
Bab 55
"Lalu, bagaimana dengan Dewi?" tanya Marsha.
Arga mengerutkan kening saat wanita yang merupakan kerabatnya di sebut oleh Marsha. Tentu saja bagi dia perempuan itu bukan orang spesial di dalam hidupnya, apalagi di hatinya.
"Dewi hanya kerabat aku. Tidak pernah terbesit sedikit pun dalam hatiku ada dia," jawab Arga.
Marsha merasa senang mendengar ini. Setidaknya Arga tidak akan menanggapi segala perhatian dari Dewi.
"Tapi, sepertinya dia suka sekali sama Kakak. Apa Kakak tidak menyadari itu?" tanya Marsha.
Hati wanita ini masih merasa belum puas. Dia ingin Arga lebih menyakinkan lagi hatinya.
"Aku tidak peduli dengan wanita mana pun yang ada di sekitar aku. Karena semua perhatian aku tertuju hanya kepadamu," jawab Arga masih menatap ke arah netra indah milik mantan istrinya.
"Aku pegang ucapan kamu, Kak. Aku akan memberi satu kali kesempatan lagi nanti. Jika Kakak menyakiti aku lagi, maka tidak akan ada lagi kesempatan itu," kata Marsha sambil memegang tangan Arga yang ada di lututnya.
Jika dahulu Arga akan memeluk Marsha saat benar-benar merasa bahagia. Kali ini harus menahan diri, karena dia tahu Bagas sedang melihat ke arah mereka berdua.
***
Dewi tidak bisa tidur malam ini. Kamar yang dia tempati adalah kamar milik Sakti. Sebagian barang belum dibereskan oleh Ayu ataupun oleh perempuan itu. Hanya baru pakaian yang ada di lemari yang baru di kosongkan, karena Dewi sangat perlu lemari itu untuk meletakan baju-bajunya.
Dia pun duduk di meja belajar milik Sakti. Banyak sekali buku-buku pelajaran dan pengetahuan umum berjajar rapi di sana. Jurusan yang di ambil oleh Sakti berbeda dengan jurusan yang dia ambil, tetapi Dewi juga paham sedikit dengan ilmu bisnis. Wanita itu mengambil jurusan pertanian saat kuliah karena ingin membantu keluarga Wibowo yang mempunyai lahan perkebunan sayur-sayuran yang sangat luas. Dia juga sering membagikan ilmunya kepada para pekerja di sana.
"Ini buku apa?"
Dewi mengambil sebuah buku yang tersimpan di dalam laci. Dia pun membuka satu persatu lembaran kertas yang bertuliskan doa-doa harian.
"Sakti memang orang yang rajin," ucap Dewi dengan senyum tipis.
Mata wanita itu membulat saat membaca tulisan Sakti yang seperti buku harian miliknya. Betapa terkejutnya dia saat tahu kalau Sakti sudah menghamili Marsha.
__ADS_1
"Jangan-jangan Alva itu adalah anak Sakti," kata Dewi menduga-duga.
Perempuan itu pun lanjut membaca setiap tulisan yang ada di sana. Dewi membaca semua yang tertulis di buku itu semalaman. Entah kenapa dia merasa senang kalau Alva bukan anak kandung Arga.
"Sekarang aku tahu kenapa mereka berdua bercerai. Ternyata pernikahan itu untuk menutupi aibnya Mbak Marsha. Kasihan sekali Mas Arga dijadikan kambing hitam untuk menikahi wanita licik itu," kata Dewi bermonolog.
"Besok akan aku beri tahu semua ini kepada Eyang," gumamnya.
Dewi pun kembali meletakan buku itu ke dalam laci. Lalu, dia pun membaringkan tubuhnya dengan perasaan bahagia.
***
Kehadiran Arga di rumah Barata saat pagi hari membuat orang terkejut. Mereka tidak tahu kapan kedatangan orang ini.
"Kapan kamu pulang ke sini?" tanya Sari kepada cucunya.
"Semalam, Eyang," jawab Arga setelah mencium tangan Sari.
"Oalah, pantas saja Eyang tidak tahu," ucap Sari sambil tertawa kecil.
"Rindu sama seseorang, Yah. Makanya langsung pulang," balas Arga dan membuat Barata dan juga Ayu tertawa.
"Apa Marsha tahu kamu pulang? Seharusnya kamu suruh istrimu tinggal di sini jangan di rumah orang tuanya. Kamu juga pulangnya ke sini. Aneh-aneh saja kalian berdua," tutur Sari.
Dewi memperhatikan ketiga penghuni rumah ini. Dia ingin tahu bagaimana reaksi mereka.
"Sekarang aku mau jemput mereka Eyang. Biar Eyang betah bermain dengan Alva," ucap Arga.
***
Dewi mendatangi Sari yang sedang duduk di halaman belakang rumah. Perempuan itu duduk bermanja kepada wanita tua yang sudah mengurusnya sejak masih kecil. Tentu saja ini bukan sesuatu yang aneh bagi kedua orang itu.
"Eyang, tahu tidak kenapa Mbak Marsha tidak tinggal di rumah ini, tapi malah di rumah orang tuanya?" tanya Dewi berbisik setelah menyakinkan tidak ada orang di sekitar mereka.
__ADS_1
"Ya, mungkin Marsha lebih nyaman dan betah tinggal di rumah orang tuanya," jawab Sari.
Wanita tua itu berpikir begitu karena banyak istri yang memilih tinggal di rumah orang tuanya, ketika sang suami bekerja di luar kota. Selagi seorang istri bisa menjaga diri dan kehormatan dirinya, tidak masalah. Meski Sari sudah tua, tetapi dia masih bisa berpikir mengikuti zaman.
Kalau dahulu, setelah menikah seorang istri akan ikut tinggal bersama suaminya. Jika sang suami pergi merantau, istri itu akan tetap tinggal di rumah mertuanya. Mereka akan mengurus orang tua suaminya sebagai rasa tanggung jawab sebagai menantu.
"Eyang salah kalau berpikir seperti itu," ucap Dewi.
"Loh, kok!" Sari tidak mengerti.
"Sebenarnya Mas Arga dan Mbak Marsha itu sudah bercerai," bisik Dewi.
"Apa?" Sari sangat terkejut.
Lalu, Dewi pun menceritakan apa yang dia dengar saat keluarga Marsha dan Arga berbicara sewaktu di Surabaya. Perempuan itu terus memprovokasi Sari kalau Marsha bukanlah wanita baik-baik.
"Jadi, kenapa mereka tidak tidur di satu tempat saat di Surabaya itu karena mereka baru saja bercerai?"
Terlihat sekali kalau saat ini Sari sedang marah. Dia merasa sudah dibodohi oleh keluarga anak dan mantan besannya.
"Lalu, kenapa Ayu dan Barata terlihat biasa saja. Bahkan mereka memperlakukan Marsha dengan baik," lanjut Sari masih tidak mengerti.
"Apa karena ada Alva yang menjadi penghubung Arga dengan Marsha?" tambah wanita tua itu.
Senyum tipis terulas di wajah Dewi. Ini saat-saat yang dia tunggu untuk membongkar semuanya.
"Apa Eyang tahu kalau Alva itu bukanlah anak Mas Arga?" Dewi kembali mengatakan sesuatu yang mengejutkan bagi Sari.
"Apa? Apa maksud kamu, Dewi?" Sari memekik kencang tanpa dia sadari.
***
Bagaimana reaksi Sari setelah tahu semua ini? Akankah hubungan Arga dan Marsha akan mendapatkan pertentangan dari Sari? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1