Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 106. Obrolan Alva dan Safira


__ADS_3

Bab 106


Hari ini Arga akan pulang kampung dan menitipkan Alva di rumah orang tuanya. Baik laki-laki itu maupun Marsha sebenarnya agak berat harus berpisah selama seminggu dengan buah hati mereka. Namun, ini sudah kesepakatan bersama antara tiga keluarga.


"Mas, jangan lupa mainan baru Alva dimasukan ke mobil, nanti dia mencari," ucap Marsha kepada Arga yang sedang menggotong barang-barang milik Alva yang akan dibawa ke rumah opa dan omanya.


"Siap, Sayang!" balas Arga dari balik dinding kamar bocah kecil yang masih anteng makan bubur kacang hijau.


"Alva, nanti di sana nurut sama opa dan oma, ya? jika ingin main ke rumah nenek dan kakek bilang minta di antar atau minta dijemput sama Mang Ujang," kata Marsha kepada putranya.


"Oke, Bunda." Alva mengacungkan jari jempol mungil miliknya.


Marsha mencium kening Alva lalu bergegas merapikan dapur. Dia suka meninggalkan rumah dalam keadaan rapi dan bersih.


Saat Arga sekeluarga akan masuk ke dalam mobil, terdengar suara teriakan Safira. Bocah cantik itu berlari ke arah mereka.


"Bunda mau ke mana?" tanya Safira sambil memeluk Marsha.


"Bunda mau pulang kampung dulu," jawab Marsha sambil mengelus kepala Safira.


"Bohong. Kata Alva kemarin di sekolah, Bunda akan pergi sama Ayah Arga naik pesawat," balas gadis berkucir kuda.

__ADS_1


Marsha melirik kepada Arga. Dia merasa kalau Safira akan menjadi kendala keberangkatan mereka.


"Sayang, kamu tidak boleh bicara seperti itu? Alva dan keluarganya mau pergi berlibur. Nanti kalau papa punya jadwal kosong, kita juga pergi berlibur," ucap Dokter Rama begitu sampai di sana menyusul putrinya.


Laki-laki berkacamata itu merasa tidak enak kepada Arga. Gara-gara putrinya perjalanan mereka harus tertunda.


"Safira, aku mau pergi ke rumah opa dan oma. Hanya Ayah dan Bunda saja yang naik pesawat," ucap Alva sambil memberengut.


"Kenapa kamu tidak ikut? Mending kita juga ikut, yuk!" tanya Safira.


Dokter Rama langsung menarik tubuh Safira dan menggendongnya saat bocah itu memberontak. Dia paham kenapa Arga dan Marsha hanya pergi berlibur berdua saja tanpa membawa Alva. Laki-laki itu yakin kalau mereka berdua akan pergi honeymoon.


"Tidak mau sama Papa! Aku mau sama Bunda dan Alva pergi berliburnya." Safira kini menangis kencang.


Marsha dan Arga merasa kasihan kepada Safira yang terus berontak dalam gendongan Dokter Rama. Keduanya juga sudah terbiasa dengan kehadiran Safira di antara mereka. Karena hampir setiap hari bocah itu main dan makan siang di apartemen bersama Alva.


"Kalau Dokter Rama tidak keberatan, Safira boleh ikut kami ke kampung. Aku dan Mas Arga akan di sana selama dua hari sebelum keberangkatan kita nanti," ujar Marsha setelah memberi kode kepada suaminya dan diberikan izin.


"Mau ikut Bunda!" teriak Safira dengan tangan ingin menggapai Marsha.


"Bagaimana kalau Dokter juga ikut sekalian bersama kami. Biar tahu suasana kampung. Lumayan buat refreshing," ajak Arga kepada Dokter Rama.

__ADS_1


"Apa tidak merepotkan?" tanya Dokter Rama malu-malu dan merasa sungkan.


"Tidak apa-apa, justru akan semakin ramai dan itu pasti sangat menyenangkan. Untuk baju punya aku juga banyak. Mau beli di toko juga bisa," jawab suaminya Marsha sambil tertawa kecil.


Akhirnya, Safira ikut pergi berlibur ke kampung. Kedua bocah itu duduk di kursi tengah penumpang. Mereka asyik berbincang-bincang sambil memainkan mainan milik Alva.


"Nanti di sana kita bisa mancing ikan yang besar-besar," kata Alva dengan berbinar karena itu salah satu kegiatan favoritnya.


"Wah, ikannya banyak?" tanya Safira dan Alva pun mengangguk sambil menggerakkan kedua tangannya membentuk lingkaran besar.


"Atau berenang di sungai," lanjut Alva.


"Nanti kebawa sama arus, gimana? Aku tidak mau mati. Bukannya kita kalau sudah besar mau menikah?"


Arga mengerem mendadak saking terkejutnya mendengar ucapan Safira barusan. Sebenarnya bukan Arga saja, tetapi Marsha dan Dokter Rama yang duduk di kursi samping pengemudi pun sama-sama terkejut.


"Menikah?" teriak ketiga orang dewasa itu dengan mata terbelalak.


***


__ADS_1


__ADS_2