
Mobil yang di tumpangi Zira pergi meninggalkan rumah makan enjoy. Dia merasa hari ini hari yang cukup menguras energinya.
Pak supir mengendarai mobil menuju butik karena Zira sudah mengatakan sebelumnya.
Dia melakukan rutinitasnya seperti biasa. Lina menghampirinya.
" Mbak dua hari ini, mbak Zira sering datang siang ke butik, apa mbak sakit?" Lina merasa khawatir dengan bosnya.
" Enggak kok, aku sehat cuman aku memang lagi mengambil kursus." Ucap Zira cepat.
Lina hendak pergi meninggalkan ruangan bosnya.
" Lin, saya beberapa hari akan pergi, jadi kamu handle semuanya di sini ya, aku serahkan semuanya di tanganmu." Ucap Zira cepat.
" Mbak mau kemana?" Lina penasaran.
Zira membisikan sesuatu ke telinga Lina. Lina menganggukkan kepalanya.
" Baik mbak aman itu." Ucap Lina cepat.
Zira mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya. Hari sudah semakin petang sebagian karyawan ada yang sudah pulang dan ada yang masih stay di butik. Dia Keluar butik dan memasuki mobil dan memberitahukan tujuannya kepada pak Supir.
Mobil bergerak menuju mansion sesuai tujuan Zira.
Dia memasuki mansion megah itu. Mansion itu terasa kosong selama ini ada nyonya Amel dan tuan besar apalagi dengan kehadiran si bungsu Zelin. Biasanya dia melihat keluarga tersebut duduk di ruang keluarga tapi sekarang terasa sepi apalagi Ziko sekarang tidak berada di sisinya. Dia merasa ada yang hilang dari sisinya, dia merasa sepi karena biasanya dia selalu adu argumen dengan suaminya, tapi sang mata laser tidak berada di dekatnya. Zira melamun memandang ke ruang keluarga. Pak Budi mengagetkannya yang sedang melamun.
" Maaf nona." Ucap Pak Budi pelan.
Zira kaget dan langsung menoleh kearah pak Budi.
" Iya Pak?" tanya Zira datar.
" Makan malam sudah siap di hidangkan." Ucap Pak Budi ramah.
Zira mengangguk dan berjalan ke ruang makan. Pak Budi hendak menarik kursi untuk majikannya tapi di tahan.
" Tidak usah Pak, jangan perlakukan saya seperti ini." Ucap Zira menahan pak Budi.
Pak Budi mengurungkan niatnya, pria paruh baya itu hendak pergi ke dapur.
" Pak mari makan dengan saya." Ucap Zira pelan.
Pak Budi membalikkan badannya.
" Maaf nona tempat saya bukan di sini tapi tempat saya di sana." Ucap Pak Budi sambil menunjuk ke arah dapur.
" Bapak lihat meja makan sebesar ini hanya saya sendiri di sini, apa bapak tidak mau menemani saya makan." Ucap Zira.
" Baiklah kalau itu permintaan nona. Tapi saya tidak bisa duduk di situ, karena saya tidak pantas duduk di sana." Ucap pak Budi merendah.
Zira mengisi nasi di dalam piringnya dan mengambil beberapa lauk. Dia berjalan kearah dapur. Pak Budi mengikutinya dari belakang. Zira duduk di kursi dapur sambil membawa piringnya.
" Maaf nona, mengapa anda makan di sini." Ucap pak Budi bingung.
" Kalau di sana bapak sungkan untuk duduk, kalau di sini saya rasa bapak tidak akan sungkan." Ucap Zira cepat.
Pak Budi merasa kagum dengan sifat Zira yang tidak membeda-bedakan status sosialnya. Pria paruh baya itu duduk kelang satu kursi di samping majikannya. Zira menikmati makan malamnya dengan lahap. Sesekali mereka mengobrol.
" Sudah berapa lama bapak kerja disini?"
" Saya sudah ikut keluarga ini sejak nyonya Amel hamil tuan muda." Ucap pak Budi semangat.
