
Bik Inah kembali ke dapur menyiapkan pesanan Zira. Kemudian wanita paruh baya itu kembali ke ruang keluarga lagi.
"Maaf nona, sayur untuk urapnya kurang lengkap." Ucap bik Inah.
"Yang kurang apa bik?" tanya Zira.
"Daun kates." Jawab bik Inah.
"Tunggu, aku pernah dengar nama daun tetes itu. Kalau tidak salah rasanya pahit dan kamu mencampurnya ke dalam mie instan betul kan?" Ucap Ziko.
"Sayang kuping kamu kok swasta sih." Ejek Zira.
"Swasta?" Ziko bingung.
"Bukan daun tetes tapi kates." Timpal bik Inah.
"Kamu selalu mengucapkan kata yang salah. Apa jangan-jangan pabrik taik kuping lagi beroperasi." Sindir Zira.
"Ih jorok, enggak tau ada apa dengan kupingku." Ucap Ziko.
"Kalau tidak ada daun kates tidak apa bik, pakai saja apa yang ada." Ucap Zira.
"Pakai rumput juga boleh." Timpal Ziko.
"Sayang! kamu mau anak kita nanti kalau lahir bukan menangis tapi mengembek." Gerutu Zira.
"Bercanda sayang, mana mungkin anakku aku kasih rumput mending aku beri makan gabah." Ucap Ziko.
"Sayang aku bukan ternak." Ucap Zira dengan intonasi yang tinggi.
"Bercanda sayang, sensi amat sih. Heran ibu hamil kenapa rada judes." Ucap Ziko.
"Karena kalau pedas itu cabe kalau judes itu bik Inah." Ucap Zira.
"Bibik." Wanita paruh baya itu kebingungan sendiri.
"Enggak bik, bercanda udah buruan masak. Aku udah lapar banget." Ucap Zira.
"Jadi enggak pakai daun kates ya?" tanya bik Inah lagi.
"Hooh." Jawab Zira.
"Rumput pakai enggak?" tanya bik Inah.
"Ye si bibik, tadi suamiku yang kupingnya swasta sekarang si bibik yang telinganya honorer." Gerutu Zira.
"Bibik bingung." Ucap wanita paruh baya itu polos. Zira menjelaskan kepada wanita paruh baya itu sayuran apa saja yang harus di pakai untuk membuat urap.
***
Di kediaman Kevin.
Selama menjadi istri dari Kevin, Menik yang lebih dominan masak di dapur. Bukan karena permintaan dari mertuanya, tapi karena hobinya yang suka memasak.
Keluarga Kevin menikmati makanan rumahan yang telah di sajikan Menik. Mereka sangat menyukai hasil olahan tangan Menik.
"Mama, maaf aku hanya bisa masak makanan rumahan. Makanan western aku belum bisa." Ucap Menik.
"Tidak apa-apa ini enak kok." Puji nyonya Paula.
__ADS_1
"Kakak pintar dalam segala hal, buat kue tradisional bisa. Kenapa tidak buat usaha bakery saja." Ucap Jesy.
Menik melihat ke arah suaminya.
"Jangan, biarkan kakakmu mengurusi rumah tangga. Kakak enggak mau Menik sibuk di luar, nanti rumah tangga malah tidak terurus." Jelas Kevin.
"Vin, urusan rumah serahkan sama asisten rumah tangga. Biarkan istri kamu berkarir, dia ada bakat, sayang kalau tidak di salurkan." Ucap mamanya.
"Tidak usah ma, Kevin ingin aku selalu menyambutnya ketika pulang kerja." Ucap Menik.
"Sayang, kamu bukan seharian di toko, serahkan semuanya sama karyawan jadi kamu tetap bisa berwirausaha tanpa meninggalkan tugas kamu sebagai seorang istri." Jelas nyonya Paula.
"Nanti aku pikirkan." Ucap Kevin. Suasana di ruang makan kembali hening. Keluarga menikmati setiap gigitan dari makanan yang terhidang. Kevin teringat sesuatu.
"Ma, hari minggu ini kami mau pindah." Ucap Kevin.
"Pindah kemana? bukannya rumah kalian di sini." Ucap nyonya Paula.
"Aku lupa memberitahukan ini kepada mama. Kalau aku dan Menik dapat hadiah sebuah rumah dari nona Zira dan tuan muda. Kebetulan rumah kami bersebrangan." Jelas Kevin.
Nyonya Paula terlihat sedih, dia meletakkan sendoknya kembali.
"Mama kenapa?" Ucap Menik.
"Mami sedih karena rumah ini akan terasa sepi." Ucap nyonya Paula sedih. Kevin beranjak dari kursi makan dan memutari meja. Dia berdiri dengan kedua lututnya di hadapan mamanya.
"Mama, kita masih tinggal dalam satu kota, setiap saat mama dan Jesy bisa datang ke rumah kami. Mama harus mengizinkan kami pindah, biar kami belajar menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya." Jelas Kevin.
"Apa kalian merasa mama mengganggu rumah tangga kalian." Ucap nyonya Paula.
