
🌹Vote
Cara vote.
Kumpulkan poin di pusat misi, buka poin pada profilku. Selesaikan semua tugas, jika tugas sudah selesai kalian bisa vote author sebanyak mungkin. Dan vote bisa di lakukan setiap hari selama poin kalian ada, terimakasih.
Selamat Membaca.
***
"Mau di adakan di mana pak?" tanya wanita itu lagi.
"Hot." Kevin belum selesai dengan kalimatnya Menik udah memotong pembicaraannya.
"Losmen." Ucap Menik singkat.
Wanita itu langsung mengerutkan dahinya, dia memperhatikan penampilan Menik dan Kevin. Dia menggelengkan kepalanya secara wanita itu bisa tau kalau Menik seorang model iklan dan pasti banyak uang belum penampilan prianya yang elegan dan berkelas.
"Losmen?" tanya wanita itu lagi.
Menik menganggukkan kepalanya. Sedangkan Kevin menutup wajahnya dengan salah satu tangannya.
"Maaf bu, kalau losmen tidak ada ruangan khusus untuk tempat pesta. Karena losmen lebih bersifat kamar-kamar saja." Ucap wanita itu menjelaskan.
"Tapi masih punya halaman kan." Ucap Menik lagi.
Kevin dan wanita itu membelalakkan matanya sambil melihat Menik.
"Nik, kamu itu apa-apaan sih, mana mungkin kita pesta di pelataran losmen." Bisik Kevin sambil tetap tersenyum kepada wanita di depan mereka.
"Sstt diam dulu, aku masih negosiasi sama wanita ini. Semoga dia mau mengabulkan permintaanku." Ucap Menik.
"Bagaimana mbak, bisa di pelataran losmen?" tanya Menik lagi.
"Hemmm belum pernah sejarahnya saya membuat acara di pelataran losmen. Ada juga yang di pelataran tapi itu seperti di hutan atau di taman karena tema mereka garden. Kalau di losmen temanya apa." Tanya wanita itu lagi sambil tersenyum kik kuk.
"Hemmm bagaimana kalau temanya pesta rakyat." Ucap Menik.
Kevin melongo ide calon istrinya tidak sejalan dengan idenya.
"Bisa sih, kalau temanya pesta rakyat berarti tamu undangannya seluruh rakyat." Ucap wanita itu.
"Waduw, enggak usah ganti saja dengan yang unik." Ucap Menik.
Wanita itu memberikan beberapa tema pernikahan yang pernah di buatnya yaitu tema nuansa taman hijau, fun wedding, taman dalam ruangan, tema ala princes dan lain sebagainya.
"Tema nuansa kampung bisa tidak?" tanya Menik.
Kevin sudah menyerah, pendapatnya tetap tidak akan di dengar Menik.
"Bisa, nanti dekorasi akan kita desain dengan bambu, dan biasanya pelaminan di hiasi dengan berbagai bunga kalau ini kita hiasi dengan pohon pisang." Ucap wanita itu.
"Ya itu aja." Ucap Menik semangat.
"Enggak aku tidak setuju, kita seperti jualan lontong nanti, karena banyak daun pisang pasti kita seperti pedagang daun." Tolak Kevin.
Wanita itu tersenyum lucu, alasan calon pengantin pria menolak tema itu sangat mengocok perutnya.
__ADS_1
"Tapi itu bagus loh. Berapa kira-kira budgetnya?" tanya Menik.
"Kalau tema ini, saran saya harus di adakan di gedung kalau di pelataran tidak akan cocok. Jadi kira-kira budgetnya satu milyar." Ucap wanita itu.
"Apa!" Menik kaget.
"Kenapa mahal sekali, temanya kampung dan dekorasinya juga dari daun pisang, daun pisang itu murah, wah kamu mau ambil untung banyak ya." Ucap Menik langsung.
"Nik." Ucap Kevin.
"Enggak bu, gedung memang mahal kami harus mendesain bambu itu sedemikian rupa dan itu membutuhkan tenaga ahli." Ucap wanita itu menjelaskan.
"Ok kalau itu pakai tenaga ahli dan sewa gedung mahal, tapi kan tetap tidak semahal itu. Makanannya juga masakan kampung. Dan tidak menggunakan piring. Benar tidak." Ucap Menik.
"Iya." Ucap wanita itu singkat.
"Apa tidak ada diskon, untuk tema itu." Tawar Menik.
"Maaf tidak bisa bu." Ucap wanita itu.
"Hemmm, bagaimana kalau daun pisangnya kami yang cari. Pasti dapat diskon kan." Ucap Menik lagi.
"Sayang, sudahlah kita serahkan semuanya sama mereka. Aku tidak mau pergi ke pasar mencari daun pisang." Bisik Kevin.
"Tapi aku mau." Ucap Menik tegas.
