
"Assalammualaikum" ucap Andrian
"Sayang, ayah pulang" teriak Andrian,
"Sayang, kalian di mana" masih tak ada jawaban. Andrian mencari 2 malaikatnya di setiap sudut ruangan. Hingga ke dalam wc, masih saja belum kelihatan batang hidungnya. Andrian mencoba membuka pintu belakang. Ia pun tersenyum melihat pemandangan yang ada di taman belakang rumahnya. Andrian tersenyum bahagia melihat pemandangan itu, di mana anak istrinya sedang asyik bermain di bawah pohon rimbun yang di alasi karpet. Andrian pun menghampiri keluarga kecilnya
"Wah wah, anak ayah bisa terungkup ya sekarang? pintar sekali jagoan ayah" ucap Andrian
"Mas, sudah pulang?" Andrian pun mengangguk, mencium baby Ansa. Sedangkan baby Ansa tampak bahagia sekali melihat kedatangan ayah.
"Lihat bunda tu sayang, bunda seperti cemburu dengan kita" ucap Andrian sambil mengedip mata pada istri tercinta.
"Apaan si mas, gak lucu" jawab Sarah
"Apa baby Ansa tidak rewel di posandu tadi?" tanya Andrian.
"Tidak mas, tapi membuat keributan" jawab Sarah
"Maksudnya membuat keributan?" tanya Andrian
"Ia gara-gara anak mas, ibu-ibu daster itu beradu mulut."
"Memang apa yang bisa di lakukan oleh anak ayah? hingga membuat ibu-ibu berdaster adu mulut?" Andrian masih belum paham di ucapkan Sarah.
"Mereka semua merebuti baby Ansa, untuk di jodohkan dengan putrinya." Ucap Sarah, membayangkan tingkah ibu daster.
"Hahahahaha" Tawa Andrian.
"Kamu memang hebat baby, masih kecil saja kamu sudah bisa mengikat hati ibu dasteran." Bangga Andrian.
"Terus bunda pilih yang mama?" tanya Andrian
"Ah mas, sama saja dengan ibu dasteran. Anak masih bayi sudah mau di jodohkan. Biarkan mereka memilih pasangannya sendiri."ucap Sarah
"Iya istri ku tercinta, bundanya baby Ansa" ucap Andrian lalu mencium istri tercintannya.
"Mass!!" Kesal Sarah, karena dapat serangan dadakan.
"Tingg..Tongg.." bel bebunyai
"Mas, sepertinya ada tamu" ucap Sarah
"Iya, mas buka pintu dulu" ucap Andrian pergi meninggalkan Sarah sambil membawa baby Ansa.
"Ceklek" pintu terbuka
"Eh Tiara, kirain tadi siapa." Ucap Andrian
"Baby Ansa, sini gendong sama ante" Ucap Tiara, ingin mengendong baby Ansa. Andrian pun memberi baby Ansa pada Tiara, belum sampai di gendongan Tiara, baby Ansa sudah menjerit.
"Owekk,,,Owekk" Tangisan baby Ansa pecah, membuat rumah jadi bergetar. Lebay kamu thor.
"Lo kok anak ayah nangis? tante Tiara kan mau gendong adek." ucap Andrian pada si kecil Ansa.
"Mas, siapa" Teriak Sarah.
"Mak ligum(hantu)" ucap Tiara dengan merubah suaranya.
"Mas, jangan bercanda. Tidak lucu!!" Dengan cepat Sarah menuju teras depan. Melihat siapa yang datang. Sarah kesal sendiri siapa yang ada di depannya.
"Masuk" Ajak Sarah
"Tumben main ke sini?" tanya Sarah
"Emang aku gak boleh main ke sini?" Jawab Tiara
__ADS_1
"Bukan gitu, tumben-tumben aja, biasanya juga tidak pernah" jawab Sarah.
"Aku rindu sama anak ku!" Ucap Tiara senang
"Anak ku!!"
"Iya anak mu Ra, tapi anak ponakan ku, yang tepatnya" ucap Tiara
"Tapi anak lo parah Ra"
"Apa nya yang parah?" tanya Sarah kuawatir.
"Itu nya yang parah" Jawab Tiara serius
"Apa nya yang parah? kamu jangan bercanda"
"Wajahnya, andaikan dia sudah dewasa, rasanya ingin ku nikahi" ucap Tiara
"Masih kecil sudah bisa membut jiwa jomblo ku meronta-ronta." Ucap Tiara gemas, melihat tingkah baby Ansa.
