
Mobil sudah meninggalkan mansion. Selama di dalam mobil Zira dan Ziko tidak berbicara sama sekali.. Mereka masih berpikir dengan pikirannya masing-masing.
Tadi malam aku bisa menjaga gawangku, bagaimana dengan nanti malam. Guman Zira dalam hati.
" Sayang pulang dari butik, aku mau ke apartemen, mau ambil baju." Ucap Zira manja.
Ziko langsung menoleh dengan cepat kearah Istrinya.
Pasti dia sedang merencanakan sesuatu untuk nanti malam, akan aku batalkan rencanamu istriku.
" Enggak kamu tidak boleh ke apartemen, apalagi ambil baju." Ucap Ziko tegas.
" Sayang aku tidak bawa baju banyak loh." Ucap Zira lagi sambil mengedip-ngedipkan matanya.
" Enggak usah sok imut, sekali aku bilang tidak ya tidak." Ucap Ziko teriak.
" Okelah kalau begitu, aku pastikan istrimu ini akan memakai pakaian yang sama dengan tadi malam." Ucap Zira mengancam.
" Ok siapa takut." Ucap Ziko sambil tersenyum licik.
Zira sudah sampai di butik. Dia kelihatan sangat lelah dan mengantuk.
" Ye yang penganten baru, habis begadang nih tadi malam, ngantuk bener." Goda Lina.
Zira tidak menghiraukan ucapan Lina, dia hanya sesekali menguap.
" Mbak ayo cerita gimana dengan malam pertamanya." Tanya Lina penasaran.
Zira tidak menjawab dia hanya tersenyum tipis.
Aduh Lin gak mungkin aku bilang kalau aku tadi malam ngojek di atas kasur.
" Ye si mbak, di tanyai malah di balas dengan senyuman." Gerutu Lina.
" Sudah sana pergi aku ngantuk banget nih." Ucap Zira sambil melambaikan tangan mengusir Lina dari ruangannya.
" Iya iya tau yang baru begadang." Ucap lina sambil meninggalkan Zira yang tengah tidur di atas sofa.
Ziko memasuki ruangannya dia tidak duduk di kursi kebesarannya dia memilih untuk tidur di dalam ruangan khusus yang di dalamnya ada kasur.
Kevin langsung nyeletuk ketika melihat bosnya langsung berbaring di atas kasur.
" Sepertinya tuan kelelahan." Tanya Kevin.
" Hemmmmm." Ucap Ziko sambil meletakkan salah satu tangannya di atas dahi.
" Apa perlu saya belikan obat kuat tuan." Tanya Kevin pelan.
Ziko langsung melempar Kevin dengan bantal ketika mendengar kata obat kuat.
" Apa kamu pikir aku tidak cukup kuat sampai harus minum obat kuat." Teriak Ziko.
" Maaf tuan saya hanya kasihan melihat anda sepertinya kelelahan menaklukkan nona
Zira." Ucap Kevin pelan.
" Hey sekali lagi kamu bicara aku segel mulutmu dengan sepatu ini." Ucap Ziko sambil menunjukkan sepatunya ke arah Kevin.
Kevin pergi keluar kamar sambil tersenyum-senyum.
__ADS_1
" Kapan aku punya istri, seandainya aku punya istri pasti aku lebih kuat dari tuan muda." Guman Kevin.
Kevin meninggalkan ruangan bosnya dan kembali ke ruangannya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan.
Ziko membuka matanya dan melirik jam yang ada di tangannya.
" Sudah jam 5 lebih baik aku pulang." Gumam Ziko.
Ziko meninggalkan gedung Raharsya group. Badannya sudah terasa fit kembali.
" Tuan apa kita menjemput nona dulu." Tanya Kevin.
" Nanti suruh supir saja yang menjemput. Aku mau cepat-cepat balik." Ucap Ziko cepat.
Kevin langsung menginjak pedal gas mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena banyak para pekerja yang juga pulang kerja jadi jalanan lumayan agak ramai.
Setelah sampai mansion Ziko langsung mencari pak Budi.
" Pak Budi" Panggil Ziko.
" Ya tuan muda." Ucap pak Budi sopan.
" Bagaimana dengan kopernya." Tanya Ziko cepat.
" Sudah beres tuan, isinya saya bagi-bagikan ke pelayan, dan koper masih ada di dalam kamar." Ucap pak Budi menjelaskan.
Ziko hendak melangkahkan kakinya tapi dia membalikkan badannya lagi melihat kearah pak Budi.
" Nanti kalau nona Zira tanya. Bapak mau jawab apa." Tanya Ziko lagi.
" Saya bilang apa adanya Tuan." Ucap pak Budi cepat.
