
🌹Vote
Cara vote.
Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.
Selamat Membaca.
***
Sudah tiga hari suaminya nyonya Paula meninggal. Tapi wanita paruh baya itu tetap tidak bisa menerima kenyataan kalau suaminya meninggal.
Dia terus saja menangis, tidak mau makan sama sekali. Akhirnya Kevin membawanya ke rumah sakit. Jarum infus terpasang di punggung nyonya Paula. Hanya dengan infus ibunya bisa sedikit bertenaga.
Dokter Diki memeriksa keadaan nyonya Paula di ruang rawat inap.
"Bagaimana keadaan mamaku?" tanya Kevin.
"Kita bicara di ruanganku." ucap dokter Diki.
Kevin mengikuti dokter Diki ke ruangannya, sedangkan Jesy menemani mamanya.
"Duduklah." Ucap dokter Diki.
Kevin menarik kursi dan duduk di depan dokter itu hanya di batasi meja di antara mereka berdua.
"Mama kamu mengalami stres yang sangat berat. Tidak mungkin hanya mengandalkan jarum infus untuk tenaganya. Kalian harus berusaha untuk menyuapinya." Ucap dokter Diki.
"Kami sudah berusaha tapi mama tetap menolak. Kadang mama marah tak menentu dan selalu menyalahkan Menik. Mama berpikir kalau musibah meninggalnya papa karena Menik. Aku bingung harus bagaimana." Ucap Kevin curhat.
"Memang kalau dibiarkan bisa berbahaya. Mamamu bisa-bisa jadi gila."
"Terus bagaimana?" tanya Kevin.
"Jalan satu-satunya kita harus meminta bantuan psikiater." Ucap dokter Diki.
"Apa dengan psikiater bisa membantu mamaku pulih kembali?" tanya Kevin.
"Tentu bisa, malah mama kamu bisa di buat melupakan kejadian ini." Ucap dokter Diki.
"Sebaiknya kejadian meninggalnya papa jangan dihilangkan dari ingatannya, tapi buat mamaku bisa menerima kenyataan."
"Baik."
Setelah percakapan itu Kevin keluar dari ruang kerja dokter Diki. Dia kembali ke ruang rawat inap mamanya. Tapi di depan kamar mamanya di rawat ada Menik yang sedang menangis.
"Menik, kenapa?" Ucap Kevin.
"Aku enggak sanggup, hinaan dan cacian mamamu membuatku sakit." Ucap Menik sambil berlalu pergi meninggalkan Kevin.
"Nik tunggu." Kevin mengejar Menik tapi ketika sampai di depan loby wanita itu sudah naik taksi, kebetulan ada pasien yang baru turun dari taksi. Jadi Menik langsung naik ke dalam taksi tersebut.
Kevin terlambat, dan tiba-tiba ada mobil Ziko berhenti di depan lobi.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Zira. Ziko memarkirkan mobil di area parkir.
"Mama saya di rawat. Nona ngapain ke sini." Ucap Kevin.
"Mau kontrol jahitan suamiku. Sejak kapan tante di rawat?" tanya Zira.
"Baru hari ini. Karena kondisinya yang drop maka kami memutuskan untuk membawa mama ke rumah sakit." Ucap Kevin.
Tidak berapa lama Ziko datang.
__ADS_1
"Kamu ngapain di sini." Ziko mengajukan pertanyaan yang sama dengan istrinya.
"Mamanya di rawat." Jawab Zira.
"Oh, sakit apa?" tanya Ziko lagi.
"Tidak mau makan sama sekali." Jawab Kevin.
"Dari hari pertama papamu meninggal belum mau makan?" tanya Ziko kaget.
"Iya tuan, mama stres belum bisa menerima kenyataan kalau papa meninggal." Ucap Kevin menjelaskan.
"Lalu ngapain kamu di sini. Terus yang di taksi itu siapa?" tanya Zira. Karena dia melihat ada taksi yang pergi dan tidak tau siapa yang ada di dalamnya.
"Menik." Ucap Kevin singkat.
"Menik? Kalian bertengkar." Ucap Zira curiga.
Kevin menggelengkan kepalanya.
"Kalau tidak bertengkar kenapa dia pergi begitu saja." Ucap Zira lagi.
"Karena mama baru mencaci dan memarahinya." Ucap Kevin pelan.
"Apa!" Zira kaget.
"Bisa tidak kita duduk, kita seperti penjaga pintu." Celetuk Ziko.
Mereka baru sadar kalau mereka memang masih berdiri di depan pintu loby.
Ketiganya duduk di dalam lobi, ada sofa yang digunakan pasien untuk menunggu mengantri obat. Mereka duduk di situ.
Kevin menceritakan semuanya, dari penghinaan yang di lakukan mamanya pada hari pertama sama hari ini.
"Semoga saja mama tidak menyadari semua ucapannya. Kalau sampai itu keluar dari hatinya, bisa-bisa rencana pernikahan kami gagal."
"Terus dokter bilang apa?" Tanya Ziko.
"Dokter Diki bilang harus di tangani psikiater." Ucap Kevin.
"Kami nanti jenguk mamamu. Sekarang kami mau kontrol dulu." Ucap Zira. Sepasang suami istri itu pergi meninggalkan Kevin menuju dokter spesialis bedah.
