
Keesokan harinya Ziko sedang bersiap-siap berangkat kerja. Tapi dia mendengar kalau istrinya sedang menerima panggilan dari pengacaranya. Setelah selesai Ziko baru bertanya kepada istrinya.
"Kenapa pengacara itu menghubungi kamu pagi-pagi?" tanya Ziko.
"Pengacaraku mau datang ke rumah." Jawab Zira.
"Ada urusan apa?" tanya Ziko penasaran.
"Enggak tau, katanya penting." Jawab Zira lagi.
Tidak berapa lama Kevin sudah tiba di depan rumah bosnya.
"Pagi semuanya." Sapa Kevin.
"Pagi Vin, kamu kapan pindah rumah? katanya mau tetanggaan dengan kami." Ucap Zira.
"Minggu depan nona." Jawab Kevin.
"Tuan, mari kita berangkat." Ucap Kevin.
"Vin, kita tunggu pengacara istriku dulu." Ucap Ziko.
"Kenapa sayang? bukannya kamu ada meeting." Ucap Zira.
"Meeting bisa aku cancel, aku penasaran dengan pengacaramu." Ucap Ziko.
"Oh ya udah." Ucap Zira.
Ziko mendekati asistennya, dia membisikan sesuatu kepada Kevin.
"Perasaanku tidak enak." Bisik Kevin.
"Kenapa tuan." Bisik Kevin balik.
"Entahlah." Jawab Ziko singkat. Zira memperhatikan suaminya sedang berbisik kepada asistennya.
"Bisik-bisik tetangga, kini mulai terdengar selalu di telinga hingga menusuki hatiku." Zira nyanyi dangdut.
Ziko dan Kevin langsung memutar badannya. Keduanya memicingkan matanya sambil melihat Zira yang sedang menyanyi dangdut.
"Sayang kamu kenapa?" Ziko heran.
Zira tidak menjawab, dia masih sibuk bernyanyi.
"Sayang, aku tidak pernah membelikan susu rasa dangdut. Kenapa kamu nyanyi dangdut, seharusnya kamu nyanyi rasa sayange." Ucap Ziko heran.
"Tuan sepertinya nona Zira sedang menyindir kita karena berbisik." Ucap Kevin.
"Oh itu, kamu menyindir dengan bernyanyi." Ucap Ziko.
__ADS_1
"Kamu suami yang enggak peka, si Kevin aja langsung paham." Gerutu Zira.
"Jelas aku enggak paham, biasanya kamu nyanyi rasa sayange, kenapa tiba-tiba mendadak dangdut?" Gerutu Ziko.
Zira memonyongkan bibirnya ke arah suaminya. Ziko gemas dengan tingkah istrinya. Dia mendekati istrinya dan akan mencium bibir Zira. Tapi Kevin langsung menghalangi dengan kata-katanya.
"Tuan stop, nanti kentut musiman saya kambuh." Ucap Kevin. Ziko menoleh ke arah asistennya.
"Kamu sudah punya istri, tapi kenapa kentut musimanmu masih ada?" tanya Ziko bingung.
"Karena istri saya tidak berada di sini tuan." Ucap Kevin jujur.
Ada sebuah mobil parkir di depan rumah Ziko dan Zira. Seorang pria paruh baya turun dari mobil, dia adalah pengacara Zira.
"Selamat pagi nona dan tuan muda." Ucap pengacara.
"Selamat pagi pak pengacara. Silahkan duduk." Ucap Zira ramah.
Pria paruh baya itu, duduk sambil memangku sebuah tas kulitnya. Dia memandang wajah semuanya satu persatu.
"Nona, bisa kita mulai." Ucap pengacara itu.
"Silahkan." Ucap Zira singkat.
"Tapi bagaimana dengan tuan muda dan asisten Kevin?" tanya pengacara itu.
"Mereka bisa di percaya." Ucap Zira.
"Foto?" Ucap Zira bingung.
"Ini foto tuan Amrin dan tuan Amran." Ucap pengacara.
"Amran? Siapa?" tanya Ziko bingung sambil melihat foto yang ada di atas meja dan menunjukkan kepada asistennya.
"Amran kembaran tuan Amrin, mereka dua bersaudara." Jelas pengacara.
"Eyang punya kembaran? kenapa aku tidak pernah tau." Ucap Zira senang.
"Maaf saya tidak memberitahukan hal ini, karena ini di rahasiakan." Ucap pengacara.
"Kenapa di rahasiakan?" tanya Zira heran.