" Pak saya sangat lapar tolong antarkan makanan kekamar, oh satu lagi nanti begitu nona pulang bilang saya lagi sakit. Dan suruh nona Zira untuk makan malam sendiri." Ucap Ziko menjelaskan.
Pak Budi hanya menganggukkan kepalanya. Ziko kembali kekamarnya merencanakan sesuatu hal untuk menaklukkan gawang istrinya.
" Apa betul tuan sakit, tapi wajahnya tidak menunjukkan sedang sakit." Guman pak Budi sambil kembali bekerja.
Zira masih tertidur di sofa. Dia tidak sadar waktu sudah menunjukkan jam 6 sore.
" Mbak-mbak, aku pamit ya." Ucap Lina sambil memegang tangan Zira.
Zira langsung kaget ketika tangannya di pegang.
" Ya ada apa." Ucap Zira cepat dengan suara khas bangun tidur.
" Kaget ya? Hehehe, aku cuma mau pamit saja mbak." Ucap Lina.
" Memangnya sudah jam berapa? kok kamu sudah pulang." Tanya Zira sambil duduk.
" Udah jam 6 loh mbak." Ucap Lina sambil menunjukkan jam di tangannya.
" Lama juga aku tidur. Ya sudah sana balik." Ucap Zira cepat.
Lina pergi meninggalkan ruangan bosnya. Sedangkan Zira masih meluruskan otot-ototnya yang kaku.
" Sudah jam 6 kok dia belum jemput aku ya. Ah biarin aja kalau tidak di jemput aku tidur di sini saja." Guman Zira sambil merapikan rambutnya.
Dari luar ruangan ada suara langkah seseorang menaiki anak tangga.
__ADS_1
Tok tok tok.
" Masuk." Ucap Zira cepat.
" Mbak kamu sudah di jemput." Ucap Lina cepat dengan nafas yang ngos-ngosan.
" Aku balik mbak." Ucap Lina lagi masih dengan nafas yang ngos-ngosan.
" Baru di bilang dah nongol saja." Ucap Zira cepat.
Zira keluar butik menuju mobil.
" Kenapa Bapak yang menjemput." Tanya Zira langsung.
" Saya di perintahkan tuan untuk menjemput nona." Ucap pak supir sambil membukakan pintu mobil.
Zira langsung duduk begitu pintu mobil di buka. Perutnya Zira sudah berbunyi tandanya harus di isi.
" Aduh aku lapar banget." Guman Zira pelan.
Mobil sudah sampai di mansion Zira langsung lari kedalam. Dia melewati ruang makan. Dan ternyata di sana sudah ada nyonya Amel dan tuan besar beserta Zelin.
" Zira kamu sudah pulang." Tanya Nyonya Amel.
" Sudah ma." Ucap Zira cepat.
" Mari langsung makan." Ucap nyonya Amel mengajak Zira untuk makan.
" Tapi tuan, eh suami saya belum ada ma, saya panggil dulu ya ma." Ucap Zira cepat.
" Enggak usah tadi kata pak Budi dia sudah makan. Ayo mari makan mama sudah lapar nih." Ucap nyonya Amel lagi.
Zira langsung menuju meja makan dan duduk di kursi yang sama dengan tadi pagi.
Mereka menikmati makan malam itu dengan tenang tanpa ada yang bersuara sama sekali. Setelah selesai makan nyonya Amel memulai pembicaraan.
" Zira besok mama dan papa akan berangkat ke luar negeri jadi mama harap kamu bisa menjaga dan merawat Iko dengan baik." Ucap Nyonya Amel.
" Berapa lama di sana ma." Tanya Zira lagi.
" Belum tau kami ingin menikmati masa tua kami di sana." Ucap nyonya Amel sambil memegang tangan suaminya.
" Dan Zelin bagaimana." Tanya Zira cepat.
" Aku akan ikut kak, kan ini lagi libur semester jadi aku bisa ikut, nanti aku akan balik kalau musim kuliah sudah di mulai." Jawab Zelin.
" Iya Zira kami percaya kamu akan menjaga dan merawat Iko dengan baik." Ucap Tuan besar.
Zira mengangguk tapi ada perasaan sedih. Nyonya Amel memperhatikan ekspresi wajah Zira yang sedih.
" Kamu kenapa sayang." Tanya nyonya Amel cepat sambil berjalan kearah menantunya.
" Aku pasti akan merindukan kalian." Ucap Zira pelan.
Nyonya Amel langsung memeluk Zira erat.
" Kalau mau kamu nanti bisa menyusul kesana.. " Ucap nyonya Amel menyemangati menantunya.
Zira menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Halo readers kalo sudah selesai baca di like ya , kemudian komen nah satu lagi vote. Masih banyak nih yang belum like komen dan vote, banyak readers yang minta author untuk cepat update tapi tidak mau vote jadi gak semangat nih author. "