Kevin mengambil ponselnya, dia mencoba menghubungi calon istrinya. Tapi panggilannya selalu di tolak Menik. Dia khawatir kalau Bima tau tentang penghinaan yang di lontarkan mamanya, maka bisa di pastikan Bima marah.
Kevin kembali ke ruang rawat inap. Dia melihat mamanya masih tetap melamun. Ada Jesy yang duduk di kursi sebelah tempat tidur.
Ketika kakaknya datang Jesy langsung berdiri.
"Kakak, tadi kak Menik datang." Ucap Jesy.
"Iya, kakak sudah bertemu dengannya."
"Lalu mana kak Menik?" tanya Jesy.
"Sudah pulang." Ucap Kevin.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kevin.
"Kak Menik datang sambil membawa buah. Lalu kak Menik menyapa mama dengan menyalami tangan mama. Tapi mama langsung marah sambil melempar keranjang buah."
"Ngomong apa mama sama Menik? tanya Kevin.
"Sama seperti malam pertama papa meninggal. Mama mengucapkan hal yang sama." Ucap Jesy.
__ADS_1
Nyonya Paula ketika nama Menik di ucapkan dia tidak ada respon sama sekali. Tapi ketika melihat wajah Menik, dia langsung emosi.
"Apa kata dokter kak?" Tanya Jesy.
"Sepertinya kita harus membawa ke psikiater, karena kalau di biarkan terus menerus mama bisa gila." Ucap Kevin.
"Kapan kita bawa ke psikiater?" tanya Jesy lagi.
"Mungkin sampai kondisi mama pulih. Kamu kan lihat kalau mama sangat lemas. Tapi dengan bantuan botol infus ini, mama bisa sedikit bertenaga." Ucap Kevin.
Tok tok tok, pintu di ketuk. Jesy membuka pintu ruang rawat inap.
"Nona Zira, mari masuk." Ucap Jesy.
Zira dan Ziko masuk ke dalam ruangan itu. Zira memperhatikan kondisi nyonya Paula yang lemas dan tidak berdaya. Dia duduk di kursi sambil mengelus tangan wanita paruh baya itu.
"Tante, aku datang." Ucap Zira.
Nyonya Paula masih tetap diam, dia tidak merespon sama sekali.
"Tante harus mengikhlaskan kepergian almarhum. Kasian kalau tante masih seperti ini. Almarhum bisa melihat kesini. Pasti suami tante akan sedih melihat kondisi tante seperti ini." Ucap Zira.
Tanpa di sadari air mata nyonya Paula kembali menetes.
"Memang sangat sulit melepas kepergian orang yang kita sayangi, apalagi kejadian itu mendadak."
"Tante tau, aku sering di tinggalkan orang-orang yang aku kasihi, pertama kedua orang tuaku, mereka meninggal karena ditabrak mobil." Ucap Zira.
Nyonya Paula menoleh ke arah Zira, semua yang berada di ruangan itu melihat kejadian itu, kalau wanita paruh baya itu mulai ada respon.
"Apa aku bersedih? Tentu aku bersedih dan terpukul karena mereka meninggalkanku dengan tiba-tiba. Apa aku terpuruk? Iya aku terpuruk, tapi masih ada keluarga yang menyayangiku, jadi aku kembali bangkit." Ucap Zira.
Nyonya Paula masih mendengarkan.
"Setelah aku bangkit orang-orang di sekelilingku pergi kepada sang Pencipta. Aku kembali terpuruk dan bersedih. Tapi aku tidak mau bersedih terus menerus, akhirnya aku bangkit sendiri. Dan ada satu kejadian yang membuatku masih tetap menangis kalau mengingatnya yaitu bayi mungil kami. Anakku pergi setelah usia kandunganku berjalan empat bulan lebih." Ucap Zira sambil meneteskan air matanya.
"Mungkin kalau dia masih hidup anakku sudah beberapa bulan usianya. Aku masih sering memikirkannya bahkan tidak bisa melupakannya. Semua sudah kehendak sang Kuasa, aku yakin akan ada masa indah untuk kami nantinya." Ucap Zira.
Nyonya Paula memegang tangan Zira.
"Perjalanan hidup setiap orang memang berbeda-beda, tapi nona bisa menghadapi itu semua dengan ikhlas. Tante harus banyak belajar tentang arti hidup dari nona Zira." Ucap nyonya Paula.
Semua yang berada di ruangan itu terharu, karena Zira bisa menyadarkan wanita paruh baya itu.
"Mana nasi mama lapar." Ucap nyonya Paula.
Semuanya tertawa, Jesy memberikan makanan yang ada di atas meja. Wanita paruh baya itu makan dengan lahapnya. Dia melihat sekeliling ruangan.
"Mana Manek?" tanya nyonya Paula.
"Manek?" tanya Ziko dan Zira bersamaan.
"Maksud mama Menik. Mama tidak bisa menyebut namanya jadi memanggil nama Menik jadi Manek." Ucap Kevin.
Sepasang suami istri itu paham dan lucu dengan julukan yang di berikan wanita paruh baya itu.
Bersambung.
Ig. anita_rachman83.
AUTHOR ADA KARYA BARU YANG BERJUDUL
" LOVE OF a NURSE", CERITANYA PENUH KEJUTAN DAN MENDEBARKAN HATI. PENASARAN???
__ADS_1