
Waktu makan malam tiba, Kevin dan Menik bergegas menuju rumah bosnya, di ikuti dokter Diki dan juga Jasmin.
Tok tok tok bik Inah membuka pintu untuk tamu majikannya.
"Malam bik." Sapa Kevin.
"Malam." Bik Inah memperhatikan tamu majikannya. Wanita paruh baya itu mempersilahkan tamu majikannya masuk. Kemudian bik Inah melaporkan kepada majikannya.
"Nona, tadi siang saya mengundang pak Kevin sama istrinya, tapi orangnya kok bertambah." Ucap bik Inah polos.
"Bertambah bagaimana?" Ucap Zira sambil menyusun piring.
"Itu orangnya jadi empat." Jawab bik Inah.
"Empat." Zira dan Ziko bingung. Keduanya pergi menuju ruang tamu.
"Malam Ko." Ucap dokter Diki.
"Yang mengundang kalian siapa?" Ucap Ziko.
"Enggak ada yang mengundang feeling aja." Ucap dokter Diki lagi.
"Feeling apaan." Ucap Ziko lagi.
"Feeling akan makan enak." Timpal Kevin.
"Sudah jangan berdebat, ayo kita makan." Ajak Zira. Menik memberikan cake buatannya.
"Ini kamu yang buat?" tanya Zira.
"Iya nona." Ucap Menik.
"Wah sepertinya aku harus belajar membuat cake sama kamu." Ucap Zira.
"Boleh tapi bayarnya pakai dolar." Timpal Kevin.
"Pelit amat lu Vin, dikit-dikit bayar." Gerutu Ziko.
"Harus itu, semuanya harus di perhitungkan." Ucap Kevin.
"Kalau mau kaya jangan malak, cukup ngepet aja." Celetuk Zira.
"Hahaha." Semuanya tertawa bersama. Mereka menuju meja makan. Bik Inah dan asisten rumah tangga lainnya telah menghidangkan makanan rumahan.
Semuanya sudah berada di kursi masing-masing.
"Silahkan makan, anggap saja rumah sendiri." Ucap Zira.
"Jangan anggap rumah sendiri nanti mereka minta makan terus di sini." Gurau Ziko.
Menik menuangkan nasi untuk suaminya. Dia menawarkan lauk untuk suaminya.
"Yang itu saja." Ucap Kevin sambil menunjuk salah satu piring yang berisi ayam rica-rica. Kebetulan ayam itu berada dekat Jasmin. Sebelum Menik mengambil piring tersebut Jasmin sudah mengambilkan dan meletakkan di piring Kevin. Melihat hal itu Menik langsung cemberut.
Mereka semua mulai menikmati makanannya.
Dokter Diki memperhatikan dua kepala karibnya.
"Ko, kenapa rambut kamu belum tumbuh? " Tanya dokter Diki.
Ziko langsung memegang kepalanya.
__ADS_1
"Jangan ganggu selera makanku dengan pertanyaan itu."
"Tapi aku penasaran Ko." Ucap dokter Diki lagi.
"Tuan muda salah pakai shampo, shampo gukguk di pakai, hahaha." Ejek Kevin sambil tertawa.
"Enak aja, aku itu sudah melakukan perawatan, kalau tidak percaya tanya istriku." Ucap Ziko. Semua melihat ke arah Zira.
"Perawatan yang bagaimana dulu." Ucap Zira santai sambil melahap makanannya.
"Memangnya perawatan macam apa yang di lakukan tuan muda." Tanya Kevin penasaran.
"Kamu tau manicure dan pedicure?" tanya Zira balik kepada tamunya.
"Iya untuk merawat kuku dan kaki." Jawab dokter Diki.
"Nah suamiku melakukan itu." Ucap Zira.
"Hahaha, Ziko ngapain kamu melakukan itu, itu perawatan untuk kaum hawa." Dokter Diki tertawa.
"Sayang kenapa kamu bongkar rahasia alam kita." Rengek Ziko.
"Kok alam, umum." Timpal Kevin.
"Kalau umum sudah biasa, kami pakai alam mbah dukun." Jawab Ziko, dia teringat sesuatu tentang taruhannya dengan dokter Diki. Ziko memutari meja dan langsung jongkok di hadapan temannya.
"Kamu mau ngapain?" Ucap dokter Diki bingung melihat temannya sudah jongkok di dekat kakinya
Ziko tidak menjawab, dia langsung mengangkat ke atas celana temannya.
"Buahaahaha." Ziko tertawa sambil terduduk di lantai. Semuanya heran dengan tingkah Ziko.
"Vin, dia mengejek rambutku, padahal bulu kakinya juga belum tumbuh, hahaha." Ziko tertawa.
"Ada Ko, cuma belum tumbuh semua." Jelas dokter Diki.
