
" Siapa kiranya yang membeli semua pakaian di butik." Gumam Zira.
Ada suara ketukan dari pintu kamar. Zira masih mengenakan kimono, dia berlari ke kamar mandi untuk mengambil handuk dan menggulungnya di leher layaknya sebuah sal.
Zira membuka pintu hanya setengah, sebagian kepalanya saja yang keluar. Ada pak Budi dan beberapa pelayan.
" Maaf nona ini buat nona." Ucap pak Budi sambil menunjuk kearah paper bag.
Zira memperhatikan paper bag yang di pegang pak Budi dan beberapa pelayan.
" Itu seperti paper bag butik ku." Gumam Zira pelan.
Zira masih dengan posisi yang sama. Tanpa basa-basi dia langsung bertanya.
" Dari siapa pak." Tanya Zira cepat
" Dari tuan muda nona." Jawab pak Budi sopan.
" Oh ya sudah silahkan." Ucap Zira cepat sambil membuka pintu dengan lebar.
Begitu para pelayan masuk Zira langsung membelakangi mereka semua.
" Mau di letakkan di mana nona." Tanya Pak Budi.
" Di kasur saja Pak." Ucap Zira cepat sambil tetap membelakangi.
" Apa nona perlu bantuan untuk menyusun semua ini ke dalam lemari." Tanya pak Budi lagi.
" Terimakasih atas bantuannya pak, saya bisa merapikan semuanya." Ucap Zira cepat agar pak Budi beserta pelayan cepat-cepat keluar dari kamar.
" Untuk lemari nona ada si sebelah pinggir kanan." Ucap Pak Budi lagi.
" Iya pak." Jawab Zira singkat.
" Maaf apakah nona sakit." Tanya pak Budi, Karena pak Budi merasa heran dengan tingkah istri majikannya.
Aduh Pak Budi bisa tidak cepat keluar, kenapa banyak sekali pertanyaan yang bapak ajukan, enggak mungkin kalau aku bilang badanku udah seperti ikan ******. Gerutu Zira dalam hati.
" Saya sehat pak." Jawab Zira singkat.
Akhirnya Pak Budi dan beserta pelayan meninggalkan kamar. Zira baru bisa bernafas setelah handuk yang dililitkan di leher di lepas.
" Kan bener ini semua dari butik ku." Gerutu Zira.
" Kenapa sih dia memborong semua pakaian di butik." Gumam Zira sambil melihat semua isi paper bag.
Tanpa pikir panjang dia menelepon suaminya.
Panggilan sedang terhubung.
Ziko melirik ponselnya ada tulisan calon istriku.
Aku belum mengganti namanya di daftar ponselku. Gumam Ziko dalam hati sambil menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
" Apa kamu yang membeli semua pakaian di butik ku." Tanya Zira cepat.
" Ulangi ucapan mu." Ziko langsung menutup panggilan tersebut.
Zira sampai heran dengan panggilan yang langsung di tutup sepihak oleh suaminya.
" Tadi kalau aku enggak salah dengar ulangi ucapan mu. Tapi kenapa dia malah menutup panggilanku." Gerutu Zira.
Zira kembali menghubungi suaminya.
" Apa kamu yang membeli semua pakaian di butik ku." Tanya Zira lagi mengulang ucapan sebelumnya.
" Kamu dengar tidak! aku bilang ulangi ucapan mu." Ucap Ziko lagi sambil menutup ponselnya.
Zira menghentakkan kakinya berulang-ulang.
" Tadi dia bilang ulangi ucapan mu, sudah aku ulangi masih saja di tutup panggilanku." Gerutu Zira lagi.
Zira mencoba menghubungi Ziko lagi. Dia mengganti kalimatnya.
" Kenapa kamu membeli semua pakaian di butik ku." Ucap Zira cepat.
" Kamu dengar enggak! Aku bilang ulangi!" Ucap Ziko langsung menutup ponselnya.
Zira di kamar uring-uringan saking kesalnya dia menjambak rambutnya sendiri.
" Apa sih maunya si ubi kayu, di suruh ulangi sudah di ulang malah di matikan ponselnya. Aduh baru dua hari menikah dengannya aku seperti berada di neraka mini, apalagi kalau bertahun-tahun pasti aku seperti di neraka paling bawah." Gerutu Zira sambil merebahkan tubuhnya di atas tumpukan paper bag.
