Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 426 (S2)


__ADS_3

🌹Vote


Cara vote.


Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.


Selamat Membaca.


***


Mobil sudah sampai di gedung Raharsya group. Keduanya turun dari mobil dan langsung menuju lift. Mereka melewati kerumunan karyawan yang sedang antri menunggu giliran masuk ke dalam lift. Banyak yang terpesona akan ketampanan keduanya. Terutama Ziko walaupun dia sudah menikah kharismanya masih tetap melekat tidak berkurang sedikitpun. Ternyata ketika menikah pria bisa menjadi lebih tampan, mungkin karena ada sosok seorang istri di sampingnya. Yang selalu memenuhi hari-harinya.


Tidak jauh beda dengan bosnya, Kevin juga mempunyai kharisma yang kuat, tak heran kadang karyawan menganggap keduanya bukan seperti atasan dan bawahan tapi menganggap keduanya seperti kakak adik. Di mana ada Ziko di situ ada Kevin. Dan untungnya Ziko sudah menikah, mungkin kalau dia belum menikah, mereka akan di anggap pasangan gay.


Sesampai di ruangan presiden direktur. Ziko langsung memerintahkan sesuatu untuk asistennya.


"Vin cari belut di salah satu aplikasi belanja online." Perintah Ziko.


"Baik tuan." Ucap Kevin sambil memainkan ponselnya mencari pedagang belut.


"Tuan ini ada." Ucap Kevin sambil menunjukkan ponselnya.


Ziko melihat ponsel asistennya sambil mengerutkan dahinya.


"Istriku minta belut hidup bukan sudah di olah." Ucap Ziko.


Kevin kembali mengambil ponselnya dia mencari lagi di salah satu belanja on line lainnya.


"Tuan di sini tidak ada, semuanya kebanyakan sudah di olah." Ucap Kevin.


"Duh bagaimana nih. Bisa banjir kasur kami," ujar Ziko


"Banjir?" Ucap Kevin bingung.


"Iya anakku tiga kalau semua ileran banjir kan bukan basah lagi." Ucap Ziko.


"Tuan saya ada ide, bagaimana kalau tiga bayi anda lahir beri diapers aja mulutnya kalau perlu yang anti selip." Goda Kevin.


"Diapers? Coba kamu ajarkan bagaimana cara pakai popok di mulut." Ucap Ziko merapatkan giginya.


"Bercanda tuan. Habis tuan stres sekali, kan masih bisa hari lain." Ucap Kevin.


"Vin, aku kasih tau ya. Istriku itu lagi hamil dia kebanyakan muntah dari makannya. Kalau aku dapat memenuhi keinginannya kan bagus, mana tau dia bisa makan banyak dan tidak muntah lagi." Ucap Ziko.


"Oh gitu ya, maklum tuan belum menikah masih dalam proses legalisir." Ucap Kevin asal.


"Makanya belajar sama yang sudah pengalaman, apalagi pengalaman menaklukan gua. Aku jagonya." Ucap Ziko membanggakan diri.


"Iya tuan, saya percaya anda memang jagoan. Tapi sayang anda kalah hebat dari istri anda." Ejek Kevin.


"Maksud kamu apa." Tanya Ziko.

__ADS_1


"Nona Zira diam-diam mempunyai kekayaan di luar batas normal. Belum lagi kehebatannya dalam menguasai berbagai bahasa asing dan satu lagi yang harus di catat istri anda pasukan avengers." Ucap Kevin.


"Iya, kamu benar untuk urusan itu aku akui kalau istriku hebat. Tapi untuk urusan ranjang aku jagonya." Ucap Ziko selalu membanggakan diri.


"Tuan, saya curiga jangan-jangan hasil kekayaan istri anda karena bantuan pasukan avengers." Ucap Kevin.


"Salah kamu, istriku menang arisan. Yang mana anggotanya pasukan avengers." Ucap Ziko asal.


"Hahaha, kalaulah betul istri anda main arisan dengan tim avengers pasti sangat hebat. Tapi yang bingung bagaimana mereka bayar arisannya. Belum lagi si hulk, pasti dia enggak akan ikut arisan." Ucap Kevin.


"Mana mungkin dia ikut, baju aja enggak punya." Ucap Ziko kemudian keduanya tertawa bersama.


Tidak berapa lama ada suara ketukan dari luar ruangan.


"Masuk." Ucap Ziko.


Koko masuk ke dalam ruangan bosnya.


"Bos, sebentar lagi meeting akan segera di mulai." Ucap Koko mengingatkan.


"Baik." Jawab Ziko.


