Menikah Karena Ancaman

Menikah Karena Ancaman
episode 444 (S2)


__ADS_3

Di dalam pesawat Menik terlihat pucat, bukan karena pesawat lagi take off tapi karena kejadian sebelumnya, di mana mereka berdua baru saja di hadang segerombolan orang tidak di kenal.


"Aku takut." Ucap Menik gemetar.


"Tenang sayang, kita akan kembali ke tanah air." Ucap Kevin.


"Kenapa mereka seperti penjahat." Ucap Menik.


"Entahlah, pikiranku belum bisa menjangkau siapa mereka dan ada hubungan apa dengan keluarga nona Zira.


"Nik, sesampai di tanah air jangan menceritakan tentang ini sama siapapun, terutama nona Zira." Ucap Kevin.


"Kenapa? seharusnya nona Zira tau tentang masalah ini, jadi nona bisa lebih waspada." Ucap Menik.


"Nona Zira lagi hamil, kalau sampai dia tau tentang masalah ini, pasti dia akan stres, kamu ingat kalau nona Zira sedang hamil kembar." Jelas Kevin.


"Baiklah, aku akan merahasiakan ini semua." Ucap Menik.


***


Ziko tidak pergi ke kantor, dia memilih untuk menemani istrinya pergi ke rumah Zira yang ada di perumahan elite.


Sesampainya di rumah, Zira sudah di sambut pelayan dan kepala pelayan.


"Selamat siang nona, tuan." Ucap kepala pelayan.


"Apa semua foto yang aku minta sudah di siapkan?" tanya Zira kepada kepala pelayan.


"Sudah nona, pelayan meletakkan di ruang kerja." Jelas kepala pelayan.


"Di mana ruang kerjanya?" tanya Ziko.


"Ruang kerja ada di lantai atas." Ucap Zira.


"Lantai atas? kamu tunggu di sini saja. Biar aku dan pelayan yang membawa foto itu ke sini." Ucap Ziko.


"Kenapa sayang? tidak semua foto mau aku bawa, biarkan aku memilih beberapa foto yang mau aku bawa." Ucap Zira.


"Aku tidak mau kamu naik tangga, ingat aku takut hal yang dulu terjadi." Jelas Ziko.


"Baik sayang, karena itu alasan kamu, aku akan menunggu di sini saja." Ziko dan pelayan menuju lantai atas tempat ruang kerja Zira berada.


Di dalam ruangan itu, Ziko memperhatikan lukisan seorang pria yang duduk di kursi dan di sampingnya berdiri seorang wanita. Ini pertama kalinya Ziko menginjakkan kakinya di ruangan itu, dia penasaran dengan lukisan itu.


"Lukisan siapa itu?" tanya Ziko.


"Itu lukisan eyang Amrin sama eyang Aiza." Ucap kepala pelayan.


"Apa kamu tau tentang silsilah keluarga eyang." Selidik Ziko.


"Saya tidak tau tuan." Ucap kepala pelayan.


Pelayan membawa semua album foto ke lantai bawah. Sedangkan Ziko membawa bingkai foto keluarga istrinya.


Zira memilih beberapa album yang mau di bawanya, sedangkan yang lain di tinggalkannya.


"Yang ini saja aku bawa." Ucap Zira menunjuk album yang akan di bawanya.


"Kenapa tidak semua di bawa." Ucap Ziko.

__ADS_1


"Foto ibu dan bapak ada di album ini, yang itu foto keluarga eyang." Ucap Zira.


Mendengar itu Ziko langsung mengambil album yang berisi keluarga almarhum eyang. Dia mengamati dengan cermat. Di dalam foto itu ada dua foto bayi yang saling bergandengan tangan.


"Sayang ini foto siapa?" tanya Ziko penasaran.


"Aku tidak tau, eyang tidak pernah mengatakan kepadaku." Ucap Zira sambil mengelus foto kedua orang tuanya. Ziko terus membuka album tersebut, dia merasa penasaran dengan foto yang di kirim Kevin.


Semua album di bukanya, dia berhenti pada satu foto yang mana foto itu sangat mirip dengan foto yang di kirim Kevin. Ketika Zira lengah, Ziko buru-buru mengambil foto itu dan meletakkannya di saku celana.


"Sayang kita balik ya." Ucap Zira.


Zira menghampiri pelayannya.


"Simpan kembali album foto itu, aku hanya membawa beberapa saja." Jelas Zira.


Ziko dan Zira keluar dari rumah di antar semua pelayannya sampai depan pintu. Mereka kembali bekerja ketika bayang majikannya sudah tidak terlihat di situ.


Di dalam mobil, Ziko terlihat sedang berpikir keras, dia bingung cara mendapatkan informasi keluarga Zira.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Zira memperhatikan suaminya banyak diam selama di dalam mobil.


"Enggak ada sayang, acara empat bulanan di adakan jam berapa." Ucap Ziko mengalihkan pembicaraan.


"Kamu sudah menanyakan hal ini berulang kali." Ucap Zira heran sambil melirik suaminya.


"Iya, aku lupa." Ucap Ziko sambil terus menatap ke arah depan.


"Sayang aku pingin makan es krim." Ucap Zira.


"Es krim yang di mana." Ucap Ziko.


Zira mencari alamat cafe yang menyajikan aneka rasa ice krim Italia melalui guuling map. Dia menunjukkan kepada suaminya.


Dalam beberapa menit mereka sudah sampai di cafe tersebut. Karena kondisi istrinya yang sedang hamil, Ziko memilih tempat duduk yang lebih empuk, agar istrinya bisa duduk lebih santai.