Zira tidak berniat menghubungi suaminya lagi. Menurutnya jika berhubungan dengan Ziko pasti akan beradu urat leher.
" Ya halo." Ucap Zira ketus karena dia sudah tau yang menghubunginya adalah suaminya.
" Kenapa lama sekali jawab panggilanku." Teriak Ziko dari ujung sana.
Zira memegang telinganya.
Ini suara keceng amat, pak amat saja enggak kencang suaranya. Gumam Zira sambil memegang sebelah telinganya.
" Ya tadi ponsel ku lagi main petak umpet." Jawab Zira santai.
" Kamu sudah tau apa yang harus kamu ulangi." Tanya Ziko lagi.
Zira mulai sewot.
" Kan sudah aku ulangi dari tadi tapi terus kamu matikan panggilanku." Ucap Zira emosi.
" Ya tapi itu salah." Ucap Ziko emosi.
" Apanya yang salah semua kalimatnya sama kok." Jawab Zira cepat.
" Kamu itu." Ucapan Ziko menggantung.
" Itu apa." Tanya Zira lagi.
__ADS_1
" Ya Kamu, apa kamu tidak bisa memanggilku dengan sebutan yang telah ku berikan padamu." Ucap Ziko marah.
Zira menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Aduh hanya karena salah sebutan saja jadi seperti ini, aduh kenapa aku seperti menikah dengan tuyul sih, gak ada dewasanya. Gerutu Zira dalam hati.
" Okelah kalau begitu akan aku ulangi." Ucap Zira.
Tapi sebelum Zira mengulang kalimatnya
lagi-lagi ponselnya terputus.
" Di suruh ulangi, mau diulangi malah di matikan ponselnya. Nasib-nasib nikah sama tuyul ya begini." Gerutu Zira pelan.
Tanpa pikir panjang Zira langsung menghubungi suaminya.
" Halo sayang apakah kamu yang membeli semua pakaian di butik ku." Ucap Zira sambil merapatkan giginya.
" Iya sayang apakah kamu suka." Ucap Ziko lagi membalas pertanyaan Zira.
Zira mendengar suara Ziko serasa mau muntah.
" Sayang kenapa kamu membeli semua pakaian di butik ku." Tanya Zira lagi sambil tetap merapatkan giginya.
" Ya sayang aku kasihan karena kamu seperti orang primitif tidak punya baju." Ucap Ziko sambil tertawa.
" Enak saja aku punya baju ya tapi bajuku di buang sama hantu." Ucap Zira sambil marah.
Ziko masih tertawa di ujung sana.
" Jangan-jangan ini rencana mu untuk mengikatku agar aku hutang budi sama kamu." Ucap Zira cepat.
" Apa maksudmu." Tanya Ziko cepat.
" Ya kamu sengaja membeli semua pakaian di butik ku agar aku hutang budi sama seperti dengan sepatu 60 juta itu." Ucap Zira emosi.
Ziko kembali tertawa.
" Hahahaha sebenarnya aku tidak ada niat untuk memanfaatkan mu tapi karena kamu sudah bilang, baiklah akan aku hitung semuanya dan sekalian sama kerusakan di cafe santuy." Ucap Ziko menjelaskan.
Zira langsung membuka mulutnya lebar-lebar.
Aduh kenapa bisa jadi begini, tinggal bilang terimakasih saja repot amat. Pak amat repot nggak. Gerutu Zira dalam hati.
Zira masih diam tidak menjawab sama sekali.
" Baiklah sayang bill nya nanti akan datang, aku yakin kamu tidak akan bisa membayarnya." Ucap Ziko seperti mengejek.
" Pasti aku bayar." Ucap Zira cepat.
" Yakin? 60 juta saja belum bayar. Belum yang lainnya. Baiklah karena suamimu ini sangat baik rajin menabung ganteng hidup lagi, aku izinkan kamu mencicil." Ucap Ziko sambil mematikan ponselnya.
Ziko tertawa terbahak-bahak di dalam ruangannya sedangkan Zira mulai menghitung semua harga pakaian yang ada di dalam paper bag.
__ADS_1
" Like komen dan vote yang banyak ya, agar novel favorit kalian masuk dalam 10 besar Terimakasih. "