Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 63


__ADS_3

Ziko menyusuri beberapa ruangan menuju ke ruang makan, dia masih memikirkan pemandangan yang baru saja dilihatnya pagi ini.


Dia seperti mendapatkan vitamin D di pagi hari yaitu vitamin dada.


Zira bejalan menuju ruang makan di sana formasi sudah lengkap ada Tuan besar, Nyonya Amel, tuan muda dan Zelin.


Melihat kedatangan calon menantunya, Nyonya Amel menyambutnya dengan senyumannya.


Nyonya Amel menghampiri Zira yang masih mematung karena tidak tau mau duduk di sebelah mana.


" Mari sini." Ucap Nyonya Amel sambil menuntun Zira untuk duduk di sebelah Ziko.


Mereka menikmati sarapan dengan diam dan hening hanya suara sendok yang terdengar seperti sedang bertengkar satu sama lain.


Ziko yang duduk di sebelah Zira menjadi salah tingkah sesekali dia melirik kearah wanita di sebelahnya.


Selesai makan Nyonya Amel mengajak Zira untuk berkeliling mansion, Tuan besar melakukan aktivitasnya di ruang fitness. Dan Zelin pergi ke kampus, Ziko berada di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya.


" Zira maafkan Tante ya." Ucap Nyonya Amel sambil mengelus rambut Zira.


Zira merasa tentram dengan perilaku yang di berikan Nyonya Amel kepadanya, dia merasa seperti bersama ibunya.


Ada kerinduan yang sangat dalam dari diri Zira. Dia berusaha untuk menutupi kerinduannya.


Nyonya Amel berusaha mendekatkan dirinya dengan calon menantunya, walaupun itu tidak mudah buat Zira.


Setelah berkeliling mansion Nyonya Amel beserta Zira kembali ke ruang keluarga di sana sudah ada Ziko dan Kevin.


" Baiklah Zira, Tante tinggal dulu ya." Nyonya Amel pergi meninggalkan Zira bersama Ziko dan Kevin.


Ziko masih sibuk dengan Kevin membicarakan masalah pekerjaannya.


" Tuan aku mau ke butik." Ucap Zira cepat.


Ziko memberhentikan percakapannya dengan Kevin. Dia mendengar ucapan Zira.


" Kamu tidak usah ke butik ini hari." Ucap Ziko cepat melanjutkan percakapannya lagi dengan Kevin.


" Kenapa." Tanya Zira bingung.


Jangan bilang aku tidak boleh melakukan rutinitas ku lagi.


Ziko tidak menjawab hanya mengambil remote televisi dan memencet salah satu tombol.

__ADS_1


Zira melihat ke arah televisi, semua saluran televisi menayangkannya berita tentang mereka berdua.


Zira mengambil remote yang di letakkan Ziko di meja, dia menekan tombol volume.


Semua media menyebut namanya sebagai perempuan yang sangat beruntung.


" Beruntung apanya yang iya buntung." Gerutu Zira pelan.


Zira berdiri dari sofa dan hendak pergi menuju kamarnya.


" Mau kemana kamu." Tanya Ziko cepat.


" Saya mau ke kamar ambil ponsel." Ucap Zira cepat.


Ziko langsung memberikan ponselnya kepada Zira.


" Untuk apa." Tanya Zira.


" Aku punya ponsel kok." Ucap Zira cepat.


Ziko mengelus dahinya dengan tangannya.


" Ini bukan untukmu, pakai dan hubungi siapa yang mau kamu hubungi." Ucap Ziko cepat.


" Halo."


" Halo Lina." Ucap Zira cepat.


" Ini siapa." Tanya Lina karena nomor ponsel yang tertera di ponselnya nomor asing dan tidak terdaftar dalam daftar ponselnya.


" Ini saya Zira." Ucap Zira cepat.


" Mbak Zira ya, mbak Zira hebat ya udah jadi calon istri Tuan muda. Masuk dalam semua saluran televisi wah hebat, mbak jadi Cinderella dalam semalam." Ucap Lina kagum.


" Lina-Lina dengar dulu." Ucap Zira cepat.


" Iya mbak." Ucap Lina.


" Bagiamana keadaan butik." Tanya Zira cepat.


" Butik aman mbak, cuma sepertinya kita kekurangan karyawan mbak." Ucap Lina polos.


Zira bingung dengan ucapan terakhir Lina.

__ADS_1


" Maksudnya." Tanya Zira lagi.


" Iya mbak semenjak berita mengenai pertunangan mbak Zira dan tuan muda di tayangkan di televisi sekarang Zira boutique banyak di datangi pengunjung, ini saja ramai banget mbak." Ucap Lina.


" Ya udah saya akan ke sana." Ucap Zira cepat.


" Enggak usah, mbak gak usah datang, banyak pengunjung datang selain membeli, mereka juga mau minta foto sama mbak Zira, mbak Zira hebat dah jadi artis." Ucap Lina lagi.


" Baiklah saya tidak jadi datang, kamu urus semuanya ya, kalau ada apa-apa hubungi ke nomor saya." Ucap Zira tegas.


" Memangnya ini bukan nomor mbak Zira." Tanya Lina lagi.


" Bukan, ini nomor si tuan muda." Ucap Zira cepat.


" Wah hebat mbak Zira pagi-pagi sudah berduaan." Ucap Lina lagi.


Zira tidak menghiraukan ucapan karyawannya, dia menutup panggilannya dan kembali ke ruang keluarga untuk mengembalikan ponsel Ziko.


" Makasih." Ucap Zira sambil mengembalikan ponsel yang di pinjamnya ke tangan Ziko.


" Duduk." Ucap Ziko sambil menepuk sofa di sebelahnya.


Zira Langsung duduk dengan cepat tidak ada bantahan sama sekali.


" Jadi kamu ke butik." Tanya Ziko.


" Enggaklah." Ucap Zira cepat.


" Baiklah karena kamu sudah jadi calon istriku, jadi aku akan memberikan seorang supir sekaligus pengawal pribadi untukmu." Ucap Ziko cepat.


Zira yang mendengar ucapan itu, dengan cepat langsung melihat ke arah Ziko, yang tadinya dia melihat kearah lain.


" Enggak usah pakai supir atau pengawal, saya tidak terbiasa." Ucap Zira cepat.


" Kamu ini, ini bukan mengenai biasa atau tidak biasa, tapi ini mengenai keselamatanmu." Ucap Ziko tegas.


Zira masih mendengarkan.


" Kamu tau, kalau sudah masuk dalam bagian Keluarga Raharsya keamanan mu harus di utamakan, karena banyak saingan atau siapapun yang ingin menghancurkan bisnis kami, jadi untuk antisipasi kamu harus pakai supir sekaligus pengawal." Ucap Ziko cepat.


Mendengar ucapan Ziko, dia merasa takut dan hanya mengikuti saran dari calon suaminya.


" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."

__ADS_1


__ADS_2