"Begini saja saya ada ide, pernikahan bapak dan ibu temanya piknik. Di adakan di taman, tidak memakai kursi, hanya ada tikar-tikar kecil untuk para tamu undangan dan ada balon sebagai hiasannya dan bantal kecil di atas tikar. Ini akan menambah kesan hangat dan santai dengan para tamu undangan, bagaimana." Ucap wanita itu menjelaskan.
"Ya udah itu aja." Ucap Kevin
"Enam ratus juta." Ucap wanita itu.
"Busyet masih mahal, kan pakai tikar. Harga tikar. lebih murah di bandingkan kursi. Mbak jangan seperti ini dong, harganya masih mahal itu. Kalau cari keuntungan jangan mencekik seperti ini." Ucap Menik sewot.
"Nik sudahlah, ambil aja itu." Bisik Kevin.
"Sstt diam." Ucap Menik.
"Bagaimana bisa kurang." Ucap Menik.
"Baiklah akan saya kurang sepuluh juta." Ucap wanita itu.
"Dikit amat lagi."
Wanita itu bingung, akhirnya dia menyerah kesepakatan di ambil dengan budget lima ratus juta. Menik masih mau menawar tapi Kevin sudah mengatakan setuju.
Kevin dan Menik kembali. Dan mereka akan di hubungi lagi oleh pihak wedding organizer jika pekerjaan mereka sudah hampir selesai.
Di mobil Menik lebih banyak diam dan Kevin memperhatikannya.
"Kamu kenapa?" Ucap Kevin sambil menoleh sekilas lalu fokus dengan kemudinya.
"Aku kesal, lima ratus juta untuk tema piknik padahal tidak memakai kursi ataupun tenda. Kalau di gang rumahku, pasti tidak sampai lima puluh juta. Kan sayang uangnya." Rengek Menik.
"Sudahlah Nik, yang mencari uang kan aku, kamu tidak perlu memikirkan tentang biaya." Ucap Kevin.
"Justru itu, karena kamu yang mencari makanya aku sedih."
__ADS_1
"Kenapa harus bersedih?" tanya Kevin.
"Karena aku tau kalau kamu mengumpulkan uang itu bukan dalam satu hari. Pasti berbulan-bulan mengumpulkannya. Dan dalam satu hari saja uang itu habis." Ucap Menik.
Kevin gemas, dia mengelus rambut Menik.
"Enggak sayang, aku sudah punya tabungan lama. Dan uang segitu tidak masalah buatku. Kalau uang kita habis kita minta saman tuan muda dan nona Zira." Ucap Kevin.
"Ah kamu, mana mungkin kita minta uang sama mereka. Mereka sudah banyak membantu kita." Ucap Menik.
Kevin menghentikan mobilnya di dekat taman kota.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Menik bingung.
"Aku mau mau menciummu." Ucap Kevin pelan.
Wajah Menik langsung merona merah, dia malu harus melakukan hal itu.
"Bisa tidak kalau itu kita lakukan malam pertama saja. Soalnya aku malu." Ucap Menik jujur.
"Malam pertama itu hal yang berbeda, boleh tidak aku menciummu."
"Aku malu, biasanya kamu langsung menciumku kenapa sekarang minta izin." Tanya Menik.
"Karena aku ingin kamu membalas ciumanku, bukan diam seperti patung." Ejek Kevin.
"Ah kamu." Rengek Menik.
"Boleh tidak?" tanya Kevin lagi.
Wajah Menik merona merah, dia menganggukkan kepalanya dengan pipi yang sudah seperti tomat.
Kevin mengambil ancang-ancang dengan mendekatkan dirinya dengan Menik. Ketika dia mau mencium Menik. Dia teringat sesuatu tentang lidahnya yang ngabuburit.
"Kamu sudah sikat gigi belum?" tanya Kevin
"Belum ya sudahlah, malah aku sikat pakai sikat wc." Ucap Menik asal.
"Serius?"
"Mana mungkin aku menyikat gigiku pakai sikat wc mulutku tidak cukup untuk menampung sikat itu. Kalau enggak mau ya udah." Ucap Menik ngambek.
Kevin paling suka jika melihat calon istrinya ngambek. Dia langsung mencium calon istrinya dengan lembut, tidak ada penolakan dari Menik. Menik membalas ciuman itu, mereka terbuai dengan aksi itu. Sampai tanpa di sadari Kevin lagi-lagi menekan klakson mobil. Sontak keduanya kaget.
Tiiin tiiin
"Dasar klakson sialan." Gerutu Kevin.
"Kok menyalahkan klaksonnya, kan tangan kamu yang lasak." Ucap Menik.
"Bisa kita lanjutkan lagi." Ucap Kevin mematikan mesin mobilnya.
"Bersambung." Ucap Menik cepat.
AUTHOR ADA KARYA BARU YANG BERJUDUL
" LOVE OF a NURSE", CERITANYA PENUH KEJUTAN DAN MENDEBARKAN HATI. PENASARAN???
__ADS_1