Pelayan memberikan daftar menu kepada mereka. Setelah mencatat pesanan, pelayan pergi dengan membawa daftar menu dan menyerahkan pesanan ke koki yang ada di dapur.


Dari jauh Zira memperhatikan ada sosok wanita yang sangat di kenalnya.


"Sayang itu Sisil kan." Bisik Zira.


"Yang mana." Ucap Ziko sambil melihat sekeliling cafe.


"Itu yang sedang duduk sama pria tua." Bisik Zira lagi.


"Sepertinya level dia turun." Ucap Zira.


"Turun?" Ziko bingung.


"Iya turun, itu pasti ke kasihnya." Ucap Zira.


"Dari mana kamu tau kalau itu ke kasihnya."


"Perhatikan tangannya Sisil yang selalu berada di lengan pria tua itu."


"Kenapa dia jadi murahan seperti itu." Ucap Ziko pelan.


"Memang dia murahan, sekarang malah lebih parah." Ucap Zira.

__ADS_1


"Aku pikir dia sudah bertaubat, ternyata dia masih sama." Ziko mau beranjak dari kursinya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Zira.


"Aku mau mendatangi dia, kemaren aku sudah memberikan modal kepadanya tapi nyatanya dia tidak menggunakan dengan benar." Jelas Ziko.


"Sudah duduk, biarkan dia seperti itu. Kamu sudah mengarahkan dia menuju jalan yang benar. Biarkan saja seperti itu, yang penting dia tidak merusak rumah tangga kita." Ucap Zira sambil menyuruh suaminya untuk kembali duduk.


Tiba-tiba ada seorang wanita gendut masuk ke dalam cafe. Wanita itu langsung menampar wajah Sisil.


"Dasar wanita murahan!" Rambut Sisil di jambak dan wajahnya di tampar wanita gendut itu. Si pria tua itu berusaha untuk melerai perkelahian itu, tapi dia tidak berani. Semua yang ada di cafe melihat tontonan gratis itu. Prak prak Sisil di tampar, kepalanya di jedutkan ke meja.


Pelayan cafe berusaha untuk menghentikan perkelahian itu. Tapi tenaga ibu gendut itu cukup kuat, tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Zira dan Ziko yang sedang menikmati es krim merasa terganggu.


"Hey diam!" Bentak Ziko dengan suara yang cukup keras. Semua melihat ke arahnya, begitupun Sisil, dia melirik ke arah yang punya suara. Sisil tidak tau siapa yang barusan berbicara, karena Ziko sedang menggunakan topi jadi dia tidak bisa melihat wajah pria itu, tapi dia bisa melihat ada sosok yang sangat di kenalnya sedang duduk di samping pria itu, yaitu Zira.


"Ziko." Teriak Sisil.


"Siapa Ziko? apa kamu mau minta bantuan sama dia, dasar perusak rumah tangga orang." Ucap wanita gendut itu sambil terus memukul Sisil.


Ziko merasa geram, dia menggebrak meja. Wanita gendut tadi melihat ke arah Ziko.


"Keluar kalian dari tempat ini, cepat!" Bentak Ziko.


"Siapa kamu? berani-beraninya menyuruh aku keluar, apa kamu tau siapa aku." Ucap wanita gendut itu ketus.


Ziko ingin melepaskan topinya dan menunjukan jati dirinya. Tapi Zira menahan suaminya.


"Biar aku." Ucap Zira.


"Kamu mau ngapain?" Ziko takut kalau istrinya mau menghajar wanita gendut itu. Kalau keadaan istrinya tidak hamil, dia bisa tenang, tapi kondisi sekarang berbeda.


Zira tidak menjawab ucapan suaminya.


"Hei ikan buntal." Teriak Zira.


"Kurang ajar." Wanita gendut tadi menghampiri meja Zira dan Ziko.


"Kenapa kamu memanggilku ikan buntal, huh!" Ucap wanita marah.


"Hello, kamu memang buntal, coba sadar diri kenapa suamimu selingkuh karena kamu tidak merawat tubuh." Ucap Zira.


"Dan untuk kamu mbak yang sedang babak belur, cari pekerjaan itu yang halal. Jangan suka merusak rumah tangga orang." Sindir Zira. Sisil hanya mendengarkan saja.


"Dan untuk pria tua, sadar diri kenapa, badan sudah bau minyak tanah masih saja cari yang lebih muda. Setia sama pasanganmu pak, kalau istrimu langsing pasti kamu yang akan di selingkuhi." Ucap Zira.


Ketiganya diam, pelayan berhasil membujuk wanita tua itu untuk keluar dari cafe, Sisil dan pria tua itu ikut keluar. Suasana kembali tenang, Zira dan Ziko bisa kembali menikmati es krimnya.


"Sayang, kenapa kamu seperti mengadu pasangan suami istri itu." Tanya Ziko heran.


"Aku bukan mengadu pasangan suami istri itu, sebenarnya kesalahan ada pada pasangan suami istri itu, kesalahan si istri karena tidak bisa merawat tubuhnya. Dan si suami selingkuh karena itu. Aku sengaja memanasi suaminya untuk sadar diri, kalau istrinya langsing dia harus waspada." Jelas Zira.


"Kalau istrinya langsing terus selingkuh bagaimana?" tanya Ziko.


"Berarti rumah tangga itu di bangun bukan karena cinta, karena cinta menerima kekurangan pasangan masing-masing." Jawab Zira santai.


"Aku salut, selain pintar berkelahi Thanos mengajarkanmu cara melawan musuh dengan kata-kata. Ucapanmu seperti sebuah belati." Puji Ziko.


Bersambung.

__ADS_1


Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih.


__ADS_2