
Ziko dan Zira kembali menikmati es krimnya. Setelah selesai mereka keluar dari cafe sambil bergandengan tangan menuju parkiran.
Sisil sudah menunggu di dekat mobil Ziko.
"Ngapain lagi dia." Ucap Zira.
"Ziko." Ucap Sisil.
"Mau apa lagi kamu!" Ziko menatap tajam wajah Sisil.
"Aku tidak bisa hidup seperti ini terus, modal yang kamu berikan kepadaku sudah habis untuk biaya hidup. Aku melakukan ini karena terpaksa." Jelas Sisil sedih.
"Aku tidak bisa membantumu, kemaren dengan berbaik hati aku membantumu, tapi kenyataannya kamu masih menjadi wanita murahan. Mau sampai kapan kamu seperti ini." Ucap Ziko kesal.
Sisil memegang tangan Zira, dia meminta belas kasihan dari wanita itu.
"Suamiku saja tidak mau membantumu apa lagi aku." Ucap Zira ketus.
"Zira, Ziko bantu aku untuk yang terakhir kalinya. Aku jijik harus terus bertingkah seperti wanita murahan. Aku putus asa." Ucap Sisil menangis.
"Tidak ada orang yang langsung bisa sukses, semuanya penuh perjuangan. Masa lalumu bisa kamu kubur dengan menjadi wanita lebih baik. Kalau kamu masih melakukan perbuatan ini kamu akan terus mendapatkan masalah dan akan susah keluar dari dunia hitam." Nasehat Zira.
"Ambil ini, besok datang ke sana dengan pakaian yang tertutup. Semoga itu bisa membantumu." Ucap Zira.
"Terima kasih." Ucap Sisil. Ziko dan Zira masuk ke dalam mobil. Mobil sudah pergi meninggalkan cafe menuju jalan raya.
"Kartu nama siapa tadi yang kamu berikan sama Sisil?" tanya Ziko.
"Itu kartu nama sebuah yayasan tempat menampung para wanita tuna susila." Jelas Zira. Ziko mendengarkan cerita istrinya sambil fokus dengan kendaraannya.
"Di sana nanti mereka akan di ajarkan menjadi wanita lebih baik, akhlak yang baik." Jelas Zira.
"Bagus yayasan itu, jadi para wanita yang ingin lepas dari dunia malam, bisa masuk dan banyak belajar di yayasan itu." Ucap Ziko salut.
"Siapa yang punya yayasan itu. Aku sangat suka ide cemerlangnya. Membantu para wanita yang tersesat." Ucap Ziko
"Akulah." Ucap Zira.
"Kamu serius sayang." Ucap Ziko heran dengan semua kejutan dari istrinya.
"Dengan yayasan ini setidaknya aku bisa membantu mereka menyediakan tempat tinggal dan makanan yang layak untuk para wanita. Manusia akan berusaha untuk menjadi lebih baik, dan aku sedang belajar menjadi manusia itu." Jelas Zira. Ziko langsung mengecup punggung tangannya. Dia bangga mempunyai istri yang kaya tapi tidak sombong dan baik hati.
__ADS_1
***
Keesokan harinya rumah Zira dan Ziko sudah di penuhi para pelayan yang sibuk dengan acara empat bulanan kandungan Zira.
Semua koki mansion di kerahkan untuk memasak di dapur. Pelayan yang lain menyiapkan segala keperluan baik di dapur maupun di tempat acara. Acara pengajian akan di adakan siang hari. Zirah sedang bersiap-siap dengan pakaian model kaftan.
Memakai make up flawless dan rambut di sanggul modern, sehingga menampilkan aura seorang ibu hamil yang feminim dan cantik.
"Zira, ayo kita keluar sudah waktunya acara di mulai." Ucap nyonya Amel.
Zira keluar di dampingi mama mertuanya. Mereka duduk beralaskan karpet. Acara pengajian berlangsung dan cukup hikmat. Dan di lanjut dengan mendengarkan ceramah seorang ustad. Selesai ceramah, para ibu-ibu pengajian mulai menikmati hidangan yang telah di siapkan tuan rumah.
Ada tamu jauh yang datang ke acara itu, yaitu Kevin dan Menik.
"Kevin? kenapa kalian sudah pulang? bukannya honeymoon kalian masih satu minggu lagi." Ucap Zira heran.
