
Zelin dengan susah payah membawa kakaknya pulang. Dia yang mengambil alih mengemudikan mobil. Di dalam perjalanan ke rumah hanya ada keheningan, ada suara kendaraan yang lalu lalang di sekitar jalanan. Zelin tidak berniat untuk membuka pembicaraan, dia lebih memilih fokus dalam mengendarai mobil. Mobil sudah sampai di pekarangan rumah. Dia turun dari mobil tapi kakaknya belum ikut turun.
" Kak, sudah sampai." Ucap Zelin sambil membungkukkan badannya melihat kearah kakaknya yang masih duduk diam di samping kursi kemudi.
Ziko tidak bergeming, dia masih melamun kan kejadian tadi, melamun kan masalahnya. Dia tersentak kaget karena ada suara pintu mobil di tutup. Dia melihat ke sebelahnya, sudah tidak ada adiknya di situ. Dia melihat lagi ke sekelilingnya. Ziko baru tersadar kalau dirinya sudah sampai di rumahnya. Dengan langkah gontai dia masuk ke dalam rumah.
" Mana kakakmu?" Ucap nyonya Amel kepada anak bungsunya. Tidak berapa lama Ziko masuk ke dalam rumah. Dia melihat mamanya sedang mengobrol dengan adiknya. Nyonya Amel langsung memeluk anak sulungnya. Wanita paruh baya itu ikut prihatin melihat rumah tangga anaknya.
Ziko pergi meninggalkan mamanya, dia memilih masuk ke dalam kamarnya. Nyonya Amel dan tuan besar melihat anaknya tidak ada rasa semangat lagi dalam dirinya. Wanita paruh baya itu menarik tangan anaknya ke ruang keluarga.
" Apa kalian dapat menemukan tempat tinggal Zira?" Ucap nyonya Amel penasaran.
Zelin menganggukkan kepalanya, sambil beranjak dari sofa. Tapi nyonya Amel menahan tangan anaknya.
" Ceritakan kepada mama dan papa, apa kalian bertemu dengan Zira?" tanya nyonya Amel lagi.
" Iya ma, kami sudah bertemu dengan kak Zira. Bolehkah aku makan. Perut bagian tengahku sudah menari-nari minta di isi." Ucap Zelin sambil memegang perutnya. Dia sudah tidak bisa menahan rasa laparnya lagi. Sudah hampir 4 jam mereka di rumah Zira. Dan tanpa makan sedikitpun. Zelin pergi ke meja makan, dia mau menikmati makan malamnya yang tertunda.
" Pa sepertinya Ziko belum makan juga, mama khawatir dia sakit." Ucap nyonya Amel pergi meninggalkan suaminya yang duduk di ruang keluarga.
Nyonya Amel mengambil nasi, lauk dan meletakkannya di atas piring. Dan beberapa buah yang sudah di potong.
" Pak antar kan ini ke kamar Ziko." Ucap Nyonya Amel kepada pak Budi. Pak Budi meletakkan piring tersebut ke atas nampan. Dan membawanya ke lantai atas. Pria paruh baya itu mengetuk pintu kamar, beberapa kali tidak ada jawaban dari dalam kamar. Pak Budi memberanikan diri untuk membuka pintunya, dia masih khawatir dengan kejadian beberapa hari yang lalu, pada saat dia dan Zelin melihat majikannya terkapar tak berdaya di kamar. Pria paruh baya itu melihat majikannya terlentang sambil memandang langit-langit kamar.
" Maaf mengganggu tuan, ini saya bawakan makan malam anda." Ucap pak Budi. Tapi Ziko tidak bergeming sama sekali. Dia sedang berperang dalam pikirannya sendiri. Pak Budi keluar dari kamar dan memberitahukan hal itu kepada nyonya Besar.
" Makanan sudah saya antar ke kamar, tapi sepertinya tuan sedang memikirkan sesuatu, beliau tidak bergeming sama sekali ketika ada saya di kamar itu." Ucap pak Budi menjelaskan.
" Baiklah pak, saya akan melihatnya ke kamar." Ucap Nyonya Amel langsung berjalan menaiki anak tangga. Di dalam kamar nyonya Amel mendapati anaknya sama persis seperti yang di bilang Pak Budi. Nyonya Amel menggoyangkan tangan anaknya. Ziko tersentak dan langsung duduk di pinggir kasur.
" Makanlah sayang." Ucap nyonya Amel memberikan nampan yang berisi makanan.
" Aku enggak selera makan ma." Ucap Ziko cepat.
Dari ekspresi yang di berikan Ziko kepada dirinya, menunjukkan kalau rencana anaknya untuk merayu Zira tidak berhasil. Walaupun nyonya Amel tidak bertanya tapi bisa di baca dari raut wajah anaknya yang sendu.
__ADS_1
" Kamu harus makan, bagaimana kamu membesarkan anak kamu, kalau kamu sendiri seperti ini." Ucap nyonya Amel menyemangati.
" Apa mungkin kami akan membesarkan anak kami bersama-sama." Ucap Ziko ragu.
" Ko, kamu jangan menyerah, mama tau kamu pasti putus asa karena mendapat penolakan dari Zira. Tapi bukan berarti kamu langsung menyerah. Kamu harus berjuang kembali untuk merebut simpati Zira lagi." Ucap nyonya Amel cepat.
