Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 440 (S2)


__ADS_3

Keesokan harinya pengantin baru itu berangkat lebih awal ke tempat wisata. Mereka harus menyelesaikan beberapa tempat wisata yang paling populer. Karena besok Kevin dan Menik akan berangkat ke Jerman.


Tempat wisata yang di kunjungi pertama adalah museum orsay. Museum orsay merupakan destinasi wisata bersejarah di Perancis. Museum ini terkenal dengan jam besarnya yang berada di salah satu ruang utama. Dulunya museum ini merupakan stasiun kereta api, namun stasiun itu berhenti beroperasi dan menjadi monumen bersejarah hingga di tetapkan menjadi museum untuk umum. Objek wisata ini memamerkan karya seni Perancis, mulai dari lukisan, patung, karya fotografi dan artefak seni lainnya.


Selama berada di museum itu Kevin selalu melihat sekelilingnya. Dia mengikuti perintah bosnya untuk tetap waspada dan berhati-hati.


"Fotokan aku." Ucap Menik sambil menyerahkan ponselnya kepada suaminya. Kevin memotret istrinya dengan berbagai gaya. Tapi dia tidak fokus sehingga hasilnya kurang bagus.


"Bagaimana hasilnya, coba lihat." Menik mengulurkan tangannya ke arah Kevin, tapi Kevin tidak menyerahkan ponsel istrinya. Dia fokus pada hasil jepretannya.


Karena Kevin tidak menunjukkan hasilnya, Menik memilih untuk berdiri di samping suaminya.


"Kamu gimana sih, kok fotonya miring." Gerutu Menik.


"Hapus itu, foto yang bagus dong, kapan lagi bisa keluar negeri." Ucap Menik ingin bergaya lagi.


"Tunggu, coba kamu lihat ini foto siapa." Kevin menunjukkan hasil jepretannya dengan cara di zoom.


"Aku."Jawab Menik singkat.


"Bukan yang ini, pria yang sembunyi di balik badan pria pendek ini." Ucap Kevin menujukkan lagi hasil jepretannya.


"Wajahnya tidak asing, tapi siapa ya." Menik ingin melihat ke arah pria itu.


"Jangan lihat ke sana, anggap kita tidak mengenalnya, ayo jalan." Ucap Kevin sambil menggandeng tangan istrinya.


"Memangnya siapa itu." Bisik Menik.


"Itu pria yang kemaren, sepertinya dia mengikuti kita. Bersikap normal anggap tidak terjadi sesuatu." Bisik Kevin.


Kevin dan Menik keluar dari museum itu. Mereka memilih tempat wisata lain.


"Dari mana kamu tau kalau pria itu sedang mengikuti kita, bisa saja dia sedang berlibur." Ucap Menik.


"Perasaanku mengatakan pertemuan kamu dengannya hanya rekayasa, apalagi dia menanyakan tentang keluarga Amrin. Semuanya bukan hanya kebetulan tapi ada seseorang yang sedang mengawasi kita. Dan ini pasti ada hubungannya dengan nona Zira." Jelas Kevin.


"Terus bagaimana?" tanya Menik lagi.


"Kita pergi ke tempat wisata lain. Kalau dia masih mengikuti, berarti benar dugaanku." Ucap Kevin.


Tujuan wisata selanjutnya yaitu arenes den nimes. Arenes den nimes yaitu tempat wisata yang arsitekturnya menyerupai koloseum. Koloseum yang ada di Perancis hampir mirip dengan yang ada di Italia.

__ADS_1


Mereka memutari koloseum itu dengan para wisatawan lainnya. Menik menikmati keindahan bangunan itu, dia mengabadikannya melalui video yang ada di ponselnya. Sedangkan Kevin selalu memperhatikan sekitarnya. Penglihatannya harus jeli.


"Nik, bawa sini ponselmu." Bisik Kevin. Menik menyerahkan ponselnya kepada suaminya. Kevin melanjutkan video tersebut dengan merekam mengarah ke belakang.


Mereka berhenti dan tidak ikut dalam kerumunan wisatawan lainnya.


"Kita pindah." Ucap Kevin.


"Tapi kita baru sebentar di sini." Ucap Menik.


"Lebih baik kita balik ke hotel. Aku tidak tenang jika kita terus di buntuti pria itu." Bisik Kevin sambil menuntun istrinya menuju keluar gedung.