Zira manggut-manggut sambil menikmati makanannya. Mereka mengobrol layaknya antara bapak dan anak.
" Apa nona sudah mempersiapkan hadiah untuk tuan muda." Ucap pak Budi pelan.
__ADS_1
Zira yang hendak minum membatalkannya.
" Maksud bapak?" Zira merasa heran dengan ucapan pria paruh baya itu.
" Lusa kan hari ulang tahun tuan muda nona." Ucap Pak Budi cepat.
Zira langsung membulatkan matanya.
" Apa nona tidak tau?" Ucap pak Budi lagi.
Pak Budi sudah bekerja dengan keluarga Raharsya cukup lama, dia masih ingat betul setiap tanggal lahir majikannya.
" Enggak Pak. Tapi terimakasih telah memberitahu saya dan terimakasih juga untuk makanannya dan untuk ngobrolnya." Ucap Zira sambil berjalan cepat menuju kamar.
Di dalam kamar Zira mondar mandir layaknya setrikaan. Dia mencari buku nikah yang di simpan di dalam laci lemari. Dia melihat buku nikahnya di sana tertulis tanggal lahir suaminya.
Zira berencana memberikan hadiah untuk Ziko hadiah yang sangat unik menurutnya. Ponselnya berbunyi dia buru-buru menjawab panggilan tersebut. Tertera di layar ponselnya Ubi kayu jumbo, Zira tersenyum sambil menjawab panggilan video call tersebut.
" Kenapa kamu tidak mengabari aku kalau kamu sudah sampai mansion." Ucap Ziko sewot.
Zira kesal dengan sikap suaminya yang tidak ada mesra-mesranya kepadanya.
" Kenapa sih kamu langsung marah kepadaku, seharusnya kamu bersikap manis kepadaku bukan di marahi seperti ini." Ucap Zira kesal.
Ziko memang sangat posesif, dia tidak bisa mengontrol emosinya.
" Kamu sudah makan?" tanya Ziko pelan.
Zira menyandarkan badannya di bed head board. Dia tidak menjawab pertanyaan suaminya.
" Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku." Ucap Ziko kesal.
" Udah basi pertanyaan seperti itu." Ucap Zira cepat.
Zira ingin suaminya mengatakan hal yang romantis kepadanya. Ziko memang kurang peka dengan begituan. Menurut suaminya hal yang diperbuatnya benar adanya.Tapi ada kalanya seorang wanita ingin di perlakuan mesra dan dia menginginkan itu.
" Iya basi." Ucap Zira cepat.
Sama halnya dengan Zira, dia juga mendengar sepotong-sepotong ucapan suaminya.
" Kenapa kamu makan nasi basi." Ucap Ziko lagi.
" Ya karena kamu basi." Ucap Zira lagi.
Mereka melakukan video call dengan percakapan yang tidak saling menyambung.
" Kenapa pak Budi memberimu nasi basi atau kamu yang sengaja makan nasi basi." Ucap Ziko cepat.
" Enak saja bilang aku basi kamu yang basi tau!" Ucap Zira teriak.
Ziko menepuk kepalanya mendengar ucapan Zira barusan.
" Kamu juga makan tahu basi?" tanya Ziko cepat.
" Ya kamu basi, kamu tidak mau mengatakan hal romantis karena takut harga dirimu jatuh, iya kan?" Ucap Zira marah.
Mereka masih bertengkar dengan pembicaraan yang tidak jelas.
" Apa kamu mau bunuh diri." Ucap Ziko panik.
" Memangnya kenapa dengan harga dirimu?" Ucap Zira lagi.
Zira merasa kesal, dia berpikir kalau suaminya mengatakan hal yang romantis maka harga dirinya jatuh. Berbeda dengan istrinya, Ziko merasa marah sama Zira karena Istrinya makan nasi basi dan tahu basi.
" Memangnya berapa harga nasi basi yang kamu makan?" tanya Ziko cepat.
__ADS_1
" Ya aku tau mengenai harga dirimu akan basi kalau mengucapkan kata romantis." Ucap Zira cepat.
