Menikahi Anak Majikan

Menikahi Anak Majikan
Episode 59


__ADS_3

"Anak ayah hari ini kita akan tinggal di rumah baru kita, di sana ayah sudah menyiapkan tempat bermain putra tercinta ayah." Ucap Andrian sambil mengecup baby Ansa, hingga membuat baby Ansa terjaga dari lelap tidurnya.


"Rumah baru?" tanya Sarah. Andrian pun tersenyum menanggapi ucapan istrinya.


"Sayang tunggu di sini, mas keluar sebentar" Sarah pun mengangguk.


"Jagoan ayah tunggu sebentar di sini ya sama bunda ?" Baby Ansa melihat ke arah sang ayah, seperti paham apa maksud ayah. Padahal baru berusia 10 hari. Tidak lupa Andrian meninggalkan satu kecupan untuk orang tercintanya, yaitu sang istri bersama sang buah hati.


"Bay,,bay jagoan ayah" Andrian pun pergi meninggalkan sang istri bersama putra tercintanya.


"Terimakasih tuhan kau telah mengirimkan 2 malaikat di dalam hidup ku. Yang akan mewarnai hari hari ku nanti." Batin Andrian.


"Assalamualaikum" ucap Susan


"Waalaikumslam"


Susan mendekati Sarah bersama putra tercintanya yang berada di atas ranjang. Dengan cepat Sarah mengambil baby Ansa yang tengah tertidur di atas ranjang, membawa ke dalam pelukannya. Sarah masih trauma, di mana kala itu perbuatan Susan padanya hingga membuat sarah takut jika tinggal hanya berdua saja. Sarah takut kejadian itu akan terulang kembali di mana Susan menyiksanya, ia takut jika Susan akan menyakiti putra tercintannya.


"Mas Andrian cepat kembali, aku takut" Do'a Sarah dalam hati


"Dek jangan takut, maafin perbuatan mbak kemaren" Susan tau bahwa Sarah merasa ketakutan berhadapan dengannya. Susan mengambil posisi di sebelah Sarah, tanpa di sengaja Sarah menggeserkan tubuhnya hingga terbentur tembok. Untung saja bukan kepala baby Ansa yang terkena tembok. Susan langsung memeluk tubuh mungil Sarah, lama mereka saling berpelukan. Hingga membuat baby Ansa menangis karna berada di tengah-tengah kakak beradik itu, mengakibatkan baby Ansa tidak mendapatkan udara.


"Owek,,owek,," tangisan baby Ansa. Susan pun melepaskan pelukannya.


"Anak bunda kenapa menangis?" Sarah menimang-nimang baby Ansa, agar berhenti menangis. Tidak lama setelah itu baby Ansa pun tertidur. Dengan hati-hati Sarah memindahkan baby Ansa ke atas ranjang dari gendongannya.


"Ra," Susan memulai percakapan, setelah melihat baby Ansa sudah tertidur nyenyak.


"Ra, maafin mbak, mbak menyesal sudah jahat sama kamu. Mbak bodoh dek terlalu percaya dengan ucapan wanita itu. Mohon dek maafin mbak, mbak janji mbak akan melakukan apa pun yang kamu pinta, asal kamu mau memaafkan mbak dek. " Susan memegang tangan Sarah sangat erat, penuh dengan cairan bening, Susan terus memohon agar Sarah bisa memafkannya, Susan benar-benar menyesal apa yang ia perbuatkan selama ini.


"Mbak, Sarah sudah lama memaafkan mbak. Sarah tidak pernah menbenci mbak walaupun mbak sudah jahat sama Sarah. Bagi Sarah mbak adalah sosok kakak yang baik, yang menjaga adeknya. Sarah selalu ingat mbak di mana masa-masa Sarah masih kecil mbak yang selalu bantu Sarah ketika Sarah di buli oleh teman-teman Sarah. Bagaimana mungkin Sarah bisa membenci mbak. Mbak adalah saudara Sarah satu-satunya. Sarah sayang mbak" Sarah tidak pernah menyangka jika ia bisa merasakan kembali kehangatan dari seorang kakak yang selama ini ia rindukan.


"Makasih Ra, kamu sudah mau memaafkan mbak. Sekali lagi maafin mbak."


