
"Mas, kenapa?" tanya Sarah,
"Tidak apa-apa" jawab Andrian dengan senyum terpaksa
'Mas, tidak bohongkan?" Andrian pun menggeleng.
"Mas, tidak jadi menemui orang itu?"
"Mas, masih ragu"
"Ya, sudah mas. Jika Mas ragu lebih baik jangan."
"Tapi, Mas begitu penasaran"
"Ya sudah pergi sana" usir Sarah.
"Ya sudah, Mas berangkat dulu ya. Baby Ansa belum bangun?" sebelum pergi Andrian menemui jagoannya terlebih dahulu. Di mana jagoannya sedang terlelap. Andrian menciumi baby Ansa, lalu pergi meninggalkan keluarga kecilnya.
"Sayang, Mas berangkat" Pamit Andrian. Sarah menyalami tangan Andrian.
"Ya alllah lindungilah suami hamba" do'a Sarah.
Tidak memakan waktu lama, Andrian pun tiba di sebuah kafe, bukan lain kafe janji jiwa. Andrian menuju ke ruangan yang mana telah di pesan oleh si penelfon. Andrian menghentikan langkahnya, setelah tiba di depan ruangan itu. Andrian yakin jika orang itu yang akan ia ketemui, karena tidak ada satu pun kecuali orang itu.
"Andrian" panggil orang itu. Andrian pun berjabat tangan dengan orang itu.
"Orang ini tidak asing bagi ku, aku seperti mengenalnya. Tapi, siapa?" batin Andrian
"Apa kau sudah melupakan ku?" tanya orang itu
"Bang Padli" ucap Andrian.
"Aku, kira kamu sudah lupa dengan ku. Teryata dugaan ku sala" ucap Padli bukan lain teman Andrian, di mana waktu ia masih tinggal di panti, milik orang tua Padli.
"Bang, apa kabar ayah dan ibu?" tanya Andrian. Muka Padli pun menjadi sedih ketika Andrian menanyakan ke dua orang tuanya.
"Bang ke napa? ada yang sala" tanya Andrian
"Gak ada Ndri, Abng cuma sedih, jika mengingat ayah dan ibu" Jawab Padli.
__ADS_1
"Setelah seminggu kepergian kamu dari panti, panti terkena musibah besar. Panti yang selama itu kamu tinggal, kebakaran, semua habis. Untung saja ruangan penyimpanan berkas-berkas, tidak di landas dengan si jagok merah. Satu bulan setelah itu, ayah sakit-sakitan. Hingga sampai sang ilahi menjemput. Tidak lama setelah itu ibu pun mengalami kecelakaan. Hingga sang ilahi menjemput ibu. Setelah ayah dan ibu sudah tiada, panti pun di ambil alih dengan teman ayah. Sedangkan abang ikut bersama paman Tono, ke kota Y." cerita Bang Padli
"Maafin Andri bang, Andri sungguh tidak tau"
"Kamu tidak perlu minta maaf, karena kamu tidak bersala"
"Pantasan saja, setiap Andri ke sana. panti itu kosong" Cerita Andri.
"Abang bisa tau no ku dari mana?" Tanya Andrian
"Bukan abng Padli jika tidak tahu tentang mu," ucap Padli bangga
"Abang bisa aja"
"Apa kamu lupa Ndri, kalau no kamu tidak kamu gantikan" ucap Bang Padli
"Oh.. iya ya bang" ucap Andrian cengengesan
"Ndri, ada yang ingin abng sampaikan? abng rasa kamu harus tau" ucap bang Padli serius.
"Apaan bang?" tanya Andrian
"Sebenarnya kamu masih mempunyai Ibu,"
Flasback...
"Hikss,, hikss, bu. Aku titipkan putra semata wayang ku dengan ibu. Aku sangat mencintainya bu, aku sangat menyanginya. Aku tidak ingin kehilangannya bu. Ku mohon bu, jaga lah dia. Nanti satu saat aku akan menjemputnya mu. Aku tidak ingin, ia di bunuh dengan keluarga ku. Berjanji lah ibu dengan ku, ibu akan merawatnya dengan baik." ucap ibu itu pergi meninggalkan buk panti bersama putra dan suaminya.
