Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 293 (S2)


__ADS_3

Ziko menceritakan tentang seorang pria paruh baya kepada ke dua orang tuanya. Dan dia juga menyebutkan kalau pria itu ingin menjalin kerjasama dengannya.


" Siapa pria itu?" tanya Tuan besar.


" Dia tuan Sultan, pengusaha minyak." Jawab Ziko.


Zira masih mendengarkan di balik matanya yang tertutup.


" Terus apa hubungannya dengan masalah ini." Tanya mamanya.


" Di awal dia ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan kita. Tapi ada syaratnya." Ucap Ziko lagi.


" Syarat?" tanya mamanya lagi.


Ziko menganggukkan kepalanya cepat.


" Apa syaratnya?" tanya papanya.


Ziko menceritakan tentang tuan Sultan minta posisi penting untuk orangnya di perusahaan Raharsya group.


" Sepertinya itu hal yang mudah." Timpal papanya.


" Itu memang mudah. Tapi syaratnya yang kedua sangat berat." Ucap Ziko cepat.


" Maksud kamu, dia mengajukan dua syarat sekaligus?" tanya mamanya penasaran.


" Iya ma, syarat yang kedua. Dia ingin aku menikah dengan anaknya." Ucap Ziko cepat.


" Apa!" Kedua orang tua itu kaget.


" Uhuk-uhuk." Zira mendengarkan syarat yang kedua langsung batuk.


Ziko langsung berlari kecil mendekati tempat tidur, memastikan kalau istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


Zira masih tetap menutup matanya pura-pura tidur kembali. Ziko berjalan lagi dan duduk di antara kedua orang tuanya.


" Terus apa kamu jawab?" tanya mamanya.


" Aku menolak mentah-mentah, aku punya Zira dan sangat mencintai dirinya." Ucap Ziko sambil pandangannya ke arah tempat tidur.


Zira merasa bahagia mendengar suaminya mempertahankan rumah tangganya hanya karena dirinya.


" Apakah dia marah?" tanya Nyonya Amel lagi.


" Sepertinya, setelah itu aku meninggalkannya dengan Kevin. Yang aku dengar dari Kevin, dia mengusir pria tua itu." Ucap Ziko cepat.


Tuan besar diam seperti memikirkan sesuatu.


" Kamu cari tau dulu kebenarannya apakah dia yang ada di balik ini atau orang dalam." Ucap papanya.


Ziko menganggukkan kepalanya.


" Setelah Zira bangun aku akan pamit untuk pergi ke kantor sebentar. Mama dan Papa tolong jaga Zira untukku." Ucap Ziko cepat.


" Biar mama yang jaga, kamu pergi saja sama papa kekantor. Semoga semuanya cepat selesai dan kembali normal." Ucap mamanya.


Zira membuka matanya secara perlahan, menurutnya sudah waktunya dia membuka mata.


" Sayang." Ucap Ziko sambil menghampiri tempat tidur.

__ADS_1


" Kamu sudah bangun." Ucap Ziko langsung mencium dahi istrinya.


Zira menganggukkan kepalanya.


Maaf sayang, aku sudah bangun dari tadi. Sungguh banyak cobaan yang engkau derita karena diriku.


" Kamu mau makan?" tanya Ziko menawari istrinya makanan yang di bawa Pak Budi.


Ziko mengambil makanan itu dan menyuapkan ke mulut istirnya.


Di sela-sela menyuapi istrinya, Ziko mulai berbicara.


" Nanti kamu sama mama ya, aku mau pergi ke kantor sebentar." Ucap Ziko pelan.


" Iya, kamu pergilah. Biar aku makan sendiri." Ucap Zira sambil mengambil sendok yang ada di tangan suaminya.


" Aku sudah lebih baik, kamu pergilah." Ucap Zira lagi.


Ziko melihat papanya. Kemudian papanya menganggukkan kepalanya setuju.


" Aku pergi ya, kamu baik-baik di sini." Ucap Ziko sambil mengecup pipi Zira.


Kemudian dua pria itu pergi meninggalkan Zira dan mamanya.


Nyonya Amel menghampiri dan membantu menyuapi menantunya.


" Mama sudah makan?" tanya Zira pelan.


" Sudah sayang." Ucap Nyonya Amel.


" Mama aku ingin minum coklat hangat." Ucap Zira pelan.


" Enggak apa-apa ma. Kalau butuh sesuatu aku akan menekan tombol perawat ini. Ma bisa minta tolong ambilkan ponselku." Ucap Zira meminta mama mertuanya mengambil ponselnya di dalam tas.