"Bukan ma, mama tidak mengganggu kami. Justru mama banyak mengajari Menik cara melayani suami." Timpal Menik.
Nyonya Paula terlihat berat, dia berkali-kali menghembuskan nafasnya.
"Sebenarnya mama belum siap melepas kalian, tapi apa yang di katakan Kevin benar. Kalian harus mandiri." Ucap nyonya Paula.
Keluarga kembali menikmati makan malamnya, setelah selesai makan malam nyonya Paula memilih beristirahat di kamarnya. Jesy menonton film kesukaannya. Sedangkan Kevin sibuk di ruang kerjanya.
Tok tok tok
"Masuk." Ucap Kevin.
Menik masuk sambil membawa secangkir kopi untuk suaminya.
"Kenapa kamu membawakan kopi untukku? aku tidak minta." Ucap Kevin bingung.
"Aku istri yang pengertian." Ucap Menik sambil memijat bahu suaminya.
"Tumben kamu memijatku." Kevin menarik tangan istrinya dan meletakkan tubuh istrinya di atas pangkuannya.
"Kamu kenapa? apa kamu minta jatah." Ucap Kevin sambil menciumi leher istrinya.
"Tebak dong." Ucap Menik lagi.
"Aku enggak bisa menebak tapi menusuk aku bisa." Ucap Kevin genit sambil menciumi bibir istirnya.
"Aku tunggu di kamar." Ucap Menik sambil mengedipkan matanya. Dia terlihat menjadi wanita yang sedikit liar. Dan suaminya suka, dia buru-buru menutup laptopnya dan menuju ke kamar. Ketika masuk kamar lampu kamar di matikan.
"Sayang, kamu di mana? apa kita mau pemanasan main petak umpet dulu." Ucap Kevin senang. Tiba-tiba ada cahaya dari sebuah lilin yang di bawa Menik.
__ADS_1
"Kita mainnya pakai lilin? mau main jungkat jungkit apa main kembang api." Gerutu Kevin sambil melihat istrinya meletakkan lilin di lantai.
"Ayo sini." Ucap Menik menarik tangan suaminya.
"Mau ngapain kita." Ucap Kevin bingung.
"Kita main ular tangga." Ucap Menik.
"Aduh Nik, kenapa harus main ular tangga segala. Ularku sudah ada dan tidak perlu tangga." Gerutu Kevin.
"Tapi asik loh." Ucap Menik.
"Mana ada permainan ular tangga dengan memakai satu lilin. Kamu seperti mau memanggil arwah saja." Gerutu Kevin sambil menyalakan lampu kamar.
Kevin mengangkat tubuh istrinya ke atas kasur. Dia sudah tidak tahan, nafsu birahinya sudah sangat memuncak.
"Kamu mau ngapain." Ucap Menik menahan suaminya.
"Kamu telah memancing seorang pawang ular keluar dari tempatnya. Sekarang ularnya mau masuk ke gua." Ucap Kevin sambil menciumi bibir istrinya. Dia memuaskan istrinya dengan memberikan sentuhan-sentuhan yang sangat membuat Menik tidak tahan. Sampai akhirnya Menik berteriak dan terkulai lemas. Kevin melanjutkan aksinya. Dia mengguncang tempat tidur dengan kekuatan super. Sampai akhirnya dia juga merasa nikmat.
Setelah keduanya lemas. Kevin kembali melakukan aksinya.
"Mau apa lagi." Ucap Menik lemas.
"Aku mau anak dari kamu, dan ku harap kamu bisa memberikanku anak kembar lima." Ucap Kevin sambil mengguncang tempat tidur.
Nyonya Paula yang tidur langsung bangun dan menghampiri anak bungsunya.
"Jesy gempa." Teriak nyonya Paula.
"Enggak ada gempa ma." Ucap Jesy bingung.
"Di sini tidak ada goncangan tapi di kamar mama terasa banget." Ucap nyonya Paula bingung.
"Mungkin mama kelelahan, Jesy temani mama ya." Ucap Jesy menemani mamanya.
Ketika di kamar dan tepatnya di atas tempat tidur terasa ada goncangan.
"Ma ini memang gempa." Jesy dan mamanya kabur keluar kamar.
"Panggil kakakmu." Ucap nyonya Paula.
Tok tok tok.
"Kak bangun ada gempa." Ucap Jesy teriak.
"Apa gempa." Menik panik begitupun Kevin. Mereka berdua kalang kabut. Saking paniknya Kevin dan Menik salah memakai ****** *****. Menik memakai dalaman suaminya. "Sayang itu punyaku." Ucap Kevin.
"Enggak ada waktu untuk mengganti, pakai saja punyaku." Ucap Menik buru-buru memakai baju tidurnya.
Karena ukuran ****** ***** Menik yang kecil. Kevin hanya bisa memakai sampai lututnya saja.
"Sayang lihat ini." Aku seperti memakai kaos kaki." Gerutu Kevin.
"Buahahaa." Menik panik tapi dia lucu melihat penampilan suaminya. Kevin pakai ********** yang berenda dan hanya sampai lutut.
Bersambung.
Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih.
__ADS_1