Ziko teringat sesuatu. "Ko, kamu tau cara mencari belut di mana?" tanya Ziko.


"Di rumah makan ada bos." Jawab Koko cepat.


"Bukan yang sudah di olah. Tapi yang masih hidup." Ucap Ziko lagi.


"Di sawah? Sejak kapan belut jadi petani." Ucap Ziko spontan.


"Bukan tuan, maksud si Koko. Cari belut di sawah, gitu kan maksudnya." Ucap Kevin.


Koko menganggukkan kepalanya cepat.


"Ok tugas kamu cari sawah mana yang ada belutnya. Harus ada hasil setelah selesai meeting." Ucap Ziko sambil berlalu keluar dari ruangannya di ikuti oleh asistennya dari belakang.


Koko bengong, bagaimana caranya dia dapat mencari tau keberadaan belut.


"Duh gimana caranya cari sawah yang ada belut. Ini aja di kota. Kalau mau ke perkampungan membutuhkan waktu paling lama tiga jam. Meeting selesai aku mungkin masih di parkiran." Gerutu Koko bingung.


Koko kembali ke meja kerjanya. Dia tidak tau harus berbuat apa. Secara dia juga bingung bagaimana cara menuju ke sawah. Ponselnya tiba-tiba berdering.


"Halo." Jawab Koko cepat.


"Ko, ini aku Menik." Ucap Menik dari ujung ponselnya.


"Oh kamu Nik, maaf aku belum simpan nomormu. Aku pikir salah sambung." Ucap Koko lagi.


"Aku menghubungi calon suamiku tapi ponselnya tidak aktif. Apa kamu melihatnya." Ucap Menik.


"Waleh-weleh calon suami segala."Ejek Koko.

__ADS_1


"Lalu aku sebut apa dong? Kan dia memang calon suamiku." Ucap Menik.


"Bambang tampan." Ucap Koko.


"Kamu menyebut pak Kevin bambang tampan, jangan-jangan kamu pernah naksir." Tebak Menik.


"Iya dulu,waktu masih abnormal. Sekarang udah normal jadi tidak tertarik lagi." Jawab Koko singkat padat dan jelas.


"Oh gitu, ternyata banyak juga yang suka sama pak Kevin." Ucap Menik pelan.


"Pak Kevin lagi meeting, kamu mau pesan apa nanti aku kabari." Ucap Koko.


"Oh sampaikan saja kepadanya kalau baju untuk acara nikah sudah selesai. Sore ini jadwal fitting bajunya." Ucap Menik.


"Ok, akan aku sampaikan, ada lagi?" tanya Koko lagi.


"Nasi goreng satu telur atas." Ucap Menik.


"Betul betul betul." Jawab Koko. Keduanya kemudian tertawa bersama.


"Eh Nik, kamu dulu kerja di rumah makan kan?" Ucap Koko.


"Iya."


"Kamu tau di mana beli belut yang masih hidup?" tanya Koko.


"Kalau beli biasanya sama pedagang belut. Dan belinya dalam jumlah besar. Pedagang belut itu biasanya seminggu sekali baru kirim ke rumah makan. Memangnya kenapa?"


"Aku di suruh cari sawah yang ada belutnya sama bos Ziko dan harus sudah ada hasil setelah meeting selesai. Kamu kan tau kita di ibu kota. Mau ke perkampungan membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam. Mana cukup waktuku, kamu paham kan?" Ucap Koko.


"Paham, beli aja di rumah makan yang masih hidup." Ucap Menik.


"Memang boleh?" tanya Koko lagi.


"Tunggu, tuan Ziko minta berapa banyak?"


"Enggak ada sebutkan berapa banyak. Cuma cari sawah yang memelihara belut. Itu berarti harus bawa hasil yaitu belut." Ucap Koko.


"Kalau hanya satu aku rasa bisa beli di rumah makan. Kalau banyak kayaknya enggak boleh." Ucap Menik.


"Belutnya masih hidup kan?" tanya Koko lagi.


"Iya masih hidup, di rumah makan tempat aku kerja biasanya ada. Coba kamu tanya ke sana." Ucap Menik.


Koko melihat jam tangannya. Dia harus memanfaatkan waktunya.


"Baiklah aku harus meluncur sekarang, makasih Nik." Ucap Koko kemudian panggilan terputus.


Koko buru-buru pergi ke rumah makan dengan motor gedenya. Dia berharap apa yang di carinya ada di rumah makan.


Bersambung.

__ADS_1


Mampir ke karya baru author ya "Love of a Nurse"


__ADS_2