Nyonya Amel membuka lemari yang ada di sebelah tempat tidur. Dan mengambil tas Zira. Kemudian merogoh benda yang di minta menantunya ke dalam tas itu.


" Ini ponsel kamu, kalau kamu masih ingin sesuatu hubungi mama." Ucap Nyonya Amel sambil menyerahkan ponsel Zira.


Zira menganggukkan kepalanya cepat. Kemudian mama mertuanya keluar dari ruangan itu.


Zira buru-buru mengaktifkan ponselnya. Dan mencari nama seseorang di daftar kontak ponselnya.


Setelah menemukan itu Zira langsung menghubungi nomor itu. Panggilan terhubung, tidak berapa lama ada suara seseorang dari ujung sana.


" Yes halo." Ucap seseorang dari sana.


" It's me Zira (Ini aku Zira)."


" Oh Zira, can I help you? (Oh Zira, ada yang bisa saya bantu)."


Zira menceritakan yang di dengarnya tentang perusahaan suaminya yang mengalami kesusahan.


" What can I do for you (Apa yang bisa aku bantu)."


" Investigate who is the sultan of the oil businessman. And is there any connection between this problem with him (Selidiki siapa tuan sultan pengusaha minyak. Dan apa ada keterkaitan masalah ini dengannya)."


" Ok."


" Let me know just by message. Don't call me (Kabari aku hanya lewat pesan. Jangan menghubungiku)"

__ADS_1


Tidak berapa lama pintu di buka, mama mertua datang sambil membawa tentengan sebuah minuman di tangannya.


" Baik-baik, aku serahkan butik kepadamu." Ucap Zira pura-pura.


Seseorang yang di ujung sana bingung. Tapi dia bisa mengerti kalau ada orang lain bersama bosnya.


Panggilan kemudian terputus.


" Jangan memikirkan masalah butik dulu. Kamu harus banyak istirahat." Ucap Nyonya Amel menyerahkan coklat panas untuk menantu kesayangannya.


" Enggak kok ma, hanya mengecek stok barang di butik." Ucap Zira pura-pura.


Dia menerima minuman panas itu dan langsung meminumnya. Tidak berapa lama dokter spesialis kandungan datang untuk memeriksa Zira.


Dokter bertanya tentang keadaan Zira.


" Kapan saya diizinkan untuk berjalan." Ucap Zira cepat.


" Coba gerakkan kakinya." Perintah Dokter itu.


Zira menggerakkan kakinya secara perlahan.


" Ini saya beri resep obat, ini untuk mengeringkan jahitan yang ada di bawah perut anda." Ucap Dokter menjelaskan.


" Berapa lama reaksi obat ini mulai bekerja?" tanya Nyonya Amel.


" Dalam tiga hari rasa perih dan jahitan luarnya langsung kering." Ucap Dokter sambil menyerahkan resep obat ke Nyonya Amel.


Setelah itu Dokter dan perawat pergi meninggalkan ruangan.


" Mama akan menebus resep ini. Kamu di sini aja." Ucap Mama mertuanya.


Zira menganggukkan kepalanya cepat. Setelah mama mertuanya pergi, dia menghubungi seseorang lagi dari dalam daftar kontaknya.


" Halo." Ucap seseorang dari sana.


" Ini Zira. Aku ingin kamu melakukan sesuatu."


Seseorang wanita yang ada di ujung sana mendengarkan dengan seksama. Apa-apa saja yang di perintahkan Zira di catatnya.


" Baik. Akan saya lakukan." Ucap seseorang itu.


Setelah itu panggilan terputus. Zira berharap dua orang itu dapat melakukan apa yang di tugaskan. Dan dapat memberikan kabar secepatnya.


***


Kevin sudah duduk di kursi kerjanya. Menik datang menghampiri ruangannya.


" Ini saya bawakan kopi untuk Bapak." Ucap Menik ramah.


" Hemmmmm." Kevin hanya menjawab seadanya.


" Apa Bapak membutuhkan lainnya." Ucap Menik basa basi.


" Tidak." Ucap Kevin cepat.


Menik bingung dengan tingkah Kevin yang mendadak berubah. Kevin sengaja bersikap dingin kepada wanita yang dicintainya. Dia ingin menguji apakah Menik bisa menerima dengan sikap dinginnya. Jika Menik tidak suka dengan sikapnya, Kevin langsung bisa mendefinisikan arti itu.


" Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih."

__ADS_1


__ADS_2