" Bagaimana aku bisa merebut simpati Zira, sedangkan aku tidak bisa bertemu dengannya, kami berbicara saja ada jarak." Gerutu Ziko kesal dengan keadaan.
" Ko, semakin sulit kamu merebut cinta Zira, maka semakin sulit juga kamu akan melepaskannya." Ucap nyonya Amel menyakinkan anaknya. Menurutnya pernikahan anaknya karena ancaman yang diberikannya kepada Zira. Dengan ancaman itu membuat Ziko dengan cepat dapat memiliki Zira. Ziko mendapatkan Zira melalui proses yang gampang dan tanpa proses panjang. Hal ini yang menyebabkan Ziko dengan gampang melepaskan Istrinya.
" Bagiamana caraku merebut hati Zira kembali." Ucap Ziko ragu sambil memandang wajah orang tuanya.
" Pertama kamu harus semangat untuk bangkit dari keterpurukan, seperti ini." Ucap nyonya Amel menunjukkan piring ke depan anaknya. Ziko menerima piring yang di berikan mamanya.
" Yang kedua, jangan siksa tubuhmu, dengan tidak makan sesuatu. Itu namanya kamu menambah siksaan untuk dirimu sendiri."
" Yang ketiga, kamu harus memberikan perhatian kepada Zira." Ucap Nyonya Amel lagi.
" Caranya bagaimana ma?"
" Kamu bisa mengirimkan sesuatu ke rumah Zira. Bisa bunga, boneka atau yang lainnya. Dengan seperti itu pelan-pelan Zira akan terus mengingat kamu." Ucap nyonya Amel lagi.
Ziko mulai memahami maksud mamanya. Dia akan berencana mulai mengirimkan sesuatu besok ke rumah Zira.
" Makanlah." Ucap nyonya Amel sambil mengingatkan kembali anaknya.
" Aku sulit makan ma, entah kenapa beberapa hari ini aku sering pusing dan mual apalagi pada saat pagi hari, badanku malas bergerak dan pasti aku muntah, dan aku hanya ingin makan yang segar-segar." Ucap Ziko cepat.
" Apa kamu sudah periksa ke dokter?" tanya nyonya Amel khawatir.
" Sudah, kata Diki aku tidak sakit apapun hanya pusing biasa." Ucap Ziko cepat.
" Sudah berapa lama kamu mengalami pusing seperti ini." Ucap Nyonya Amel penasaran.
" Beberapa minggu ini." Ucap Ziko lagi.
__ADS_1
Nyonya Amel berdiam sejenak sambil memikirkan sesuatu.
" Sepertinya kamu ngidam." Ucap nyonya Amel cepat.
" Maksud mama apa?" Ziko bingung.
" Ya, biasanya kalau istri kita hamil pasti mengalami namanya ngidam, Zira kan sedang hamil jadi yang mengalami ngidam adalah kamu." Ucap nyonya Amel tersenyum tipis.
" Apa Zira juga mengalami hal seperti ini?" Ucap Ziko penasaran.
" Mungkin iya mungkin tidak."
" Apa ngidam membahayakan bagi ibu hamil dan janinnya?" tanya Ziko lagi khawatir.
" Ya bahaya kalau si ibu tidak mau makan sesuatu, maka bisa membahayakan janinnya. Karena si janin hanya mendapatkan nutrisi dari ibunya." Ucap nyonya Amel menjelaskan.
Ziko jadi merasa khawatir mendengar penjelasan mamanya. Dia khawatir kalau Zira tidak bisa makan sesuatu. Maka akan berdampak pada anaknya.
" Ma, aku takut anakku tidak makan sesuatu." Ucap Ziko khawatir.
" Mama rasa Zira tau cara mengatasinya." Ucap nyonya Amel cepat.
" Ma, bagaimana kalau Zira benci dengan anak yang di kandungnya." Ucap Ziko cemas.
" Maksud kamu apa?"
Ziko menjelaskan tentang pertemuannya dengan Zira. Dan dia juga sudah mengungkapkan perasaannya kepada istrinya.
" Bagaimana reaksi Zira ketika kamu mengatakan hal itu." Ucap nyonya Amel lagi.
" Dia merasa, kalau aku hanya mencintainya karena ada anak kami dalam perutnya. Selebihnya tidak." Ucap Ziko cemas.
Nyonya Amel menenangkan anaknya, agar tidak memikirkan hal-hal yang aneh, walaupun dia memang ada rasa kekhawatiran mendengar ucapan Ziko. Tapi nyonya Amel mencoba bersikap tenang.
" Memang wajar kalau Zira mengatakan seperti itu, karena tiba-tiba kamu mengatakan cinta kepadanya pada saat kamu sudah tau ada benih kalian di sana. Tapi menurut mama Zira bisa mengendalikan emosinya dan bisa bersikap bijak." Ucap nyonya Amel menenangkan anaknya.
__ADS_1
Ziko merasa tenang mendengar penjelasan dari mamanya. Nyonya Amel ingin menemui menantunya, menurutnya di terima atau di tolak nantinya tidak masalah. Dia hanya ingin menjalin silaturahmi yang putus karena ulah anaknya sendiri.
" Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih."