Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 71


__ADS_3

Kevin kembali ke ruang Ziko dengan tergesa-gesa.


" Tuan nona Zira berangkat dengan pesawat xxx menuju kota B." Ucap Kevin cepat.


" Baiklah siapkan semuanya." Perintah Ziko


Asisten Kevin sudah mengerti maksud dari ucapan tuannya, dengan cepat dia langsung menghubungi pilot yang menerbangkan jet pribadi tuan muda.


Mereka sudah berada di dalam pesawat jet milik Ziko. Pesawat jet pergi meninggalkan bandara menuju kota B.


Pesawat yang di tumpangi Zira sudah landing dengan sempurna. Setelah mendapatkan instruksi dari pramugari satu persatu para penumpang meninggalkan pesawat begitupun dengan Zira.


Para penumpang menunggu koper mereka, setelah mendapatkan kopernya masing- masing penumpang meninggalkan ruang kedatangan.


Begitupun dengan Zira setelah mendapat kopernya, dia juga pergi meninggalkan ruang kedatangan.


Zira hendak menunjukkan tiketnya, tapi beberapa orang petugas menghampirinya.


" Maaf nona silahkan ikut kami." Ucap salah satu petugas bandara.


Zira mulai panik yang seumur-umur wara wiri naik pesawat tidak pernah di datangi beberapa orang petugas bandara.


Zira mengikuti petugas bandara dia di apit beberapa orang baik perempuan maupun laki-laki.


Beberapa penumpang banyak yang memperhatikan kejadian itu.


" Pasti bawa narkoba tu." Ucap salah satu penumpang.


Zira yang mendengar si penumpang bicara tambah panik. Mereka sampai di dalam satu ruangan. Di dalam ruangan terdapat sofa dan televisi.


Pihak bandara memberikan minuman dan makanan untuk Zira. Dia yang mendapatkan perlakuan seperti itu jadi tambah bingung.


" Silahkan Nona." Ucap petugas bandara yang tertulis di name tag Mona.


" Terimakasih mbak Mona." Ucap Zira sambil menunjukkan jarinya ke arah name tag perempuan itu.


" Maaf saya permisi dulu nona." Ucap petugas bandara.


Di dalam Zira masih bingung kenapa dia di bawa ke ruangan itu.


" Ruangan ini tidak seperti ruangan pemeriksaan yang sering aku lihat di televisi, biasanya yang aku lihat hanya ada satu meja besar dan beberapa petugas." Gumam Zira.


" Mereka memperlakukanku dengan baik." Gumam Zira lagi.


" Sebenarnya mereka mau apa ya, apa aku seperti buronan." Gumam Zira lagi.


Pintu ruangan di ketuk dari luar.


" Masuk saja ruangan ini bukan punya saya." Ucap Zira sedikit teriak.


Seorang pria paruh baya membuka pintu dan diikuti beberapa orang di belakangnya.


" Maaf nona atas ketidaknyamanannya." Ucap si bapak.


Zira masih mengangguk tidak mengerti maksud dari ucapan bapak tersebut.


" Maaf pak sebenarnya kesalahan saya apa." Tanya Zira bingung.

__ADS_1


" Nona tidak bersalah." Ucap si bapak cepat.


" Kalau saya tidak bersalah, kenapa masih ditahan di ruangan ini." Ucap Zira cepat.


" Saya hanya mengikuti perintah saja nona." Ucap si bapak.


Beberapa menit kemudian pintu di buka kembali oleh petugas bandara, di belakang petugas ada sosok yang sangat di kenal Zira siapa lagi kalau bukan calon suaminya.


Melihat kedatangan dua pria itu Zira membulatkan matanya. Petugas bandara mempersilahkan Ziko duduk, Ziko mengambil duduk di sebelah calon istrinya, salah satu tangannya memegang bahu Zira.


Ziko berbincang-bincang dengan bapak paruh baya tadi tertera nametag nya Sunaryo. Dia merupakan orang penting di bandara itu.


" Terimakasih." Ucap Ziko mengulurkan salah satu tangannya sambil berdiri.


Bapak tadi dan beberapa petugas lainnya menyambut tangan Ziko, mereka saling bersalaman.


Di ruangan hanya ada Ziko, Zira dan asisten Kevin.


Zira sudah mulai mengeluarkan taringnya.


" Apa maksud dari semua ini jelaskan." Teriak Zira.


Ziko tidak menjawab hanya tersenyum tipis.


" Karena ulah mu aku jadi malu." Ucap Zira cepat.


" Semua penumpang memikirkan hal-hal yang negatif tentangku." Ucap Zira lagi.


" Aku seperti buronan." Teriak Zira.


" Kamu memang buronan, telah kabur calon istri dari Ziko Putra Raharsya." Ejek Ziko.


