
Keesokan harinya
Karena hari ini Zira tidak ke butik, dia bisa santai sedikit di apartemennya.
Zira melakukan aktivitas rumah tangga, dari mencuci membersihkan apartemen semuanya bisa dikerjakannya.
Zira melihat sekeliling apartemennya semua sudah bersih tidak ada debu.
Ponselnya berbunyi, Dia berjalan menuju ke meja makan tempat diletakkannya ponselnya.
"Ya halo."
"Halo Zira."
Zira mendengar suara dari ujung sana dan suara itu seperti tak asing.
"Zira ini saya nyonya Amel."
"Iya nyonya Amel ada yang bisa saya bantu." Tanya Zira.
Apa ada masalah dengan gaunnya, aduh kalau ada masalah mati aku.
"Jam berapa kamu bisa datang ke acara saya."
"Saya usahakan cepat nyonya. Memangnya ada apa nyonya." Zira masih penasaran dengan pertanyaan wanita paruh baya itu.
"Tidak, saya hanya memastikan kamu datang ke acara pesta saya. Ingat kamu harus cantik, nanti supir saya akan menjemput kamu." Ucap nyonya Amel.
__ADS_1
"Enggak usah nyonya, saya bisa kok naik taksi, tidak usah repot-repot." Zira menolak secara halus.
"Zira saya tidak suka di bantah ataupun di tolak."
Mendengar ucapan nyonya Amel, jantungnya jadi tidak karuan.
Mamak sama anak sama-sama tukang mengancam.
"Halo halo Zira, apa kamu dengar?" Ucap nyonya Amel dari ujung sana.
"I iya nyonya saya dengar." Zira menjawab dengan terbata-bata.
"Acara jam tujuh, supir saya akan datang jam setengah tujuh, bisa Zira." Tanya nyonya Amel.
"Baik nyonya saya bisa."
Tut Tut Tut, panggilan pun terputus.
"Bisa-bisa, kalaupun aku jawab enggak bisa pasti aku di ancam lagi. Apa semua orang kaya hobinya mengancamnya." Gerutu Zira.
Zira mengirim alamatnya ke nyonya Amel via pesan singkat.
Dia melirik kembali jam di dinding, oke sekarang sudah menunjukkan jam satu siang, waktunya bersiap-siap.
Zira menuju kamar mandi, membersihkan tubuh yang lengket karena seharian membersihkan apartemen.
Setelah selesai dia memakai pakaian ala princess karena tema ultahnya Naura adalah princess.
__ADS_1
Dia melihat dirinya sendiri dari dalam cermin. Dia memutar-mutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil memegang gaunnya.
Kemudian dia melirik jam di dinding, waktu sudah menunjukkan jam dua siang. Acara jam tiga sore, perjalanan pasti membutuhkan waktu yang lama karena bisa di pastikan macet.
Zira keluar dari apartemen, di depan apartemennya taksi online sudah menunggunya.
Zira memasuki taksi dengan anggun.
"Siang mbak, mau di antar kemana." Tanya driver.
"Siang pak antar saya ke jalan xxxx." Ucap Zira cepat.
"Baik mbak."
Taksi yang di tumpangi Zira sudah melaju dengan kecepatan sedang, tapi setelah memasuki perkotaan taksi melaju dengan kecepatan lambat, karena terjadi kemacetan di pusat kota.
"Ada acara apa mbak." Tanya driver memecahkan kesunyian.
"Oh ini pak anak teman saya ada ultah dan temanya princess." Jawab Zira pelan.
"Oh saya kira mbaknya kabur dari pesta pernikahan." Ucap driver lagi.
"Hahaha bapak bisa aja." Zira tertawa kecil mendengar ucapan si driver.
Tapi ada benarnya juga si bapak, aku menggunakan gaun princess, pasti di pikiran bapak ini gaun yang aku pakai ini gaun pengantin.
Hemmmmm aku masih bingung dengan ucapan nyonya Amel, mengapa dia sangat menginginkan aku untuk datang ke pestanya, sedangkan nyonya Amel baru kenal denganku hanya hitungan hari, jadi gak mungkin dong aku jadi tamu Istimewa.
__ADS_1
"Hello readers maaf ya kalo ada typo, like episode favorit kalian ya, dan komen yang banyak, terima kasih."