"Tuan Amran berbeda dengan tuan Amrin. Beliau sering sakit-sakitan. Ada yang bilang kalau saudara kembar itu harus di pisah dan tidak bisa berdekatan. Akhirnya tuan Amran di bawa keluar negeri oleh sanak saudara. Dan betul beliau menjadi pria yang sehat dan tidak sakit-sakitan." Jelas pengacara itu.
"Kenapa baru sekarang di ceritakan kepada istri saya." Ucap Ziko heran.
"Karena beliau akan datang ke sini. Dan meminta hak atas kekayaan keluarga Amrin." Ucap pengacara.
"Tunggu, sebenarnya kekayaan istriku ini hasil dari kerja keras almarhum eyang Amrin atau kekayaan karena keturunan?" tanya Ziko penasaran.
__ADS_1
"Untuk yang ada di sini hasil jerih payah almarhum tuan Amrin. Tapi untuk di luar negeri ada sangkut pautnya dengan keluarga. Memang tidak di pungkiri kalau yang membuat berhasil almarhum tuan Amrin dan nona Zira. Dan sepertinya mereka mau minta bagiannya." Jelas pengacara.
"Ya sudah bagi saja." Ucap Zira singkat.
"Sayang kenapa kamu bisa melepaskan dengan gampang." Ucap Ziko heran.
"Sayang, mendengar aku masih punya saudara aku sudah sangat senang. Mungkin di sana mereka hidup susah. Apa salahnya berbagi kepada saudaraku." Ucap Zira senang.
Ziko tidak rela, karena dia menaruh curiga kepada keluarga istrinya yang ada di luar negeri.
"Baiklah nona, kita tinggal tunggu kedatangan mereka saja." Ucap pengacara sekaligus undur diri pulang.
Zira merasa senang karena dia di dunia ini tidak sendiri, ada keluarga dari kembaran eyangnya.
"Sayang, aku sangat senang sekali. Ini seperti mimpi. Ternyata aku punya saudara." Ucap Zira senang.
"Iya sayang, tapi ada baiknya kalau kamu tetap waspada." Ucap Ziko pelan. Dia takut istrinya akan tersinggung dengan ucapannya.
"Kenapa aku harus waspada? mereka keluarga selama ini yang aku tunggu. Ini merupakan salah satu impianku." Ucap Zira marah.
"Sayang jangan marah, aku hanya mengingatkanmu untuk selalu berhati-hati. Karena aku curiga ada niat buruk di balik ini semua." Ucap Ziko khawatir.
"Niat buruk bagiamana?" tanya Zira marah.
"Sayang coba kamu pikir, kenapa mereka tidak datang pada saat masih ada eyang Amrin, kenapa baru sekarang coba pikir?" Ucap Ziko memberikan gambaran sama istrinya.
Zira memikirkan ucapan suaminya.
"Ya mungkin karena mereka baru tau kalau masih ada saudara di tanah air." Jawab Zira.
"Tuan, sepertinya waktunya kita berangkat ke kantor." Ucap Kevin menyudahi perdebatan bosnya dengan istrinya.
Ziko melihat jam di tangannya. Dia beranjak dari sofa dan mengecup dahi istrinya.
"Aku berangkat sekarang, jangan pikirkan yang berat-berat, ingat kamu sedang mengandung." Ucap Ziko sambil mengecup dahi istrinya.
Ziko dan Kevin sudah berangkat ke kantor. Selama perjalanan Ziko mulai berpikir keras tentang semuanya.
"Vin, bagaimana pendapatmu tentang ucapan pengacara itu." Ziko meminta pendapat asistennya.
"Saya sama seperti tuan, menaruh curiga sama keluarga kembaran almarhum tuan Amrin. Tapi kita tidak ada bukti kuat yang bisa meyakinkan nona Zira." Ucap Kevin.
"Apa sebaiknya aku mengatakan saja kalau kamu pernah di hadang dan di ikuti keluarga itu."
"Menurut saya jangan tuan, anda jangan mengatakan hal jelek tentang keluarganya. Ingat istri anda langsung marah ketika ada yang mengatakan hal jelek tentang keluarganya. Nona Zira sangat senang dengan kabar ini. Jadi dia tidak memikirkan ke depannya." Ucap Kevin.
"Iya kamu benar, istriku cenderung lebih sensitif dari sebelumnya. Mungkin karena sedang hamil jadi hormonnya naik turun seperti dolar." Ucap Ziko.
Bersambung.
__ADS_1
Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih.