasih atas perhatiannya Pak." Ucap Ziko cepat.


" Kapan mama datang." Tanya Ziko.


" Mungkin sebentar lagi." Ucap Pak Budi.


Dari raut wajah Ziko terlihat kalau dia ingin bertemu dan berbicara dengan kedua orang tuanya.


" Bapak jangan pulang dulu. Saya mau bersih-bersih dulu di kamar mandi." Ucap Ziko cepat.


Kemudian dia pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang lengket karena seharian tidak mandi.


Ziko keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian kasual. Pak Budi sengaja membawakan pakaian santai untuk Ziko. Karena dia tau pasti majikannya tidak akan ke kantor.


" Pak, Apa Bapak tidak ada bawa pakaian kerjaku." Ucap Ziko sambil melihat isi tas yang di bawa Pak Budi.


" Saya memang tidak membawanya, karena yang saya tau tuan tidak ke kantor ini hari." Ucap Pak Budi.


Ziko sebenarnya tidak ingin kekantor karena ini masih hari berduka untuk dirinya dan Zira termasuk keluarganya.


Tapi masalah kantor yang kemaren mengharuskannya untuk pergi ke kantor. Tidak berapa lama pintu di buka, ada kedua orang tuanya di depan pintu.


" Bagaimana keadaan Zira?" tanya Nyonya Amel sambil berjalan mendekati tempat tidur Zira.


" Zira sudah mulai bisa menerima." Ucap Ziko pelan.


" Syukurlah." Ucap Nyonya Amel pelan.

__ADS_1


" Mama Papa aku mau bicara." Ucap Ziko cepat.


" Ya sudah bicarakan saja di sini." Ucap Nyonya Amel cepat.


Pak Budi langsung undur diri untuk pulang. Ziko memperhatikan wajah istrinya yang masih terlelap. Ketika dia merasa Zira masih tidur, dia setuju untuk mengatakan hal itu kepada kedua orang tuanya.


Mereka bertiga duduk di sofa, jarak sofa antara tempat tidur kira-kira 5 meter. Karena ruangan itu memang khusus di pesan keluarga itu untuk Zira.


" Apa yang menyebabkan Zira keguguran?" tanya Ziko.


Ziko belum mendengar cerita tentang penyebab istrinya keguguran. Dan menurutnya saatnya dia tau penyebab itu.


Nyonya Amel menceritakan semuanya, semua yang di dengarnya dari Lina disampaikannya.


Sayup-sayup Zira mendengarkan pembicaraan mertuanya dengan suaminya.


Tapi dia merasa berat untuk membuka matanya.


Setelah mendengar cerita orang tuanya Ziko seperti memikirkan sesuatu.


" Mama Papa, sepertinya kami tidak tinggal di rumah utama. Aku tidak mau Zira jatuh lagi dari tangga.". Ucap Ziko cepat.


" Terserah kamu nak, mana yang menurut kamu nyaman kami ikut saja. Benar tidak pa." Ucap Nyonya Amel.


Tuan besar menganggukkan kepalanya setuju.


" Tapi bagaimana butiknya Zira. Di sana juga pakai tangga. Apa seharusnya Zira tidak ke butik lagi." Ucap Papanya.


Ziko teringat sesuatu tentang tangga di butik istrinya.


" Masalah butik nanti aku akan bicarakan sama Zira. Ada suatu hal yang harus mama dan papa ketahui." Ucap Ziko cepat.


Kedua orangtuanya saling pandang.


" Ada apa? Jangan bilang kamu mau cerai." Ucap Nyonya Amel langsung.


" Bukan itu, aku tidak akan menceraikan Zira sampai kapanpun. Ini masalah kantor." Ucap Ziko cepat sambil melirik ke arah Zira.


Setelah melihat Zira masih menutup matanya, Ziko melanjutkan ucapannya.


" Para pemegang saham sudah menarik sahamnya. Tidak ada tertinggal sesuatu apapun di sana." Ucap Ziko pelan.


" Apa!" Nyonya Amel sedikit teriak.


" Sstt jangan berisik. Nanti Zira dengar. Aku tidak mau Zira memikirkan ini." Ucap Ziko cepat.


" Kenapa bisa seperti ini?" tanya Papanya.


" Sepertinya ada seseorang di balik anjloknya saham kita." Ucap Ziko pelan.


Zira mendengarkan dengan seksama dengan mata tertutup.


" Bagaimana kamu bisa mengatakan seperti itu?" tanya tuan besar.


" Karena para pemegang saham yang di luar negeri semuanya menarik sahamnya. Dan aku yakin orang ini punya pengaruh yang kuat dalam bidang bisnis." Ucap Ziko cepat.


" Bisa di bilang aset kita yang berada di luar negeri hilang 30 persen." Ucap Ziko lagi.


" Siapa kira-kira di balik ini semua." Ucap Tuan besar sambil memikirkan sesuatu.


" Apa kamu tidak punya musuh." Timpal Nyonya Amel.


Ziko diam sambil menggelengkan kepalanya. Tapi dia teringat sesuatu tentang tuan Sultan, dia tidak bisa mengatakan pria itu musuh atau tidak. Tapi yang dia pernah tau kalau dia mengecewakan tuan Sultan itu.

__ADS_1


" Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih."


__ADS_2