
Kemudian semua anak menyayikan lagu selamat ulang tahun, setelah lagu selesai di nyanyikan, Naura meniup lilin dan memotong kue ulang tahunnya. Potongan pertama di berikan kepada papanya, potongan ke dua di berikan kepada Zira.
Para tamu undangan melihat Zira penuh selidik karena potongan kue ke dua di berikan kepadanya, menurut mereka pasti Zira sebagai tamu istimewa di acara itu.
"Baiklah ini acara yang di tunggu-tunggu, acaranya yaitu memukul pinata dengan mata tertutup yang di lakukan oleh yang berulang tahun." Ucap si host.
"Hore hore hore." Teriak anak-anak secara bersamaan.
Naura berjalan dengan mata tertutup, Zira mendampinginya menuju pinata yang telah di gantung lebih tinggi dari tinggi Naura.
Host mulai menghitung 1 2 3.
Naura mulai memukul pinata berkali-kali, tapi pinata tersebut belum juga bisa rusak, Fiko membantu anaknya memukul pinata, akhirnya pinata itu sobek dan keluarlah beraneka ragam permen, anak-anak saling berebut untuk mengambil permen tersebut.
Acara pun telah selesai, banyak tamu masih menikmati hidangan yang disajikan. Anak-anak berlari riang kesana-kemari termasuk Naura.
"Zira mari aku ajak kamu berkeliling." Ucap Fiko.
Zira menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan beriringan. Pria itu menjelaskan setiap ruangan, baik ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga dan juga kamar Naura.
Zira kagum melihat desain rumah Fiko modern klasik.
"Bagus sekali desain rumahnya." Puji Zira.
"Pasti kamu menggunakan jasa arsitek untuk desain sebagus ini, dan pasti mahal ya." Tanya Zira.
__ADS_1
"Hahaha, ini gratis kok." Ucap Fiko dengan gelak tawanya.
"Gratis? Oh kamu pasti punya teman seorang arsitek." Tanya Zira lagi.
"Hahaha bukan Zira, ini semua aku yang desain." Ucap Fiko.
"Ha! kamu hebat banget, memangnya apa pekerjaan kamu?"
"Aku seorang arsitek." Jawab Fiko.
Zira manggut-manggut mengerti.
"Hemmmm berarti kita sama dong." Ucap Zira.
"Aku seorang designer baju sedangkan kamu seorang arsitek, kan sama-sama suka melukis." Ucap Zira antusias.
"Hahaha kamu benar."
Mereka tertawa bersama, Fiko mengajak Zira menuju ruang kerjanya.
"Ini adalah ruang kerjaku."
Didalam ruang kerjanya terdapat buku-buku yang di susun dengan rapih, sesuai dengan warna sampulnya.
Zira memperhatikan satu persatu yang ada di dalam ruang kerja Fiko. Dia berhenti pada satu lukisan besar yang di pajang di dinding, sebelum Zira bertanya Fiko sudah menjelaskan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ini adalah lukisan istriku, ibu dari anakku yang bernama Linda. Lukisan ini sudah lama sekali tapi aku masih memajangnya, karena kenangan itu belum bisa aku lupakan." Fiko menjelaskan semuanya.
"Duduklah." Fiko mempersilahkan Zira untuk duduk.
Mereka duduk bersebelahan saling mengobrol satu sama lain, ada kalanya wajah mereka berdua serius dan ada kalanya mereka tertawa-tawa bersama.
"Zira aku sangat berterima kasih karena kamu telah datang ke sini. Aku tidak tau harus memulai dari mana." Ucap Fiko gugup.
Zira masih menunggu ucapan Fiko.
"Kenapa? Ucapkanlah enggak usah sungkan aku akan mendengarkan mu." Ucap Zira.
"Zira aku aku ....., ingin mengatakan kepadamu." Fiko terbata-bata.
Zira masih mendengarkan.
"Ya apa." Tanya Zira.
Fiko menggenggam kedua tangan Zira, melihat tangannya yang mungil di genggam dia kaget dan bingung.
"Zira aku menyukaimu." Ucap Fiko pelan.
Mendengar ucapan itu membuat Zira membulatkan matanya, dia serasa sedang bermimpi di siang bolong.
"Hello readers maaf jika ada typo, like episode favorit kalian ya dan komen yang banyak, terimakasih."
__ADS_1