Zira langsung memukuli Ziko dengan Jari-jari mungilnya.


" Siapa yang kabur, aku kan sudah menghubungimu." Ucap Zira cepat.


Meliah ekspresi calon istrinya, Ziko tersenyum-senyum.


" Makanya tuan Ziko kalau punya ponsel jangan disimpan tapi ditelan." Ucap Zira lagi.


" Sudah cukup! Sekarang jelaskan padaku, kenapa kamu pergi ke kota ini." Tanya Ziko.


" Duh tuan aku mau bertemu dengan sahabatku." Ucap Zira cepat.


" Cewek apa cowok." Tanya Ziko lagi.


" Waria." Ucap Zira cepat.


Ziko langsung melotot kearah Zira.


" Enggak-enggak,aku becanda, kenapa sih kalau aku sebut waria kamu langsung melotot, ada pengalaman buruk ya." Ejek Zira.


Ziko tidak menjawab ejekan yang dilontarkannya kepada dirinya. Dia memilih untuk pergi meninggalkan bandara bersama calon istri. Kevin mengendarai mobil yang telah di sediakan tangan kanannya. Sebelumnya asisten itu sudah menghubungi orang kepercayaannya untuk mempersiapkan mobil.


Zira memberikan alamat kepada Kevin, dalam beberapa menit mereka telah sampai di depan rumah sederhana.


Zira turun dari mobil di ikuti Ziko dan asisten Kevin. Dia mengetuk pintu, tidak beberapa lama seseorang datang dan membuka pintu.

__ADS_1


Begitu pintu di buka muncul dari balik pintu seorang wanita, wanita tersebut dengan cepat langsung teriak dan memeluk Zira.


" Kenalkan ini Novi sahabatku." Ucap Zira memperkenalkan Ziko dan Kevin.


Novi masih bingung kenapa sahabatnya membawa dua pria ke rumahnya.


Ziko menyambut uluran tangan Novi.


" Ziko calon suami Zira." Ucap Ziko cepat.


Zira langsung melotot kearah calon suaminya.


" Apa aku tidak salah dengar, benar itu ra." Tanya Novi lagi.


Zira mengangguk pelan. Novi langsung memeluknya kembali.


" Akhirnya temanku akan kawin juga." Ucap Novi senang sambil memeluk temannya.


Novi mempersilahkan mereka semua untuk masuk.


Mereka duduk di ruang tamu tidak berapa lama suami Novi datang beserta anaknya.


Melihat Kiki, Zira langsung memeluknya dan menciumnya berkali-kali. Kiki adalah anak Novi, mereka berdua sudah sangat akrab tak heran Kiki langsung lengket dengan Zira.


Melihat Zira begitu dekat dengan anak kecil hati Ziko langsung merasa nyaman. Sosok seperti inilah yang dicarinya.


Tak terasa waktu sudah malam Novi beserta suaminya mempersilahkan tamunya untuk makan malam bersama. Sebelumnya Zira dan Novi mempersiapkan semua makanan di dapur.


" Ra coba jelaskan padaku calon suamimu ini yang mana." Tanya Novi.


" Maksudmu." Tanya Zira balik.


" Kamu kan kemaren pernah bilang ada dua pria, kalau tidak salah, satu manusia es batu yang kedua duda, nah ini yang mana." Tanya Novi lagi.


" Oh ini manusia es batu." Ucap Zira sambil meletakkan makanan di atas piring.


" Nah kan betul, walaupun aku belum mengenalnya aku itu setuju kamu sama manusia es batu itu.


Nov kamu enggak ngerti saja drama yang aku hadapi melebih drama Korea.


Mereka menikmati makanan yang telah di siapkan pemilik rumah. Sesekali mereka berbicara mengenai banyak hal sambil menikmati makanannya.


Setelah selesai makan mereka ngobrol di ruang keluarga, sambil menikmati cemilan yang telah di sajikan Novi.


" Ra kamu tidur di sini kan." Tanya Novi.


" Iya." Ucap Zira cepat.


" Tuan aku bukan tidak mau menawarkan kamu untuk tidur di sini, tapi kamar kami hanya ada 4. Apa kamu mau sekamar dengan asisten mu." Tanya Novi.


Ziko dan Kevin saling melihat satu sama lain begitupun Zira. Dia senyum-senyum mengingat kejadian konyol yang di buatnya sendiri yaitu mengenai homo.


" Terimakasih saya akan menginap di hotel saja." Ucap Kevin cepat.


Kevin pergi meninggalkan rumah Novi. Dan Novi menunjukkan kamar yang akan di tempati Zira dan Ziko. Kamar mereka berada bersebelahan.


" Like komen dan vote yang banyak ya biar, yang belum vote di tunggu ya, terimakasih."

__ADS_1


__ADS_2