
" Kamu itu kenapa tidak ada mesra-mesranya samaku." Teriak Ziko.
Aih mulai nih, sepertinya aku harus ke dokter THT untuk minta resep budek.
" Ya suamiku sayang." Ucap Zira merapatkan giginya.
" Nah gitu mesra. Aku lapar." Ucap Ziko manja.
" Suamiku sayang istrimu ini sangat sibuk jadi hari ini tidak bisa menemani kamu makan." Ucap Zira sambil mau muntah.
Cih aku bicara seperti itu kok kayak banci ya mau muntah rasanya.
" Aku mau kamu yang suapi aku." Ucap Ziko manja.
Zira mulai menggaruk-garuk kepalanya. Tingkah Ziko kadang membuatnya sakit kepala. Sebenarnya sama saja tingkah mereka berdua aneh bin ajaib, berbeda dengan pasangan suami istri lainnya. Pasangan pengantin baru pasti lagi manja dan mesra tapi tidak dengan mereka. Mereka lebih sering adu urat leher dari pada mesra.
" Suamiku sayang karena aku lagi sibuk kamu minta suapi asisten Kevin saja." Ucap Zira lagi sambil merapatkan giginya.
Ziko mulai emosi.
" Apa maksudmu, apa kamu mau jadi istri duralex." Bentak Ziko.
Zira langsung menjawab dengan santai.
" Ya enggak lah, mana ada cita-cita seorang istri jadi duralex semua istri pasti ingin menjadi istri soleha." Ucap Zira cepat.
" Tapi."
" Tapi apa?" tanya Ziko penasaran.
" Tapi lihat dulu suaminya sudah jadi suami soleh belum." Ucap Zira santai.
" Jadi maksud kamu aku bukan termasuk imam yang soleh." Teriak Ziko dari ujung ponselnya.
" Cup cup udah udah jangan berisik kasihan si Soleh dan si Soleha mereka nanti ke selek karena namanya di ulang terus." Ucap Zira mengalihkan pembicaraan.
Mereka masih tetap adu urat leher. Ziko ingin Zira datang ke kantornya untuk makan bersama dalam satu piring. Tetapi Zira menolaknya karena hari ini dia betul-betul sibuk.
" Jadi bagaimana." Tanya Ziko lagi.
" Bagaimana apanya?" Zira sudah mulai kesal seharusnya desainnya sudah selesai tapi tertunda karena pertengkaran ini.
" Kamu jadi datang tidak." Tanya Ziko penuh harap.
__ADS_1
Zira meletakkan pensilnya di atas meja dan memegang ponselnya kembali yang sebelumnya berada di antara bahu dan pipinya.
" Aku enggak bisa tangan ku lagi sibuk aku tidak bisa menyuapi kamu. Apa kamu mau aku suapi pakai kaki." Ucap Zira ketus.
Ziko langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
" Nah sudah deh marah lagi marah lagi. Heran deh aku harus mengerti dia tapi dia tidak mengerti aku." Gerutu Zira.
Ziko memanggil Kevin. Mereka pergi ke butik tapi tidak lupa dia membawa beberapa bungkus makanan. Dia memang kesal karena istrinya tidak bisa datang dan tidak menurut dengannya. Tapi dia lebih khawatir kesehatan istrinya. Dia mengerti pasti karena kesibukannya Zira akan menunda makannya.
Zira masih berkutat dengan pekerjaannya. Dia sangat serius dalam mengerjakan pekerjaannya. Karena sangking sibuknya dia tidak mendengar langkah kaki seseorang menginjak anak tangga.
Kebetulan pintu ruangannya tidak di tutup. Jadi Ziko langsung masuk tanpa harus membuka pintunya. Dia melihat istrinya masih duduk di kursinya. Zira tidak mengetahui kedatangan suaminya. Dia merasa kasihan melihat istrinya.
Ziko menghampiri istrinya yang masih sibuk dengan desainnya. Zira tidak memperhatikan keberadaan suaminya yang telah berdiri di sampingnya. Ziko mengecup pipi istrinya dengan lembut. Sontak Zira kaget dan melempar pensilnya dengan spontan ke depan meja kebetulan Kevin sedang duduk di atas sofa.
Kevin meringis dan memegang pipinya yang terkena pensil.