"Mana ada bulu kaki pencar, coba lihat bulu kakinya pada menjauh seperti takut kena corona, hahaha." Ucap Ziko lagi sambil mengangkat celana bagian bawah temannya.
"Ko, jangan buka kartu kenapa? ada calon istriku, nanti dia ilfeel samaku." Bisik dokter Diki sambil merapatkan giginya agar tidak terdengar Jasmin. Ziko kembali duduk sambil tetap dengan gelak tawanya.
"Jasmin, nanti kalau menikah jangan heran dengan kebiasaan suamimu." Ucap Ziko.
"Apa kebiasaannya." Selidik Jasmin.
"Ko, jangan." Ucap dokter Diki.
"Kalau dia suka mengecat bulu kakinya, hahaha." Ucap Ziko sambil tertawa.
"Serius!" Semuanya bertanya kepada dokter Diki.
"Enggaklah, Ziko suka ngarang. Kebiasaanku suka kentut kalau tidur." Ucap dokter Diki pelan.
"Hahaha." Semuanya tertawa hanya Jasmin yang mengerutkan dahinya.
"Sayang kamu jangan ilfeel samaku." Ucap dokter Diki sambil memegang tangan calon istrinya.
"Enggak kok, aku juga punya kebiasaan buruk." Ucap Jasmin.
"Apa?" Tanya dokter Diki.
"Aku kalau tidur suka pegang ujung bantal." Jawab Jasmin jujur.
__ADS_1
"Masih wajar itu." Timpal Zira.
"Suamiku juga punya kebiasaan buruk." Ucap Zira. Ziko langsung menutup mulut istrinya.
"Apa nona, ayo beri tau kami." Ucap Kevin.
"Suamiku suka ngupil." Ucap Zira.
"Hahaha ngupil, jorok." Ejek Kevin.
Semuanya pada tertawa membayangkan kebiasaan buruknya kalau tidur. Setelah selesai makan, mereka semua duduk di ruang keluarga sambil menikmati teh dan cake dari Menik.
"Kapan rencananya kalian menikah?" tanya Ziko kepada dokter Diki.
"Kami belum menentukan tanggal yang cocok." Jawab dokter Diki.
"Jangan kelamaan, takutnya batal. Soalnya banyak kejadian seperti itu, karena banyak cobaan untuk orang yang belum menikah." Jelas Zira.
"Jangankan belum menikah, cobaan untuk yang sudah menikah ada banyak." Timpal Ziko.
"Tapi kami santai aja tuan, tidak ada masalah dalam rumah tangga kami." Timpal Kevin.
"Kalian baru setengah matang Vin, nanti kalau udah masuk setahun biasanya ada kerikil dalam rumah tangga." Jelas Zira.
"Setengah matang? telur kali setengah matang." Timpal Ziko.
"Terus aku menyebutnya apa? pernikahan kalian masih hangat-hangat kuku, gitu." Jawab Zira lagi.
"Teh kali." Timpal Kevin sambil tertawa.
"Ya sudah terserah mau menyebutnya apa. Yang jelas pernikahan kalian masih seumur jagung, akan ada cobaan menghampiri kalian." Jelas Zira lagi.
"Sayang, kenapa kamu selalu menyebutkan dengan istilah seperti itu, bilang saja pernikahan mereka masih merangkak, belum berdiri." Ucap Ziko.
Mendengar penjelasan dari pasangan suami istri Zira dan Ziko. Jasmin langsung memikirkan tentang rumah tangganya ke depan. Dia tidak tau apa rumah tangganya kelak akan bisa melewati cobaan yang datang.
"Ko, berhubung sudah malam kami pamit pulang." Ucap dokter Diki sambil beranjak dari kursi di ikuti oleh Jasmin.
"Terima kasih atas jamuannya." Ucap Jasmin.
Zira dan Ziko mengantarkan tamunya sampai depan pintu. Setelah mobil dokter Diki sudah tidak terlihat mereka kembali masuk.
Di dalam Kevin dan Menik sedang menikmati teh hangat mereka.
"Bagaimana apa sudah ada tanda-tanda kalau Menik hamil?" tanya Zira.
"Belum." Jawab Menik cepat.
"Masih di baking nona." Timpal Kevin.
"Roti kali di baking." Jawab Zira lagi.
Semuanya tertawa mendengar istilah itu. Kevin dan Menik pamit pulang.
"Ingat pulang juga kamu Vin, tadinya mau aku usir." Gurau Ziko.
"Jangan tuan, saya tau nona membutuhkan banyak istirahat, kalau kami membutuhkan kerja keras yang ekstra untuk membuat adonan." Canda Kevin.
Pipi Menik langsung merona merah. Kata-kata suaminya membuatnya malu. Tapi dia mulai harus terbiasa dengan istilah yang kadang suka nyeleneh di sebutkan suaminya maupun pasangan Zira dan Ziko.
Bersambung.
__ADS_1