"Ibu, aku sangat menyukai adek ini. Ia sangat tampan," ucap Padli. Waktu itu Padli berusia 10 tahun.
"Baik la sayang, jika kamu menyukai adek ini. Ibu akan membesarkannya" ucap bu panti. Setelah kau berusia 10 tahun. Keluarga pak Gusti yang ingin merawat mu, ia mengatakan jika itu tanda balas budinya, dengan kamu. Karena kamu telah membantunnya. Mau tidak mau ibu memberi mu dengan pak Gusti. Pak Gusti juga berjanji akan menjamin masa depan kamu. kebetulan juga, masa itu panti kita kesulitan biaya. Hingga ibu memberi kamu dengan pak Gusti.
Sebelum kepergian ibu, ibu memberih amanah dengan abang. Untuk memberi tahu siapa ibu kandung mu. Awalnya abang tidak ingin memberi tahu siapa ibu kandungmu. Tapi tuhan berkata lain, abang di pertemukan lagi dengan ibu kandung mu, dan teryata ibu kandung mu masih mengingatkan abang.
"Padli" panggi ibu itu
"Maaf ibu siapa ya?"
Kamu lupa dengan tante? tante adalah ibu Andrian. Di mana Andrian, tante sangat merindukannya. Tante sudah mencari kelurga kalian di mana-mana, satu pun tidak ada yang tante ketemu. Tante ingin menemui Andrian, tante akan membawanya bersama tante.
__ADS_1
"Tapi maaf tante, Andrian tidak bersama kami lagi. Ibu dan ayah juga sudah tiada"
"Kamu jangan bohongi tante, Padli" ucap tante
"Maaf tante, Padli bicara yang sebenarnya"
Hikss,,hikss hilang semua harapan ku menemui putra ku. Sudah bertahun-tahun aku menahan kerinduan dengan putra ku. Mala sekarang aku kehilangan jejaknya. Padli tante mohon, tolong carikan Andrian. Apa pun tente lakuakan, apa yang kamu inginkan..Asal kan kamu bisa menemui Andrian.Tante ingin meminta maaf semua kesalahan tante dengannya. Tante menyesal telah meninggalkannya."
"Maaf tante Padli tidak bisa." Abang pun pergi meninggalkan tante bersama putrinya
Keesokannya, abang di buat terkejut dengan gadis itu, bukan lain anak tante jus, ibu kandung Andrian.
"Tokk..tokk" Ketukan pintu
"Masuk"Ucap Padli
"Bang aku mohon, tolong temui mama dengan kak Andrian. Setiap malam, mama selalu menyebut kak Andrian. Sudah tiga hari mama terkepar di rumah sakit, Mama tidak mau makan atau pun minum. Setiap detik mama menangis, hingga membuatnya kehabisan suara. Bang aku mohon, mohon bang. Aku tidak bisa melihat mama seperti itu bang" Gadis itu pun bersujud di hadapan Padli sambil memohon-mohon"
"Bangunlah," perintah Bang Padli
"Aku tidak mau bangun, sebelum abang berjanji dengan ku. Kalau abng akan mebawa kak Andrian di hadapan mama" ancam gadis itu, dengan isak tangis
"Baik lah!! aku akan membantu kalian menemui Andrian"
"Terimakasih bang"
Kembali ke Andrian lagi...
"Ndri, kamu baik-baik sajakan?" tanya bang Padli
"Ndri, abang mohon. Temuilah ibu mu, selagi ia masih ada. Selagi ia masih ada. Jangan samapai kamu menyesal" Nasehat Bang Padli.
"Tapi, bang, kenapa dia tega menitipku di panti? berarti dia tidak ingin kehadiran ku" ucap Andrian dengan perasaan tidak menentu.
"Ndri, abang tau kamu anak yang baik. Ibu mu melakukan itu semua pasti ada alasan tersendiri. Mungkin kamu akan mengerti, setelah kamu mendengar alasan ibu kamu" Andrian tidak menjawab ucapan bang Padli. Ia pun pergi meninggalkan bang Padli dengan perasaan tidak menentu.
Bersambung..
Teriamaksih yang telah meluangkan waktunya untuk membaca karya author..
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote yang banyak.
Salam kenal dari Author.