"Kami tidak mau melewatkan acara ini, makanya kami pulang cepat, iya kan sayang." Ucap Kevin.
Menik menganggukkan kepalanya pelan.
"Ye yang sudah cetak gol senang banget." Goda Zira.
"Idih, semenjak menikah ngomong enggak pakai di saring, langsung aja meluncur kayak perosotan." Ejek Zira lagi.
"Hahaha, nona seperti tidak pernah saja." Ucap Kevin sambil melihat penampilan bosnya.
"Tuan, kenapa rambut anda belum tumbuh juga, coba lihat rambut saya sudah sebagian tumbuh." Kevin membuka topinya dan menunjukkan kepalanya yang sebagian sudah ada rambut.
"Iya ya, kenapa rambutku belum tumbuh." Ucap Ziko bingung.
"Sudah jangan di permasalahkan gundul itu, kamu tetap seksi loh." Ucap Zira.
"Seksi apanya, aku kalau berkaca memang sangat mirip sama bapaknya tuyul, heran minyak kemiri sudah aku pakai, tapi masih belum tumbuh juga." Gerutu Ziko.
"Wah tuan salah, seharusnya pakai santan." Ucap Kevin lagi.
"Oh iya pakai santan juga bisa, nanti judulnya opor gundul." Ejek Zira.
"Sayang." Ziko kesal karena selalu di ejek istrinya.
"Enggak sayang, aku hanya bercanda, tanpa di olesi apapun rambut kamu akan tumbuh yang penting makanan yang kamu makan bergizi jangan makan beling nanti tumbuhnya piring kaca." Ucap Zira lagi.
__ADS_1
"Buahaaha." Kevin, Zira dan Menik tertawa. Yang paling kencang tertawanya Kevin, karena bosnya jadi bahan candaan istrinya sendiri.
Acara pengajian sudah selesai, para tamu undangan sudah meninggalkan kediaman Zira dan Ziko. Kevin dan Menik masih berada di rumah bosnya mereka menikmati makanan yang sudah di siapkan para koki.
"Vin, apa judulnya malam pertamamu." Bisik Ziko.
"Pendidikan jasmani dan olah raga." Jawab Kevin cepat.
"Maksud kamu apa?" Ucap Ziko bingung.
"Kalau nona Zira temanya ngojek kalau istri saya temanya itu, karena dia pakai baju olah raga pada saat mau di sundul." Jelas Kevin.
"Buahahaha, tema yang unik." Ucap Ziko dengan gelak tawanya.
"Tapi itu ketika di sini tuan, pada saat di luar negeri saya bebas hambatan dan rintangan." Ucap Kevin bangga.
"Wah ternyata ilmu yang aku ajarkan kepadamu langsung kamu praktekkan." Ucap Ziko bangga.
"Tuan saya mau ngomong masalah serius." Bisik Kevin.
"Aku juga, kita cari tempat yang sepi." Ajak Ziko. Kevin dan Ziko memilih pergi ke taman.
"Tuan, saya di Jerman masih di ikuti pria itu, seperti yang saya telepon kemaren, pria itu memberikan foto, ini fotonya." Kevin menunjukkan foto pemberian pria yang mengikutinya kepada Ziko.
Dia juga menceritakan tentang segerombolan orang yang membawa mereka ke tempat lain yang ada di luar bandara.
"Wah ini sudah suatu tindak kejahatan." Gerutu Ziko.
"Salah satu pria mengatakan kalau namanya langit dan yang wanita namanya pelangi, mereka berdua sepertinya bosnya." Jelas Kevin.
"Ok kita lupakan dulu dengan sepasang pria dan wanita itu, foto yang kamu berikan ada juga di rumah Zira, cuma bedanya hanya posenya saja." Jelas Ziko.
"Mungkin foto ini kembaran almarhum bapaknya nona Zira." Ucap Kevin.
"Istriku bilang, kalau eyangnya mendapatkan almarhum bapaknya sangat lama, jadi bapaknya anak semata wayang." Ucap Ziko lagi.
"Terus ini foto siapa." Ucap Kevin. Ziko dan Kevin sedang berusaha memecahkan teka-teki yang ada di dalam foto itu. Mereka belum bisa menemukan siapa pemilik foto itu.
Bersambung.
Vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse" agar updatenya tambah semangat, makasih.
__ADS_1