Menikahi Anak Majikan

Menikahi Anak Majikan
Episode 64


__ADS_3

Andrian pun tiba di kediamannya, di mana sang istri bersama putra semata wayangnya menunggu kepulangannya.


"Assalammualaikum," ucap Andrian.


"Waalaikumslam" Seperti biasa, Sarah selalu menyambut kepulangan suami tercintanya.


"Mas, ada apa?" Tanya Sarah, karena melihat wajah suami kusut, melebihi rambut yang bergulung. Andrian menyandarkan tubuh di sofa sambil memejamkan mata. Sarah pun ikut duduk di Mendekatai suami.


"Mas, ada apa? cerita sama aku" Ucap Sarah


"Sayang, tadih mas bertemu Bang Padli. Bang Padli mengatakan kalau ibu Mas, masih hidup. Sekarang beliau sedang di rawat, dengan keadaan kritis" Cerita Andrian.


"Ayo kita jenguk ibu Mas,"


"Tapi sayang, Mas tidak bisa" Ucap Andrian


"Kenapa?"


"Mas, belum bisa menerima Ibu. Karena selama ini Mas, sudah mengaggap ibu sudah tiada. Sulit bagi Mas menerima kenyataan ini" Ucap Andrian sambil memejamkan matanya.


"Mas, lihat aku. Mas tidak boleh seperti itu. Mungkin ibu Mas, melakukan ini semua karena ada alasan tersendiri. Temui dulu Mas, jangan sampai menyesal. Karena ke egoisan Mas."


"Mas, mau mandi dulu" Ucap Andrian. Pergi meninggalkan Sarah.


Di tempat lain.....


"Mang somay nya satu, tidak pakai cabe" ucap gadis itu.


"Satu buah apa satu porsi. Neng gelis" ucap penjual somay


"Ya elah mang, seperti tidak kenal sama aku saja." Kesal Tiara


"Hehehe,, maaf atu Neng, habisnya semakin hari Neng mah semakin cuantik" Puji mamang somay, bukan lain pak Johan.


"Udah Mang, jangan banyak bicara. Nanti selera makan ku hilang" jawab Tiara jutek


"Neng Sarah ka mana atu Neng? sudah lama tidak bersama Neng Tiara" tanya pak Johan.

__ADS_1


"Lagi musuhan ya?" tebak pak Johan asal.


"Bukan urusan!" Jawab Tiara kesal.


"Gak boleh gitu Neng, nanti Neng jatuh cinta lagi. Sama babang" Goda pak Johan.


"Jangan banyak bicara mang, aku ni sudah lapar!!" Kesal Tiara. Karena somay nya tak kujung tiba. Ketika Tiara sedang asyik menikmati somay. Tidak tau kenapa bisa-bisanya bola mata Tiara tertuju pada sepasang kekasih. Hingga membuat selera makannya hilang. Tanpa di sadari cairan bening lolos membasahi pipi bakpaunya. Dengan cepat Tiara pergi meninggalakan tempat itu. Dengan rasa yang amat terisak.


"Hey... Neng Tiara, somaynya belum habis." Teriak mamang somay, karena Tiara sudah pergi.


"Haleh,, haleh Neng Tiara, tumben-tumbennya tidak habis. Biasanya 2 porsi tidak cukup mala ini hanya satu porsi." Batin pak Johan penjual somay.


Kembali ke Andrian dan Sarah


"Hauamzz" Sarah terjaga dari tidur panjangnya. Ia membuka bola mata secara berlahan. Di mana pandangan pertamanya tertuju ke pada dua malaikat di dalam hidupnya. Sarah tersenyum bahagia melihat keromantisan seorang ayah pada anaknya. Andrian tak henti henti mencumbu jagoannya, hingga membuat jagoan ayah tertawa, menahan geli karena kecupan ayah di setiap lekuk tubuh mungil jagoan. Sarah turun dari tempat tidur, ikut berbaring di atas karpet bulu-bulu. Di mana sang buah hati sedang asyik bermain sama ayah.


"Anak bunda, sepertinya senang sekali bermain sama ayah?" Ucap Sarah sambil mencium buah hatinya.


"Sayang, yang ini gak" ucap Andrian sambil menunjuk ke arah bibirnya.


