Menikahi Anak Majikan

Menikahi Anak Majikan
Episode 57


__ADS_3

Semua yang ada di sana terharu mendengar cerita bik Ida. Sungguh maha kuasa tuhan(Alllah), jika ia berkehendak maka terjadilah. Walaupun bermacam cara yang sudah kita lakukan jika tuhan(Alllah) tidak berkehendak maka semua tidak akan terjadi. Ingat bahwa tuhan selalu ada di samping kita, jangan pernah takut melakukan kebaikan.


"Bibik tidak takut, jika raja hutan itu menjadikan bibik santapan malam mereka." tanya Tiara.


"Sungguh munafik jika bibik mengatakan tidak takut, bibik yakin jika tuhan(allah) mengirimkan si raja hutan itu untuk menolong bibik." Jawab bik Ida.


"Makasih ya bik, berkat keberanian dan keyakinan bibik. Istri tercintaku bisa di selamatkan." ucap Andrian Tulus sambil memeluk wajah istri tercinta. Tiba tiba saja Sarah menangis tersedu sedu di dalam pelukan Andrian. Hingga semua yang ada di sana terkejut melihat Sarah menangis tanpa ada alasan.


"Sayang kenapa?" tanya Andrian, Sarah enggan menjawab mala tangisannya semakin pecah.


"Ra, ada apa?" Tiara pun menggoyang goyangkan tubuh Sarah yang berada di dalam pelukan Andrian. Sarah masih diam membisu


"Nak, ada apa? apa yang kamu fikirkan, ceritalah dengan ibu" ibu pun membawa Sarah ke dalam pelukannya.


"Ada apa dengan mbak Sarah kak?" tanya Rina baru tiba.


"Tidak tau Rin, tiba tiba saja Sarah menangis seperti itu." Jelas Neysia. Rina pun mengangguk tanda ia mengerti.


"Hiksss,,,hikksss mas maafin aku, tidak bisa menjaga anak kita. Hiksss,,,hikkss,, maafin aku mas, maafin aku" Sarah memohon sambil bersujud di hadapan sang suami. Andrian pun tidak tega melihat sang istri seperti itu. Pelan pelan Andrian mengangkat tubuh mungil sang istri, membawa ke dalam pelukannya.


" Hikss,,,hikkss pasti anak kita di siksa oleh Nindri mas, tolong selamatkan anak kita mas. Aku merasa jadi ibu yang tidak berguna, tidak bisa menjaga anak ku sendiri. Hikss,,hhikksss seharusnya aku yang di siksa dengan Nindri bukan anak ku. Anakku tidak bersala yang sala itu aku yang telah mengambil miliknya, bukan anak ku." Sarah terus merocos dengan isak tangis, hingga mengeluarkan angka sebelas dari hidung mancung miliknya.


"Ra, angka sebelas kamu turun tu" Ucap Tiara dengan canda. Dengan cepat Sarah menarik kembali angka sebelas miliknya. Lalu menatap Tiara dengan tatapan yang mengerikan.


"Ra, maafin aku, aku cuma bercanda kok" Ucap Tiara sambil menjauhi Sarah karna takut dengan tatapan maut Sarah. Sarah pun tak membalas ucapan sahabatnya itu.


"Sayang" Ucap Andrian dengan lembut. Sarah hanya menatap Andrian dengan tatapan mautnya.


"Sayang, lihat mas" Andrian memegang pipi mulus sang istri menatapnya dengan lembut. Bukannya Sarah tenang mala membuat ia semakin merasa bersala dengan sang suami.


"Mas, Maafin aku" Hanya ucapan itu yang bisa Sarah ucapkan.


"Mintak maaf untuk apa sayang" Andrian pun mengecup kening sang istri.


"A aku tidak menjaga anak kita mas, maafin aku mas." Sarah masih penuh dengan isak tangis. Andrian pun tersenyum menanggapi ucapan sang istri.

__ADS_1


"Mas kenapa kamu tersenyum? apa kamu senang kehilangan anak mu?" selidik Sarah


"Mana ada orang tua yang senang kehilangan anaknya sayang?" ucap Andrian


"Terus kenapa mas tersenyum tidak jelas?"


"Mas, lucu saja melihat istri mas yang sangat menggemaskan" ucap Andrian sambil memainkan pipi sang istri.


