
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari pun demi hari. Tak terasa ke pergian papa sudah dua minggu. Tapi tidak ada perubahan sama sekali untuk Sarah .Sarah terus meratapi kepergian sang papa. Sarah juga belum sepenuhnya mengiklaskan kepergian papa.
"Pa, Sarah rindu papa , Sarah kangen papa,hidup Sarah terasa sepi tidak ada papa di samping Sarah. Hikkkssss....hikkssss papa jahat sama Sarah ,papa tega tinggalin Sarah sendiri, papa tidak sayang dengan Sarahh.Hikkssss.....hikkssss"air mata Sarah pun terus mengalir semakin deras.
"Tokk...tokkk"ketukan pintu. Membuyarkan lamunan Sarah
"Masuk "ucap Sarah
"Dek kakak mohon iklhaskan kepergian papa.Sarah sayangkan sama papa ?"
"Ya kak, Sarah sayang sama papa "
"Kalau Sarah sayang sama papa, Sarah harus iklaskan papa. Agar papa bisa tenang,kalau Sarah seperti ini terus papa tidak akan tenang,mala papa akan menderita "ucap Susan
"iya kak "
"Sarah harus buktikan dengan papa, kalau Sarah bukan anak cengeng. Kamu harus bangkit, gapaila masa depan mu dek "Ucap Susan sambil merangkul sang adek
"Iya kak, Sarah tidak boleh seprti ini. Sarah mau buat papa dan mama bangga sama Sarah "Ucap Sarah semangat
"Itu baru namanya anak pak Gusti "ucap Susan sambil memeluk adek tersayangnya.
"Tokk..nonn."
"Ada apa bik ??"tanya Susan
"Di depan ada tamu non, nanyain non Sarah "
"Siapa bik ?"tanya Sarah penasaran
"Bibik tidak tau non, baru pertama kali bibik lihat "ucap bibik
__ADS_1
"Iya bik, tunggu sebentar "ucap Susan
"Maaf pak cari siapa ?"tanya Susan sopan
"Apa benar ini Rumah nya almarhum pak Gusti? "
"Iya pak,ada keperluan apa ?"Lagi lagi Susan bertanya
"Perkenalkan saya Jumadi, pengacaranya almarhum pak Gusti ."
"Kedatangan saya kemari hanya ingin menyampaikan amanah dari almarhum "ucap pengacara serius sambil memberi beberpa amplop berwarna coklat
"Yang mana bernama Sarah ??"tanya pak pengacra
"Saya pak "ucap Sarah sambil mendekati pengacara
"Ini kusus buat kamu, satu minggu sebelum almarhum masuk ke rumah sakit. Ia sempat menghubungi ku. Untuk memberi ini langsung pada anaknya yang bernama Sarah Navira"ucap pak pengacara sambil memberikan sebuah amplop berwarna putih.
"Sama sama, kalau gitu saya pamit pulang dulu "ucap pak pengacara pergi meninggalkan dua saudara itu.
Di Tempat lain
Di sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi tidak kalah mewahnya. Di sana ada sosok laki laki tampan yang asyik dengan lamunanya.
"Andri bapak mohon nikahi anak bapak, hanya dengan mu bapak percaya. Bapak yakin cuma kamu yang bisa membuat anak bapak bahagia.Bapak mohon Andri bapak mohon."semua ucapan Bapak selalu ada di bayangan Andri hingga membuat Andri kesal sendiri
"Brakkk.....Kenapa ucapan itu selalu ada di ingatan ku!!!!brakkk....brakkk....brakkk.."Pukulan terus mendarat di atas meja.
"Aku tidak bisa menikahi Sarah, aku tidak mungkin meninggalkan Nindri.Aku sudah berjanji dengan Nindri. Tapi aku juga tidak bisa mengingkari janji dengan bapak"
"Brakkkkk...."
__ADS_1
"Ya tuhan kenapa harus ada dua pilihan yang sulit yang harus ku pilih."
"Ting ...Tong..."bunyi bel rumah
"Siapa lagi "kesal Andri.
Andri pun melangkah kakinya langsung membuka pintu.
"Apa benar ini rumah Andrian Saputra ?"
"iya, ada apa ??"tanya Andri
"Bisa kita bicara di dalam saja "ucap pengacara
"Baik, mari masuk "ajak Andri
"Perkenalkan saya Jumadi,pengacara almarhum pak Gusti "
"Ada keperluan apa pak ?"
"Saya hanya ingin menyampaikan amanah dari almarhum untuk nak Andri "
"Amanah apa ?"tanya Andri penasran
Pak pengacra pun langsung memberikan sebuah amplop berwarna putih
"Ini apa pak ?"
"Saya tidak tau, Silakan nak Andri baca sendiri.Kalau begitu saya pamit pulang dulu "ucap pak pengacara sambil. Pergi meninggalkan Andrian.
Berasambung.
__ADS_1