"Ogah" Ucap Sarah,


" Anak ayah cemburu ya" goda Andrian


"Bunda, ayo kita jalan, adek Ansa di titipin sama Nenek Ningsih aja, kalau tidak sama Nenek ida"


"Baik ayah, bunda juga malas bawak adek Ansa. Hanya merepotkan saja." Ucap Sarah, Sedangkan baby Ansa mulai memasang wajah iba. Tapi, tidak di hiraukan dengan ayah dan bunda. Hingga membuat baby Ansa menagis menjerit-jerit


"Maafin bunda, ya sayang. Bunda sudah nakal sama adek" Ucap Sarah sambil menggendong baby Ansa. Bukan membuat baby Ansa diam, mala baby Ansa semakin kencang mengeluarkan volumenya.


"Ini gara-gara Mas"


"Kenapa gara-gara Mas?" Tanya Andrian


"Coba saja, Mas tidak jahil tadi sama baby Ansa. Ia tidak mungkin menangis seperti ini" kesal Sarah.


"Tapi Kan bukan Mas sendiri, kamu juga sayang" tolak Andrian tidak terima. Baby Ansa tersenyum melihat ke dua orang tuannya berdebat. Ayah dan bunda pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah si buah hati.

__ADS_1


"Sayang, bersiaplah. Kita akan mengunjungi ibu" Perinta Andrian


"Kamu serius Mas" tanya Sarah tak yakin. Andrian pun mengangguk.


Tidak menggunakan waktu lama, Andrian sekeluarga sudah siap, dengan tampilan masing-masing. Andrian mengemudi mobil dengan santai. Sepanjang perjalan kelurga kecil itu tertawa bahagia. Sarah Tidak pernah menyangka kalau akan bertemu pada kelurga sumai tercinta. Selama ini yang ia tau, sang suami hanya sebatang kara.


"Mas, perasaan apa yang kamu rasakan" tanya Sarah hati-hati


"Tidak tau sayang, ada rasa bahagia bisa bertemu dengan wanita yang telah melahirkan Mas, ada rasa sedih, kenapa bisa orang tua menitipkn anaknya pada panti asuhan" ucap Andrian serius.


Akhirnya keluarga kecil itu pun tiba, di sebuah rumah sakit ternama di kota ini. Andrian memparkirkan mobilnya, sedangkan bunda bersama baby Ansa menunggu di bawah pohon. Andrian menghampiri istri bersma anaknya.


"Sayang, ayo" ajak Andrian. Sarah pun mengikuti langkah kaki sang suami. Tiba lah di depan ruangan, di mana tempat ibu atau mama di rawat. Dengan ragu-ragu Andrian membuka pintu ruang itu.


"Mas, ayo" Akhirnya Sarah membuka kenop pintu. Di mana di sana, sudah ada bang Padli. Andrian tertegun melihat kondisi ibu, terbaring lemah di atas ranjang. Hatinya merasa teriris melihat keadaan ibu seperti itu. Bagaimana tidak sosok selama ini yang di rindukan, terbaring lemas, tak berdaya. Tanpa di sadari cairan bening terjatuh.


"Andrian" Panggil Bang Padli. Ketika mendengar nama Andrian di sebut. Bola mata ibu pun langsung terbuka, melihat ke arah Padli lalu melirik Andrian. Ibu pun menatap Padli layaknya meminta penjelasan.


"Iya bu, itu Andrian Saputra. Putra ibu yang selama ini ibu cari" Ucap Padli.


"Andrian maafin mama Nak" ucap ibu terbata-bata. Sedangkan Andrian masih setia dengan lamunannya.


"Mas, datangi ibu" Bisik Sarah ke telingan Andrian. Karena melihat suami masih setia dengan lamunannya. Pelan-pelan Andrian melangkah kakinya menuju ke mama. Andrian langsung memeluk tubuh ibu, dengan rasa tak menentu.


"Maafin mama Nak.. hikss,,hikkss,, maafin mama" ucap mama terbata-bata. Andrian diam, ia menagis di dalam pelukan mama.


"Andri maafin mama" ucap mama, penuh dengan isak tangis.


"Sudah Ma, memintak maaf. Andri bosan mendengarnya." ucap Andri lalu mencium mama sangat dalam, yang mengartikan bahwa ia sangat bahagia bisa bertemu dengan mama.


Bersambung... ikuti terus kisah Andrian Sarah


Terimaksih telah meluangkan waktunya, untuk membaca karya author. Author sangat butuh bantuan dari kalian semua


Jangan lupa like, komen, dan Votenya ya kak.


sekian dan terimaksih

__ADS_1


Salam jumpa.


__ADS_2