"Di mana dia, aku tidak melihatnya." Ucap Menik lagi sambil melihat sekelilingnya.


"Bersikap wajar Nik, jangan sampai dia tau kalau kita sudah mengetahui gerak geriknya." Bisik Kevin.


Mereka kembali masuk ke dalam taksi.


"Jangan balik ke hotel dulu, aku belum beli oleh-oleh untuk Bima."


"Baiklah kita pergi ke La Vella." Kevin memberitahukan kepada supir taksi untuk membawanya menuju La Vella.


Hampir satu jam mereka berada di dalam taksi, dan akhirnya pengantin baru itu tiba di surganya belanja negara Perancis. Di La Vella banyak berbagai barang branded kelas satu yang harganya lebih murah dari tempat manapun yang ada di Perancis.


Kevin menemani istrinya untuk masuk ke gerai tersebut. Penjaga toko tersenyum ramah kepada mereka dan menawarkan produknya. Menik tertarik dengan tas berwarna grey.


Kevin melihat bandrol harganya.


"Berapa?" tanya Menik.


"Kalau di rupiahkan sekitar seratus juta." Jelas Kevin.


"Apa! seratus juta? mending enggak usah beli. Aku pakai yang ada saja. Kalau perlu pakai koper." Jelas Menik.


"Hahaha, kalau pakai koper, kopernya mau kamu jinjing." Ejek Kevin.


"Habis mahal banget. Dengan harga segitu, aku bisa beli segudang di pasar." Jelas Menik.


"Kita cari ke tempat lain aja." Ucap Menik.


"Sama saja Nik, malah lebih mahal. Di sini pusat belanjanya kota Paris. Harganya bisa lebih murah tiga puluh persen sampai lima puluh persen dari tempat lain yang ada di Paris." Jelas Kevin lagi.

__ADS_1


"Jadi ambil enggak?" tanya Kevin lagi.


"Mahal." Ucap Menik singkat.


"Nanti kamu menyesal, aku jamin di sini sudah murah." Kevin melihat wajah istrinya yang ragu antara ambil atau tidak.


"Kalau misalnya aku ambil nanti uang kamu habis." Ucap Menik pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Kalau kamu ambil semuanya baru aku bangkrut." Ucap Kevin sambil tersenyum.


"Aaah kamu." Ucap Menik manja. Kevin langsung memeluk tubuh istrinya sambil mengecup dahi istrinya.


Setelah puas berbelanja akhirnya Kevin dan Menik kembali ke hotel. Sesampainya di hotel Menik langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Dia merasa sangat lelah.


"Nik kita tidak ada waktu. Cepat kamu beres-beres. Kita akan terbang ke Jerman malam ini." Jelas Kevin.


"Malam ini." Ucap Menik bingung.


"Iya malam ini. Aku tidak tenang kalau kita harus bermalam di sini." Kevin mengeluarkan koper Menik dan memasukkan baju istrinya ke dalam koper.


"Apa kamu takut kalau pria itu datang ke sini." Tebak Menik.


"Itu salah satunya, kalau dia datang dengan segerombolan temannya dan menawan kita bagaimana." Jelas Kevin.


"Apa!" Menik panik, dia bingung harus melakukan apa.


"Nik tenang, sekarang kamu bergegas, benahi semuanya. Sebentar lagi kita check out dari sini." Ucap Kevin.


Menik mengikuti saran suaminya, dia menyusun semua bawaannya dan memasukkannya ke dalam koper.


"Apa dia juga akan mengikuti kita ke Jerman?" tanya Menik sambil terus menyusun barang-barangnya.


"Itu yang aku khawatirkan. Kalau kita masih di sini, bisa-bisa dia tau rencana kita." Jelas Kevin.


"Kalau seandainya dia mengikuti kita bagaimana?" tanya Menik lagi.


"Kalau seandainya mereka mengikuti kita, berarti negara eropa lainnya batal. Kita kembali ke tanah air."


"Kenapa tidak lapor ke kantor polisi." Ucap Menik.


"Kita tidak punya bukti yang cukup kuat, dan satu lagi kita itu turis." Jelas Kevin.

__ADS_1


Bersambung.


Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih


__ADS_2