"Yang benal tante Tia" Ucap Sarah meniru suara anak Kecil
"Bagi sama aku resepnya Ra" Rengek Tiara
"Resep apaan? aku tidak masak kue" ucap Sarah
"Kalau resep kue mah, aku tidak bakal mintak sama kamu Ra. Jelas-jelas aku tau kamu tidak bisa memasak kue, lebih baik mintak resep sama mbah gogle"
"Terus lo mau mintak resep apaan? coba" Jawab Sarah
"Resep buat anak, supaya tampan seperti baby Ansa" Jawab Tiara tanpa dosa
"Hahah, kamu pikir buat anak pakai bumbu" Jawab Sarah kesal pada sahabatnya
"Tiara benar sayang kalau baut anak itu pakai bumbu" Jawab Andrian baru tiba
" Kak Andrian saja tau, dasar kamu pelit Ra"
"Bumbu apaan!!!" Kesal Sarah
"Bumbu-bumbu cinta, kalau tidak ada itu, tidak akan nikmat" ucap Andrian.
"Kak Andrian mantul" Puji Tiara memberi tanda dua jempol pada Andrian.
"Oh ya Ra, aku pamit pulang dulu ya" pamit Tiara
"Cepat sekali, aku kan masih kangen" ucap Sarah
"Lebayyy" Jawab Tiara
"Kak, pulang dulu" pamit Tiara pada Andrian. Andrian pun mengangguk,
"Tia, bagaimana hubungan mu sama Toni?" tanya Andrian
"Gak ada hubungan apa-apa? kak" jawab Tiara
"Yang benar? tapi cocok lo ti, kamu sama Toni. Aku sebagai sahabat mu sangat merestui" ucap Sarah
"Sebenarnya Toni, juga suka sama kamu Tia. Jalani aja bisa jadi nanti cocok" Saran Andrian.
"Kak Andrian, bisa aja. Ya udah aku pamit dulu"
"Assalammualaikum" ucap Tiara pergi meninggalkan keluarga kecil itu.
"Ansa masih tidur mas?" tanya Sarah
__ADS_1
"Iya, sekarang waktu kita pacaran" goda Andrian
"Apaan si mas"Kesal Sarah
"Drettt...drettt" telfon Andrian berbunyi
"Siapa mas? kok gak di angkat" Tanya Sarah
"Gak tau, tidak penting juga" itu sifat Andrian kalau ada no baru jangan harap akan di angkat.
"Drettt...drettt" telfon berbunyi sudah tak terhitung. Hingga membuat Sarah kesal sendiri
"Angkat napa si mas!! mungkin penting!"
Dengan berat hati Andrian mengangkat benda pipi itu.
"Hallo" Jawab si penelfon
"Hallo, ini benar sama pak Andrian?" Tanya si penelfon.
"Iya, ini dengan siapa?" tanya Andrian.
Panggilan pun berakhir.
"Mas siapa?" tanya Sarah penasaran
"Mas, juga gak tau." Jawab Andrian
"Terus apa yang mas bicarakan?" tanya Sarah
"Tidak ada" jawab Andrian singkat
"Mass!!" kesal Sarah
"Mas, benar gak tau sayang. Cuma" belum sempat Andrian menyelasikan kalaimatnya sudah di potong Sarah
"Cuma apa mas?" tanya Sarah penasaran.
"Iya, mangkanya dengar dulu kalau mas lagi bicara, jangan memotong pembicaraan!!" ucap Andrian tegas
"Hehe maaf mas" mohon Sarah, karena ia tau bahwa ia bersala.
"Sudah lupakan"
"Mas, gak jadi ceritanya?" Tanya Sarah
"Dengar, jangan di ulangi lagi." ucap Andrian, Sarah pun mengangguk
"Mas tidak tau siapa yang menelfon mas tadih. Orang itu tidak memberi tau siapa dia. Ia langsung mengajak mas bertemu, ia hanya mengatakan ada hal yang sangat penting yang ingin di sampaikan. Tidak bisa melewati via telfon." cerita Andrian
"Ia juga mengajak mas, bertemu di kafe janji jiwa. Yang parahnya, ia sudah memesan ruangan tempat pertemuan mas dan dia. "
"Apa mas ingin menemuinya?" tanya Sarah
"Entalah sayang, mas rasa tidak penting"
"Kalau menurut ku mas, lebih baik mas temui saja. Mungkin iti benar-benar penting" Andrian pun tersenyum menanggapi sang istri.
"Ayo tebak siapa yang telfon Andrian?.Kalau ada yang tau boleh komen."
Bersambung. .. ikuti terus kisah Andrian Sarah
Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca karya author. Jangan lupa like, komen, dan vote nha jangan lupan.
Salam kenal dari Author.
__ADS_1