" Nona apakah jurus melempar pensil itu juga di ajarkan tuan muda juga?" Tanya Kevin sambil memegang sebelah pipinya.
Zira mengacuhkan pertanyaan Kevin.Dia malah balik bertanya.
" Kenapa kalian datang, kalian ini seperti jelangkung, datang tak di undang pulang tak di antar." Ucap Zira cepat.
Ziko masih berdiri di samping istrinya.
" Apanya yang mau diketuk pintunya saja kebuka." Ucap Ziko cepat sambil menunjuk kearah pintu.
Zira melihat kearah pintu.
" Oh iya juga ya. Tapi kan setidaknya salam, salam hormat salam manis atau salam dua jari." Ucap Zira sewot.
Ziko mengacuhkan ucapan istrinya, dia memegang tangan Zira.
" Cepat aku lapar." Sambil menarik salah satu tangan istrinya.
Tangan Zira yang lain memegang kertas dan peralatan desain lainnya. Mereka duduk di sofa panjang dan Kevin pindah duduk di sofa yang lain.
Zira masih sibuk menyelesaikan desainnya. Ziko memperhatikannya, tanpa pikir panjang dia membuka bungkus makanan dan mengambil sendok, dia menyuapkan sendok yang berisi makanan ke mulutnya lalu ke mulut Istrinya.
Awalnya Zira menolak tapi dia mau menerima juga karena memang dia juga lapar. Mereka terlihat romantis seperti itu. Biasanya Zira yang menyuapi suaminya, tapi hari ini Ziko yang mengambil alih dengan sendok.
Zira telah selesai dengan desainnya dia meletakkannya di atas meja. Dia ingin mengambil alih sendok yang di pegang suaminya.Tapi Ziko melarangnya.
__ADS_1
" Enggak usah." Ucap Ziko sambil menepis tangan Istrinya yang hendak mengambil sendok dari tangannya.
" Aku tau kenapa kamu bertahan dengan sendok itu pasti kamu takut aku suapi pakai kaki kan?" Ucap Zira cepat.
Kevin tertawa mendengar ucapan istri bosnya. Zira memang suka asal kalau ngomong dan mungkin itulah daya tariknya.
" Sudah syukur aku suapi tidak tau berterima kasih." Gerutu Ziko.
" Terimakasih suamiku sayang." Ucap Zira sambil memeluk lengan Ziko.
Cekrek Kevin mengabadikan momen itu melalui ponselnya.
Mereka masih menikmati makanan.
" Mengenai kursus bahasa Inggris, jadwalnya besok." Ucap Ziko di sela-sela menyuapi istrinya.
Zira langsung menoleh kearah suaminya.
" Kamu serius?" tanya Zira cepat.
Ziko mengangguk sambil meminum air mineral.
" Boleh tidak aku request?" Ucap Zira pelan.
" Apa?" tanya Ziko lagi.
" Nanti gurunya kalau bisa yang ganteng biar aku semangat belajarnya." Ucap Zira sambil menggerak-gerakkan alisnya.
" Cih, enggak ada request request, aku yang bayar dan aku juga yang pilih siapa yang jadi gurumu." Ucap Ziko cepat.
" Iya tau yang bayar tuan muda." Ucap Zira pelan.
" Gurumu nanti orangnya kejam pastikan kalau kamu belajar dengan giat. Atau tanganmu yang akan kena."
Ziko menakuti-menakuti Zira agar Istrinya mahir berbahasa Inggris dia berencana ingin mengajak Zira keluar negeri.
" Aih kejam betul guruku. Tenang saja suamiku aku akan belajar dengan giat kalaupun salah dalam penyebutan kosa kata aku pastikan dia tidak akan memukulku, aku yang akan memukulinya terlebih dahulu." Ucap Zira lantang sambil mengelus lengan suaminya.
Kevin tertawa terbahak bahak.
" Kenapa kamu tertawa apanya yang lucu?" Gerutu Zira cepat sambil menoleh kearah Kevin.
" Enggak nona sepertinya anda terlalu yakin bisa mengalahkan guru itu." Ucap Kevin sambil tertawa.
__ADS_1
Zira belum tau siapa gurunya tapi dari perkataan Kevin, dia mengambil kesimpulan bahwa gurunya pasti orang yang sangat ahli dalam pukul memukul baik memukul kasur maupun memukul bantal.
" like komen dan vote yang banyak ya terimakasih."