"Mbak berhentilah memintak maaf, Sarah sudah bosan mendengarnya." ucap Sarah, merasa tidak keenak'an dengan sang kakak, yang terus merasa bersala


"Andrian nya mana dek?" Tanya Susan, mengalih percakapan

__ADS_1


"Mas Andrian sedang kelur mbak"


"Hanif mana mbak?" tanya Sarah, karna beberapa hari ini, tidak pernah melihat keberadaan Hanif, biasannya jangan bilang mau ke kota ini, ia langsung mau ikut.


"Itu hanifnya" Ucap Susan terbata bata.


"Iya, Hanifnya kemana mbak?" Tanya Sarah


"Hanif bersama kak Hendra" jawab Susan sedih.


"Mbak kenapa?" tanya Sarah, melihat Susan menahan tangis.


"Gak apa-apa dek" bohong Susan


"Mbak, jangan bohongin Sarah, Sarah tau mbak menyimpan sesuatu dari Sarah"


"Hikksss,,hikk,, mbak lagi berantem sama Kak Hendra, kak Hendra membawa Hanif bersamanya"


"Kok bisa mbak"


"Kak Hendra marah besar sama mbak, karna kebodohan mbak."


"Makasih dek"


"Oh iya mbak, kenapa mbak tidak mencoba hubungi kak Hendra?" tanya Sarah.


"Mbak takut dek, kak Hendra tidak mau mengangkat telfon mbak. Karena selama hidup mbak bersama kak Hendra, baru itu lah mbak melihat kak Hendra semarah itu."


"Mbak sesuatu itu harus di coba, kalau mbak tidak mencobanya dari mana mbak tau."


"Kamu benar dek, nanati mbak akan menghubungi kak Hendra"


"Gitu dong, baru namanya Susan" puji Sarah agar bisa membuat Susan tersenyum iklhas tanpa ada beban.


"Assalammuakaikum" ucap Andrian


"Waalaikumslam" Jawab Sarah bersama Susan

__ADS_1


"Eh ada mbak Susan" Susan tersenyum


"Sayang, semuanya sudah selesai. Kita bisa pulang sekarang." Ucap Andrian


"Yang benar mas" Andrian pun mengangguk


"Hay cagoan ayah," Andrian langsung ingin mencumbu wajah gemas sang putra, di tahan oleh Sarah


"Sayang mas kangen sama cagoan" ucap Andrian dengan raut wajah di tekuk


"Tidak boleh sayang atau pegang si baby kalau belum mencuci tangan!" tegas Sarah. Andrian pun mengikuti ucapan sang istri, Karena sekarang banyak virus virus yang berterbangan dari luar negeri maupun dari lokal.


Semua sudah di siapkan dengan baik. Sekarang waktunya keluarga kecil itu pulang di kediamannya. Sarah menggendong baby Ansa, sedangkan Andrian membawa semua peralatan mereka selama ini, di bantu sama Susan. Setelah tiba di parkiran, Sarah bersama Susan terpisah di karena kan Susan membawa mobil sendiri.


"Ndri, mbak duluan" pamit Andrian


"Dek, mbak duluan" Sarah pun mengangguk.


Setelah kepergian Susan, Andrian pun melaju mobilnya dengan kecepatan sedang. Di perjalan Sarah bersama baby Ansa, sudah melayang ke dunia lain. Andrian tersenyum melihat ke arah 2 malaikat tidak bersayap, yang di kirimkan tuhan untuknya. Tiba saja baby Ansa membuka bola matannya, melihat ke arah sang ayah.


"Waduh cagoan ayah sudah bangun"


"Bunda nya masih bobok ya sayang, nanti ya gendong sama ayah. Ayah nyetir mobil dulu" ucap Andrian, sedangkan baby Ansa terus melirik sang ayah, membuat Andrian gemas melihatnya.


"Anak bunda sudah bangun ya?" ucap Sarah, melihat baby Ansa melirik sang ayah.


"Mas, lihat tu jagoan mas, dari tadi tidak berhenti melirik ke arah ayah nya"


"Nanti setelah tiba ayah gendong ya sayang"


"Mas, bukannya rumah kita sudah lewat?" tanya Sarah. Sedangkan Andrian tidak menanggapi ucapan istri tercintanya.


Terimakasih yang sudah meluangakan waktunya untuk membaca karya author. Author ucapkan beribu terimakasih.


Ikuti terus kisah Sarah, Andrian


Jangan lupa like, komen satu lagi vote yang banyak ya.

__ADS_1


Selamat menunggu buka puasa, bagi yang menjalankannya.


__ADS_2