Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 59


__ADS_3

Semua tim dokter Diki pergi meninggalkan ruangan VVIP mereka kembali ke rutinitasnya, hanya tinggal satu dokter yang masih di kamar.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka seorang dokter keluar dari kamar. Semua mata tertuju kepada dokter tersebut.


Dokter tersebut menjelaskan semuanya kepada Tuan muda Ziko dengan detail, dokter tersebut dan dokter Diki pamit pulang untuk melakukan tugasnya kembali.


Di luar kamar Ziko sudah uring-uringan, dia merasa di permainkan, dia merasa harga dirinya di injak-injak oleh Zira.


Kevin memperhatikan tuannya dengan seksama, setelah emosi tuannya sudah mulai stabil Kevin memberanikan diri untuk bicara kepadanya.


"Tuan selanjutnya apa yang akan kamu lakukan." Tanya Kevin.


"Aku ingin menghancurkannya." Teriak Ziko dengan penuh emosi.


"Tuan menurut saya sebaiknya jangan, pasti nona Zira melakukan hal ini karena dia merasa shock dengan pertunangan mendadak." Ucap Kevin.


Ziko mendengarkan dengan cermat.


"Tidak ada seorang wanita yang mau menikah karena paksaan dan tekanan, mohon di pertimbangkan tuan." Ucap Kevin lagi.


Ziko masih diam dengan tatapan yang jauh, wajahnya yang dingin dan penuh amarah sudah berubah menjadi lebih tenang.


Di dalam kamar.


Zira sudah mengetahui maksud dari kedatangan dokter Diki dan timnya, dia merasa yang dilakukannya akan membuat dirinya dan karirnya hancur.


Wajah Zira yang tadinya ceria karena akan batal nikah tapi wajahnya sekarang berubah menjadi sendu karena perbuatannya.


Dia tidak mempunyai keberanian untuk bertemu dengan Ziko, dia masih duduk di pinggir kasur dengan kepala tertunduk.


Ceklek pintu kamar di buka.

__ADS_1


Zira tidak menoleh sedikitpun ke arah pintu, dia sudah menduga siapa yang datang, dia menerima konsekuensinya apapun yang terjadi.


Ziko duduk di sebelah Zira di pinggir kasur. Mereka masih diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Dia melirik wanita di sebelahnya yang sedang tertunduk, ada rasa kasihan melihat Zira, yang biasanya ceria dan bawel tapi tidak dengan sekarang.


"Maafkan aku tuan." Ucap Zira pelan sambil tetap menundukkan kepalanya.


Ziko masih diam hanya terdengar helaan nafasnya saja.


"Aku melakukan ini karena aku belum siap menikah." Ucap Zira lagi pelan masih tertunduk.


Ziko hanya mendengarkan belum berbicara.


"Aku terima apapun hukuman yang akan tuan berikan." Ucap Zira pelan.


Ziko menghela nafasnya lagi. Dia masih diam dan beberapa saat kemudian.


"Aku tau kamu melakukan ini semua karena kamu merasa terancam dan tertekan, mungkin wanita lain jika di posisi kamu pasti akan melakukan hal yang sama." Ucap Ziko pelan.


Zira mendengarkan dan masih dengan posisi yang sama tidak berani menatap pria di sebelahnya. Ziko berhenti sebentar kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Aku memakluminya." Ucap Ziko pelan.


Zira yang mendengar ucapan Ziko langsung melirik pria di sebelahnya.


"Apakah kamu memaafkan ku, tuan." Tanya Zira sambil melihat ke samping ke arah Ziko.


Ziko hanya menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu tidak akan membunuhku dan tidak akan menghancurkan usahaku." Tanya Zira lagi.


Ziko menggelengkan kepalanya. Zira yang melihat gelengan kepala Ziko merasa senang dan girang secara spontan dia memeluk pria itu.


"Terimakasih tuan." Ucap Zira masih memeluk Ziko.

__ADS_1


Ziko yang mendapat pelukan dari Zira ada merasa kaget. Dia tidak menegur sama sekali dia menikmati momen itu.


Zira yang tersadar dengan kelakuannya, langsung melepaskan pelukannya dengan cepat.


"Tapi sebagai hukuman kamu tetap akan menikah denganku." Ucap Ziko santai.


Zira mendengar langsung membulatkan matanya melihat kearah Ziko.


Tuan kamu kan sudah memaafkan ku, kenapa aku tetap harus menikah denganmu." Tanya Zira bingung.


"Hemmmmm, aku tidak bisa membatalkan rencana mama." Ucap Ziko.


"Kenapa tuan." Ucap Zira pelan.


"Pertunangan kita di umumkan dan di lakukan di depan semua tamu undangan, saya harap sampai sini kamu paham." Ucap Ziko.


Zira yang mendengar ucapan Ziko hanya diam, dan dia juga merasa ada yang beda dari diri pria di sebelahnya.


Kenapa aku merasa ada yang beda dari dirinya, dan perkataannya juga beda.


Zira masih berpikir mencari perbedaan dari perkataan Ziko dan mencoba memahami maksud dari ucapan pria itu.


Mengapa perkataannya menjadi beda, apa perbedaannya, oh dia menyebutkan kata saya untuk dirinya, oh tuan kenapa kamu jadi lembut begini.


"Tuan saya mengerti maksud anda tapi apakah tidak ada jalan lain." Tanya Zira. Dia yang biasanya bersikap kasar sama Ziko juga merubah ucapannya.


Zira bisa menempatkan posisinya dengan baik, dia bisa berbicara sopan dan santun dengan siapapun tetapi tidak dengan Ziko, mungkin karena dari awal dia sudah tidak suka dengan tindakan Ziko sebelumnya.


"Akan aku pikirkan lagi nanti, persiapkan dirimu, sebentar lagi kita akan konferensi pers." Ucap Ziko sambil mengelus rambut Zira dengan lembut.


Ziko keluar kamar meninggalkan Zira yang masih bengong dengan perlakuan yang tidak biasanya.


"Dia mengelus rambutku, tuan tuan kenapa kamu enggak dari kemaren-kemaren bersikap seperti ini, pasti aku tidak akan melakukan perbuatan hal yang tadi. Aduh bisa-bisa aku jatuh cinta sama kamu." Gumam Zira pelan.

__ADS_1


"like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."


__ADS_2