Mereka masih berdebat dengan ucapan yang tidak saling menyambung satu dengan yang lainnya.
" Aku malas ngobrol denganmu lebih baik aku matikan saja panggilan ini." Ucap Zira sambil menutup panggilan video call.
Ziko di sana langsung stress dan frustasi dia mendengar Zira akan mati. Dia menghubungi asistennya, kamar Kevin tidak begitu jauh dari kamarnya, dengan cepat Kevin langsung meluncur ke kamar bosnya.
" Vin aku baru menghubungi istriku, kami bertengkar dia memakan nasi basi dan tahu basi, aku marah kepadanya dan sekarang dia mau mati." Ucap Ziko stres.
Kevin memikirkan sesuatu, dia membuka ponselnya dan memilih isi pesan dengan Zira tadi pagi.
" Tuan coba lihat ini." Ucap Kevin menunjukkan pesan dengan Zira.
Ziko melihat ada nama istrinya dan melakukan chat kepada asistennya tadi pagi.
" Kenapa kamu bisa chat dengan istriku apa kalian berdua ada main di belakangku." Ucap Ziko marah.
" Tuan baca dulu ini." Ucap Kevin menunjukkan pesan itu.
Ziko tambah stres membaca pesan itu.
" Jadi dia mau memberi kejutan kepadaku dengan bunuh diri." Ucap Ziko stres sambil duduk di pojokan kamar.
Kevin pun tidak tau harus berbuat apa.
" Kenapa kamu mendukungnya." Ucap Ziko sambil menendang kaki Kevin.
Kevin memegang kakinya yang barusan di tendang bosnya.
" Saya tidak tau tuan kalau nona Zira mau memberi kejutan dengan cara bunuh diri." Ucap Kevin membela diri.
" Cepat kamu hubungi pak Budi. Kita harus membatalkan rencananya." Ucap Ziko stres.
Kevin menghubungi pak Budi. Pak Budi langsung bergerak cepat dengan membawa dua orang pelayan perempuan menuju kamar.
Pintu kamar di ketuk pak Budi, agak lama pria paruh baya itu menunggu di depan pintu. Belum juga ada tanda-tanda pintu di buka dari dalam. Pak Budi langsung menghubungi asisten Kevin.
" Selamat malam asisten Kevin, saya dan beberapa pelayan sudah di depan pintu tapi pintu belum di buka sama nona Zira." Ucap Pak Budi.
Kevin memberitahukan hal itu kepada bosnya. Ziko langsung memerintahkan pintu kamar di dobrak. Pak Budi hendak pergi mengambil peralatan tapi ada suara dari dalam yang sedang membuka pintu.
Zira bingung melihat ada Pak Budi dan dua orang pelayan berdiri di depan kamarnya.
" Ada apa pak?" Ucap Zira pelan.
" Kenapa nona lama sekali membuka pintu?" tanya Pak Budi cepat.
Zira bingung dengan pertanyaan pak Budi.
" Saya baru selesai mandi." Ucap Zira cepat.
Pak Budi mengajukan pertanyaan lagi.
" Apa nona berniat ingin bunuh diri?" Ucap Pak Budi sambil menatap tajam kearah Zira.
Zira menggelengkan kepalanya. Pak Budi merasa lega sambil mengelus dadanya beberapa kali.
" Baiklah untuk menghindari hal yang tidak di inginkan izinkan dua pelayan ini menemani nona di kamar." Ucap Pak Budi tegas.
" Enggak usah pak, saya biasa tidur sendiri." Ucap Zira menolak.
" Maaf nona saya hanya menjalankan perintah dari tuan muda." Ucap pak Budi tegas.
Zira berusaha menolak tapi melihat tampang Pak Budi yang menjadi sangar akhirnya dia mengikutinya juga.
__ADS_1
Aku marah kepadanya karena dia tidak bersikap romantis dan sekarang dia mengirim dua pelayan untuk menemaniku agar aku tidak kesepian. Oh suamiku ternyata kamu romantis juga."
" Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."