Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 36


__ADS_3

"Maaf Pak, apa kesalahan mereka sehingga di pecat." Ibu Mery bertanya karena dia belum mempunyai alasan yang tepat untuk memecat anak buahnya.


"Apakah kamu merasa pekerjaan mereka sudah baik." Tanya Kevin kembali.


"Me.. menurut saya pekerjaan mereka sudah baik Pak." Jawabnya gugup.


"Apakah kamu yakin?"


Ibu Mery tidak menjawab, dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia takut salah bicara, bisa-bisa ucapannya akan menjadi boomerang buatnya sendiri.


"Kamu sebagai atasan tidak becus, apa kamu juga mau saya pecat." Bentak Kevin.


"Jangan Pak jangan, saya hanya ingin mengetahui alasan Bapak memecat mereka. Saya harus memberikan alasan yang tepat untuk mereka Pak." Ibu Mery berkata dengan memelas.


"Baiklah, alasannya adalah karena mereka tidak ramah kepada tamu Presiden Direktur, dan mereka telah menghina tamunya." Jawab Kevin dengan sedikit teriak.


"Apa! Baiklah Pak, saya akan memecat mereka, tindakan mereka sudah salah." Jawab Ibu Mery.


"Sudah kamu boleh keluar, kerjakan tugasmu dengan benar, dan cari pengganti untuk mereka yang ramah dan jangan suka ngegosip. Kalau kamu mencari orang yang salah, kamu akan saya pecat." Ancam Kevin.


"Baik Pak."


Ibu Mery keluar dari ruang asisten Kevin, dia melakukan tugas yang telah di perintahkan asisten Kevin.

__ADS_1


Ibu Mery telah memecat 3 resepsionis itu, walaupun ada rasa tidak tega di hatinya, tapi harus di lakukan karena dia tidak mau mempertaruhkan posisinya sekarang.


Di butik.


Zira melakukan rutinitasnya seperti biasa, dia merancang pakaian di sebuah kertas putih, tangannya sudah sangat lihai untuk menaklukkan kertas di depannya. Untuknya merancang adalah hal yang mudah baginya.


Banyak pelanggan merasa puas dengan hasil rancangannya, dia sedang fokus menyelesaikan hasil rancangannya di dalam ruangan.


Pintu ruangannya di ketuk.


Tok tok tok.


"Masuk."


Zira masih fokus dengan rancangannya.


"Saya?" ucap Zira tanpa menoleh sedikitpun.


"Nona Sisil." Jawab Lina sedikit gugup.


"Ada perlu apa dia ke sini."


Zira yang mendengar nama Sisil langsung meletakkan pensilnya ada sedikit keterkejutan ketika nama itu di sebut.

__ADS_1


"Bukannya nona Sisil yang membatalkan hasil rancangan saya kan." Ucap Zira balik.


"Iya mbak. Tapi sepertinya dia ada perlu dengan mbak Zira.


"Ya udah suruh masuk." Zira kembali lagi menyelesaikan rancangannya.


Sisil datang dengan keangkuhannya, dia duduk di sofa dan meletakkan kakinya di atas meja.


Melihat tingkah Sisil, Lina mau menegurnya, tapi sudah di tahan Zira dengan lirikan matanya.


"Ada yang bisa saya bantu." Tanya Zira menahan emosinya.


"Aku mau hasil design kamu yang kemarin, masih ada kan?" ucap Sisil lagi.


Zira yang mendengar mau tertawa tapi dia berusaha menahannya.


"Saya memang sudah merancangnya dan juga sudah selesai di jahit, tapi gaun itu sudah di beli sama orang lain." Jawab Zira santai.


"Apa! Bagaimana mungkin kamu menyerahkan design itu kepada orang lain." Teriak Sisil.


"Bukannya nona Sisil yang telah membatalkan kesepakatan kita, dan kalau tidak salah nona yang bilang rancangan saya kampungan, betulkah nona Sisil?"


Sisil seperti menjilat ludahnya kembali.

__ADS_1


"Ya ya, awalnya aku bilang rancangan kamu kampungan tapi setelah aku ke butik yang lain ternyata mereka lebih kampungan." Ucap Sisil mencoba membela diri.


"Hello readers maaf jika ada typo ini adalah novel pertama author, like episode favorit kalian ya dan komen banyak nya, terimakasih. "


__ADS_2