"Masss!!!" kesal Andrian.


"Iya tayang mas" Andrian semakin gemas melihat sang istri. Sedangkan Sarah hanya menatap dengan tatapan membunuh. Semua yang ada di sana hanya bisa menahan senyum, melihat drama gratis di depan mata.


"Ada apa dengan mereka semua? sepertinya dari tadih menahan senyum. Aku yang tidak waras apa mereka semua." batin Sarah.


"Assalammualaikum" ucap dokter membuyarkan lamunan Sarah.


"Waalaikumsalam" Jawab semua yang ada di sana serentak. Hanya Sarah yang enggan menjawab salam dokter. Sarah pun menatap dokter itu dengan tatapan yang membingungkan. Dokter itu pun mendekati Sarah, memindahkan bayi yang berada di dalam gendongan ke pangkuan Sarah. Sarah tidak berkata apa apa ia hanya menatap dokter itu lalu beralih menatap bayi mungil yang berada di dalam pangkuannya. Setelah ia memandang bayi yang di dalam pangkuannya, ia pun beralih menatap sang suami dengan tatapan memintak penjelasan tentang bayi itu.


"Sayang" Andrian mulai membuka suara, karna ia tau bahwa sang istri bingung dengan kedatangan bayi mungil di hadapannya.


"Kamu benar sayang, itu putra kita berdua" ucap Andrian senyum mengembang.


"Kamu tidak bohongkan mas?!" Andrian pun menggeleng tanda kalau ia berkata jujur. Sarah langsung mencium wajah mungil putranya itu, sambil menimang nimangkan si buah hati.


"Maafin bunda sayang. Saat kamu lahir bunda tidak bisa berada di samping mu" ucap Sarah sedih, tanpa di sadari cairan bening pun menetes membasahi pipi mulus si kecil, hingga membuat si kecil membuka matannya menatap ke arah sang bunda.


"Anak bunda dan ayah tampan sekali" Sarah tak henti hentinya mencumbu si kecil.


"Ra, aku boleh pinjam" ucap Tiara gemas melihat si kecil.


"Kamu pikir anak ku barang yang bisah di pinjam-pinjam." Omel Sarah.


"Habisnya anak kamu tampan sekali Ra, Tidak ada mirip miripnya sama kamu." celetuk Tiara. Sarah manyun menanggapi ucapan Sahabatnya itu


"Tapi benar mbak, yang di katakan mbak Tiara." Bela Rina

__ADS_1


"Rina aja tau" bangga Tiara, karana ada temannya


"Oh ya Ndri jadi siapa nama putra kecil ku" ucap Kelpin


"Putra ku!!" Tidak terima Andrian kalau Kelpin mengakui putranya.


"Putra ku juga!" Kelpin tidak mau kala


"Aku yang menyetakkannya, penuh dengan perjuangan. Kamu enak saja ngaku ngaku kalau putra mu"


"Hahaha,, berapa gaya yang kamu gunakan, agar nanti bisa aku ikuti"


"Kalau itu mah rahasia, kamu bisa lakukan sendiri nanti gaya apa yang ingin kamu gunakan."


"Baiklah, aku akan menggunakan 20 gaya" ucap Kelpin asal


"Tapi ingat di halalin dulu, baru nentu gaya"


"Aapan si pak yang di bahas, aku tidak paham gaya apa yang di maksdu." ucap Toni sok polos


"Alah gaya kamu Ton, itu tanya sama Tiara" Celetuk Kelpin


"Apaan si nama aku di bawak bawak" Kesal Tiara


"Sudah sudah, jadi siapa nama cucu nenek" ucap bu Ningsi meleraikan perdebatan merekan yang tidak jelas. Yang jelas saja tidak pasti apa lagi yang tidak jelas.


"Benar kata bu Ningsih, jadi siapa nama putra mama" ucap Susan


"Sayang, apa kamu sudah menyiapkan nama buat anak kita?" Tanya Andrian, Sarah pun mengangguk.


Bersambung ..


Minalaidin walfaizin mohon maaf jika author punya salah dengan sahabat-sahabat autor semua. Bagi yang menyambut bulan suci ramadan, selamat berpuasa untuk hari esok, semoga di beri kelancaran dalam hal apapun.


Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak..

__ADS_1


Maaf author banyak permintaan .


__ADS_2